Laman

Tampilkan postingan dengan label Ghaidir Khum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ghaidir Khum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

SERIAL GHADIR KHUM 10/Tamat (Ali di mata Nabi dan hadits-hadits lain tentang keutamaan Ali)



Banyak sekali hadits yang menunjukkan keutamaan dan keunggulan Ali dibandingkan para sahabat lain dari Rasulullah. Tidak mungkin untuk menyebutkan semuanya dalam ruang yang sangat sempit seperti blog ini. Akan tetapi ada beberapa hadits dan riwayat yang mungkin kita bisa ketengahkan di sini. PeristiwaMubahalah mungkin adalah contoh klasik yang bisa kita ketengahkan di sini.

Pada suatu kesempatan ada 14 utusan yang beragama Nasrani yang berasal dari Najran datang untuk menemui Nabi. Ketika mereka bertemu dengan Nabi mereka segera mengemukakan sebuah pertanyaan:

“Apa pendapatmu tentang Yesus Kristus?”

Rasulullah menjawab:

SERIAL GHADIR KHUM 9 (Arti kata “MAULA” dalam konteks kalimat pada hadits al-Ghadir Khum)


Melanjutkan pembicaraan kita tentang arti kata MAULA pada pembahasan yang lalu (Lihat: SERIAL GHADIR KHUM 8 (Arti kata “MAULA” pada hadits al-Ghadir Khum)), sekarang kita akan telaah kata MAULA itu dalam konteks kalimatnya.

Mari kita teliti arti kata yang mana yang bisa kita simpulkan dari sebuah hadits apabila kata yang sama itu memiliki arti yang  berbeda-beda. Arti yang manakah yang akan kita ambil apabila sebuah kata itu memiliki lebih dari satu arti dengan konteks kalimat yang berbeda.

Apabila sebuah kata itu memiliki lebih dari satu makna, maka untuk melihat arti konotasi yang sebenarnya itu kita harus membuat sebuah asosiasi (qarinah) dan melihat konteks kalimat dimana kata itu digunakan. Ada petunjuk-petunjuk yang sangat kuat dalam hadits ini yang menggiring kita kepada satu pemahaman yang sama tentang arti kata MAULA yang hanya bisa diterjemahkan dengan padanan kata PEMIMPIN. Berikut adalah petunjuk-petunjuk yang bisa kita pakai:

SERIAL GHADIR KHUM 8 (Arti kata “MAULA” pada hadits al-Ghadir Khum)


Karena kaum Ahlussunnah tidak bisa menolak keabsahan dari hadits al-Ghadir Khum, maka sebagian dari mereka mencari cara lain untuk mengesampingkan pentingnya hadits tersebut dengan menyimpangkan makna kata Maula yang ada dalam hadits tersebut. 


Mereka menerjemahkan kata Maula itu dengan kata Teman. Jadi kalau kata Teman itu dimasukkan kedalam hadits tersebut, maka bunyi hadits itu menjadi:

“BARANGSIAPA YANG MENJADIKAN DIRIKU SEBAGAI ‘TEMAN’, MAKA ALI AKAN MENJADI ‘TEMAN’-NYA”

Padahal sebelumnya hadits itu berbunyi:
“BARANGSIAPA YANG MENJADIKAN DIRIKU SEBAGAI ‘PEMIMPIN’. MAKA ALI AKAN MENJADI ‘PEMIMPIN’-NYA”

SERIAL GHADIR KHUM 7 (Sanad dari Hadits tentang perisitiwa Ghadir Khum)


Menyambung tulisan sebelumnya tentang para sahabat yang menjadi saksi sejarah yang melaporkan peristiwa Al-Ghadir Khum, di sini saya tuliskan tentang pendapat beberapa perawi dari kalangan Ahlussunnah terhadap hadits-hadits itu. 
  1. al-Hafidz Abu Isa at-Thirmidzi (meninggal tahun 279H) telah berkata (dalam kitabnya Sahih—yang termasuk salah satu darias-Sihah as-Sittah) tentang hadits-hadits ini sebagai berikut: “Hadits-hadits itu baik (Hasan) dan benar (Shahih)” (LIHAT: at-Thirmidzi, as-Sahih, volume 2, halaman 298).
  2. al-Hafidz Abu Ja’far at-Tahawi (meninggal tahun 321H) telah berkata dalam kitabnya Musykilu ‘l-athar bahwa: “Hadits ini sahihmenurut para periwayatnya (asnad) dan tak ada seorangpun yang pernah berkata berlawanan dengan para periwayat hadits itu (maksudnya: tidak ada yang menentang kesahihan hadits itu—red). (LIHAT: at-Tahawi: Musykilu ‘l-athar, volume 2, halaman 308).

SERIAL GHADIR KHUM 6 (Hadits tentang perisitiwa Ghadir Khum itu sangat kuat dan mutawatir)


BERIKUT INI SENGAJA DIAMBIL LANGSUNG DARI KHASANAH ILMU AHLUSSUNNAH (diambil dari kitab-kitab yang ditulis dan digunakan oleh saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunnah). Berikut adalah petikan khutbah Rasulullah yang sangat legendaris itu: 

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang amat berharga yaitu (1) Kitabullah dan (2) Ahlul Baytku (wa Ittrati) yang merupakan anggota-anggota keluargaku. Mereka tidak akan berpisah satu sama lainnya hingga mereka menemuiku di dekat telaga Kautsar (sebuah telaga di surga). Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan Aku ini pemimpin dari setiap orang beriman.”



SERIAL GHADIR KHUM 5 (Deklarasi di Ghadir Khum; Penunjukkan Imam Ali sebagai pemimpin kaum Muslimin)



Semua perkataan Rasulullah yang telah secara eksplisit menunjukkan bahwa Ali akan menjadi penerus dan penjaga risalah Islam yang sudah kita bahas dalam tulisan yang lalu (LIHAT: Serial Ghadir Khumsebelumnya) adalah merupakan prelude atau mukadimah dari deklarasi Ghadir Khum yang agung. Rasulullah seolah-olah telah mempersiapkan sebelumnya pengangkatan Imam Ali yang akan diumumkan pada hari dan tempat yang sangat khusus. 

Peristiwa Ghadir Khum ini telah disepakati (memang terjadi) oleh para sejarahwan dan ulama baik dari kalangan Ahlussunnah maupun Syi’ah. Di sini kami akan menunjukkan apa saja persiapan yang dilakukan oleh Rasulullah sebelum Rasulullah mendeklarasikan Ali sebagai khalifah sepeninggalnya. Khalifah yang akan memimpin umat Islam menuju kesempurnaan akhlak.

SERIAL GHADIR KHUM 4 (Ayat Penunjukkan Ali sebagai pewaris nabi)



Setelah kita membahas tentang penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah penerus Nabi pada saat Imam Ali masih belia sekali, sekarang kita akan membahas tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengingatkan kita bahwa khalifah yang hak setelah Nabi wafat adalah Ali bin Abi Thalib dan bukan yang lain. Semua ayat dan hadits ini mengingatkan kaum Muslimin bahwa pemimpin yang harus mereka ikuti sepeninggal Nabi ialah Imam Ali. 

Salah satu dari ayat yang paling penting kita ingat ialah: 

إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (Al-Maidah: 55)

SERIAL GHADIR KHUM 3 (Penunjukkan Ali sebagai pewaris nabi)


Setelah kita membahas tentang “Keutamaan” atau afdhaliyyahdan “Kesucian atau Keterjagaan dari dosa (kema’shuman)” atauishmah, sekarang kita akan membahas tentang masalah yang juga sama pentingnya yaitu “Penunjukkan” oleh Allah. 

Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah telah menyatakan secara tegas dan gamblang bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang kelak akan menggantikan posisinya untuk memimpin umat ini menuju kesempurnaan akhlak. Ali akan menjadi penerusnya, ahli warisnya dan khalifahnya.

Perlu disimak bahwa penunjukkan atau deklarasi pengangkatan pertama terjadi pada masa-masa awal Muhammad bin Abdullah menjadi Nabi akhir zaman. Pernyataan bahwa Ali akan menggantikan kedudukannya dilakukan pada acara jamuan makan malam di rumah Rasulullah.

SERIAL GHADIR KHUM 2 (Seorang Imam itu haruslah terjaga dari dosa; konsep “Ishmah” atau kema’shuman)


Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an tentang Ahlul Bayt Nabi atau keluarga Nabi yang berdasarkan garis darah Nabi.

Menurut Al-Qur’an, orang-orang berikut ini terjaga dari dosa atau tidak memiliki dosa sama sekali. Orang-orang yang dimaksud ialah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein. Ayat pensucian yang mengenai diri mereka ialah ayat berikut ini:

 “ إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا….”

“……….. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya….” (QS. Al-Ahzab: 33)

SERIAL GHADIR KHUM 1 (Keutamaan Imam Ali di mata Ahlussunnah)



Keutamaan (Afdhaliyyah) secara istilah atau yang dimaksud dalam tulisan ini ialah “memiliki keunggulan khusus yang diberikan oleh Allah (thawab) karena yang bersangkutan telah melakukan banyak sekali perbuatan baik”


Setiap Muslim yakin bahwa “Keutamaan” ini tidak bisa ditentukan oleh diri kita sendiri dan tidak ada cara lain untuk mengetahui atau menentukan bahwa seseorang itu memiliki keutamaan atau tidak melainkan hanya dengan melihat dan merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Al-Ghazali, seorang ulama besar di kalangan Ahlussunnah menulis sebagai berikut:

“Hakikat dari keutamaan (afdhaliyyah) itu ialah sesuatu yang berasal dari Allah; dan itu tidak bisa diketahui melainkan oleh Rasulullah sendiri”
(jadi karena hanya Rasulullah yang tahu, maka hanya Rasulullah-lah yang bisa memberikan kita penjelasan tentang orang yang memiliki keutamaan itu—red)