Laman

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Khutbah Rasul Tentang Fadhilah dan Keagungan Bulan Ramadhan


Syekh Saduq meriwayatkan dengan sanadmu'tabar, dari Imam Ridha as dari ayah-ayah beliau, dari Imam Ali bin Abitalib as, berkata, "Suatu hari Rasul Allah Saw berkhutbah di hadapan kami.

Beliau berkata:






Hikmah Ramadhan: Jangan Melanggar Perintah Allah di Bulan Suci!





Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw di akhir bulan Sya'ban mempersiapkan kaum Muslimin untuk menyamput datangnya bulan Ramadhan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah menyampaikan sebuah nasehat yang amat indah sebagai berikut:


Kamis, 19 Juli 2012

Tuntunan Fikih Praktis Ibadah Puasa berdasarkan Fatwa Marja' AyatullahAl-'Udzma Sayyid 'Ali Khamene'i H



TUNTUNAN  FIKIH  PRAKTIS IBADAH PUASA
BERDASARKAN FATWA : MARJA’  AYATULLAHIL – ‘UDZMA  SAYYID ALI KHAMENE’I  H
Poin-poin bahasan:
· Makna Puasa
· Jenis-jenis Puasa
· Puasa-puasa Wajib
· Syarat-syarat Wajib Puasa
· Syarat-syarat Keabsahan Puasa
Penjelasan:


Pesan Ramadhan Dari Majma Jahani Ahlul Bait



Majma' Jahani AB


Menurut Kantor Berita ABNA, Majma Jahani Ahlul Bait menyampaikan pesan secara terbuka mengenai datangnya bulan Ramadhan al Mubarak kepada umat Islam. Bulan Ramadhan adalah peluang yang tepat untuk membina diri, kembali kepada fitrah dan kesucian diri serta memuhasabah jiwa dan bertafakkur, Semoga umat Islam dan hamba-hamba Allah yang beriman bisa mnedapatkan manfaat terbaik dari kedatangan bulan suci penuh berkah ini.

Peran Puasa



(Oleh: M.H. Fadhlullah)
           

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. (QS. al-Baqarah: 183)


Puasa, Membangun Ketakwaan


            Puasa merupakan ibadah yang diwajibkan Allah Swt kepada seluruh hamba-hamba-Nya dalam setiap risalah para nabi-Nya. Sekaitan dengan kewajiban-kewajiban lainnya, terdapat banyak perbedaan antara satu nabi dengan nabi lainnya. Lain hal dengan puasa. Sebabnya, Allah Swt menginginkan manusia seluruhnya berpuasa agar terbangun ketakwaan. Dengan demikian, puasa itu sendiri merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah Swt, mengingat dengan berpuasa, seseorang berarti mengikuti perintah-Nya. Ya, dengan berpuasa, seseorang pada dasarnya sedang mewujudkan ruh takwa dalam jiwanya, membangun akal takwa pada pemikirannya, dan membangun gerak takwa dalam kehidupannya. Dengan berpuasa, seseorang akan takut kepada Allah dan selalu mengontrol jiwanya dari pikiran-pikiran (negatif) dan perbuatan-perbuatan tertentu. Inilah yang diinginkan Islam dari peribadahan, di mana puasa menjadi gerbang pendahuluannya.  Islam bermaksud membentuk seseorang menjadi insan bertakwa, yang tidak memerlukan aturan penguasa tertentu (selain Allah). Lebih lagi, Islam mengingikan manusia merasakan kehadiran Allah Swt dalam jiwa dan seluruh kehidupannya, sehingga menjadikannya selalu mengintrospeksi—sebelum orang lain melakukannya, menghukum, mencegah, dan menundukkan dirinya sendiri agar tidak sampai melakukan kezaliman dan mengganggu orang lain.      

Nilai Taqwa DiBulan Suci Ramadhan



(Oleh: M.H. Fadhlullah)


Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(Al-Baqarah: 183)

            Sesungguhnya Allah Swt menjadikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan sebagai medium untuk mengubah diri kita menjadi insan bertakwa Pabila kita berpuasa dan diterima puasanya, itu artinya kita telah menjadi manusia bertakwa. Begitu pula tatkala kita dikatakan sebagai manusia bertakwa dan konsisten dalam akidah; artinya kita adalah insan bertakwa dalam ibadah. Dan pabila ibadah kita murni karena Allah, maka itu akan menjadikan kita mempraktikkan ketakwaan, sekaligus mendorong merasakan tanggung jawab dan menjalin hubungan harmonis dengan manusia lain melalui perbuatan baik, cinta, petunjuk, dan cahaya yang menerangi akal dan hati kita. Bahkan menjadikan kita insan yang banyak memberi manfaat bagi manusia lain, bersikap adil, serta selalu diwarnai kebaikan. Dalam keadaan itu, kita akan menjadi bagian integral dari masyarakat manusia yang saling menopang satu sama lain dalam menuju kesempurnaan.
            Allah Swt mengemukakan sisi-sisi negatif dalam masalah hubungan manusia dengan orang lain, atau sosial kemanusiaan, dengan menggambarkan adanya bahaya yang sangat besar: Dan janganlah engkau cenderung pada orang-orang zalim yang menyebabkan engkau disentuh api neraka, dan sekali-kali engkau tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian engkau tidak akan diberi pertolongan.(Hûd: 113)
            Firman-Nya yang lain: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al-Ahzâb: 58) Demikianlah yang kita saksikan; bahwa Allah berusaha menghilangkan setiap hal negatif dari diri kita yang punya andil dalam meruntuhkan harga diri, kemuliaan, bahkan kehidupan orang lain. Dalam hal ini, puasa mengilhami kita menjadi manusia bertakwa dalam menghadapi dan menolak segala hal negatif. Selain pula dalam membangun nilai-nilai positif seperti kejujuran, amanat, menjaga harga diri, memberi manfaat kepada manusia, serta menegakkan kebenaran dan keadilan.


Menjalin Hubungan dengan al-Quran

            Pabila kita berhadapan dengan al-Quran di bulan suci Ramadhan, (kita akan rasakan bahwa) ia adalah cahaya penerang akal pikiran, hati, dan kehidupan kita. Al-Quran juga menunjuki kita pada jalan keselamatan menuju keridhaan Allah Swt. Jadinya, kita hidup dengan jiwa yang suci dan harmonis dengan Allah Swt. Lebih mendasar lagi, perjalanan di bulan suci Ramadhan yang sakral, dengan menunaikan shalat, doa, dan membaca al-Quran, akan merubah manusia menjadi sosok baru yang sama sekali berbeda dengan sosok sebelumnya. Ini disebabkan manusia yang bertakwa (berkat berpuasa di bulan suci ini) akan sedikit dosanya, bersedekah diam-diam atau terang-terangan, suka menahan amarahnya, memaafkan kesalahan manusia lain, serta selalu berbuat baik kepada mereka. Selain pula tidak meneguhkan hati dalam berbuat kemaksiatan, kecongkakan, serta pengkhianatan.
Tanyakanlah pada diri kita sendiri di akhir bulan suci Ramadahan; berapa banyak kadar ketakwaan dalam akal kita? Apakah kita tetap memiliki akal yang bertakwa, yang memotori pikiran kita untuk selalu hidup dalam kebenaran, bukan dalam kebatilan? Apakah kita telah meraih ketakwaan akal seperti itu di mana keadilan, bukan kezaliman, menjadi tolok ukurnya? Apakah selama bulan Ramadhan kita memiliki hati yang bertakwa dengan didasari kepribadian insani yang bertakwa, yang mewarnai hubungannya dengan orang-orang mukmin berdasarkan kasih sayang demi ketaatan kolektif kepada Allah Swt? Serta mengalirkan rasa kasih pada selain mukmin demi memberi mereka petunjuk ke jalan Allah? Ya, orang mukmin jangan hanya memikirkan kaumnya saja dalam hal tolong menolong, kebaikan, dan ketakwaan. Ia juga harus memikirkan orang-orang kafir demi menghidayahi mereka menuju jalan kebahagiaan dan kebenaran.
            Sebenarnya hati yang tertutup bagi manusia lain tak akan mampu menunjuki siapapun. Karenanya, bila kita dengki, benci, dan bermusuhan dengan siapapun yang berbeda dengan kita, mana mungkin ucapan-ucapan kita dapat merasuk ke lubuk hatinya? Sebenarnya kata-kata yang dikemas kedengkian, mustahil mampu membuka hati manusia lain. Berbeda halnya dengan ucapan yang diwarnai kasih sayang; bukan hanya mambuka, melainkan jyga melunakkan hati yang beku dan kaku. Allah Swt berfirman: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.(al-Taubah: 128)


Introspeksi Diri

Semoga setelah bersusah payah melewati hari-hari di bulan suci Ramadhan, kita dapat melihat bagaimana keadaan akal pikiran dan hati kita, serta bagaimana cara mengisi kehidupan ini. Apakah kita telah menjadi insan bertakwa dan takut kepada Allah Swt dalam setiap ucapan dan perbuatan? Bulan suci Ramadhan adalah bulan kehidupan bertakwa. Kita selayaknya belajar bagaimana cara mengisi bulan-bulan ini dengan makna-makna ruhani kemanusiaan, kemasyarakatan, dan ibadah. Sehingga seseorang akan hidup dengan Tuhannya, orang lain di sekelilingnya, jiwanya, serta kehidupan luhurnya. Semuanya tentu didasari dengan kebenaran, keadilan, dan kebaikan yang menjadikannya dekat dengan Allah. Sebab, Allah Swt mencintai orang-orang yang menyeru pada kebenaran dan melakukan kebaikan serta berjalan di atas keadilan dan ketakwaan dalam semua sisi kehidupannya.
Hendaklah kita menerima kebenaran dan kebaikan yang diturunkan Allah. Seyogianya pula gerak perasaan dalam hati berjalan sesuai dengan apa yang diridhai Allah; yaitu mencintai dan membenci (sesuatu) karena Allah, menerima kepemimpinan wali-walinya dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Hendaklah di bulan suci ini, seluruh gerak-gerik kita berada di atas garis ketakwaan-ibadah dan di jalan yang lurus. Ya, di bulan Ramadhan ini, bulan suci yang di dalamnya Allah Swt menurunkan al-Quran, seluruh manusia harus menikmati jamuan Allah. …diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(al-Baqarah: 183) Itu merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah  yang membawa berkah, rahmat, dan ampunan-Nya.

Mihrab Puasa



(Oleh: M.H. Fadhlullah)



Perjamuan Allah Swt

            Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(al-Baqarah: 183) Ketika menyambut bulan penuh berkah ini, kita harus mempersiapkan diri secara spiritual. Itu agar kita merasa—sebagaimana disebutkan dalam khutbah Nabi saww—bahwa kita sedang berada dalam perperjamuan Allah Swt. Ya, kita harus mencari keuntungan dari perjamuan ini yang berupa ampunan, keridhaan, rahmat, kasih sayang, dan rezeki dari Allah Swt, yang pada gilirannya menjadikan manusia beserta akal, hati, jiwa, dan hidupnya, dekat dengan Tuhannya.
            Kita sangat membutuhkan kedekatan dengan Allah Swt. Sebab ketika memikirkan keberadaan diri, kita menyadari bahwa Dia-lah yang telah menganugrahkannya kepada kita: Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?(al-Fathîr: 3) Dan pabila kita hendak memikirkan seluruh gerakan kita dalam hidup, kita tahu bahwa semua itu berasal dari nikmat Allah Swt. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).(al-Nahl: 53) Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.(al-Nahl: 18)


Kebaikan Dibalas Keburukan

            Kita tahu bahwa kehidupan dengan berbagai nikmatnya berasal dari Allah dan berada dalam lingkup pemeliharaan-Nya. Bahkan Allah Swt tetap menganugrahkan kenikmatan pada kita sekalipun kita bermaksiat dan menjauhkan diri dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan-Nya. Inilah yang diungkapkan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain dalam doa Abu Hamzah al-Tsimali, "Engkau menanamkan cinta pada kami dan kami membalas-Mu dengan berbuat dosa-dosa." "Kebaikan-Mu turun pada kami dan kejahatan kami naikkan pada-Mu." Allah Swt memberi kita makanan, minuman, dan tempat tinggal, sementara kita menggunjing, mengadu domba, berzinah, memakan harta secara batil, dan menyebarkan fitnah. Dalam doa Abu Hamzah disebutkan, "Malaikat mulia (pencatat amal perbuatan) senantiasa datang kepada-Mu setiap hari dengan membawa amal buruk (kami)." Merekalah para malaikat yang memberikan laporan amal perbuatan kita. "Hal itu tidak menghalangi-Mu meliputi kami dengan nikmat-nikmat-Mu dan Engkau muliakan kami dengan anugrah-anugrah-Mu. Mahasuci Engkau, sungguh Engkau Mahabijak, Mahaagung, Mahamulia. Engkau Pencipta dan tempat kembali."





Cinta Allah

            Kita sudah tahu bahwa segala hal yang kita miliki di alam mahaluas ini dan apa yang ada pada diri kita berasal dari Allah Swt, Sang Pencipta. Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.(al-Mu'minûn: 14) Segala sesuatu di alam ini, seperti air, udara, sel-sel, dan organ tubuh manusia, semata-mata adalah ciptaan Allah Swt. Apakah mungkin kita merasa tidak butuh kepada Tuhan yang telah menganugrahkan kehidupan pada alam semesta dan manusia?

           

Kita bergantung pada Allah


Kita bergantung pada Allah Swt dengan segenap keberadaan kita, termasuk di saat kematian menjelang atau sewaktu berdiri di hadapan-Nya. Ini mengharuskan kita menjalin hubungan yang kokoh dengan Allah Swt. Bagaimana kita bisa mengokohkan hubungan dengan orang lain berdasarkan kepentingan-kepentingan, sementara kita tidak menjalin hubungan yang erat dengan Allah Swt dan memupuk cinta kepada-Nya, padahal kita sangat butuh dekat dengan-Nya?
            Inilah yang diungkapkan Rasulullah saww tatkala menyerahkan panji peperangan kepada Amirul Mukiminin Ali bin Abi Thalib dalam Perang Khaibar, "Esok hari aku benar-benar akan memberikan panji perang kepada seorang lelaki yang mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya, serta dicintai Allah Swt dan Rasul-Nya." Inilah cinta timbal-balik antara kedua belah pihak. Pertanyaannya, bagaimana cara kita meraih cinta ini?
            Allah Swt menjelaskan persoalan penting ini dalam al-Quran al-Karim melalui lisan Nabi-Nya: Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) lain kafir.(آli Imrân: 13) Karena Rasulullah saww menjelaskan ini dari sisi Allah Swt, maka barangsiapa mematuhinya, berarti telah mematuhi Allah. Mengikuti Rasul merupakan bukti kecintaan terhadap Allah, karena Dia mencintai orang-orang yang bertaubat (sesungguhnya Allah Swt mencintai hamba yang terjatuh dalam dosa dan kemudian bertaubat). Dan Allah Swt tidak mencintai orang-orang yang berkhianat, berdusta, dan munafik. Sesungguhnya Allah Swt mencintai orang-orang yang benar dan membenci orang-orang jahat atau zalim. Apakah masuk akal; Anda mencintai Allah sementara Anda berbuat zalim dan kerusakan di muka bumi?


Koreksi Diri

            Kezaliman bukan bermakna penguasaan. Kezaliman adalah mengambil dan merampas hak orang yang memiliki hak atas Anda. Dan kezaliman terjadi dalam perbuatan melampaui batas terhadap orang-orang lemah di hadapan Anda. Persoalan-persoalan ini membutuhkan koreksi dan instrospeksi diri. Sebab kita sering melupakan diri sendiri. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Barangsiapa menyibukkan diri dengan aib orang lain, niscaya lupa dengan aibnya sendiri." Dalam diri kita terdapat hawa nafsu yang menggiring pada keburukan. Kita tidak pernah memikirkan dan merenungi diri kita sendiri demi mempertanyakan titik kelemahan dan kelebihan jiwa kita. Seyogianya kita acap bertanya pada diri sendiri. Berapa kali aku berdusta, menggunjing, berbuat aniaya, mencela, dan seterusnya? Seyogianya kita menjadi teman diri kita sendiri. Temanmu adalah siapa yang menyertaimu, bukan siapa yang membenarkanmu. Kita harus menahan dirinya dari melakukan hal-hal yang berbahaya, serta membimbingnya menuju apa-apa yang bermanfaat baginya. Katakan pada diri kita, "Wahai jiwa, apa yang dilarang Allah akan merusak hidup manusia di dunia dan di akhirat. Adapun apa yang dititahkan Allah akan memperbaiki hidup manusia di dunia dan di akhirat." Berpikirlah dengan cara ini dan jadilah tamu Allah Swt. Ini agar kita berbuat ikhlas semata-mata karena Allah Swt dalam semua urusan. Mengoreksi diri bukanlah pekerjaan mudah. Sebab itu meniscayakan gerak dari alam syahwat dan perasaan. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhanya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).(al-Nâzi'ât: 40-41) Ya, manusia harus diajak memahami dirinya sendiri, mengkoreksinya, mengadilinya, dan memeranginya (jadikan dirimu musuh yang kamu perangi, karena dalam dirimu terdapat hawa nafsu yang memerintahkan pada keburukan, kecuali yang dirahmati Tuhanku).


Bulan Allah Swt, Amal, dan Ketaatan


Wahai kecintaanku! Bulan ini adalah bulan besar berkala. Di bulan ini, kita diharuskan berniaga dengan Allah Swt. Berdaganglah dengan Allah dengan perdagangan yang menguntungkan. Apakah ada di antara kita yang ingin dirugikan dalam perniagaannya? Lalu mengapa kita tidak melakukan perdagangan itu demi memperoleh keselamatan dari siksa nan pedih? Mengapa pula kita tidak berjalan di atas landasan ketaatan kepada Allah Swt? Dengan taat, dunia akan menyertai serta mengajak kita menuju alam kubur yang tak seorang pun dapat dijadikan sahabat untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(al-Rahmân: 26-27)
Jika Allah Swt menjadi tujuan serta arah langkah kita, maka hendaklah kita tidak ditundukkan hawa nafsu atau berjalan di belakang orang yang bermaksiat kepada-Nya, yaitu orang zalim atau pelaku kriminal lainnya. Renungkanlah ungkapan Rasulullah yang diabadikan al-Quran: Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.'(al-An'âm: 15) Siapakah kita di hadapan seruan tersebut yang menggambarkan keagungan pengetahuan Rasulullah terhadap-Nya serta ketaatan beliau pada-Nya?
Rasulullah saww adalah sosok hamba yang taat kepada Allah Swt. Dan kemulian para nabi, juga para imam, terletak pada ketaatan kapada-Nya. Allah Swt adalah pencipta mereka semua yang menjadi hamba-hamba-Nya. Karenanya, tak ada kekerabatan antara Allah Swt dengan para nabi dan wali-Nya. Mereka adalah para insan yang telah membumbung naik menuju arah-Nya serta mendekatkan diri dengan taat kepada-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Swt menjelaskan hal ini dalam al-Quran: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kalian yang kosong, dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.(al-Nisâ': 123) Dalam riwayat disebutkan bahwa di ahir hayatnya, Nabi saww berkhutbah di hadapan manusia seraya bersabda, "Wahai manusia! Janganlah berangan-angan bagi yang berangan-angan dan janganlah mengaku-ngaku bagi yang mengaku-ngaku! Sesungguhnya tak ada yang menyelamatkan (seseorang) kecuali amalnya yang disertai (karunia) rahmat. Maka seandainya aku bermaksiat, niscaya aku akan binasa." Alkisah, disebutkan bahwa tatkala beliau sedang duduk dalam keadaan ihtidhâr (sakratul maut), serta dikelilingi sanak-kerabatnya seperti Abbas bin Abdul Muthalib (pamannya), Shafiyyah binti Abdul Muthalib (bibinya), Fathimah al-Zahra (putri terkasihnya), dan lainnya, beliau menoleh ke arah mereka seraya bersabda, "Wahai Bani Abdul Manâf! Kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada kalian! Sesungguhnya aku tidak dapat memenuhi apapun yang kalian butuhkan dari Allah Swt. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, wahai paman Rasulullah! Tunaikanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah. Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthalib, wahai bibi Rasulullah! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Lakukanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu! Sesungguhnya aku tak dapat memenuhi apapun yang engkau butuhkan dari Allah."
Barangkali seseorang menanyakan perihal syafaat bagi manusia sebagaimana yang diungkapkan al-Quran: ... dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.(al-Anbiyâ' 28) jelas, syafaat hanya diperoleh orang-orang tertentu saja. Dan Ahlul Bait (Nabi) tidak memberi syafaat kecuali pada orang-orang yang mengikuti jalan hidup, perangai, dan perbuatan mereka (Ahlul Bait Nabi saww).
Hendaknya kita mengosongkan pikiran kita di bulan mulia ini dari apa-apa yang tidak diridhai Allah Swt, serta membukakakan kehidupan, hati, dan akal kita terhadap sesuatu yang diridhai Allah Swt serta membawa kebaikan bagi jiwa kita. Hendaklah kita berpuasa dengan sepenuh hati, akal, dan ruh, serta meraih ketakwaan kepada Allah Swt yang menjadi tiang penyangga puasa dan tujuan luhur yang melindungi kepribadian seorang muslim. Puasa semacam itulah yang diinginkan Allah untuk dijadikan hiasan agama Islam serta sarana meneggakkan yang haq: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas diri kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(al-Baqarah 183). Inilah misi puasa; ketakwaan, ibadah, dan amal saleh.

Gelaran Bulan Suci Ramadhan



(Oleh: M.H. Fadhlullah)



Jalan Allah

            Pabila dikatakan bahwa Allah Swt membukakan jalan kebaikan hidup bagi manusia, maka yang dimaksud bukan hanya jalan biasa [untuk melakukan perjalanan], melainkan juga jalan untuk [mengarungi] waktu—mulai dari detik, menit, jam, hari, minggu, hingga bulan dan tahun. Dengannya, seluruh gerak-gerik manusia, baik ucapan maupun tindakannya, dalam konteks waktu, akan menjadi baik. Gerak waktu yang ada dalam  tanggung jawabnya merupakan jalan menuju Allah Swt; sebagaimana gerakan (materinya) yang juga merupakan jalan menuju Allah dalam konteks pelaksanaan tanggung jawab syariat.
Demikianlah bulan suci Ramadhan yang merupakan jalan Allah Swt. Dengannya Allah menginginkan manusia memulai perjalanan menuju ke arah-Nya melalui suasana-suasana yang Dia ciptakan saat itu, atau melalui syariat-syariat yang telah ditetapkannya atau juga melalui keadaan-keadaan umum tertentu. Allah Swt menganugrahkan manusia kemuliaan mengikuti-Nya, agar hidup dengan ruh yang tentram. Keadaan demikian akan menjadikan waktu yang dilewatinya penuh nuansa religius yang akan melambungkannya ke puncak makna ilahi dan memperoleh segenap yang ada di tangannya-Nya, seperti rahmat, ampunan, luthf, keridhaan-Nya, dan segenap apa yang mungkin diraih seorang hamba.
            Itulah suasana Ramadhan yang hanya dapat dirasakan dan dihayati ruh insani yang berkunjung sebagai tamu terhormat yang disuguhi berkah, rahmat, dan ampunan-Nya, serta berada dalam suasana kasih sayang, kelemahlembutan, dan luthf-Nya. Alhasil,  saat itu tercipta suasana ramah tamah yang sama sekali berbeda dengan yang pernah kita jumpai. Saat di mana perasaan insaniah seseorang begitu hidup; perasaan yang bersumber dari dan berhubungan langsung dengan ruh Allah. Ketika itu Allah akan memandangnya dengan penuh kasih dan cinta. Akibatnya, ia akan merasa ikatan ibadahnya dengan Allah bertambah kuat dan dirinya melambung ke puncak kekhusukan ibadah. 


Bulan Puasa

            Gelar lain bulan suci ini adalah bulan puasa. Allah Swt menginginkan manusia menunaikan kewajiban puasa dengan maksud mengangkat nilai insaniahnya ke puncak maknawiahnya, sehingga lepas dari pengaruh materi yang berpotensi menariknya ke derajat yang rendah. Seyogianya manusia melambungkan kedudukannya ke posisi adiluhung, agar ruhnya mengiringi jasadnya dalam meraih ridha Allah Swt dan hidup lebih dekat dengan-Nya dalam kesucian yang murni. Dalam keadaan itu, Ia niscaya akan lebih memiliki rasa tanggung jawab sekaligus mendorongnya menghayati makna kepemimpinan (khilafah) Allah dalam urusan kehidupan diri dan orang-orang di sekitarnya.
            Sebenarnya puasa meringankan tekanan hidup yang diakibatkan jasad kita.  Dengan puasa, jasad tidak lagi mampu menghalangi keinginan kita untuk menggapai tujuan dan kebutuhan hidup hakiki kita. Ini mengingat perasaan butuh terhadap makanan dan hubungan biologis serta keinginan memuaskan rasa dahaga dapat merendahkan dan menghancurkan kesucian kita di hadapan orang lain. Juga, menjadikan kita tidak istiqamah dan kehilangan nilai insaniah. Sesungguhnya puasa mengubah diri kita; dari insan setani menjadi insan ilahi; dari terbakar bara syahwat dan ketamakan, menjadi hidup dengan hati dan ruh yang tentram.
              Puasa menjadikan ruh kita bersih dan melayang terbang menuju Allah. Juga meringankan jasad kita sehingga dapat menggantung di cakrawala maknawi nan agung. Mungkin, inilah maksud dari hadis qudsi, "Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi balasannya."


Bulan Islam

            Bulan Ramadhan adalah bulan Islam. Sebagian ulama menafsirkan kata "Islam" secara harfiah, yakni "taat dan patuh dalam berbagai bentuknya di bulan tersebut". Sementara sebagian lainnya menafsirkannya dengan "agama Islam". Ini mengingat kewajiban puasa hanya dikhususkan bagi umat Islam saja. Adakalanya, kita melihat bahwa sisi lahiriah dari imbuhan kata "Islam" (pada "bulan Islam") menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki hubungan dengan Islam secara umum; bukan dilihat dari kewajiban islami yang ditetapkan di dalamnya. Sehingga, kita boleh jadi terilhami bahwa itu berhubungan dengan diturunkannya al-Quran di bulan tersebut—di mana al-Quran menjadi simbol nyata syariat dan akidah Islam. Juga berhubungan dengan proses penyucian ruh melalui puasa, shalat, doa, dan membaca al-Quran. Semua itu memainkan peran penting untuk mempersiapkan seorang muslim dalam menghadapi tahun yang akan datang, yang diwujudkan dengan mengasah pikiran dan ruh yang nantinya akan menimbulkan pengaruh (positif) dalam segenap aktivitas kehidupannya setiap tahun. Satu alasan yang menjadikan bulan Ramadhan disebut sebagai bulan Islam, adalah karena di dalamnya (ajaran) Islam dengan segala dimensinya berdenyut kencang.


Bulan Kesucian 

            Gelar ini diberikan karena bulan Ramadhan menjadi sarana penyucian ruh, pikiran, hati, serta aktivitas manusia di hadapan Allah dari debu kemaksiatan dan penyimpangan. Dengan demikian manusia akan memahami dengan benar bahwa kesucian punya kedudukan penting di mata Islam. Di bulan ini, Allah Swt menginginkan manusia mengisi waktu-waktunya  dengan aktivitas ketaatan demi menguak tirai kesucian hidupnya. Ya, menjadi manusia suci menjadi tujuan yang telah digariskan Islam, baik secara syariat maupun praktis.


Bulan Tamhîz (Pembersihan)

            Gelar lainnya adalah bulan kemunculan; yakni membersihkan sesuatu yang mengandungi cela. Allah Swt berfirman: Kemudian setelah kamu berduka-cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, "Apakah bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah, "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah, "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Mahatahu isi hati. (Ali Imrân: 154)
            Barangkali maksud (ayat di atas) adalah pembersihan dan penyucian. Atau bahkan ujian dan cobaan. Adakalanya, maksud kedua menjadi mukadimah bagi maksud pertama. Sehingga bulan mulia ini menjadi sarana manusia mencabut akar-akar kerusakan dalam dirinya agar beroleh kesucian ruhani atau mampu mengatasi konflik internal, yang adakalanya berkecamuk dan menyebabkannya berbuat kezaliman, terbebani perasaan, atau menyeleweng. Dengan demikian, manusia akan terbebas dari segenap beban dan belenggu yang mencekiknya, serta mampu melangkah di jalan yang lurus. Itu salah satunya dapat diraih lewat membaca Kitabullah—yang mengandungi kalimat kebenaran dan kebaikan—dan memanjatkan doa yang akan membawanya terbang ke hadirat Ilahi lewat jalur terdekat. Juga, dengan shalat yang menghantarkan ruhnya menuju Allah dalam jalur iman.
Berkenaan dengan gelar ini, Allah Swt tak hanya menginginkan manusia hidup dalam kelalaian. Dia berharap manusia mengalahkan bisikan setan yang menyesatkan dan bermaksud menguasainya. Dia juga mengiginkan manusia mau mengintrospeksi diri dan berjuang (melawan hawa nafsunya) dengan segenap sarana yang mungkin agar seluruh perasaan dan pikiran buruknya lenyap.


Bulan Qiyâm

            Maksudnya adalah bangun di malam hari untuk menunaikan shalat tahajud dan amalan ibadah yang disunahkan di malam-malam Ramadhan. Amalan-amalan itu diharapkan merasuki jiwa dan membangun kepribadian islami seseorang dalam berbagai dimensinya. Gelar bulan Ramadhan yang diberkahi ini termaktub dalam doa yang dikutip dari sebuah riwayat, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara jalan-jalan itu bulannya; bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian, bulan pembersihan (tamhiz), dan bulan menegakkan shalat malam (qiyam). Bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi umat manusia."
            Allah Swt menyucikan bulan ini secara purna; yang karenanya menjadikan suci hukum-hukum-Nya yang diwajibkan bagi manusia. Juga, menjadikan pelbagai keutamaan ruhani dan praktis di dalamnya. Karenanya, bulan ini akan mendatangkan kebaikan dan keutamaan serta hasil-hasil nan gemilang yang mungkin dicapai orang-orang yang melaksanakannya (hukum-hukum yang diwajibkan). Dalam pada itu, Allah Swt menginginkan agar pelaksanaannya (puasa) lebih dikedepankan ketimbang pelbagai aturan umum lainnya yang berlaku dalam kehidupan manusia. Ini mengingat ia merupakan rambu-rambu jalan menuju Allah Swt. 

Amalam Shalat Bukan Puasa



Malam Pertama
Shalat sebanyak empat rakaat dengan membaca surah at-Tauhid sebanyak lima belas kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Kedua
Shalat empat rakaat dengan membaca surah al-Qadr sebanyak dua puluh kali setelah membaca surah al-Fâtihah pada setiap rakaat.
Malam Ketiga
Shalat sepuluh rakaat dengan membaca surah al-Fâtihah sekali dan at-Tauhid sebanyak lima puluh kali pada setiap rakaat.

Selasa, 25 Oktober 2011

Khutbah Rasul Tentang Fadhilah dan Keagungan Bulan Ramadlan



Syeikh Shaduq meriwayatkan dengan sanad muktabar, dari Imam Ridha as dari ayah-ayah beliau, dari Imam Ali bin Abu Thalib as, berkata, "Suatu hari Rasul Allah Saw berkhutbah di hadapan kami. Beliau berkata:
"Wahai umat manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Allah dengan berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang di sisi Allah merupakan bulan paling mulia. Hari-harinya paling mulia, malam-malamnya paling mulia, dan saat-saatnya paling utama. 
Di bulan ini kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Allah dan kalian diajak untuk menerima karunia Allah. Di bulan ini tarikan dan desahan nafas kalian adalah tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian dikabulkan. Maka dari itu, mohonlah kepada Allah dengan niat yang jujur dan hati yang bersih, agar Allah memberikan taufik kepada kalian untuk dapat melakukan puasa dan membaca Kitab-Nya. Sesungguhnya celakalah orang yang tidak memperoleh ampunan Allah di bulan yang mulia ini.
Dengan lapar dan dahaga kalian di bulan ini, ingatlah lapar dan dahaga hari kiamat. Bersedekahlah untuk kaum miskin kalian, dan muliakanlah orang-orang tua kalian dan kasihilah anak-anak kecil kalian. Bersilaturahmilah kalian dan jagalah lidah kalian, dan pejamkanlah mata kalian dari hal-hal yang tidak halal dari memandangnya, dan hindarilah mendengar hal-hal yang tidak halal dari mendengarnya. Berikanlah kasih sayang kepada anak-anak yatim orang lain, maka Allah akan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada anak-anak yatim kalian. Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa kalian, dan angkatlah tangan-tangan kalian kepada-Nya dengan doa di waktu-waktu shalat kalian. Karena ia adalah sebaik-baik waktu, dimana Allah memandang kepada hamba-hamba-Nya di saat itu dengan pandangan rahmat. Allah akan menjawab permohonan mereka yang memohon, dan memenuhi panggilan mereka yang memanggil.
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya diri kalian terikat oleh amal perbuatan kalian, maka bebaskan diri kalian dengan istighfar. Pundak-pundak kalian berat terbebani oleh dosa-dosa, maka ringankanlah ia dengan sujud yang lama. Ketahuilah bahwa Allah Swt telah bersumpah dengan kemuliaan-Nya untuk tidak mengazab orang yang shalat dan yang sujud, dan tidak pula akan menakut-nakuti mereka dengan api neraka pada hari ketika semua orang berdiri di hadapan Tuhan seru sekalian alam.
Wahai umat manusia, barang siapa diantara kalian menolong seorang mukmin yang berpuasa untuk berbuka di bulan ini maka Allah akan membebaskannya dari api neraka dan mengampuninya dari dosa-dosa masa lalunya......"
Sampai di sini, seseorang bertanya kepada Rasul Allah, "Wahai Rasul Allah Saw, tidak semua dari kami mampu untuk bersedekah seperti itu."
Rasul Allah Saw menjawab, "Hindarilah api neraka, meskipun dengan separuh kurma. Hindarilah api neraka walau dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah Swt akan memberikan pahala tersebut kepada orang yang bersedekah sekecil itu, jika tidak mampu bersedekah dengan yang lebih besar.
Wahai manusia, barang siapa diantara kalian yang baik akhlaknya di bulan ini maka ia akan mendapat kemudahan melewati shirat (jembatan di akherat) ketika banyak kaki yang tergelincir. Barang siapa di bulan ini memberikan keringanan kepada budak atau pembantunya, maka Allah akan meringankan perhitungan amalnya. Barang siapa menghentikan kejahatannya, maka Allah akan mencegah kemarahan-Nya terhadap orang itu di hari pertemuan. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya di hari pertemuan. Barang siapa menjalin hubungan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan menjalinnya dengan rahmat-Nya di hari pertemuan. Barang siapa memutus hubungan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan memutusnya dari rahmat-Nya di hari pertemuan. Barang siapa melakukan shalat sunnah di bulan ini, maka Allah akan menetapkan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa melaksanakan kewajiban di bulan ini, maka baginya pahala pelaksanaan 70 kewajiban di bulan-bulan selainnya. Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, maka Allah akan memberatkan timbangan amal baiknya di hari ringannya timbangan amal baik. Barang siapa membaca satu Ayat al-Quran di bulan ini, maka baginya pahala orang yang mengkhatamkan seluruh al-Quran di bulan lain.
Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga di bulan ini terbuka lebar, maka mohonlah kepada Allah untuk tidak menutupnya bagi kalian. Sedangkan pintu-pintu neraka tertutup rapat, maka mohonlah kepada Allah untuk tidak membukanya bagi kalian. Setan-setan pun terbelenggu, maka mintalah kepada Allah untuk tidak membiarkannya berkuasa atas kalian." (IRIB)