Laman

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Surah An-Nahl : 43


Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as

“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu”
Yang dimaksud dengan ahludz dzikr dalam ayat di atas adalah Ahlul Bayt Nabi as Yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.
2.Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.
3.Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.
4.Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.
5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.
6.Rūhul Ma’ānī, karya Al’Alusi, juz 14, hal. 134.
7.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari juz 3, hal. 483, cetakan Tehran.

Sabtu, 11 Februari 2012

Surah Al-Bayyinah : 7




  Makhluk Terbaik 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah makhluk terbaik (khairul bariyyah)”
Rasulullah SAWW bersabda: “Hai Ali, mereka (khairul bariyyah) adalah engkau dan syi’ahmu”. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 357-366, hadis ke 1125, 1126, 1127, 1128, 1129, 1130, 1131, 1132, 1133, 1134, 1135, 1136, 1137, 1138, 1139, 1140, 1141, 1142, 1143, 1144, 1145, 1145, 1146, 1147 dan 1148.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 244, 245 dan 246, cet. Al-Haidariyah; hal.118 dan 119, cet. Al-Ghira.
3.Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 62 dan 187.
4.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbaqh Al-Maliki, hal.107.
5.Nizham Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 92.
6.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 442, hadis ke 951.
7.Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 62, 74 dan 270, cet. Islambul; hal. 71 dan 84, 361 dan 362, cet. Al-Hairiyah.
8.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 71 dan 102, cet. As-Sa’idiyah; hal. 71 dan 101, cet. Al-Ustmaniyah, Mesir.
9.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 96, cet. Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 159, cet. Al-Muhammadiyah.
10.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-Suyuthi, juz 6, hal. 379.
11.Tafsir Ath-thabari, juz 30 dan 146, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
12.Tadzkiyatul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 18.
13.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, jilid 5, hal. 477.
14.Rūhul Ma’āni, karya Al-Alusi, juz 30, hal. 207.
15.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 287.
16.Al-Gahdīr, karya Al-Amini, juz 2, hal. 57.
17.Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 278.
18.Ghāyatul Maram, bab 28, hal. 328, cet. Tehran.
19.Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 156.

Surah Al-An’ām : 153



Perintah Mengikuti Jalan Kebenaran

“Sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya”
Silahkan rujuk:
1.Yanābī’ul Mawaddah, hal. 130, Al-Haidariyah; hal. 111, Islambul.
2.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari, juz 3, hal. 543.
3.Ghāyatul Marām, hal. 434.

Surah At-Taubah : 119




Orang-orang yang Benar

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”
Yang dimaksud dengan “orang-orang yang benar” dalam ayat di atas adalah Imam Ali as dan para pengikut beliau. Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 259, hadis ke : 350, 351, 352, 353, 355, dan 356.
2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-syafi’i, hal. 236, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Al-Ghira.
3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 421, hadis ke 923.
4.Al-Manāqib,karya Al-Kharazmi, hal. 198.
5.Nizhām Duraris Simthain, hal. 91.
6.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 414.
7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 136 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 116 dan 119, cetakan Islambul.
9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-suyuthi, juz 3, hal. 390.
10.Al-Ghadīr,karya Al-Amini, juz 2, hal. 305.
11.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi juz 11, hal. 41.
12.Ghāyatul Marām, bab 42, hal. 248, cetakan Iran.
13.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 314, hadis ke 250; hal. 370, hadis ke 299 dan 300.

Surah Ālu Imrān : 103



Perintah Berpegang Teguh Dengan Ahlul Bait

“Berpeganglah dengan tali Allah (hablullah) dan janganlah bercerai-berai”
Yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah) dalam ayat ini adalah Ahlul Bayt as Hal ini dapat dirujuk di buku-buku referensi berikut ini:
1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 130, hadis ke: 177, 178, 179, dan 180.
2.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, hal. 149, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 139, 328, 356, cetakan Al-Haidariyah; hal. 119, 274, dan 279, cetakan Islambul.
4.Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 76.
5.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 4, hal. 16.
6.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 101, cetakan Al-‘Utsmaniyah.
7.Is’āfur Rāghibīn, karya Ash-Shabban Asy-Syafi’i, hal. 107, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 100, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

Surah Al-Baqarah : 124



Ayat Imamah

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia (berhasil) melengkapinya. Allah berfirman: “Sungguh aku akan menjadikanmu seorang imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim memohon: “ Juga dari keturunanku!”.
Allah berfirman: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh  orang-orang yang zalim”.
Dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathaba’i juz 1 hal. 273, diriwayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima Nabi Ibrahim as sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatnya menjadi seorang mabi, mengangkatnya menjadi nabi sebelum Dia memilihnya menjadi rasul, mengangkatnya menjadi rasul sebelum Ia menjadikannya sebagai kekasih-Nya (Khalilullah), dan menjadikannya sebagai khalilullah sebelum mengangkatnya menjadi seorang imam. Dan setelah Allah menganugerahkan semua itu kepadanya, Dia berfirman: “Sungguh Aku telah mengangkatmu menjadi imam bagi seluruh manusia”. Karena imamah itu sangat agung baginya, maka beliau memohon kepada Allah: “Dan dari keturunanku juga!”. Kemudian Allah menjawab: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”. Selanjutnya Imam Ja’far berkata: “Orang yang bodoh tidak akan menjadi imam bagi orang yang bertakwa”.
Allamah Thabathaba’i mengatakan berdasarkan riwayat di atas, yang dimaksud dengan “Kalimat” dalam ayat ini adalah imamah Nabi Ibrahim as, Ishak dan keturunannya yang kemudian ia menyempurnakannya dengan imamah Muhammad SAWW dan para imam Ahlul Bayt as dari keturunan Nabi Ismail as Kemudian Allah memperjelas persoalan ini dengan firman-Nya: “Sungguh Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”
Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang memiliki kandungan yang sama dengan hadis di atas terdapat di dalam:
1.Al-Manāqib,karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 276.
2.Naqdhus Shawā’iq,karya Sayid Amir Muhammad Al-Khazhim, hal. 220.
3.Dalā`ilus Shidq,karya Al-Imam Al-Muzhaffar, hal. 140.
4.Al-Manāqib,karya Syahr-asyub, juz 2, hal. 263.
5.Tafsir Al-‘Ayyāsyi, tentang surat ini.


Surah Asy-Syūrā : 23




Perintah Mencintai Ahlul Bayt as

“Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini melainkan kecintaan terhadap keluargaku”.
Ayat ini turun untuk keluarga Rasulullah SAWW, yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:
1.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 130, hadis ke 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834, dan 838.
2.Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 307, hadis ke 352.
3.Dzakhā`irul ‘Uqbā, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 25 dan 138.
4.Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 101, 135, 136, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 168, dan 225, cetakan Al-Muhammadiyah, Mesir.
5.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 91,93, dan 313, cetakan Al-Haidariyah; hal. 31, 32, 175, 178, cetakan Al-Ghira.
6.Al-Fushūlul Muhimmahkarya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11.
7.Maqtalul Husein as,karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 1 dan 57.
8.Tafsir Ath-Thabari, juz 25, hal. 25, cetakan ke 2, Mushthafa Al-Halabi, Mesir; juz 25, hal. 14 dan 15, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.
9.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 172.
10. Al-Ittirāf,karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 5 dan 13.
11. Ihyā`ul Mayyit,karya As-Suyuthi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Al-Ittihāf, hal. 110.
12. Nūrul Abhsār,karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 106, cetakan Al-’Utsmaniyah.
13. Tafsir Al-Kasysyāf,karya Zamakhsyari, juz 3, hal. 402, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 4, hal. 220, cetakan Beirut.
14. At-Tafsīrul Kabīr, karya Imam Fakhrur Razi, juz 27, hal. 166, cetakan Abdurrahman Muhammad, Mesir; juz 7, hal. 405-406.
15. Tafsir Al-Baidhāwi, juz 4, hal 123, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir; juz 5, hal. 53, cetakan Darul Kutub, hal. 642, cetakan Al-‘Utsmaniyah.
16. Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 112.
17. Majma’uz Zawā`id, juz 7, hal. 103; dan juz 9, hal. 168.
18. Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 8, hal. 372.
19. Tafsir Al-Qurthubi juz 16 hal. 22.
20. Fathul Qadīrkarya Asy-Syaukani juz 4 hal. 537, cetakan ke 2; juz 2 hal. 22, cetakan pertama, Mesir.
21. Ad-Durrul Mantsūrkarya As-Suyuthi, juz 6, hal. 7.
22. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 106, 194, 261, cetakan Islambul; hal. 123, 229, 311, cetakan Al-Haidariyah.
23. Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 105.
24. Hilyatul Awliyā`, juz 3, hal. 201.
25. Al-Ghadīr,Al-Amini, juz 2, hal. 306-311.
26. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari, juz 3, hal. 2-22; juz 9, hal. 92-101, cetakan Pertama, Tehran.
27. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 259.
28. Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 20; juz 2, hal. 13, hadis ke 359.
29. Abaqātul Anwārbagian hadis Ats-Tsaqalain, juz 1, hal. 285.













Selasa, 31 Januari 2012

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 153-157

Ayat ke 153


Artinya:‎
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, ‎sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.‎


Di sepanjang hidup, manusia sering kali menghadapi berbagai kesulitan. Jika ‎ia tidak memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menghadapinya, maka ia akan ‎terpaksa mengalami kekalahan. Akan tetapi, seorang manusia Mukmin, dalam ‎menghadapi kesulitan-kesulitan ini, bersandar kepada dua hal. Yang pertama ‎kesabaran dan istiqamah, dan yang kedua adalah shalat dan hubungan dengan Allah.

Senin, 16 Januari 2012

Tafsir “Petunjuk dan Kesesatan dari Allah”


Hidâyah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian.[1] Hidâyah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidâyah tasyrî'î dan hidâyah takwînî.[2]

Maksud dari Singgasana Tuhan?


Ada sekelompok aliran dalam Islam yang menafsirkan bahwa arsy Ilahi itu adalah singgasana Tuhan yang terdapat nun jauh di atas sana. Kalau penafsiran ini benar tentu saja meniscayakan tempat dan kedudukan bagi Tuhan, yang menduduki dan diduduki haruslah memiliki rangkapan, volume, isi dan ruang. Bagaimana penafsiran hal ini?

Selasa, 25 Oktober 2011

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59 & ar-Ra'd Ayat 7


Asbabun Nuzul An-Nisā`:59 & Ar-Ra’d:7

1. Asbabun Nuzul Surah An-Nisā`:59, tentang Perintah Menaati Ulil Amr
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan Ulil Amr (yang berasal dari) dirimu”

Senin, 24 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Indzar


Ayat Indzār

“Dan berilah peringatan keluargamu yang terdekat”
Ketika ayat ini turun Rasulullah SAWW bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang kubawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?”



Sabtu, 22 Oktober 2011

Tafsir Surat Muhammad Ayat 30


Kebencian Munafikin terhadap Ali bin Abi Thalib a.s.

"Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengetahui mereka dengan tanda-tanda (yang ada pada) mereka. Dan kamu akan benar-benar mengenal mereka dari cara bicara mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian"
Ayat ini berkaitan dengan munafikin yang membenci Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud berkata: "Kami tidak mengenal orang-orang munafik pada zaman Rasulullah SAWW kecuali melalui kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib." Riwayat ini dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam :


Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 19-22


Dua Lautan yang Bertemu, Membuahkan Mutiara dan Marjan

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Di antara keduanya terdapat pembatas yang tidak akan dapat saling menembus. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan"
Yang dimaksud dengan "dua lautan" adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra a.s., yang dimaksud dengan "mutiara" adalah Imam Hasan a.s. dan yang dimaksud dengan "marjan" adalah Imam Husein a.s. Penafsiran ini dapat anda baca di dalam:
1.Tafsir Rūhul Ma'ānī, karya Al-Alusi, juz 27 hal. 93, cet. Mesir.
2.Ad-Durul Mantsūr, karya Jalaluddin As-Suyuthi, juz 6, hal. 143, cet. Mesir.
3.Yanābī'ul Mawaddah, karya Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 408, cet. Istambul.
4.Al-Manāqibul Murtadhawiyah, karya Al-Kasyafi Al-Hanafi.
5.Miftāhun Najāh, karya Al-Badkhasyi, hal. 13.
6.Maqtqlul Husein a.s., Al-Kharazmi, hal. 112, cet. Najaf.
7.Tadzkiratul Khawwāsh, karya As-Sibth bin Al-Jauzi, hal. 54, cet. Al-Ghira.
8.Al-Manāqib, karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi'i, hal. 212.
9.Al-Manāqib, karya Ibnu Syahr-asyub, juz 3, hal. 111, cet. Najaf.
10.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 27, hal. 91.
11.Ihqāqul Haqq Wa Izhāqul Bāthil, karya Nurullah Al-Huseini, juz 9.

Tafsir Surat Al-Kaustar ayat 1-3


Keturunan Rasulullah SAWW

"Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (keturunannya)"
Ayat ini turun berkaitan dengan pernikahan Fathimah Az-Zahra' dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., dan juga sebagai jawaban atas tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAWW terputus. Jadi, yang dimaksud dengan "nikmat yang banyak" adalah Rasulullah SAWW memiliki keturunan yang banyak dan baik melalui Fathimah Az-Zahra' dan Amirul Mukminin a.s. Keturunan itu adalah para imam a.s. yang akan membimbing manusia menuju ketaatan dan keridhaan Allah. Adapun yang dimaksud dengan "orang yang membencimu dialah yang terputus" adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAWW tidak memiliki keturunan.
Penafsiran ini dapat Anda baca dalam buku-buku berikut:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 30, hal. 504.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurān(catatan pinggir) Majma'ul Bayān, juz 30, hal. 175.
3.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 30, hal. 206, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 M.
5.Al-Manāqib, karya Syahr-asyub, juz 3, hal. 127.

Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat 5


Ridha Rasulullah SAWW

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hatimu) menjadi puas”
Ayat ini turun untuk Ahlul Bayt a.s. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Al-Qurthubi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah SAWW puas (baca : rela) karena tidak ada seorang pun dari Ahlul Baytnya yang masuk ke dalam api neraka”. Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya Fathimah adalah wanita yang memelihara kesuciannya, maka Allah mengharamkannya dan keturunannya dari api neraka." Riwayat ini dan riwayat-riwayat yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Jāmi'ul Bayān, karya Ath-Thabari, juz 30, hal. 149.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurānkarya An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi'ul Bayān, juz 30, hal. 109.
3.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 459.
4.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 523.
5.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 3, hal. 136.
6.Asy-Syaraful Mu`abbad li Āli Muhammad, karya An-Nabhani, hal. 44, cetakan Al-Halabi, cetakan kedua.

Tafsir Surat Al-Haqqah Ayat 11-12

Surah Al-Hāqqah : 11-12

Telinga Yang Mau Mendengar
"Ketika air (yang hendak menelan para penentang) membumbung tinggi Kami masukkan kalian ke dalam kapal laut, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan (sayangnya) hanya telinga yang sadar yang dapat mendengar peringatan itu"
Yang dimaksud dengan "telinga yang sadar" adalah telinga Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah SAWW bersabda: "Ya Allah, jadikanlah telinga Ali mendengar peringatan itu". Kemudian Imam Ali a.s. berkata: "Karena doa itu apa yang kudengar dari Rasulullah SAWW tidak pernah kulupakan". Riwayat ini dan riwayat-riwayat yang semakna dengannya dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 5, hal. 282.
2.Tafsir Al-Kasysyāf, karya Az-Zamakhsyari, juz 4, hal. 151.
3.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 413.
4.Tafsir Gharā`ibul Qurān, karya An-Naisabari (catatan pinggir) Tafsir Jāmi'ul Bayān, juz 29, hal. 31.
5.Tafsir Jāmi'ul Bayān, karya Ath-Thabari, juz 29, hal. 43.
6.Tafsir Majma'ul Bayān, karya Ath-Thabarsi, juz 29, hal. 43.
7.Al-Ghadīr, karya Al-Amini, juz 3, hal. 391.

Tafsir Surat Asy-Syura ayat 23

Surah Asy-Syūrā : 23

Orang Yang Berbuat Kebaikan
"Dan barang siapa yang berbuat sebuah kebajikan, maka Kami akan menambahkan kebaikan baginya dalam kebaikannya itu"
Yang dimaksud dengan "berbuat kebaikan" dalam ayat di atas adalah mencintai Keluarga Nabi SAAW, sebagaimana hal ini telah dinyatakan karya susunan kata sebelumnya secara implisit yang menganjurkan kita untuk mencintai keluarga Nabi SAWWW. Berkenaan dengan informasi lebih lanjut dapat Anda baca di dalam:
1.Tafsir Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 4, hal. 534, cet. Al-Halabi.
2.Tafsir Al-Kasysyāf, karya Az-Az-Zamakhsyari, juz 3 hal. 468.
3.Tafsir Majma'ul Bayān,karya Ath-Thabarsi, juz 24, hal. 51, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Ihqāqul Haqq wa Izhāqul Bāthil, karya Allamah Nurullah Al-Huseini, juz 9, hal. 130.
5.Ad-Durul Mantsūr, juz 4, hal. 7, cet. Mesir.
6.Tafsir Rūhul Ma'āni, karya Al-Alusi, juz 25, hal. 31, cet. Mesir.
7.Nizhām Duraris Simthain, karya Az-Zarnadi Al-Hanafi, hal. 86.
8.Yanābī'ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 118, cet. Istambul.
9.Al-Fushūlul Muhimmah, karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11, cet. Najaf.
10.Al-Manāqib, karya Ibnu Syahr-asyub, juz 3, hal. 2.

Tafsir surat At-Tahrim ayat 4

Surah At-Tahrīm : 4

Mukmin yang Salih
"Jika kalian (dua orang wanita) bertaubat kepada Allah, maka (hal itu adalah sangat baik dan) sesungguhnya hatimu menginginkan (hal itu), dan jika kalian berdua saling bahu-membahu untuk mengganggunya (Nabi), maka sesunggunya Allah, Jibril dan mukmin yang salih adalah pelindungnya"
Ayat ini turun berkenaan dengan kasus A’isyah dan Hafshah. Dan yang dimaksud dengan "mukmin yang salih" adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Silahkan rujuk:
1.Tafsir Fathul Qadīr, oleh Asy-Syaukani, juz 1, hal. 253.
2.Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 hal. 489.
3.Tafsir Majma'ul Bayān, oleh Ath-Thabarsi, juz 28, hal. 123, cet. Darul Fikr, Beirut.
4.Tafsir Mahāsinut Ta`wīl, oleh Syaikh Jamaludin Al-Qasimi, juz 16, hal. 58-62, cet. Darul Ihya' Al-'Arabiyah.
5.Al-Manāqib, oleh Ibnu Syahr-asyub, juz 2, hal. 274.
6.Al-Mustadarak, karya Al-Hakim, juz 2, hal. 493.




Allah SWT mengecam Aisyah dan Hafsah, yang termaktub dalam [Q.S. At-Tahrim 3-5].
Riwayat yang dianggap mutawattir menyatakan bahwa asbabun nuzul ayat tersebut adalah sebagai berikut :
Biasanya Rasul saww setiap pagi minum madu di rumah Zainab (salah seorang isteri beliau). Aisyah dan Hafsah cemburu dan sepakat untuk menyindir Rasul saww. Sepulang dari sana, Rasul saww bertemu dengan Aisyah yang sedang bersama Hafsah, kemudian Aisyah dan Hafsah berkata : “Kau telah makan Maghafir” (maghafir adalah getah yang baunya busuk sekali, yang dihasilkan oleh pohon urfuth). Rasul saww menjawab : “Tidak, aku hanya minum madu di tempat Zainab”. Kemudian salah satu dari mereka berkata :”Jika demikian mungkin lebahnya telah mengisap pohon urfuth sehingga berbau maghafir”.
Ref. Ahlusunnah :
  1. Tafsir Ibn Katsir, tentang ayat [Q.S. At-Tahrim 3-5].
  2. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “Ibrahim dan isteri-isteri Nabi”.
Setelah itu, turunlah [Q.S. At-Tahrim 3-5], yang berisi kecaman Allah SWT atas tindakan Aisyah dan Hafsah.
Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Umar bin Khattab ketika ditanya oleh Ibn Abbas tentang siapa kedua isteri Rasul saww yang dikecam oleh Allah SWT dalam [Q.S. At-Tahrim] tersebut, maka Umar menjawab : “Keduanya adalah Hafsah dan Aisyah”.
Ref. Ahlusunnah :
Shohih Bukhori, jilid 3, bab “Peringatan pada isteri Nabi” [Lihat Catatan Kaki no.  15]
Menyakiti Rasul saww di saat yang lain
Sebagaiman yang telah diketahui, Mariyah adalah ibu dari Ibrahim, putra Rasul saww yang meninggal dalam usia masih bayi. Kehadiran Mariyah telah membuat cemburu Aisyah. Apalagi ketika Mariyah memberikan putra kepada Rasul saww. Ketika Ibrahim lahir, Rasul saww sangat gembira. Kemudian dipanggilnya Aisyah untuk melihat betapa besarnya persamaan beliau dengan Ibrahim. Aisyah lalu mengatakan bahwa Ibrahim sama sekali tidak mirip dengan Nabi saww. Bahkan setelah dilihatnya bahwa Rasul saww sangat gembira karena pertumbuhan bayi itu, maka Aisyah tampak marah.
Hafsah juga pernah mengakui penentangan dirinya atas Rasul saww dalam hal yang lain. Lalu ia mengatakannya saat ia ditanya oleh Umar bin Khattab (ayahnya). Lalu Umar mendatangi Ummu Salamah ra untuk membicarakan hal tersebut. Dan dijawab oleh Ummu Salamah ra : “Aneh sekali engkau ini, hai Umar ! Engkau telah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai engkau mencampuri urusan Rasulullah dengan rumah tangganya !”
Ref. ahlusunnah :
1. Tafsir Ibn Katsir, tentang [Q.S. At-Tahrim 3-5].
2. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”, bab “Ibrahim dan isteri-isteri Nabi”.

Tafsir Surat Hud ayat 17

Surah Hūd : 17

Seorang Saksi dari Allah SWT
"Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang yang berada pada hujjah yang jelas dari Tuhannya (Al Quran), dan diikuti pula oleh seorang saksi dari-Nya"
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: "Tidak seorang pun dari suku Qureisy kecuali turun untuknya satu atau dua ayat”. Kemudian beliau ditanya: “Ayat yang turun untukmu?”. Beliau menjawab: "Tidakkah kamu membaca Surat Hud : 17 yang menegaskan 'Dan diikuti oleh seorang saksi dari-Nya”. Riwayat ini dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya terdapat di dalam:
1.Tafsir Jāmi'ul Bayān, oleh Ath-Thabari, juz 11, hal. 11.
2.Tafsir Gharā`ibul Qurān, oleh An-Naisaburi (catatan pinggir) Tafsir Jāmi'ul Bayān, juz 12 hal. 15.
3.Tafsir Fathul Qadīr, oleh Asy-Syaukani, juz 2, hal. 482.
4.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 440.
5.Al-Manāqī, oleh Ibnu Syahr-asyub, juz 2, hal. 282.
6.Al-Ghadīr, oleh Al-Amini, juz 1, hal. 107.