Laman

Tampilkan postingan dengan label Ahlilbait as. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlilbait as. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir


KATA SAMBUTAN

Adik-adik dan remaja tercinta!
Dalam kehidupan dunia ini, kita selalu memerlukan manusia-manusia teladan yang berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan mereka, kita dapat meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imam Ahlul Bait as. merupakan manusia-manusia teladan bagi kita semua. 

Kronologi Tasbih Fatimah Zahra as


Ketika hendak bertasbih, Sayyidah Fathimah as mengambil benang yang terbuat dari bulu kambing, kemudian ia menggulungnya sebanyak jumlah takbir dalam bentuk yang bulat. Ia memegangnya dan memutarkanya sembari berdzikir membaca tasbih.
Begitulah Sayyidah Fathimah as senantiasa bertasbih hingga hari kesyahidan Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutthalib, paman Rasulullah saw. Setelah itu, ia mengganti tasbihnya dengan tanah kuburan Sayyidina Hamzah. Sejak saat itu ia berdzikir dengan tasbih yang beliau buat dari tanah tersebut. Kemudian masyarakat mengikuti apa yang dilakukan oleh beliau. Mereka juga membuat tasbih dari tanah dan menggunakannya untuk berdzikir.
Hal ini terus berlanjut hingga masa kesyahidan Imam Husain as. di padang Karbala. Lantaran tanah kuburan Imam Husain as. itu memiliki keutamaan yang melebihi tanah lainnya, masyarakat menggunakan tanah tersebut sebagai tasbih. Dan setelah itu, tasbih mereka dibuat dari tanah kubur Imam Husain as. Bihar al-Anwar jilid. 85, hal. 333.
Walaupun pada saat ini banyak tasbih yang dibuat dari selain tanah Karbala, akan tetapi yang lebih utama adalah tasbih yang terbuat dari tanah itu, yaitu tanah di mana Imam Husain as dikebumikan.

Selasa, 29 Mei 2012

Surat Wasiat Ali as Untuk Al-Hasan as

Dari seorang ayah, yang sudah sangat lemah dan butuh istirahat, yang mengakui keberadaan pengaruh waktu yang merusak penampilan seseorang aau sesuatu. Seorang ayah yang sudah semakin lanjut usia, yang menyerah kepada waktu. Seorang ayah yang menganggap dunia yang suka melanggar amanat ini sebagai yang bertanggung jawab atas terjadinya segala ketidak beresan. Seorang ayah yang tinggal dirumah si almarhum, yang mau meninggalkan dunia ini tak lama lagi. Kepada putranya, yang mengharapkan sesuatu yang tak dapat digapai, melangkah dijalan mereka yang telah tiada, menjadi sasaran penyakit, berada dalam cengkeraman kondisi waktu yang tak diinginkan, menjadi objek bencana, menjadi tawanan tuntutan-tuntutan duniawi, menjadi orang yang melepaskan sesuatu yang lama untuk mendapatkan sesuatu yang baru, orang yang punya hutang kepada kematian dan menjadi tawanan kematian, sekutu kecemasan dan teman kesedihan, sasaran tembak bencana mendadak, korban hasratnya, dan pengganti si almarhum.

Kamis, 02 Februari 2012

IMAM ALI DALAM KACA MATA AL-QURAN


Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali as. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah saw. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah swt. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali as.[1]

Kamis, 12 Januari 2012

Ayat-ayat Khilafah Dan Kepemimpinan Ahl bait as


Sesuai hadis Tsaqalain, Al-Quran dan Ahlu bait merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, keduanya adalah pusaka nabi saw yang diwariskan kepada para umatnya, pusaka yang sanggup menjaga umat akhir zaman dari berbagai bahaya yang datang menghadang, baik bahaya ideology, budaya, atau yang lain yang dilancarkan musuh-musuh pengikut agama yang benar.

Wal Kazhimina al-Ghaizh


Pada masa Imam Ketujuh, ada seorang miskin, seorang peladang yang tidak terdidik berlaku sangat kasar kepada Imam Musa al-Kazhim As, manakala ia melihatnya.  Tanpa memandang betapa kasar orang ini, Imam Musa As sama sekali tidak merasa gusar dan tidak berkata kasar sebagai balasan atas orang itu. Para sahabat Imam Musa bermaksud untuk menghajar orang itu, akan tetapi Imam tidak membolehkan mereka melakukan hal itu. Imam Musa Kazhim As berkata kepada mereka bahwa ia sendirilah yang akan mengajar orang itu.  Suatu hari Imam Musa As menunggangi kudanya bertolak menuju ladang tempat orang yang kasar itu bekerja. Tatkala ia melihat Imam Musa As, ia menghentikan kerjanya dan berkacak pinggan, bersiap-siap untuk berlaku kasar kembali.
Imam turun dari kudanya dan maju mendekat orang tersebut dan memberikan salam dan senyum bersahabat kepadanya. Imam Musa As berkata kepadanya bahwa ia hendaknya tidak terlalu banyak bekerja sendiri dan ladang yang ia miliki merupakan ladang yang baik. Imam bertanya kepadanya ihwal berapa banyak yang ia harapkan untuk ia terima ketika menuai hasil ladangnya.
Si peladang menjadi sangat kaget pada sikap santun dan ketulusan Imam. Ia berpikir sesaat, dan ia kemudian berkata bahwa ia mengharapkan 200 keping emas dari tanah garapannya ini. Imam Musa As merogoh sebuah kantong dan menyerahkan kepada si peladang bahwa dalam kantung uang tersebut terdapat 300 keping emas, lebih dari nilai hasil ladang garapanmu. Imam Musa As berkata kepada orang itu untuk mengambil uang itu dan juga tetap memiliki hasil garapan. Dan ia berharap untuk mendapatkan lebih banyak dari itu.
Tatkala ia mendapatkan perlakuan yang demikian baik dan santun, si peladang kasar itu menjadi sangat malu kepada dirinya dan meminta kepada Imam Musa As untuk memaafkannya.
Setelah itu, manakala peladang kasar itu melihat Imam Musa As, ia segera menyapa Imam Musa As dengan santun. Para sahabat Imam Musa As sangat takjub akan perilaku orang tersebut.
Suatu hari Imam melintas di hadapan seorang miskin. Ia menyapanya dengan sopan dan berbicara dengannya selama beberapa menit., menanyakan apakah ia baik-baik saja.
Tatkala Imam Musa As beranjak pergi, ia berkata kepada orang miskin tersebut kalau-kalau ada yang dapat dilakukan untuk orang itu, ia akan melakukannya.
Para pengikut Imam Musa As melihat dan mendengar betapa baiknya Imam kepada orang papah ini. Mereka berkata kepada Imam bahwa tidak pantas orang sebesar Imam berkata dan menawarkan jasa kepada orang seperti orang itu.
Imam menjawab bahwa mereka lupa bahwa mereka semuanya merupakan hamba Allah, dan Allah Swt menciptakan seluruh manusia sama. Juga bahwa jika seorang miskin tidak berarti bahwa ia akan tetap miskin seumur hidupnya dan demikian juga bagi seorang yang kaya.
Imam Musa Kazhim As berkata kepada mereka bahwa siapa yang memerlukan pertolongan darimu hari ini boleh jadi akan menolongmu suatu hari kelak.

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Musa al-Kazhim As

Makna “al-Qurba” pada ayat 23 surah Syura


Apabila maksud pembicara dari sebuah redaksi atau kata-kata yang digunakan di dalamnya tidak jelas, pada setiap proposisi dan kalimat, maka ia harus ditelusuri pada indikasi-indikasi (qarâin) yang dapat menjelaskan maksud dari ucapannya itu. Terkait dengan ayat 23 surah al-Syura “Qul laa as’alukum ‘alaih ajran illa mawaddata fil qurbah” padanya terdapat indikasi-indikasi dan tanda-tanda yang membimbing dan membantu kita untuk memperoleh maksud yang sebenarnya dari firman Allah tentang al-Qurba.

Mengapa nama para Imam Maksum As tidak dicantumkan secara jelas dalam Al-Qur’an?


Perlu diketahui bahwa kendati nama para Imam Maksum As tidak disebutkan secara jelas dan tegas dalam Al-Qur’an, namun dalam sabda-sabda Nabi Saw disebutkan secara jelas nama para Imam Maksum As, khususnya nama Imam Ali As yang merupakan proyeksi jelas dari hadis al Ghadir dan sebagai pengumuman resmi akan kekhalifahannya. Hadis al Ghadir, dari aspek sanadnya termasuk hadis yang mutawatir dan dari sisi dilâlah-nya (petunjuknya) merupakan bukti-bukti jelas akan imâmah Imam Ali As.

Al Quran dan Ahlul Bayt as


Ahlul Bait Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab: 33
Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l’llâhu liyudzhiba ‘ankumu l’rijsa ahla l’bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS. 33:33).

Rabu, 30 November 2011

Ali bin Abi Thalib dan Golongan Qasithin (Pasukan Shiffin)


Ali bin Abi Thalib dan Golongan Qasithin (Pasukan Shiffin)


Persiapan Muawiyah 

Pemindahan ibukota pemerintahan Islam oleh Ali bin Abi Thalib ke Kufah sangat menggusarkan Muawiyah bin Abu Sufyan, sebab dia melihat bahwa pemindahan itu dengan maksud menyatukan negara Islam dan membangun kekuatan Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunah Nabi saw. Reaksi pertama yang dilakukannya ialah meminta bantuan Amr bin Ash sebagai konsultannya, karena Amr terkenal dengan tipu muslihatnya, terutama adanya kesamaan dalam membenci Islam dan Ali bin Abi Thalib.

Setelah menerima surat Muawiyah, Amr bin Ash tidak membuang-buang waktu. Selama ini yang menjadi keinginan Amr adalah ketamakannya kepada dunia. Ia tidak menganggap penting agama, sekalipun dapat menjaminnya masuk surga.

Rabu, 23 November 2011

Imam Ali as. Penentu Surga Dan Neraka


Dalam banya hadis, Nabi saw. bersabda bahwa Ali ibn Abi Thalib as. adalah pemilah antara penghuni surga dan neraka. Allah SWT akan memberi kehormatan bagi Imam Ali as. untuk melakukan prosesi pemilahan antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ali as. akan mengatakan kepada surga, ‘Orang-orang ini adalah bagianmu.’ Dan berkata kepada neraka, ‘Orang-orang itu bagianmu.’

Hadis tentangnya telah diriwayatkan para ulama hadis Sunni dari banyak jalur dan mereka abadikan dalam berbagai kitab berharga karya meraka dan tidak sedikit dari jalur-jalurnya adalah shahih.

Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa darinya.

Kamis, 17 November 2011

Al-Mahdi, Keadilan dan Kebahagiaan Akhir Zaman



Dini hari menjelang subuh, tanggal 15 Syaban 255 Hijriyah, rumah Imam Hasan al-‎Askari as diterangi oleh cahaya imamah yang lahir dari rahim wanita suci bernama ‎Narjis. Kelahiran bayi ini disambut dengan suka cita oleh sang ayah sebab dialah ‎yang kelak akan menjadi pemimpin dunia dan menegakkan keadilan dan kebenaran di ‎seluruh muka bumi. Dialah al-Mahdi yang berita kedatangannya sudah dikabarkan ‎oleh para Nabi. ‎

Sejarah Imam Ali as, Pribadi yang Dicintai Rasul


Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang paling dekat dan paling dicintai oleh Rasulullah Saw. Banyak riwayat dan hadis yang menjelaskan tentang hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw mendapat kiriman daging burung panggang. Nabi Saw mengatakan bahwa dia hanya akan memakan daging itu bersama dengan orang paling beliau cintai dan paling dicintai oleh Allah. Kepada Anas bin Malik yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu di rumah Nabi, beliau bersabda bahwa orang yang akan datang ke rumah ini adalah orang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sejarah Imam Ali as, Pasca Meninggalnya Rasulullah Saw



Tahun 10 hijriyah, Nabi Saw bersama para sahabatnya melakukan ibadah haji. Musim haji tahun itu, hanya dihadiri oleh mereka yang telah memeluk agam Islam. Sejarah mencatat, bahwa lebih dari 100 ribu muslim ikut menyertai rasulullah Saw dalam ibadah haji yang disebut dengan hajjatul wada' ini. Hajjatul Wada berarti haji perpisahan, karena setelah tahun itu umat Islam ditinggalkan oleh pemimpin mereka, Rasulullah Saw yang wafat hanya selang beberapa bulan sepulangnya dari haji ini.


Sejarah Imam Ali as, Perang Shiffin


Setelah api fitnah pasukan Jamal berhasil dipadamkan, pemerintahan Imam Ali as kembali diguncang oleh pemberontakan pasukan Syam pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. Perang ini terjadi setelah Muawiyah yang menjabat sebagai gubernur Syam sejak masa khalifah Umar bin Khatthab, menolak berbaiat dan tidak bersedia tunduk kepada pemerintahan Imam Ali as. Saat Imam Ali melalui sepucuk surat memintanya untuk berbaiat, Muawiyah mengumpulkan warga Syam di masjid dan mengatakan bahwa ia akan menuntut darah khalifah Usman yang dibunuh oleh para pemberontak.

Sejarah Imam Ali as, Wafatnya Pengganti Rasulullah Saw


Setelah perang Nahrawan berakhir, Imam Ali as kembali mengimbau umat untuk bersiap-siap menyerang Muawiyah di Syam yang melakukan pembangkangan dan merusak persatuan kaum muslimin. Namun seruan beliau itu tidak mendapat sambutan masyarakat luas. Sejumlah orang seperti Asy'ats bin Qais sangat berperan dalam mengendurkan semangat para pendukung khalifah untuk kembali menyusun kekuatan di bawah kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as. Akibatnya, dengan alasan letih karena perang, mereka memilih untuk meninggalkan pemimpin mereka di kamp Nukhailah. Menyaksikan kondisi yang demikian, Amirul Mukminin terpaksa kembali ke Kufah.

Teladan Kehidupan Imam Husein as (Bagian pertama)


Heroisme yang telah diciptakan oleh Imam Husein, putra Imam Ali as, cucu Rasul Allah Saw, di tahun 61 HQ, adalah heroisme yang lebih luas dari sejarah dan batas-batas geografi, meniupkan semangat hakekat kemanusiaan ke segenap penjuru dunia. Hari-hari peringatan syahadah Imam Husein bin Ali alaihimassalam, mengingatkan kebangkitan abadi beliau di tanah Karbala. Perlawanan dan kebangkitan Imam Husien as telah mengukir perang tak sebanding melawan bala tentara Yazid, penguasa zalim dan kejam masa itu, sebagai peristiwa yang penuh dengan pelajaran berharga untuk seluruh sejarah. Jalan yang ditunjukkan Imam Husein dalam perjalanan hidup beliau adalah jalan kemuliaan. Bendera yang beliau kibarkan, membuka jalan yang membimbing semua pejuang kemerdekaan dan pencari kemuliaan.

Teladan Kehidupan Imam Husein as (Bagian kedua)



Di antara ajaran Imam Husein as yang mengandung arti sangat mendalam dan luas ialah kata-kata beliau yang mengandung arti sebagai berikut: "Kehidupan dan kematian yang hina, sama-sama perkara yang tidak disukai. Jika saya terpaksa memilih antara kematian dan kehidupan, maka gerak saya menuju kematian dengan kemuliaan, akan merupakan gerak yang sangat indah." Imam Husein as memiliki kata-kata yang mengandung pelajaran yang sangat berharga berkenaan dengan kaharusan hidup mulia di dunia ini, dan bahwa lebih baik mati di atas jalan kemuliaan daripada hidup dalam kehinaan. Ajaran ini bukan hanya dalam bentuk kalimat yang keluar dari lidah yang tak bertulang ini, tapi beliau praktekkan dengan sangat sempurna, ketika beliau bangkit menentang pemerintahan lalim dan tiran, yang berakhir dengan gugurnya beliau di tanah Karbala.

Teladan Kehidupan Imam Husein as (Bagian ketiga)

Banyak tokoh pejuang dan revolusioner dalam sejarah yang bangkit dalam melakukan gerakan-gerakan yang berpengaruh luas di tengah masyarakat. Akan tetapi mengapa kaum Syiah hanya membesar-membesarkan peringatan syahdah Imam Husein dan perjuangan beliau di Padang karbala? Pertanyaan seperti ini sering dimunculkan oleh sebagian orang awam atau kalangan terpelajar yang entah karena sebab apa, berniat mempertanyakan upacara peringatan hari syahadah Imam Husein as yang dia anggap terlalu dibesar-besarkan, padahal tidak sedikit para pejuang yang juga bangkit, dan sebagian mereka gugur di jalan perjuangannya itu.

Teladan Kehidupan Imam Husein as (Bagian keempat)


Cinta kepada sesama dan penghormatan kepada semua orang termasuk diantara sifat-sifat yang akan memberikan kondisi kejiwaan yang terbaik bagi pemilik sifat ini. Para psikolog dan ahli jiwa mengatakan, bahwa sifat ini sebagai keutamaan yang sangat tinggi. Imam Husein as adalah teladan yang sangat tepat bagi umat manusia berkenaan dengan sifat mulia ini. Dari beliau setiap orang akan memperoleh pelajaran tentang pengorbanan dan kasih sayang kepada sesama. Sifat ini akan membebaskan seseorang dari kungkungan sempit egoisme, dan menghantarkannya menuju kepada nilai-nilai kemanusiaan yang sangat luas. Setiap kali motifasi-motifasi kemanusiaan semakin menguat pada seseorang, maka wujud kemanusiaannya akan semakin meluas dan kasih sayangnya kepada sesama juga akan semakin menguat.