Laman

Tampilkan postingan dengan label Mulla Shadra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mulla Shadra. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Meneladani Sadra dan “Membumikan” Empat Perjalanan Ruhani / Spiritual


M. Norsatya Azmatkhan
Di era modern yang serba instan dan praktis ini, manusia kerap mencari jalan yang mudah dan sederhana untuk memahami dan melaksakan suatu ilmu dan pemikiran yang rumit. Berangkat dari pandangan ini dan dari keinginan meneladani Mulla Shadra saat beliau memberikan ‘nilai’ pemikiran filosofisnya dalam bingkai spiritualisme kaum arif dengan empat perjalanan rohani; Penulis secara khusus mengajak kepada diri penulis sendiri dan rekan-rekan di Mulla Shadra Society of Indonesia , serta secara umumnya kepada masyarakat luas, untuk secara sadar menerapkan empat perjalanan rohani / spiritualitas dalam berbagai sendi kehidupan kita, sebagai pemaknaan atas jalan kehidupan kita. Hal ini tidaklah harus berangkat secara ideal sempurna, seperti yang dilakukan oleh kaum sufi dan filsuf par excellence (Apabila dapat, amatlah baik), namun dengan segala keterbatasan kita, berangkat dari role model tersebut, kita bisa menerapkan secara sederhana pula dalam kehidupan kita sehari-hari. Pandangan tersebut, hendak penulis jelaskan sebagai berikut.

Wahdatul Wujud, Serta Perbedaan Teori Wujud Sufi Dan Teori Wujud Filosof


Pendahuluan
Pembahasan tentang Tuhan sungguh telah menjadi pembahasan yang tiada habisnya. Dalam setiap zaman Tuhan selalu ingin diketahui oleh makhluk-Nya, hal ini berangkat dari fitrah manusia yang mempunyai rasa ingin tahu dan rasa apresiasi yang tinggi. Maka atas itu, muncullah macam-macam disiplin ilmu yang membahas tentang Tuhan. Seperti contohnya Filsafat dan Tasawuf yang masing-masing memiliki metode yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda, akan tetapi memulai start tentang pembahasan Tuhan dalam tempat yang sama, yakni dari bahasan wujud.

Rabu, 26 Oktober 2011

Jurnal Mulla Shadra


SEBAGAI “daging yang berfikir” manusia menempati level tertinggi dalam modus utama pengetahuan. Bila Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir (Al-hayawan- An-Natiq) untuk menunjukan demarkasi antara manusia dengan makhluk lain, maka keberpikiran seperti apa? Menjadi tanya yang tampaknya harus mendapat perhatian tersendiri. Oleh karena manusia dibekali daya pikir dan intuisi maka memandang manusia dari satu dimensi saja tampaknya akan menelurkan konsekuensi tertentu pula. Sehingga predikat yang disandang manusia tampaknya melampaui dimensi pikir itu sendiri. Meskipun demikian, modus utama “ke-ber-pikir-an” adalah terminal awal untuk menjalani lorong panjang berkehidupan.

Jiwa Menurut Mulla Shadra


Bagi Sadra, jiwa merupakan substansi.



Jiwa, menarik minat Sadr ad-Din Muhammad Shirazi. Cendekiawan Muslim, yang lebih dikenal dengan nama Mulla Sadra ini, membahas tentang jiwa dalam kajian filsafat yang ia tekuni. Dan, dalam bidang ini, ia menuliskan karya penting. Salah satunya, Al-Hikmah al-Muta’aliyyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba’ah .

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA Perspektif Filsafat Mulla Shadra*


INTEGRASI ILMU DAN AGAMA
Perspektif Filsafat Mulla Shadra*

Dr. Arqom Kuswanjono


HUBUNGAN ilmu dan agama, baik dalam ranah ontologis, epistemologis maupun ontologis selalu menyisakan persoalan yang tidak pernah  selesai dibicarakan. Berawal dari temuan Copernicus (1473-1543) yang kemudian diperkuat oleh Galileo Galilei (1564-1642) tentang struktur alam semesta yang heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) berhadapan dengan gereja yang geosentris (bumi sebagai pusat tata surya), telah melahirkan ketegangan antara ilmu dan agama. Penerimaan atas kebenaran ilmu dan agama menjadi satu pilihan yang dilematis.

Filsafat Hikmah Mulla Shadra



mujtahid

DALAM peta sejarah sosial Islam, Mulla Shadra –pencetus mazhab “al-Hikmah al-Muta’aliyah” (Filsafat Hikmah)- diakui oleh para cendikiawan Muslim sebagai salah seorang filosof Muslim terbesar pada jamannya. Sebab jika kita membuka lembar sejarah, Mulla Shadra hidup pada abad pertengahan, yang menurut sebagian orang terutama Barat, menandainya dengan sebutan abad statis (jumud), taqlid atau kemunduran.

EKSISTENSIALISME PERSFEKTIF FILSAFAT MULLA SADRA


EKSISTENSIALISME PERSFEKTIF FILSAFAT MULLA SADRA

        MUQADIMAH

Kesempurnaan manusia adalah karena ketidak sempurnaanya itu, sehingga ia selalu bertanya,dan gelisah akan hal- hal yang melingkupi kehidupanya, realitas kosmologi dan sebagainya. Pertanyaan yang paling dasar adalah ketika manusia gusar tentang eksistensi alam, siapakah kita…? yang melahirkan tentang filsafat manusia,s iapa encipta kita ..? yang melahirkan berbagai pandangan tentang konsep ketuhanan, asal usul alam semesta, ia real atau tidak dan lain sebagainya. Yang muaranya adalah berbicara tentang eksistensi, wujud (being).

Apa hubungan antara wahdatul wujud dalam pandangan Ibnu Arabi dan Filsafat Hikmah Mulla Shadra?



Apa hubungan antara wahdatul wujud dalam pandangan Ibnu Arabi dan Filsafat Hikmah Mulla Shadra? Apakah bangunan Filsafat Hikmah tekerangka dari maktab filsafat, tasawuf dan irfan sebelum Mulla Shadra? Dan yang paling penting adalah bagaimana dua pandangan ini memainkan peran penting dalam kehidupan manusia? Apakah bersandar pada pandangan ini dapat melesakkan manusia lebih dekat kepada Allah Swt? 

Antara Imam Khomeini dan Mulla Shadra



Oleh: Syarif Lak Za’i

Hal yang menarik adalah berbeda dengan apa yang biasa terjadi dan berdasarkan apa yang ditemukan dalam karya-karyanya, Mulla Shadra tidak pernah menghadiahi penguasa dengan karya-karyanya. Ia bahkan tidak pernah memberikan ruang untuk memuji penguasa waktu itu. Apa yang terjadi pada zaman Mulla Shadra, pada masa Imam Khomeini terjadi perubahan di mana institusi marja’iyah telah kokoh dan Imam Khomeini sebagai seorang ahli fiqih sekaligus penafsir filsafat Hikmah Muta’aliyah berhasil menduduki lembaga ini.

A K A L




Musa al-Kadzim

Imam Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir berkata, "Ketika Allah menciptakan akal, Dia mengajaknya berbicara. Allah berkata, ‘Menghadaplah (kepada-Ku)!’ Maka, akalpun segera menghadap. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘ Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, tiada makhluk yang lebih Aku cintai daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala.’"