Laman

Kamis, 19 Mei 2011

TERBUNUHNYA KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN DALAM RIWAYAT AHLU SUNNAH..(SEBAB DAN AKIBAT)


  1. BISMILLAH..
BIMUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD

Sejarahwan Islam seperti Thabari, Ibnu Atsir, dan Baladzuri serta masih banyak lagi memberikan hadis yang menegaskan bahwa para sahabat adalah orang-orang pertama yang mengajak yang lainnya, tinggal di kota lain untuk bergabung melakukan pemberontakan kepada Utsman.

bnu Jarir meriwayatkan, ketika orang-orang melihat apa yang dilakukan Utsman, para sahabat Nabi di Madinah menulis surah kepada sahabat yang lain yang tersebar di sepanjang batas provinsi:

Kalian telah berjuang di jalanAllah, demi agama Muhammad. Ketika kalian tiada, agama Muhammad telah dirusak dan ditinggalkan. Maka kembalilah untuk menegakkan kembali agama Muhammad.



Kemudian mereka berdatangan dari segala penjuru hingga mereka membunuh Utsman.
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 184.}

Sebenarnya, Thabari mengutip paragraf di atas dari Muhammad bin Ishaqbin Yasar Madani yang merupakan sejarahwan Sunni paling terkemuka dan penulis kitab – kitab Sirah Rasulullah. Sejarah mengungkapkan bahwa orang – orang berpengaruh ini merupakan kunci penggerak penentangan terhadap Utsman. Mereka di antaranya Thalhah, Zuhair, Aisyah binti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, dan Amru bin Ash.

Thalhah bin Ubaidillah
=============

Thalhah bin Ubaidillah adalah satu penggerak utama menentang Utsman dan orang yang berkomplot dalam kematiannya. Kemudian ia menggunakan peristiwa itu membalas dendam kepada Ali dengan mengobarkan perang saudara yang pertama kali terjadi dalam sejarall Islam (Perang Unta). Berikut ini beberapa paragraf dari Thabari dan Ibnu Atsir untuk membuktikan pendapat di atas. Di bawah ini paragraf pertama yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (di beberapa naskah, paragraf ini diriwayatkan oleh Ibnu Ayash).

Aku memasuki rumah Utsman (ketika pemberontakan terhadapnya terjadi) dan berbincang dengannya selama satu jam. la berkata, “Kemarilah Ibnu Abbas/Ayash!” la mengamit tanganku dan menyuruhku mendengar apa yang tengah diucapkan orang di depan pintunya. Kami mendengar beberapa orang berkata, “Apa yang engkau tunggu?” Sedang lainnya berkata, “Tunggu, mungkin ia akan bertobat!” Kami berdua berdiri di sana (di belakang pintu dan mendengar mereka). Thalhah bin Ubaidillah lewat dan berseru, “Mana Ibnu Udais?” Dijawab, “la ada disana.” Ibnu Udais mendekati Thalhah dan membisikkan sesuatu padanya, lalu ia kembali kepada kawan-kawannya dan berkata, “Jangan biarkan seorangpun masuk (ke rumah Utsman) untuk melihat lelaki ini atau meninggalkan rumahnya!” Utsman berkata kepadaku, “ltu adalah perintah Thalhah.” la melanjutkan, “Ya Allah, lindungilah aku dari Thalhah karena ia telah membangkitkan umat untuk menentangku! Ya Allah, aku berharap tidak terjadi sesuatu, dan darahnya sendiri akan tertumpah. Thalhah telah menganiayaku secara tidak hak. Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Darah seorang Muslim halal menurut tiga perkara; kekafiran, perzinaan dan orang young membunuh tanpa hak halal menuntut balas kepada orang Lain.
Lalu atas alasan apa aku harus dibunuh?”

lbnu Abbas/Ayash melanjutkan, “Aku ingin meninggalkan rumah itu, tetapi mereka menghalangi jalanku hingga Muhammad bin Abu Bakar yang lewat meminta untuk melepaskan aku, dan mereka pun melepaskanku.2
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, ha1.199-200.}

Riwayat berikut juga mendukung bahwa pembunuhan Utsman dimotori oleh Thalhah, dan para pembunuhnya keluar untuk memberi¬tahukan pemimpin mereka bahwa mereka telah membereskan Utsman.

Abzay berkata,

‘Aku menyaksikan hari ketika mereka pergi untuk memberontak pada Utsman. Mereka masuk rumah lewat pintu dari kediaman Amru bin Hazm. Terdengar pertempuran kecil dan mereka masuk. Demi Allah, aku tidak pernah lupa bahwa Sudan bin Humran keluar dan aku mendengar ia berkata,’’Mana Thalhah bin Ubaidillah? Kami telah membunuh Ibnu Affan!”
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 200.}

Utsman dikepung di Madinah ketika Imam Ali sedang berada di Khaibar. Imam Ali datang ke Madinah dan melihat orang – orang terus berkumpul di kediaman Thalhah. Kemudian Imam Ali pergi menemui Utsman.

Ibnu Atsir menuliskan,

Utsman berkata kepada Ali, “Engkau berhutang kepadaku hak keislamanku dan persaudaraan serta kekerabatan. Jika aku tidak memiliki hak ini dan jika aku berada pada masa-masa sebelum Islam, tetap akan memalukan bagi keturunan Abdu Manaf (keturunan Ali dan Utsman) untuk membiarkan seorang lelaki dari keturunan Tyme (Thalhah) merampas hak kami.”

Ali berkata kepada Utsman, “Engkau harus tahu apa yang aku lakukan.” Kemudian Ali pergi ke rumah Thalhah. Orang banyak berkumpul di sana. Ali berkata kepada Thalhah, ‘Apa yang menyebabkanmu sehingga engkau terjerumus?” Thalhah menjawab, “Wahai Abu Hasan! Semua sudah terlambat!”
{al-Kamil, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 84.}

Thabari juga meriwayatkan percakapan berikut antara Imam Ali dengan Thalhah ketika rumah Utsman dikepung. Ali berkata kepada Thalhah, “Aku meminta engkau agar orang-orang berhenti untuk menyerang Utsman.” Thalhah menjawab, “Tidak, demi Allah! Tidak, hingga Umayah secara sukarela menyerahkan yang hak!” (Utsman adalah pemimpin Umayah)
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 235.}

Thalhah bahkan tidak memberi air kepada Utsman. Abdurrahman bin Asawd berkata bahwa dia terus menerus melihat Ali menghindar dari Utsman dan bertindak seperti sebelumnya. Tetapi Abdurrahman tahu bahwa ia berkata – kata dengan Thalhah ketika Utsman dikepung hingga Utsman tidak diberi air. Ali sangat kecewa tentang hal itu hingga akhirnya air minum diberikan kepada Utsman.
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 180-181.}

Kita perhatikan riwayat dari Perang Unta (JAMAL) yang telah disebutkan dibanyak kitab – kitab sejarah dan hadis Sunni. Riwayat berikut membuktikan bahwa bahkan pemimpin Umayah seperti Marwan (yang bersama Thalhah) memerangi Imam Ali mengetahui bahwa Thalhah dan Zubair adalah pembunuh Utsman. Ulama Sunni mencatat bahwa Yahya bin Sa’id meriwayatkan :

Marwan bin Hakam yang berada di kelompok Thalhah, melihat Thalhah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang). Karena ia dan semua Bani Umayah mengetahui bahwa ia dan Zubair adalah pembunuh Utsman, dia melepaskan panah kepadanya dan membuatnya terluka parah. la kemudian berkata pada Aban, putra Utsman, “Aku telah menyelamatkanmu dari salah satu pembunuh ayahmu.” Thalhah dibawa ke sebuah reruntuhan rumah di Bashrah di mana ia wafat.7

{Tabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 3, bag. 1, hal. 159; al¬-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 532-533; Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 244; Usd al-Ghabah, jilid 3, hal. 87-88; al-Istiab, Ibnu Abdul Barr, jilid 2, hal. 766; Tarikh, Ibnu Katsir, jilid 7, hal. 248; Riwayat serupa diceritakan juga di al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 169, 371.}

Zubair b Awwam
===========

Zuhri, perawi ahlu Sunnah wal jama'ah terkemuka lainnya yang sangat terkenal karena kebenciannya kepada Ahlulbait, meriwayatkan percakapan antara Imam Ali dengan Zubair serta Thalhah sebelum dimulainya perang unta.
Ali (sa) berkata :

“Zubair, apakah engkau memerangiku karena darah Utsman setelah engkau membunuhnya? Semoga Allah memberikan balasan setimpal kepada Utsman di antara kita akibat yang tidak disukai orang itu.”

Imam Ali berkata kepada Thalhah :

“Thalhah, engkau telah mumbawa keluar istri Rasul (Aisyah), memanfaatkannya untuk berperang sedangkan kau tinggalkan istrimu di rumah (di Madinah)! Bukankah engkau telah membaiatku ?”

Thalhah berkata :

“Aku membaiatmu saat pedang masih disarungkan di punggungku.”

Pada saat itu Ali mengajak berdamai dan memaafkan mereka.

Ali berkata pada pasukannya :

“Siapa di antara kalian yang akan membawa Quran ini kepada pasukan musuh, apabila ia kehilangan satu tangannya, ia akan memegangnya dengan tangan yang lain...?” Seorang pemuda Kufah bangkit dan berkata, “Aku akan melakukannya.” Ali berkeliling kepada pasukannya menawarkan tugas itu. Hanya pemuda Kufah itu yang menerimanya. Kemudian Ali berkata:

“Tunjukkan Quran ini kepada mereka dan katakan kepada mereka. Kitab ini adalah perantara di antara kalian dan kami dari awal hingga akhir. Ingatlah Allah, dan selamatkanlah jiwa kami dan jiwa kalian!”

Usai pemuda itu menyerahkan kepada mereka untuk kembali pada Quran dan menyerahkan diri kepada kebenarannya, pasukan Basrit menyerang dan membunuhnya. Pada saat itu Ali berkata pada pasukannya “ Sekaranglah saatnya peperangan diperbolehkan !” Lalu pecahlah perang tersebut.
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Arab, peristiwa tahun 36 H, jilid 4, hal. 905.}

Sebagaimana yang terlihat hadis di atas, Imam Ali dengan jelas-jelas menyatakan bahwa Zubair adalah salah satu dari orang yang membunuh Utsman....

Aisyah bt Abubakar
============

Thalhah dan Zubair bukan hanya orang-orang yang berkomplot memerangi Utsman. Sejarah Sunni mengungkapkan bahwa sepupu Thalhah, Aisyah, berkomplot dan berkampanye memerangi Utsman. Paragraf berikut yang juga berasal dari Tarikh at-Thabari, juga menunjukkan persekongkolan Aisyah dengan Thalhah dalam menjatuhkan Utsman.

Ketika Ibnu Abbas sedang pergi ke Mekkah, ia melihat Aisyah berada di as-Sulsul (7 mil di utara Madinah). Aisyah berkata, “Wahai Abu Abbas, aku mengajak engkau demi Allah untuk menjatuhkan lelaki ini (Ustman) dan menabur benih keraguan di antara orang-orang mengenai dirinya, karena engkau memiliki lidah tajam. Orang-orang telah menunjukan kebersetujuan mereka, dan pelita menunjuki mereka. Aku melihat Thalhah mengambil kunci harta umat dan Baitul Mal. Jika ia menjadi khalifah (setelah Utsman), ia akan menapaki jejak sepupu dari ayahnya, Abu Bakar.”

Ibnu Abbas berkata kepada Aisyah :

”Wahai Ummul Mukminin, jika terjadi sesuatu terhadapnya (Ustman), orang-orang akan mencari perlindungan hanya kepada sahabat kami (Ali). “Aisyah berteriak,”Diamlah! Aku tidak berminat berdebat denganmu atau menetangmu.”9
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 238-239.}

Banyak sejarahwan Sunni meriwayatkan bahwa Aisyah suatu kali pernah menemui Utsman dan meminta bagian dari warisan Nabi Muhammad (setelah bertahun-tahun lamanya sejak kematian Nabi Muhammad). Utsman tidak memberi Aisyah uang tersebut dengan mengingatkannya bahwa ia adalah salah satu orang yang memberi kesaksian dengan mendorong Abu Bakar untuk tidak memberi warisan kepada Fathimah. Maka, apabila Fathimah tidak mendapatkan warisan, maka mengapa ia mendapatkannya?

Aisyah menjadi sangat murka kepada Utsman dan ia keluar sambil berkata, “Bunuh Na’thal ini, karena ia telah menjadi KAFIR!”‘
{Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 206; Lisanul Arab, jilid 14, ha1.141; al-Iqd }

Sejarahwan Sunni lain, Baladzuri, dalam kitab sejarahnya (Ansab al-Asyraf) berkata bahwa ketika situasi semakin memburuk, Utsman memerintahkan Marwan bin Hakam dan Abdurrahman bin Attab bin Usaid untuk membujuk Aisyah agar ia berhenti berkampanye menentangnya. Mereka menemuinya ketika ia tengah siap-siap pergi berhaji, mereka berkata kepadanya,

“Kami berdoa semoga engkau berada di Madinah dan Allah akan menyelamatkan lelaki ini melalui engkau.”

Aisyah berkata, “Aku telah mempersiapkan perbekalan dan perjalanan dan berjanji akan melaksanakan ibadah haji. Demi Allah, aku tidak akan mengabulkan permohonanmu. Aku berharap ia (Utsman) berada di salah satu tasku sehingga aku dapat membawanya. Lalu aku melemparkan ia ke laut.”
{Ansab al-Asyraf, Baladzuri, bagian 1, jilid 4, hal. 75.}

Amr bin Ash
=======

Amr bin Ash (orang nomor dua di pemerintahan Muawiyah) adalnh salah satu penggerak yang berbahaya dalam menentang Utsman dan memiliki banyak alasan untuk bersekongkol melawannya. la adalah Gubernur Mesir pada masa khalifah Umar. Tetapi, khalifah ketiga, Utsman, menurunkannya dari jabatan dan menggantikannya dengan saudara tertuanya, Abdullah bin Sa’d bin Abu Syarh. Akibatnya, Amru sangat membenci Utsman. la kembali ke Madinah dan mulai berkampanye menentang Utsman, dengan menuduhnya banyak berbuat kesalahan. Utsman menyalahkan Amru dan ia berkata kepadanya dengan kasar. Hal ini bahkan membuat Amru semakin membencinya. la sering bertemu Zubair dan Thalhah lalu bersekongkol menentang Utsman. la sering menemui jemaah haji dan memberitahu penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan Utsman. Menurut Thabari, ketika Utsman dikepung, Amru tinggal di istana Ajlan dan bertanya kepada orang-orang tentang keadaan Utsman.
Amru tidak meninggalkan tempat duduknya sebelum penunggang kuda kedua lewat.

Amru memanggilnya, “Bagaimana keadaan Utsman?” Lelaki itu berkata, “la telah dibunuh.” Kemudian Amru berkata, “Aku adalah Abu Abdillah. Bila aku ingin menggaruk luka, aku akan merobeknya (artinya bila aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya). Aku telah menyulut umat untuk melawannya, bahkan para penggembala di puncak gunung.” Lalu Salamah bin Raun berkata kepadanya, “Engkau, suku Quraisy, telah memutuskan ikatan yang kuat antara dirimu dengan orang-orang Arab. Mengapa kau lakukan hal itu?” Amru menjawab, “Kami ingin mengambil kebenaran dari tangan kejahatan, dan membuat orang-orang memiliki pijakan yang sama mengenai kebenaran.”12
{Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 171-172.}

Para pemecah belah kaum Muslimin melupakan sesuatu yang terkenal dalam sejarah Islam yang diriwayatkan oleh perawi-perawi Sunni. Pemberontakan terhadap Utsman diakibatkan oleh usaha sahabat¬-sahabat yang berpengaruh di Madinah seperti Aisyah, Thalhah, Zuhair, Abdurrahman bin Auf, dan Amru bin Ash. Pembunuhan Utsman memberikan kambing hitam yang pantas bagi orang-orang telah memperebutkan banyak lagi kekuasaan, disaat mereka pun mengabdi kepada pemerintahan Utsman. Sebagian besar mereka adalah kerabatnya, Bani Umayah, seperti Muawiyah, Marwan yang memanfaatkan Utsman sebelum ia wafat dan sesudahnya....

Imam Ali berkata pada Perang JAMAL :
========================

“Kebenaran dan kebatilan tidak dapat dikenali dari kebaikan orang. Pahamilah kebenaran terlebih dahulu, engkau akan mengetahui siapa yang taat mengikutinya!”


PENUTUP...
=======

Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Ali ! Engkaulah temanku di taman al-Haudl, teman pembawa benderaku, kekasih bagi kalbuku, wasiatku, pewaris ilmuku. Engkaulah pemilik seluruh warisan para Nabi sebelumku, Engkaulah kepercayaan ALLAH di bumi-Nya, Hujjah ALLAH atas makhluk-Nya, Engkaulah tiang keimanan & pilar berserah diri, penerang kegelapan, tempat cahaya petunjuk, pemilik pengetahuan bagi ahli dunia. Wahai Ali, barangsiapa mengikutimu maka akan selamatlah ia, siapa pun yang menentangmu celakalah ia. Engkau jalan yang terang, engkaulah SHIRATALMUSTAQIM, Pemimpin bagi orang yang beriman, Engkau sebagai pemimpin bagi mereka yang aku pimpin, dan akulah pemimpin bagi seluruh orang2 yang beriman. Tiada seorang pun yang mencintaimu selain mereka yang SUCI hatinya, dan tiada yang membencinya kecuali orang kotor hati, tidaklah ALLAH mengangkatku ke langit dan berbicara padaku kecuali dengan mengatakan," Ya Muhammad, perhatikanlah ALI bahwasanya dia mendapatkan kesejahteraan dari-KU, cahaya bagi orang2 yang taat pada-KU, dan betapa menyenangkan Karamah ini bagimu !"

(Syaikh Sulaiman al-Hanafi didalam kitabnya, yanabi al-Mawaddah, juz I, hal. 156, BAB 44 diriwayatkan dari Sa'id bin Jabir dari Ibnu Abbas ra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar