Laman

Minggu, 14 April 2013

Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Harb Sabii


Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Harb Sabii

Abu Harb Sabi'i

Ia merupakan pasukan penunggang kuda laskar Umar bin Saad. Dalam sejumlah buku maqtal namanya disebut Abdullah bin Syahr, Abdullah bin Samir, Ubaidullah bin Syamir, dan Abdullah bin Sakhir. Tapi ia dikenal sebagai orang yang fasik, asal ngomong, suka bercanda dan pemberani.


Saad bin Abi Qais memenjarakannya akibat kejahatan yang beberapa kali dilakukannya. Peran Abu Harb Sabi'i di Karbala, tepatnya di malam Asyura sebagai penjaga laskar musuh yang kerjanya mengintai sekitar tenda-tenda Imam Husein as dan sahabatnya. Ia bersama pasukan yang lain bertugas memperhatikan situasi baik jauh maupun dekat.

Dhahhak bin Abdullah Masyriqi meriwayatkan:

"Di malam Asyura, Imam Husein as dan para sahabatnya melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah. Sekelompok penunggang kuda dari pasukan Umar bin Saad menjaga dan memperhatikan apa yang dilakukan rombongan Imam Husein as. Mereka berpatroli di sekeliling tenda-tenda dan mengamati dengan seksama rombongan Imam Husein as.

Ketika itu Imam Husein as membaca al-Quran surat Ali Imran ayat 178 "Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.", dan ayat selanjutnya 179 "Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin) ..."

Seorang dari penunggang kuda pasukan musuh yang bertugas berjaga-jaga mendengar ayat ini dan berkata, "Aku bersumpah demi Tuhan Kabah! Yang dimaksud dengan orang-orang baik (mukmin) dalam ayat itu adalah kita yang memisahkan diri dari kalian."

Dhahhak mengatakan, "Saya mengenal orang yang berbicara itu."

Kepada Burair bin Khudhair saya bertanya, "Apakah engkau mengenal orang itu?"

Burair menjawab, "Tidak."

Saya berkata, "Dia Abu Harb Sabi'i Abdullah bin Syahr. Orang yang asal omong tapi juga pemberani."

Burair berkata kepadanya, "Hai orang fasik! Apakah engkau beranggapan Allah meletakkan dirimu termasuk orang-orang baik (mukmin)?"

Abu Harb bertanya, "Siapa kau?"

Burair berkata, "Burair bin Khudhair."

Abu Harb berkata, "Wahai Burair! Sulit bagiku menemukanmu binasa. Demi Allah! Engkau akan binasa."

Burair berkata, "Wahai Abu Harb! Apakah engkau dapat bertaubat dari dosa-dosa besar yang engkau lakukan dan kembali kepada Allah? Demi Allah! Kamilah orang-orang baik itu dan kalian semua adalah manusia kotor.

Abu Harb menjawabnya, "Saya bersumpah apa yang engkau ucapkan itu benar."

Kemudian saya (Dhahhak) berkata, "Apa yang engkau ketahui itu tidak bermanfaat bagimu."

Abu Harb berkata, "Lalu siapa yang akan melayani Yazid bin Adzrah al-Anzi lebih baik dari Anz bin Wail? Ia sekarang bersama saya?"

Burair berkata kepadanya, "Allah telah menjadikan pandanganmu jelek. Engkau adalah pria bodoh dan tidak tahu apa-apa."

Kemudian ia kembali dan Abu Harb pergi dari sana.

Penjaga tenda kami di malam itu adalah Urwah bin Qais Ahmasi dan para penunggang kuda menjadikannya sebagai penjaga. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber:
1. Mausah al-Imam Husein, mengutip dari Tarikh Thabari, Nafas al-Mahmum, terjemahan al-Irsyad oleh Rasouli Mahallati, Nasikh at-Tawarikh dan Maqtal al-Husein Muqrim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar