Laman

Jumat, 06 Mei 2011

Akar-Akar Penghinaan Terhadap Islam dalam Pemikiran Barat


Bagian 1
 
Kesabaran umat Islam terus diuji dengan berbagai penghinaan yang dilontarkan Barat, mulai dari kasus kartun Nabi Muhammad saw yang sekarang merebak lagi di Denmark, sampai pernyataan Paus Benediktus XVI yang tendesius tentang jihad dalam Islam dan sosok Nabi Muhammad saw beberapa waktu lalu. Kasus-kasus yang mengundang kemarahan umat Islam ini menimbulkan pertanyaan mengapa penghinaan ini kerap dialami umat Islam. Isu integrasi, toleransi dan dialog seolah menjadi lips service semata karena faktanya umat Islam dan Islam lah yang selalu menjadi sasaran penghinaan dan kebencian.

Artikel "Akar-akar Penghinaan terhadap Islam dalam Pemikiran Barat" yang ditulis oleh Sohaib Jassim akan menjawab pertanyaan itu. Sohaib Jassim adalah Kepala Biro Al-Jazeera TV Jakarta. Karena panjangnya artikel, artikel akan dimuat secara bersambung dalam sembilan bagian tulisan. Selamat membaca.





Mengapa Paus Benediktus Menghina Islam lagi?

Pada bulan September 2005, penghinaan terhadap Rasulullah SAW mengemuka melalui karikatur di sebuah majalah di Denmark. Setelah itu penghinaan terhadap Rasulullah SAW terus bergulir bak salju dan meluas baik melalui karikatur ataupun makalah dan tulisan sampai pertengahan tahun 2006 sekarang ini. Satu tahun berlalu - seolah tidak dan belum puas dengan penghinaan sebelumnya - pada bulan September 2006, penghinaan itu kembali terjadi. Seolah mereka ingin terus memprovokasi kemarahan hati umat Islam. Sungguh ironi yang diperlukan dialog antara agama yang terjadi justru provokasi.

Ternyata serangan dan kecaman terhadap Islam dan kaum muslimin tidak pernah berhenti.

Beberapa minggu yang lalu misalnya, kaum intelektual garis kanan Amerika Serikat menghina Islam dengan perkataan bahwa Islam itu Fasis. Hal ini kemudian menjadi bahan pidato politik Presiden Amerika Serikat George W Bush yang kemudian menjadi isu hangat di negeri paman syam itu.

Pada tanggal 12 september 2006, sehari setelah peringatan serangan 11 september – alih-alih mengambil simpati umat Islam - Paus Benediktus XVI - seorang pemimpin tertinggi umat katholik di dunia - dalam pidato ilmiahnya di universitas Regensburg di Jerman, kembali mengulangi penghinaan terhadap Islam untuk yang kesekian kali. Ceramah ilmiah yang bertema “korelasi antara iman dan logika dan pentingnya dialog antar peradaban dan agama” ternyata kandungan ceramah itu sangat jauh dari temanya. Ceramahnya tidak mengandung tentang dialog dengan umat Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia, justru sebaliknya yang diungkapkannya hanya hinaan terhadap hal-hal yang sangat disucikan dalam Islam. Pada ceramahnya itu Paus Benedict XVI mengutip pernyataan Kaisar Kristen Ortodoks abad ke 14 Kaisar Manuel II Palaeologus yang merupakan hinaan dan kecaman yang jelas terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Dalam ceramahnya, Paus Benediktus XVI mengutip isi salah satu buku sejarah tentang pentingnya pembuktian tuhan melalui logika. Tetapi semua yang dikutip oleh Paus Benediktus XVI merupakan kecaman dan hinaan tanpa alasan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Islam.

Setelah beberapa hari dari ucapannya, pada tanggal 16 – 17 september, Paus Benediktus XVI menjelaskan apa yang dia katakan sebelumnya bahwa menurutnya ia hanya mengutip pernyataan orang lain dan umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip dan ia menyesal dengan munculnya kemarahan umat Islam yang menurutnya menyalahi kodrat idiologi dirinya.

Penjelasan seperti itu bukan meringankan penghinaan sebelumnya justru malah tambah menghina umat Islam yang menurutnya salah memahami apa yang dia katakan seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak faham konteks sebuah pembicaraan. Berikut adalah pendapat DR Yusuf Al-Qardhawi Ketua Persatuan ulama Islam Internasional dan pendapat beberapa ulama Islam lainnya bahkan tokoh Kristen internasional yang semuanya berpendapat bahwa ada beberapa kesalahan fatal Paus Benediktus XVI dalam beberapa point di bawah ini:
Paus Benedict XVI dalam ceramahnya mengutip sebuah dialog yang panjang yang menggambarkan penghinaan terhadap Islam bahwa Islam itu disebarkan dengan kekerasan dan pedang, dan bahwasanya Rasulullah SAW sama sekali tidak membawa kebaikan kecuali ajaran syetan dan tidak manusiawi dan masih banyak lagi penghinaan yang dikutip seperti yang dimuat oleh website Vatikan dalam internet.

Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam etika intelektual, ketika seorang peneliti mengutip sebuah pendapat orang lain dan ia sendiri tidak memberikan tanggapan apapun baik setuju atau tidak dengan pendapat tadi maka pada dasarnya yang mengutip itu setuju. Ini berarti Paus Benediktus XVI setuju dengan penghinaan terhadap Islam seperti yang ia kutip dari dialog tersebut.

Dari sisi media, menurut salah satu koran terkemuka di Amerika Serikat, seharusnya Paus Benediktus XVI sadar bahwa ia tidak memberikan kuliah di sebuah kelas teologi seperti yang pernah dia lakukan beberapa tahun lalu, ia juga harus sadar bahwa ia tidak berceramah di depan belasan muridnya di sebuah kelas terbatas. Pada kesempatan seperti itu, ia berhak untuk berbicara apapun yang ia mau. Tetapi sekarang dia harus sadar, dia bukan lagi dosen teologi dan sejarah agama tetapi dia adalah pemimpin tertinggi agama katholik.

Dari kejadian ini, nampaknya Paus Benediktus XVI memerlukan juru bicara dan biro media agar bisa mengarahkan arah pembicaraan yang berguna mengenai hal-hal yang sensitif ketika terjadi krisis hubungan antara umat Islam dan beberap negara besar. Mengutip dengan cara seperti itu sungguh tidak ilmiah, non intelektual dan tidak berguna dari sisi media.

Sangat mustahil bagi Paus Benediktus XVI tidak mengenal Islam sama sekali. Karena dia adalah seorang pemimpin agama tertinggi. Padahal dengan kutipan dari sebuah buku sejarah yang umurnya sudah lebih dari 600 tahun lalu sangat menghina Islam dan kaum muslimin.

Bahkan dalam penjelasan selanjutnya ia katakan bahwa umat Islam salah memahami konteks yang ia kutip seolah-olah umat Islam itu bodoh dan tidak memahami sesuatu. Jawaban dan penjelasan yang sama pernah diungkapkan oleh pembuat karikatur yang menghina Islam satu tahun yang lalu. Pada waktu itu sang pembuat karikatur menjelaskan bahwa pembuatan karikatur seperti itu merupakan hak kebebasan dalam berekspresi dan bahwasanya umat Islam tidak mengerti dunia karikatur. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa umat Islam itu sangat terbelakang dalam politik maka mereka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang demokrasi dan kebebasannya menurut versi mereka. Menurut mereka juga bahwa umat Islam itu juga terbelakang dalam kreatifitas ilmiah, maka mareka harus mengajarkannya kepada umat Islam tentang kebebasan mutlak seperti dalam karikatur. Menurut mereka umat Islam itu bodoh dalam ilmu pengetahuan, maka mereka harus mengajarkan tentang ilmu, logika, peradaban dan bahkan tentang idiologi agama. Mungkinkah mereka akan mengajarkan umat Islam tentang semua hal tadi dengan cara Paus Benediktus XVI? Seolah-olah umat Islam itu terbelakang dan akan maju kalau setuju dengan penghinaannya terhadap Islam.

Tiga Faedah
Penghinaan terhadap Islam yang dilakukan oleh Paus Benediktus XVI dan karikatur satu tahun yang lalu dan beberapa penghinaan lainnya tidak hanya membawa keburukan baik umat Islam tetapi juga ada hikmah dan faedah yang tidak sedikit. Pada kesempatan ini saya ungkapkan 3 hikmah yang di antaranya:
  1. Terbukanya rahasia penyakit akut kebencian terhadap Islam dalam hati musuh-musuh Islam. Allah SWT bersabda: Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi (Ali Imran;118).
  2. Faedah selanjutnya yang lebih penting adalah bahwa hanya dengan aksi demonstrasi dengan damai untuk melawan penghinaan terhadap Islam sangat tidak memadai. Semua penghinaan itu harus menjadi peringatan keras bagi organisasai masyarakat Islam, partai politik Islam dan sejenisnya untuk memprioritaskan para jamaahnya tentang pentingnya pendidikan perbandingan agama dengan mendatangkan pihak-pihak yang berkompenten di bidangnya seperti fakar Kristologi yang ahli tentang kitab-kitab injil misalnya, agar semua umat Islam bisa melawan penghinaan itu dengan kajian ilmiah yang argumentatif seperti yang dilakukan oleh Almarhum Syeikh Ahmad Deedat.

    Dalam hal ini penulis menekankan perlunya umat Islam membaca, menelaah dan mengkaji dengan mendalam buku-buku yang ditulis oleh Almarhum Syeikh Ahmad Deedat tentang injil dan perdebatannya dengan Kristen. Cara-cara seperti itu adalah cara yang ilmiah, berperadaban, intelektual dan tidak feodal. Cara seperti itu juga tidak reaktif dan merupakan cara yang logis yang dianjurkan oleh Allah SWT tetapi tentu cara seperti itu merupakan cara yang harus dibekali dengan ilmu pengetahuan.

    Allah SWT berfirman: “Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." (Ali Imran;64) dan FirmanNya: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka” (Al-Ankabut;46).
  3. Penghinaan-penghinaan terhadap Islam yang berkelanjutan telah menimbulkan reaksi keras di dunia Islam. Tetapi sayangnya reaksi keras seperti itu sangat spontanitas dan tidak berkelanjutan seperti dalam kasus karikatur. Reaksi seperti itu sangat tidak positif. Seharusnya ada langkah-langkah kongkrit antara organisasi dan gerakan Islam lintas internasional dengan merumuskan cara dakwah yang efektif dalam menyampaikan Islam.

    Walaupun dalam realitasnya sudah sangat jelas perbedaan pendapat, madzhab dan bahkan persaingan tidak sehat kadang juga muncul di antara organisasi Islam itu sendiri. Sepertinya persatuan organisasi Islam sangat mustahil dalam beberapa hal. Tetapi minimal harus ada kerjasama atau minimal pembagian kerja yang jelas dalam mengahadapi berbagai isu dan membuang semua sifat arogansi masing-masing.

    Bagi sebagian kalangan, pelecehan kepada Rasulullah itu mungkin dianggap sebagai sekadar kesembronoan dan kesalahan belaka. Namun bagi orang yang cermat menganalisa, pelecehan ini adalah sesuatu yang disengaja dan terprogram. Mengapa pelecehan di Barat hanya terfokus kepada agama Islam, tanpa terjadi pada agama-agama yang lain? Ada bebeberapa perkiraan.
Pelecehan terhadap agama Islam telah mengakibatkan pembicaraan tentang banyak hal seperti persepsi tentang Islam secara umum, sebab-sebab pelecehan terhadap Rasulullah SAW dengan berbagai cara seperti dengan menyebarkan buku-buku garis kanan yang Islamphobia dan juga persoalan akar-akar pelecehan yang muncul di Eropa dan Amerika. Selain itu juga munculnya isu tentang pemberian karakter negatif kepada umat Islam yang berlangsung cukup lama melalui perang media yang dikuasi oleh barat.

Pendidikan terhadap generasi muda di Eropa dan Barat termasuk Amerika Serikat juga mempunyai pengaruh yang kuat untuk merubah mentalitas dan pandangan generasi muda mereka yang sangat negatif terhadap Islam dan umat Islam.

Kondisi ini (pelecehan dan penghinaan terhadap Isslam) juga berbarengan dengan meningkatnya jumlah kaum muslimin di Eropa dan ini merupakan faktor yang sangat menakutkan bagi berbagai pihak yang sangat tidak setuju dengan kondisi tadi. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengungkapkan 6 sebab dan akar permusuhan terhadap Islam secara umum dan sebagai penutup akan saya ungkapkan contoh-contoh pandangan dan pemikiran positif orang Barat terhadap Islam dan tidak memusuhi dan menjelekan Islam; (eramuslim)
--------
Bagian (2/9)
Takut Terhadap Penyebaran Islam yang Pesat

imageIslam merupakan agama yang paling cepat tersebar di Eropa. Hal itu merupakan bentuk kekalahan telak peradaban Barat dan mereka sangat ketakutan akan hal itu. Karena itu, kemudian munculah pelecehan-pelecehan dan penghinaan terhadap Islam untuk menjauhkan orang-orang Barat dari Islam atau bahkan hanya berfikir untuk mengenal Islam.

Barangkali pembuat karikatur yang melecehkan Rasulullah saw tidak mempunyai maksud untuk membatasi penyebaran Islam di Barat. Namun orang-orang yang setuju dengan karikatur pelecehan ini, menolak dengan tegas untuk meminta maaf atas karikatur ini dan bahkan mengeksploitasi dan menyebarkanya dengan sangat efektif bahkan sampai menyebar dengan cepat di media baik elektronik ataupun cetak bahkan masuk ke ruang politik mengobarkan isu perang melawan kaum muslimin. Mereka sangat memahami realitas penyebaran Islam di Eropa yang digambarkan sebagai benua Kristen.

Salah satu contoh pengaruh langsung dengan adanya karikatur di Denmark adalah contoh yang dimuat dua Koran Arab Saudi “Ukadz” dan “al-Wathan” pada pertengahan Februari 2006. Ternyata karikatur tersebut telah mendorong missionaries Kristen Denmark yang bernama “Kristisen” (28 tahun) untuk mengkaji buku-buku sirah Nabi untuk bahan aktifitas missionarisnya tentang agama Kristen dengan mengungkap hakikat sesungguhnya yang menurut mereka adalah sejarah kelam. Namun dia terkejut dengan sejarah Nabi dan akhirnya yakin bahwa beliau adalah pembawa kebenaran lantas diapun beriman dan menyatakan keIslamannya di kantor Rabithah Alam Islami di Kopenhagen.

Kisah di atas tadi, membuat Kristy Yosty, pemimpin redaksi harian Denmark Jyllads-Posten yang mengangkat karikatur pelecehan dalam medianya kemudian memberikan pernyataan kepada semua media di Denmark. Dia mengingatkan kaum muslimin bisa mendapatkan hak-haknya secara efektif sebagai reaksi dari munculnya karikatur yang dimuat oleh media yang ia pimpin. Dia menegaskan dengan jujur kecemasannya tentang kondisi ini dan meminta agar ada undang-undang yang membatasi kebebasan berpendapat.

Dia juga mengkhawatirkan kaum muslimin mendapatkan lebih banyak hak mereka. Secara tegas dia mengatakan, “Agama telah menyebar di masyarakat kita secara meluas dan itu disebabkan oleh kedatangan agama kuat kepada masyarakat kita, yaitu agama Islam. Dan ini merupakan perkembangan yang berbahaya.”

Barang kali sisi positif dari krisis ini, sebagaimana yang terjadi pasca peristiwa 11 September, bahwa kartun pelecehan ini telah membuka pintu bagi inisiatif-inisiatif baru untuk menjelaskan Islam kepada tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga Islam di Eropa dan Amerika. Seperti revitalisasi lembaga Islam di Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), yang mengkampanyekan pengenalan Nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui pengalaman lembaga ini dalam teknik membangun hubungan masyarakat Muslim Amerika bisa dilihat dalam situs mereka, yaitu di (www.cair.com/muhammad).

Sementara di Ukraina kita bisa melihat pengalaman lain yang dilakukan oleh “Ikatan Organisasi-organisasi Sosial di Ukraina” (al-raid), ini adalah lembaga paling menonjol di Ukraina yang juga melakukan kampanye penyuluhan (pengenalan) tentang Nabi Muhammad saw, melalui pembagian kaset-kaset, buku-buku, kepingan-kepingan CD serta penyelenggaraan program-program dialog, diskusi, seminar dan kunjungan. Al-Raid memiliki situs khusus dengan bahasa Rusia tentang Islam yaitu (www.Islamuna.net).
Kampanye di Amerika dan Ukraina sudah mulai dilakukan setelah adanya banyak kontak yang dilakukan banyak non muslim yang ingin tahu tentang sikap kaum muslimin terhadap krisis karikatur pelecehan Nabi.

Sementara itu di Jedah ada inisiatif lain yang dideklarasikan penerbit dan percetakan “Darul Bayyinah” dengan membagikan ribuan buku-buku dai kondang dari Afrika Selatan, mendiang Ahmad Dedat. Buku pertama dibagikan di Denmark dan Norwegia, di mana krisis pelecehan Nabi terjadi, yaitu buku “al-Qur’an adalah Mu’jizat Abadi Muhammad”. Setelah itu Darul Bayyinah akan menterjemahkan buku tersebut dan membagikan dua buku lain karya Syaikh Ahmad Dedat.

Semua inisiatif ini berangkat dari kesadaran para tokoh Islam bahwa pelecehan terhadap agama kita jangan hanya diakhiri dengan permintaan maaf. Namun kita harus bergerak memperkenalkan dan memaparkan kepada mereka tentang hakikat agama yang lurus ini. Itulah yang dilakukan oleh sebagian kalangan, setelah pelecehan yang dilakukan oleh Paus Benedict XVI terhadap Islam dan Rasulnya, salah satunya Rabithah Alam Islamy di Riyadh memutuskan untuk mengadakan aksi pengenalan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi pembawa rahmat, hal ini bisa kita lihat dalam situsnya: www.mercyprophet.com (Eramuslim)
----
Bagian 3/9
Pelecehan terhadap sesuatu yang Sakral: Kehancuran Berfikir dan Etika
Respon media Eropa di dalam memberikan alasan justifikasi pembenaran karikatur pelecehan terhadap Nabi tersebut tidak lain hanya sekadar simbol kebebasan berekspresi.
Koran Perancis, Frances Siwar mengatakan: “Itu adalah haknya menggambarkan tuhan dengan cara karikatur yang menyindir.” Sedang Koran Jerman Dei Filt mengatakan: “Itu adalah haknya melakukan pelecehan sesuatu yang sakral.”
Dilihat dari pernyataan kedua Koran itu, maka bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan mendasar dalam melihat sesuatu yang sakral dalam agama dalam peradaban sekuler barat.
Seorang pemikir Prancis, Arick Gofra, melihat bahwa hegemoni filsafat nihilisme --yang muncul setelah masa dominasi gereja di Eropa-- merupakan salah satu akar pemikiran lain yang digunakan untuk melecehkan Islam. Dalam pandangannya, filsafat Barat sekuler membuka ruang untuk melakukan penghinaan terhadap nilai-nilai agama dan moral, apapun agama tersebut. Bagi sebagian orang Barat, agama adalah sekadar realitas sosial tidak berbeda dengan realitas lainnya. Bagi masyarakat Eropa, tidak ada yang namanya sistem tata nilai dan etika. Karena itu, segala sesuatu yang disakralkan menjadi sasaran untuk diragukan dan dilecehkan.
Seorang pemikir Maroko Thayyib Buizat melihat bahwa pelecehan terhadap agama secara logika tidak terjadi kecuali pada saat-saat degradasi dan penurunan kesadaran berfikir. Maka dengan merujuk kepada sejarah filsafat Barat sejak masa Yunani, kita melihat bahwa kemunculan pemikiran ateis yang bertentangan dengan agama terjadi pasa saat-saat kemunduran filsafat bukan pada saat-saat perkembangan dan keemasannya.
Manakala Socrates, Plato dan Aristoteles mengibaratkan nilai kesadaran filsafat Yunani, maka itu adalah saat keimanan dan keyakinan bagi peradaban Yunani kuno. Agama tidak mendapatkan serangan kecuali pada saat-saat maraknya pertanyaan-pertanyaan ateis yang menyudutkan. Pada masa-masa filsafat Barat modern berjaya, yaitu pada abad ke-17, agama bisa mengubah dan mewarnai pemikiran para filosof Eropa terkemuka.
Namun pada abad ke-18 terjadi kampanye cara berfikir yang bertentangan dengan agama di dalam budaya intelektual Eropa. Tetapi realitasnya menunjukan bahwa abad itu adalah yang paling sedikit memberikan kontribusinya dalam peradaban filsafat Barat bila dibandingkan dengan abad ke-17. karena sebagian besar filsafatnya hanya berkisar tentang politik seperti hubungan sosial. Bahkan mayoritas pendapat dan penemuan pada abad 18 hanya penemuan yang diulang-ulang dari sebelumnya.
Sebagian pengkritik agama menggunakan pemikiran filsafat tidak sesuai dengan makna yang dimaksud oleh ahli filsafat sebelumnya, seperti Augest Konet misalnya, ia tidak memperdulikan kesesuaian makna dan universalitas filsafat itu sendiri. Hal ini mungkin terjadi karena cara berfikir intelektual Eropa pada masa Augest Konet, pada abad ke-19 didasarkan kepada lintas idiologi dan agama yang melampaui stereotype pemikiran, agama dan filsafat itu sendiri. Tujuan utama mereka adalah untuk menghilangkan teori ilmiah empiris dan menjadikannya mengungguli teori lainnya. Namun mimpi para kritikus agama tidak berhasil karena pendapat mereka bertentangan dengan hakikat entitas dan fitrah manusia dan fitrah keagamaannya.
Di antara catatan yang diberikan para ahli antropologi dan juga para pengkaji sejarah agama-agama adalah bahwa ideologi dan keyakinan beragama agama adalah masalah fitrah yang melekat pada manusia. Walaupun Augest Konet berupaya membuktikannya dengan memberikan teori tiga periodesasi manusia mulai dari kehidupan agama menuju kehidupan filsafat kemudian menuju kehidupan ilmiah. Hanya saja teorinya ini tidak memiliki bukti sejarah.
Fase dan rentang waktu intelektual yang dijalani Augest Konet pada abad ke-19 tidak mampu menghilangkan dan menghapus kebutuhan manusia akan ideologi dan agama, bahkan orang Kristen sekalipun. Dan anehnya, sebagaimana yang terjadi pada Augest Konet sendiri pada akhir hidupnya terpaksa mengakui filsafatnya sebagai “agama baru”.
Pada akhirnya kita saksikan sendiri dia menegaskan kebutuhan akan agama sebagai kebutuhan asasi di dalam entitas manusia. Oleh karena itu, kecenderungan kepada hal yang sakral dan penyembahan, sebagaimana pengakuan Konet, adalah masalah yang menjadi bagian dari tabiat manusia yang tetap harus dipenuhi. Dan di dalam bukunya “Harmoni Politik Kemapanan”, Konet menegaskan bahwa nasib perjalanan manusia adalah menjadi lebih agamis. Bahkan dalam ungkapannya tentang Islam kita dapati dia menulis ungkapan kekaguman dengan terang-terangan. (Eramuslim)
----
Bagian 4/9
Rasulullah Saw Menimbulkan Krisis dalam Akal Orang Barat
Sebagian peneliti kembali mengkaji akar-akar lain dari kebencian orang yang melecehkan dan memusuhi Rasulullah Saw. Setelah mereka mengkaji sejarah Rasulullah Saw, mereka melihat bahwa pribadi Rasulullah Saw adalah penyebab krisis bagi pemikiran Barat. Hal itu merupakan rangkuman pemikiran sejumlah intelektual, seperti Dr Basim Khafaji, direktur Pusat Kajian Kemanusian Arab di Amerika.

Dr Basim Khafaji mengatakan bahwa Barat melihat Muhammad telah mempersembahkan pemahaman yang mungkin bisa menghancurkan pemikiran Barat dari asasnya, yaitu sentralisasi Allah Ta'ala dalam kehidupan manusia. Hal itu bertolak belakang dengan teori Barat yang dibangun di atas logika dan akal pemikiran manusia.

Karen Armstrong yang menulis buku Muhammad, mengatakan,''Kita harus berpikir bahwa orientasi permusuhan terhadap Islam di Barat adalah bagian dari sistem tata nilai Barat, yang telah mulai terformula bersamaan dengan masa kebangkitan dan Perang Salib.''

Karen Armstrong melanjutkan, ''Itu adalah awal Barat mengembalikan jati dirinya, saat pribadi Yesus telah mengubah agama Kristen dalam pemikiran Barat menjadi individu yang disembah secara alamiah. Dalam pandangan para penganut agama, Tuhan diubah menjadi pribadi atau Tuhan dalam gambaran individu yang telah mengorbankan darahnya bagi seluruh kesalahan mereka yang telah dan yang akan datang.''

Karen Armstrong menambahkan, ''Sedangkan yang meninggalkan agama Kristen secara total dan menjadi atheis atau tidak beragama, maka Yesus tetap menjadi kendali dalam sikap-sikap pemikiran mereka, bahwa dia adalah seorang individu. Untuk itu tidak ada bedanya dengan manusia lainnya...'' Adapun hubungannya dengan Muhammad Saw, jelas bertentangan dengan semua agama dan sekularisme pemikiran Barat.

Muhammad Saw menghendaki tetap menjadi individu dengan segala makna kemanusiannya, dan menolak menjadi Tuhan dalam bentuk manusia. Dengan begitu, dia bertolak belakang dengan pemahaman para penganut agama di Barat terhadap Tuhan yang telah mereka kenal.

Untuk itu, mereka membenci Rasulullah Saw. Apalagi, Muhammad Saw sangat bertolakbelakang dengan keinginan kaum atheis, karena dalam ajaran Rasulullah Saw, manusia dianjurkan-sebagaimana yang diperintahkan Penciptanya-untuk banyak melakukan ibadah, amal-amal, dan mentaati semua aturannya, serta mendahulukan kebebasan umum atas kebebasan individu.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa negara-negara Barat telah banyak terbebas dari pemikiran agama Kristen. Namun mereka tidak bisa membebaskan diri secara mutlak terhadap pengaruh ide dan pemikiran Kristen terhadap rakyat mereka yang mendahulukan keteladanan pribadi Yesus-setelah mengubahnya-dalam menghadapi pribadi Nabi Muhammad Saw. Itulah barangkali penafsiran Barat yang menyerang Nabi Muhammad yang mulia.


 
Kegelisahan
Ketika Barat melihat pribadi Nabi yang mulia sebagai contoh idola yang paripurna dengan segala kesempurnaan manusia, maka inilah yang tidak mungkin bagi Barat dengan segala pemikiran, teori, dan praktiknya untuk sampai pada rasio mereka. Dengan pembedaan dari orang-orang Barat seperti ini, maka vonis terhadap contoh semacam ini menjadi kegelisahan hakiki.

Salah satu masalah permusuhan Barat terhadap Nabi Saw yang historis adalah bahwa dia datang dengan sistem politik dan pemikiran yang sangat sempurna dan menyeluruh yang bisa menyingkirkan aturan dan tatanan sosial politik Barat yang sudah baku pada waktu itu.

Universalitas ajarah Rasulullah Saw termasuk dalam cara-cara pengorganisasian, pemerintahan, dan pengelolaan masyarakat. Dan terakhir, dalam hubungan sosial di dalam masyarakat, serta antara masyarakat yang heterogen. Muhammad Saw datang dengan kesederhanaan sistem yang sempurna, pararel dengan sistem Barat, bahkan menjadi alternatif pengganti yang kuat bagi sistem Barat.

Banyak intelektual Barat yang melihat Muhammad Saw sebagai sosok yang menyebabkan bangkitnya semangat perjuangan dan perlawanan dalam kehidupan Arab dan kaum Muslimin di masa lampau. Bahwa agama Islam adalah penggerak utama bagi seluruh ide dan pemikiran perlawanan yang masih hidup di dalam pemikiran dan perilaku bangsa-bangsa Islam.

Para intlektual Barat melihat bahwa risalah, pemikiran, dan dakwah Muhammad turut mempersembahkan andil pemikiran, psikologi, dan ideologi bagi upaya seorang Muslim dalam memenangkan dirinya, serta tidak menyerah kepada ''syahwat kehidupan'' serta ''perhiasan dunia'' yang digeluti orang-orang Barat. Perlawanan juga terjadi dalam hal penncegahan upaya hegemoni pemikiran, peradaban, dan ekonomi Barat terhadap kehidupan kaum Muslimin dan Arab.

Sesungguhnya pemikiran Barat modern tidak mampu mempersembahkan tafsir materi atau rasio apapun terhadap perlawanan Palestina atau Irak. Atau terhadap tekad bangsa-bangsa Arab-yang terlihat lemah dan terbelakang-untuk menolak contoh model Barat dalam kehidupan dan kembalinya bangsa-bangsa ini kepada Islam baik secara politik, ekonomi, dan peradaban. Tidak ada interpretasi realitas yang meyakinkan, kecuali dengan melempar celaan dan kebencian terhadap Nabi Muhammad Saw.

Meningkatnya perlawanan bersenjata secara tajam dan penolakan peradaban Barat mungkin saja membuat mereka menyiagakan gelombang baru untuk menyerang pribadi Nabi Saw yang mulia. Bisa jadi di sana ada sebab atau motif-motif lain untuk terus-menerus melakukan pelecehan. Tapi bisa jadi pelecehan terhadap agama ini dimaksudkan untuk menyalakan sumbu krisis dalam hubungan antar peradaban, atau memanfaatkan kemarahan Islam atas pelecehan terhadap Rasulullah Saw ini dalam membuat peta politik baru. (Eramuslim)
-----
Bagian 5/9
Cermin Orientasi Radikal Kanan
Ceramah Paus Benedict XVI yang berisi tentang pelecehan Islam dan Rasulullah SAW tidak lain kecuali ekspresi tentang pemikiran intelektual kanan yang anti terhadap Islam dan bahkan kadang-kadang terhadap Kristen dari negara-negara Timur.

Untuk membuktikan hal itu, marilah kita menengok sebentar untuk membolak-balik halaman sejarah 175 tahun yang lalu, kita buka buku yang belum dikaji kebanyakan akademisi Muslim atas apa yang ditulis kaum orientalis pada abad ke-19 dan ke-20. Sebuah buku yang diterbitkan “Darl Marij” di Kairo pada pertengahan tahun 2004, penulisnya adalah seorang penulis Arab Saudi, Abdullah al-Majed, yang mengagetkan banyak pembaca Arab atas apa yang dikandung di dalam buku tersebut.

Dia mendapatkan teks asli buku tersebut dari Konggres yang diterjemahkan oleh Abdullah Muhammad Naseer yang dia perkenalkan di majalah yang ia kelola “al-Tsaqafah” terbitan London pada edisi (54) tahun 2003. Buku ini adalah contoh penting bagi kajian Timur klasik di abad ke-19 di Amerika Serikat, penulisnya adalah nenek moyang dua pemimpin Amerika, George Bush dan anaknya George Wolker Bush, yang tidak lain adalah “Prof. George Bush” di dalam bukunya “The Life of Mohommed: Founder of the Religion of Islam, and the Empire of the Saracens”.
imageimage
 
image
 
Buku ini dicetak tahun 1831 dan ada di perpustakaan Konggres. Prof. Bush yang menulis buku ini adalah seorang dosen bahasa Ibrani dan Etika Ketimuran di Universitas New York. Seorang yang ahli dan mahir di dalam debat dan diskusi sekaligus seorang penggembala di sebuah geraja. Penerjemah buku, Dr. Abdul Rahman Abdullah Syaikh bekeyakinan bahwa buku ini memiliki pengaruh di dalam membentuk pemikiran modern yang anti Arab dan kaum muslimin, pemikiran yang dibangun di atas pembicaraan tentang Nabi SAW yang penuh dengan kebencian serta paralogisme historis religius bagi Arab.

Sebagai pengetahuan, Prof. George Bush menggunakan kata (Saracenes) untuk mengungkapkan kata penghinaan yang sangat kuat. Kata ini dulunya diungkapkan kaum salibis dan Eropa pada abad-abad pertengahan terhadap Arab dan kaum muslimin, yang dalam bahasa Arab artinya adalah sarsari (hina dan tidak berakhlaq). Buku ini sebagain besar isinya adalah celaan, tuduhan, umpatan, fitnah dan makian kasar terhadap Arab dan kaum muslimin dengan menganggap mereka sebagai ras yang rendah, (kutu), (tikus) dan (binatang melata).

Seorang penulis Amerika Crisstoper Hitshens mengatakan bahwa buku Prof. Bush menampilkan banyak ungkapan sadis dan keji, yang sebagian besarnya berupa celaan, makian, tuduhan dan umpatan keji terhadap orang Arab dan kaum muslimin. Sehingga di dalam buku yang terdiri dari 6 bab ini, misalnya penulis mengatakan bahwa “Allah telah mengutus Nabi Muhammad untuk memerangi manusia guna mendidik mereka yang telah tenggelam dalam kesesatan. Ini adalah salah satu cara Allah di dalam menghukum (manusia).”

Dia juga mengatakan, “Setelah (Allah) mengutus Musa kepada mereka (manusia) dengan bukti-bukti, namun mereka tetap dalam kesetannya dan menyimpang dari agama yang benar. Diutus kepada mereka Isa dengan misi agung, namun gereja-gereja Timur dan Katolik merusak pemahaman misi agung tersebut dan menyimpang darinya, sementara para tokoh agama Kristen tenggelam dalam kerusakan dan kesesatan. Setelah itu Allah mengutus seorang Nabi kepada mereka, yaitu Muhammad, untuk memerangi mereka guna memberi pelajaran dengan pedang, tombak, kuda dan pasukannya.”

Penulis di sini melihat risalah Islam sebagai alat yang digunakan Allah untuk menghukum gereja-gereja Kristen yang sesat karena memang berhak untuk mendapatkan itu. Penulis menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bisa membaca namun mengklaim tidak bisa membaca dan menulis. Karena dia (Muhammad) ingin menegaskan bahwa al-Qur’an bukan buatannya namun wahyu dari Allah. Barangkali buku yang sejenis ini dan yang ditulis dengan semangat anti dan pelecehan yang sama terhadap kaum muslimin memunculkan kebencian dan rasialisme yang dipraktekan arus radikal dalam pemikiran Amerika, yang menyebut orang Arab dan kaum muslimin sebagai radikal dan menempatkan mereka sekarang dalam kampanye yang dzalim.

Agar kita mengetahui dampak buku penting ini pada akal (rasio) para pembuat keputusan di Amerika, kita harus ingat bahwa buku ini ditulis pada masa kejayaan orientasi menuju pendirian pesan agama bersamaan dengan pandangan negara super power (Amerika) yang berobsesi menjadikan dirinya sebagai imperium dunia, yang berdiri di atas keunggulan ras.

Etika, moral, pemikiran dan agama yang menyertai pembentukan imperium ini terfokus pada arah keyakinan atau ideologi (kualitas tinggi) dan ideologi (bangsa pilihan). sebuah akar justifikasi untuk menghancurkan bangsa-bangsa di semua benua yang dijajahnya dan menyebutnya sebagai “Indian-indian merah” yang di tempatkan sebagai bangsa yang berada di bawah penghancurannya. Di tengah-tengah mereka ada keyakinan-keyakinan bahwa “Indian-indian” ini adalah binatang-binatang buas yang tidak berakal dan tidak berfikir, memakan sebagian yang lainnya, memakan anak-anak dan isteri-isterinya.
Sebagaimana pendapat Munir al-Akash di dalam bukunya “Haqut Tadhiyah bil Akhor, Amrika wal Ibadatul Jama’iyah” (hak mengorbankan pihak lain, Amerika dan pembantaian massal) yang juga dituturkan oleh perkataan Olir Holmez (1855) dengan mengatakan bahwa “Pembantaian Indian-indian itu adalah solusi penting untuk beristirahat tanpa mengotori ras putih. Bahwa memburu binatang-binatang buas di hutan adalah tugas moral yang harus dilakukan demi menjaga eksistensi manusia.”

Makna inilah yang digambarkan kepada kita oleh film-film koboy Amerika sejak awal abad lalu, yang mencerminkan realita dan kondisi umat kita yang berada di bawah agresi dan penjajahan di bawah penamaan-penamaan yang berbeda-beda sejalan dengan bahasa zaman dan pesan media kontemporer. Namun semua itu pada akhirnya berupaya untuk mengancam keyakinan-keyakinan (ideologi) kaum muslimin dan pemikiran mereka, serta meleburkan tatanan sosial dunia Arab dan Islam guna mengukuhkan penguasaan dunia oleh satu blok.
Bukan hanya dari sisi politik saja, namun juga dari sisi peradaban (budaya), ekonomi bahkan agama.

Ini adalah persepsi yang memimpikan penundukan agama-agama dan menggiringnya menuju liberal, yang tiada maksud dari semua itu kecuali memproduksi teks baru dari Islam yang sesuai dengan kehendak mereka guna mengglobalkan apa saja yang disebut Amerika.

Munir al-Akash menegaskan bahwa pada saat di Amerika Serikat ada iklim upaya menghidupkan kemuliaan agama yang didasarkan kepada sifir-sifir (pernjanjian lama), penulis buku (Prof. George Bush) kala itu adalah salah satu di antara para tokoh utama dan peneliti di dalam menggali teks-teks klasik sifir-sifir perjanjian lama. Nampaknya orientasi akademis Prof. Bush, telah menambah cuaca ketidaktahuan orang atas dirinya yang mengurung dirinya pada bidang yang digelutinya tidak diketahui oleh banyak orang

Untuk itu, tulisan-tulisannya beredar terbatas di antara pusat-pusat kajian ilmiah, agama dan lembaga-lembaga akademis. Hal inilah yang menjadikannya sebagai sumber dan referensi bagi sejumlah kajian akademis tertentu, yang kemudian setelah itu membentuk orientasi umum di dalam pemahaman ratusan dan ribuan para penuntut ilmu yang besar di pusat-pusat kepemimpinan yang menjadi calon pemimpin masa depan bangsa itu. Sehingga pemimpin amerika selanjutnya mempunyai pemahaman yang sama terhadap Islam dan Arab.

Itulah pemahaman salah tentang Islam yang saat ini dipeluk oleh kekuatan super power yang menguasai dunia. Untuk itu, sebelum kekuatan super power ini berfikir dan melanjutkan penerapan demokrasi di negara-negara dunia Islam, maka dia harus membebaskan diri dari kesalahan-kesalahan yang ada dalam pemikiran, pesan, orientasi dan pandangannya terhadap umat ini yang dibangun di atas referensi yang salah. Referensi yang dibangun untuk pemikiran radikal terhadap kaum muslimin.

Bahwa apa yang dihadapinya sekarang ini, berupa penolakan dan penentangan dalam bentuk demonstrasi atau perlawanan bersenjata di Irak atau peledakan oleh jaringan al-Qaidah di banyak tempat. Semua itu, tidak lain adalah penolakan terhadap sumber-sumber pemikiran ini, serta terhadap penerapan hegemoni, pendiktean dan penguasaan dengan kekuatan militer yang telah memakan ribuan korban jiwa. Dan sebaliknya kita kaum muslimin tidak memiliki masalah sejarah dan pemikiran yang menghalangi kita diterima untuk hidup besama orang lain. Dan kita tidak berupaya membinasakan orang lain sebagaimana yang mereka persepsikan.

Sesungguhnya hubungan antara krisis karikatur pelecehan Rasulullah Muhammad Saw, juga pelecehan oleh Paus Benedict XVI dan korelasinya dengan akar pemikiran tersebut menunjukan bagaimana sebagaian orang Barat mengengal Islam dari sumber-sumber yang tidak benar dan tidak akurat. Kemudian mereka membangun persepsi mereka di atas contoh-contoh dan penggambaran seperti dari buku-buku yang melecehkan kaum muslimin. Krisis semacam ini juga menegaskan penyimpangan tuntutan-tuntutan sebagian kaum muslimin sendiri agar kita tidak melupakan khasanah kita bahwa agama kita mengandung toleransi dan etika kemanusiaan yang dibutuhkan manusia hari ini. Seakan-akan tuntutan ini ingin menjadikan kaum muslimin “Indian-indian merah”, dan itu ada pemikiran “penggantian bangsa dengan bangsa dan budaya dengan budaya.”

Sesungguhnya kita kaum muslimin tidak akan mengadili bagi siapa yang menyerang Arab dan kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan Yahudi Israil yang melakukan propaganda terhadap siapa saja yang memusuhi mereka dengan menyebutnya anti semit. Kita kaum muslimin tidak akan mendeklarasikan perang bersenjata sebagai balasan atas propaganda mereka terhadap Islam dengan berbagai macam panggilan negatif.

Namun kita harus dalam kesadaran penuh dengan apa yang terjadi dalam hati. Mereka mengkaji kita dengan baik, untuk itu kita harus mengkaji mereka dengan baik pula. Hal ini untuk menghadapi mereka lewat pemikiran dan informasi dengan tujuan memperkenalkan hakikat Islam yang berperadaban sesuai dengan yang kita imani. Barang kali yang patut mendapatkan perhatian adalah bahwa Prof. Bush tidak cukup hanya menyerang kaum muslimin saja tetapi juta menyerang dan melecehkan sekte-sekte non radikal agama Kristen timur yang diimani oleh warga Kristen yang mereka itu adalah saudara-saudara kita yang tinggal di banyak negara Arab dan Islam mulai dari Maroko hingga Indonesia. (Eramuslim)

----
Bagian 6/9

Anti Islamofasisme, Nama Baru untuk Ide Lama

Barang kali kita telah mendengar tuduhan pada seseorang, organisasi atau negara dengan teroris, fundamentalis, ekstrim, fanatik atau radikal. Namun teriakan terbaru di dunia penggilan pelecehan pada masa tata dunia baru ini adalah “Islamofasisme”. Apabila anda adalah seorang Muslim yang istiqomah atau seorang Muslimah yang komitmen dengan hijab dan moralitasnya, atau anda pendukung partai Islam atau anggota organisasi sosial Islam, atau anda aktif dalam berbagai demonstrasi menentang pelecehan Nabi Islam Muhammad SAW, atau sibuk dalam berbagai diskusi penyuluhan dan penyadaran di internet yang menjelaskan hakikat sikap kaum muslimin terhadap pelecehan Nabinya, maka anda adalah kandidat yang akan mendapatkan sifat atau gelar “Islamofasis”.
Ini adalah gelar terkini bagi umat Islam yang datang dari pihak yang menyatakan perang terhadap terorisme di Amerika Serikat. Dan gelas fasis untuk umat Islam akan menyebar dengan cepat dan menjadi bahasa semua orang seperti panggilan Islam sebagai teroris yang sulit dipisahkan baik di media-media informasi dan pidato politik. (Jihad al-Khazin di dalam artikel harian al-hayah London, 7/02/2006).
Pada hakikatnya, istilah tersebut adalah hanya panggilan yang berbeda-beda untuk satu pihak yang sama yaitu Islam. Panggilan dan penamaan dari orang yang melihat Islam sebagai musuh yang mengancam. Pandangan negatif terhadap dunia Islam semacam ini sangat berbahaya karena itu refleksi atas pembuat keputusan yang menggelisahkan saya, anda dan seluruh penduduk bumi. Jadi persoalannya bukan sekadar pelecehan Nabi SAW yang terlepas dari realitas pembuat, pemikiran dan sejarah negara mereka tetapi itu merupakan refleksi dari dalam pemikiran para pembuat kebijakan (politik) di ibukota-ibukota Barat dan sudah merupakan persepsi yang tertata dalam logika pemikiran intelektual mereka.
imageUntuk menegaskan bahwa Islamophobia adalah sebab yang mengakibatkan munculnya pelecehan terhadap Islam dan serangan terhadap pemeluknya dan untuk membuktikan bahwa ada kesalahan Barat di dalam memahami idiolagi orang lain, di sini kami nukilkan pendapat orientalis terkenal John L. Esposito, professor agama dan hubungan internasional serta kajian Islam di Georgetown University Amerika, sekaligus sebagai penasehat departemen luar Negeri Amerika. Dan sekarang dia sedang berencana menerbitkan sebuah buku dengan tema: “Apakah kamu mendengarkan saya sekarang; apa yang diusahakan oleh semilyar muslim kepada kami”
 
Dia mengatakan tentang karikatur pelecehan Nabi bahwa peristiwa itu telah menyingkap berbagai preseden buruk dan berbahaya yang bersifat internasional, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang dan pelecehan itu sama sekali tidak ada kaitanya dan tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi Barat.
Media barat hari ini mencerminkan masyarakat yang terkena penyakit Islamophobia (Islamaphobic), kebencian yang tidak rasional terhadap semua hal yang berbau Islam, dan penyakit xenophobic (kebencian terhadap semua yang berbau asing). Karikatur pelecehan itu tidak lain adalah bukti terbesar atas kesenangan untuk memprovokasi dan itu tidak sekadar meremehkan “Usamah bin Laden” atau “Abu Mush’ab al-Zarqawi” namun itu salah satu pelecehan yang sangat berlebihan terhadap sesuatu yang sakral di dalam kehidupan kaum muslimin. Anehnya, semua pelecehan itu terjadi di tengah-tengah legenda kebebasan berekspresi.”
John L. Esposito menambahkan, “Sudah pasti karikatur (pelecehan) tersebut telah mendapatkan keuntungan yang besar, yang mengalir masuk ke kantong-kantong pemilik media dan koran-koran Eropa. Judul-judul bombastis tentang Nabi Islam dan pemuatan ulang terhadap karikatur Denmark telah mengalirkan liur-liur para pembaca Eropa. Koran-koran Eropa “yang terhormat” tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera saja gelombang informasi itu diambil kesempatannya oleh media-media lain. Maka berubahlah dari media-media “terhormat” ke media-media emperan dan murahan.
 
Amerika Serikat saat ini tengah mencurahkan segenap upaya untuk memasukan Rropa ke di bawah sayapnya dan memasukannya di dalam lingkup rencana hegemoninya atas dunia Islam. Nampaknya Eropa telah siap untuk menerima peran tersebut. Di tengah-tengah saling menguatkan antara Amerika dan Eropa, maka Amerika akan mengunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya guna mendukung dan mengokohkan teorinya yang mengatakan bahwa di sana ada benturan peradaban. Bahwa di sana ada perang salib terhadap Islam yang dipimpin oleh Barat yang phobi terhadap Islam.
Sesungguhnya peristiwa-peristiwa terakhir terkait dengan pelecehan al-Qur’an oleh orang-orang Amerika dan penjara teluk Guantanamo, kemudian serangkaian solidaritas pandir yang ditunjukan oleh Uni Eropa terhadap Denmark terkait dengan karikatur pelecehan terakhir, tidak lain adalah bukti nyata dan sebagai tambahan bahwa di sana ada perang antar peradaban yang ditukangi dan dikobarkan oleh Amerika Serikat, masih menurut John L. Esposito;
Bahwa kebebasan keyakinan di dalam masyarakat yang plural harus melindungi wujud sebagian kesakralan-kesakralan yang harus diperlakukan sebagaimana layaknya. Bahwa islmophobia - penyakit ayan yang menyusup sebagai kanker sosial - merupakan bahaya dan ancaman abadi dasar-dasar kehidupan kita yang memiliki ciri pluralitas demokratis. Oleh karena itu kita wajib menolaknya, sebagaimana penolakan kita terhadap gerakan anti semit. Berdasarkan hal itu, maka kepada seluruh pemimpin kita, baik politik maupun agama, dan kepada seluruh ahli dan pengamat – sudah barang tentu juga kepada seluruh media massa – untuk mengusung konvoi (protes) guna melindungi etika kita yang mulia.
John L. Esposito menutup perkataannya dengan mengatakan bahwa “para pemimpin kaum mulimin bertanggung jawab membela agama dan keyakinan umatnya. Mereka juga bertanggung jawab mendukung kebebasan berekspresi namun tanpa memanfaatkan kebebasan tersebut. Harus dibuat garis pemisah antara bentuk-bentuk sah untuk menolak dan demonstrasi sengit yang menyertai serangan terhadap kedubes-kedubes, agar masalahnya tidak tambah menyulut dan mendukung potret tidak fair yang diambil secara aneh tentang kaum muslimin. Dari situ maka para pemimpin kaum muslimin mendapatkan beban berat, ketika mereka tidak bisa memberikan arahan kepada kaum muslimin untuk tidak melakukan tindakan anarkis dalam menentang pelecehan karena bagaimanapun hal tersebut tidak akan membawa kebaikan dan maslahat.”
Sands of EmpireimagePada kesempatan kali ini, tidak ada salahnya kita mengkaji sebuah buku yang menjelaskan pandangan terhadap Islam, yang barangkali membawa nafas khas kakek George Wolker Bush yaitu Prof. George Bush yang ia tulis dalam bahasa modern. Yaitu buku Sands Of Empire yang diterbitkan pada tahun 2005 dalam 320 halanan yang ditulis oleh Robert W Merry, mantan wartawan di harian The Wall Street Journal, salah satu harian beraliran kanan Amerika yang memiliki banyak pengaruh. Harian ini juga memiliki cetakan Asia dan saya membacanya hampir setiap hari. Robert W Merry sendiri adalah Pemimpin Redaksi Congressional Quarterly, yang konsen mengikuti berita-berita Konggres. Hal inilah yang menjadikan terkumpul pada dirinya semangat seorang jurnalis yang sentiasa mengamati dan sangat tahu atas apa yang terjadi di lembaran-lembaran para pembuat keputusan di Konggres Amerika.
Buku ini berisi pandangan kelompok kanan klasik yang dihiasi banyak kontradiksi yang mengganggu terkait dengan serangan arus Amerika terhadap apa saja yang bertentangan dengan mereka, khususnya Arab dan kaum muslimin. Pada pasal-pasal terakhir dari buku ini penulis menegaskan bahwa di sana ada perbedaan yang muncul antara peradaban Barat dengan peradaban Islam dan budayanya yang menyebar di negeri-negeri Timur. Penulis membangun konklusinya ini pada gambaran-gambaran stereotype sangat negatif tentang Islam.
Dia menegaskan bahwa Amerika saat ini dalam perang peradaban dengan dunia Islam. Dia mengatakan, Kita orang-orang Amerika kini dalam perang melawan Islam. Melalui perang ini kaum muslimin terpaksa harus memilih antara budaya mereka atau barat, bahwa minoritas akan memilih Barat.”
Pada intinya, ini adalah pemikiran yang menolak berbicara tentang kesempatan kerjasama damai yang telah dibuktikan kaum muslimin dalam banyak perjalanan sejarah dan kita menginginkan hal itu direalisasikan bertolak dari agama Islam kita yang toleran dan menyerukan penerimaan keragaman agama dan pengakuan eksistensi orang lain serta membangun pembatan kerjasama dan dialog.
Di akhir buku ini penulis menyerukan Amerika agar semakin dekat dengan negara-negara Eropa untuk berdiri satu barisan bersama dengan Barat serta berkoalisi dengan Rusia untuk menghadapi negara-negara muslim di Asia tengah. Bahkan Robert W Merry menyerukan pemerintah Amerika untuk berkoalisi baik secara terang-terangan maupun rahasia dengan para diktator di negara-negara Arab dan dunia Islam yang dipimpin oleh pemerintahan yang sudah barang tentu tidak dipilih secara demokratis namun mereka memiliki keinginanan dalam kerjasama dengan Washington melawan “kelompok-kelompok teroris”.
Mungkin kita bisa mengaitkan perkataan Robert W Merry dengan kajian-kajian yang diterbitkan di Amerika Serikat yang menyerukan pemerintah Amerika untuk melihat kembali dalam upaya-upaya Washington menyebarkan demokrasi di dunia Arab dan Islam setelah masyarakat muslim memilih partai-partai Islam di sebaga an negara Arab dan dunia Islam.
Ada konsep pemikiran penting yang diisyaratkan oleh Robert W Merry dengan mengatakan, “Setiap kali penduduk Muslim banyak di dalam Amerika, maka semakin besar pula ancaman internal.” Untuk itulah dia mengusulkan pembatasan pertumbuhan kaum muslimin. Mungkin pemikiran ini diusung oleh sebagian orang-orang Eropa yang ketakutan terhadap pertumbuhan demografi muslim di Eropa yang dianggap mengancam sebagian tanah airnya dengan pertambahan jumlah kaum muslimin yang terus meningkat sementara orang-orang penduduk asli yang tersisa tinggal orang-orang tua. Hal inilah yang menjadikan sebagian suara Barat bertekat melakukan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak mau meminta maaf meskipun hasilnya adalah penyusutan wujud Islam di Eropa sebagai respon terhadap kemarahan kaum muslimin atas pelecehan agama mereka tanpa ada isyarat yang menenangkan, bahwa hal itu akan dihentikan di masa mendatang dalam waktu dekat. Mereka juga tidak memberikan ketenangan resmi dengan melarang munculnya kembali pelecehan semacam ini.
Kembali ke pasal-pasal awal dari buku Robert W Merry, meski dia bertujuan untuk membaca secara kritis latarbelakang filosofis dan historis yang menggerakan kebijakan luar negeri Amerika, namun dia memberi kita gambaran (persepsi) dari jendela lain mengenai rasio (akal) orang yang melecehkan Islam dalam karikatur atau buku mereka. Robert W Merry membagi filsafat dan pemikiran ini menjadi dua ide utama:
Pertama: Ide (pemikiran) kemajuan historis. Ide ini merujuk kepada para pemikir revolusi Perancis yang meyakini kemampuan ilmu dan teknologi untuk membawa kepada kemajuan dengan kelanjutan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Masalah dalam pemikiran ini adalah keyakinan bahwa yang memimpin kemajuan manusia baik secara ilmu maupun sosial ini adalah peradaban Barat Eropa. Dari sisi pribadi, maka siapapun orang Barat yang meyakini ide (pemikiran) semacam ini maka dia akan menganggap mudah melakukan pelecehan terhadap nabi-nabi orang lain. Karena peradaban mereka (Barat) lah yang memimpin orang lain dan bukan agama orang lain yang mereka yakini. Orang Barat yang meyakini ide semacam ini merasa memiliki hak untuk berkomentar dengan segala olok-olokan dan pelecehan terhadap setiap agama dan budaya lain. Dari sisi politik dan pemikiran, maka ide (pemikiran) semacam ini berarti bahwa Barat akan menang, tidak bisa tidak. Bahwa Barat mampu mengembalikan format orang lain dengan gambaran yang diingikan orang-orang Barat baik secara politik maupun peradaban.
Hal inilah yang mendorong para pejabat Amerika, seperti diungkapkan Robert W Merry, melakukan petualangan politik luar negeri yang bisa jadi hasilnya negatif bagi orang Amerika. Inilah yang bisa kita rasakan dari pernyataan-pernyataan Presiden Amerika George. Bush Yunior dan PM Inggris Tony Blair saat membicarakan tentang penyebaran demokrasi di Irak. Mereka lupa diri bahwa mereka telah melakukan banyak kejahatan terhadap bangsa Irak melanjutkan kejahatan diktator berdarah dan dzalim Sadan Husain. Mereka melupakan bahwa bangsa-bangsa Arab dan Islam haus dengan kebebasan namun bangsa-bangsa ini tidak akan mampu mendirikan demokrasi yang matang dan hakiki di tengah-tengah penjajahan.
Bertolak dari kemenangan Bush Senior dalam mengusir Sadam Husain dari Kuwait, Presiden George Bush Yunior dalam pembicaraannya yang penuh obsesi bertekad menyebarkan demokrasi di Irak. Kemenangan Bush Senior telah memberi tambahan kepercayaan dan dorongan kepada Gedung Putih dan para tokohnya untuk merealisasikan impian supremasi Amerika atas dunia.
Dari ide (pemikiran) “kemajuan historis” ini, Francis Fukuyama di dalam bukunya “akhir sejarah” bertolak dari pendangannya mengatakan bahwa kapitalisme Barat telah mengalahkan ideologi dan peradaban lain, maka dengan begiru berakhirlah roda sejarah. Sementara itu di atas ide ini Tomas Fridman membangun perbincangannya tentang globalisasi dan penghapusan batas-batas budaya antara bangsa-bangsa yang dalam pandangannya akan berupaya mengambil faedah ekonomi dari keistimewaan-keistimewaanya.
Kedua: Ide (pemikiran) kebulatan sejarah. Ide ini dalam perinciannya, berbeda antara kaum Muslimin dan orang Barat pada zaman modern ini. Kita meyakini tentang sunnah kauniyah yang tidak mengecualikan seuatu peradaban tertentu bahwa dia bisa mencapai puncak atau turun hingga ke dasar dikarekanan faktor-faktor internal dan eksternal yang telah disaksikan kejadiannya oleh sejarah manusia. Namun refleksi ide ini dalam teori-teori Barat pada masa-masa pertenganan dan klasik di Eropa memiliki makna lain. Yaitu bahwa keburukan ada dalam semua zaman dan tidak mungkin dihindari.
Dalam ide (pemikiran) ini ada poin positif bahwa siapa yang meyakininya akan fokus pada kondisi internal guna melindungi negaranya dari faktor-faktor kehancuran yang menjadi akhir peradaban dari negara-negara sebelumnya dan tidak akan terdorong kepada pembangunan pangkalan militer di lebih 60 negara serta melakukan intervensi dalam urusan bangsa-bangsa lain untuk memprovokasi. Kemudian sebagian pihak bertanya-tanya: mengatakan sebagian manusia membenci Amerika Serikat, setelah berbagai perilaku militer internasional yang dibuat Imperium Amerika dan tidak satu negarapun menentangnya hingga detik ini, sebagian ahli hubungan publik mengajukan pertanyaan tentang manfaat ofensi propaganda yang diupayakan Washington, peluncurannya di media-media informasi dan lembaga-lembaga pendidikan sebagian negara Barat dan Islam.
Kita katakan terhadap ofensi propaganda tersebut: bahwa telinga kita terbuka mendengar pesan-pesan propaganda untuk mempercantik wajah Amerika tersebut, namun mata kita juga terbuka dan menyaksikan apa yang dilakukan oleh para serdadu Amerika.
Bertolak dari ide kebulatan sejarah, di dalam bukunya tentang “Clash of Civilizations” Huntington memprediksi terjadinya benturan antar peradaban dan bahwa dunia akan tetap terbagi atas dasar batas-batas budaya yang akan mengobarkan benturan antar peradaban utama di dunia ini. Kita tidak akan memperpanjang pembicaraan dalam mendiskusikan ide benturan peradaban yang telah memenuhi diskusi di kalangan para ahli dan intelektual. Namun yang terpenting adalah bahwa pendukung ide “kemajuan historis” atau “akhir sejarah” barangkali telah mengalahkan para pendukung “kebulatan sejarah” dan “clash of civilizations”, sehingga melekatlah pengaruh ide akhir sejarah dan kemestian supremasi Amerika terhadap dunia bangsa-bangsa. Orang-orang liberal yang barang kali sebagian mereka menolak agresi ke Irak, namun mereka menerima intervensi dengan dalih kemanusiaan sebagaimana yang terjadi di Somalia dan Bosnia.
Namun masalahnya tidak berhenti pada batas ini, Amerika Serikat terseret untuk menerima pelucutan kaum imperialis dari kaum neo-konservatif yang dilihat oleh Robert W Merry, bahwa dengan agresi mereka ke Irak mungkin mereka akan menghidupkan ide “clash of civilizations” daripada merealisasikan impian supremasi Amerika berdasarkan pada teori “akhir sejarah”, yang dengan dasar teori ini kaum neo-konsevatif ingin merekontruksi dunia di atas dasar demokrasi yang sesuai dengan mereka. Sudah barang tentu bukan demokrasi yang memungkinkan kaum Islamiyin dari Hamas di Palestina atau al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir menuju pemerintahan. Demokrasi yang semacam ini jelas tertolak bagi mereka. Siapapun dari partai-partai Islam yang menang mereka harus menyesuaikan dengan iklim tuntutan-tuntutan pihak yang mereka sebut “masyarakat internasional” seraya melupakan program-program pemilu yang mewakili Islam politik, sebagaimana penamaan oleh Barat, yang pada dasarnya mereka terpilih “secara demokratis”.
Yang juga mengejutkan saya dari ucapan Robert W Merry, dia mengingatkan adanya bencana pemikiran imperialisme dari sisi kemungkinan provokasi oleh kekuatan besar dan menengah dunia atas Amerika serta penyedotan penghasilan Amerika Serikat. Pada akhirnya, dunia akan tetap terbagi dan tidak akan melebur dalam satu peradaban dan sistem politik tunggal. (Eramuslim)

--
Bagian 7/9

Islamophobia dan Peranan Media Barat
Bicara tentang potret stereotype Islam dalam akal Barat serta tentang sebab media-media dan kaum politisi Barat ramai-ramai membela penyebaran karikatur pelecehan terhadap Rasul SAW yang mulia, memaksa kita untuk menengok kepada pengalaman media informasi di negara Barat dengan Islam.

Belakangan di Perancis terbit buku tentang “Islam Khayalan: Bangunan media informasi kaum Islamophobia di Perancis dari tahun 1975 – 2005” yang ditulis oleh seorang wartawan Perancis Thomas Deltombe.
Fenomene permusuhan terhadap Islam atau Islamophobia akar-akarnya kembali kepada masa imperialisme. Fenomena itu muncul bersamaan dengan bertambahnya jumlah kaum Muslimin pendatang di Eropa dan Amerika. Bersamaan dengan awal tahun 1970-an, dalam pandangan Thomas Deltombe, orang-orang Perancis mulai “mendeteksi” kaum Muslimin pendatang, pekerja dan mahasiswa yang hidup di tengah-tengah mereka melalui apa yang disuguhkan televisi dan Koran.
imageThomas Deltombe mengatakan bahwa “potret khayalan tentang Islam dan yang diberitakan oleh media masa Perancis sepanjang 30 tahun secara global adalah sesuatu yang kompleks dan fitnah karena ketidaktahuan secara menyeluruh tentang Islam dan kaum Muslimin, serta tunduk kepada takwil-takwil yang beragam. Hal ini memungkinkan kita untuk berbicara tentang Islam khayalan yang pada akhirnya berupa hasil yang wajar sesuai dengan apa yang disiarkan media-media informasi, para produser sinema dan wartawan.”

Pada dasawarsa 90-an dan 80-an potret Islam di media Perancis disebut periode “mobilisasi pemikiran anti Islam”, di mana “potret khayalan” ini masih selalu menjadi sandera atas apa yang terjadi di luar Perancis seperti revolusi Islam Syi’ah di Iran, perang saudara di Aljazair, perang berturut-turut di Irak, perang Afghanistan, perang dengan Soviet di Afganistan kemudian peristiwa 11 September dan apa yang terjadi di Palestina. Sudah pasti, para wartawan mengetahui bahwa peristiwa-peristiwa semacam ini menjadi berita-berita utama, namun tidak mentransformasikan tujuan kemanusiaan dan potret peradaban dari negeri tertentu melalui media informasi berbeda dengan berita-berita perang dan kehancuran terhadap bangsa-bangsa negara lain.

Jadi, awal kronologi yang jelas untuk membentuk “pesan Islamophobi” di Perancis sebagai salah satu negara penting di Eropa terjadi setelah pemboikotan minyak pascaperang Oktober 1973. Pemboikotan inilah yang menggoncang Perancis dan Barat, yang diikuti dengan revolusi Islam di Iran yang memberikan gambaran kepada orang-orang Perancis, melalui media, sebagai “kembalinya Islam”, diikuti kemudian peristiwa yang memiliki hubungan dengan pelecehan terhadap agama, demonstrasi-demnstrasi yang dilakukan di Perancis menentang buku “Ayat-Ayat Setan” tahun 1989, kemudian peristiwa pertama masalah hijab di sekolah-sekolah Perancis pada tahun yang sama. Keduanya disebut oleh sebagian tokoh Perancis sebagai indikasi “Islamisasi Perancis” ala Iran.
imagePeriode kedua sekitar dasawarsa 90-an dengan “rasionalitas” pesan Islamophobia. Pada periode ini terjadi perubahan penting. Tokoh-tokoh Perancis tidak berbicara tentang kaum pendatang atau pekerja, namun mereka berbicara tentang golongan sosial baru di dalam masyarakat Perancis, yaitu “generasi kedua” dari orang-orang perancis yang muslim. Artinya bahwa kita telah berhadapan dengan “realita yang tidak mungkin dipisahkan darinya, yaitu bahwa Islam telah juga menjadi bagian Perancis.”

Di antara tokoh pemikir dan media informasi muncul apa yang disebut “periode reformasi terminologi televisi” dengan membagi kaum Muslimin Perancis menjadi dua barak: kaum fanatis di satu pihak dan kaum moderat di pihak lain.

Sedang periode ketiga adalah periode ketakutan keamanan kaum Muslimin, setelah peistiwa 11 September. Pertanyaan para tokoh dan pegiat media adalah: “bagaimana kita bisa menjahui radikalisasi berfikir kaum Muslimin?”

Pada periode ini penyebaran pada awalnya terjadi secara samar. Namun bersamaan dengan awal ditetapkannya agenda keamanan sebagai proritas Perancis dan Eropa, buldoser penyimpangan dari media dan tokoh bergerak ke arah pembauran hakiki dan kerjasama informasi yang selalu dikontrol keamanan terhadap segala yang memiliki sifat “Islam” di tengah-tengah perang Amerika terhadap apa yang disebutnya “teroris”.

Demikianlah kemunduran terjadi dalam upaya memahami kaum Muslimin dan penyimpangan potret Islam di media informasi setelah masa rasionalitas. Krisis karikatur pelecehan Nabi dan masalah media informasi Perancis, pada ghalibnya, masih terjadi pada periode ketiga ini.
Sesungguhnya Islamophobia atau anti Islamofasisme berarti bahwa sebagian besar kebijakan politik dan praktek-praktek Barat tidak mungkin diinterpretasikan dengan alasan terang-terangan, betapapun pentingnya, seperti kesalahan keamanan yang terkait dengan fenomena teorisme, atau ancaman yang mungkin terjadi pada kondisi negara-negara Islam memiliki kekuatan yang menggetarkan berupa senjarah pemusnah massal atau teknologi modern sebagaimana yang terjadi pada Irak, Iran dan Pakistan.

Bahkan ada ketakutan sebagaian negara terhadap Indonesia atas kepemilihan teknologi industri penerbangan dan yang lainnya, sebagaimana disadari oleh mantan Presiden BJ Habibi. Atau dicapainya independensi nyata di dalam kerjasama negara-negara Islam di dalam mengelola kekayaan alam dan potensi sendiri terutama sumber-sumber minyak.

Sesungguhnya hal itu mungkin bisa ditafsiri dengan ketakutan dari model peradaban Islam “yang tidak menghapus” yang lain, dalam hal ini Barat. Namun (model peradaban Islam) yang meletakan batas kesalahan-kesalahan model Barat dengan pandangan sentralnya pada kemandirian dan keunggulan atas yang lain.

Demikian juga kebangkitan Islam dan kemenangan partai-partai Islam di banyak negara dalam pemilu yang demokratis adalah bukti nyata kegagalan semua cara yang menjauhkan generasi-generasi sebelumnya untuk membuktikan model peradaban Barat dalam kehidupan kaum Muslimin dari pada model peradaban Islami. Demikian juga hegemoni militer Amerika Barat dengan Israel di tubuh Arab melalui serangan-serangan kontemporer yang mengingatkan kota pada masa imperialisme menjelang akhir abad ke-20, hegemoni militer ini mengungkapkan tentang kebangkrutan Barat di media-media pemikiran dan moralitas di medan hubungan paradaban dengan yang lain, baik hubungan clash maupun adaptasi.

Kebangkrutan di sini berarti juga tidak adanya kepercayaan pada sarana-sarana selain militer guna menguasai dunia Arab dan Islam di masa-masa mendatang, terutapa bersamaan dengan meluasnya kebebasan dan perubahan demokrasi yang terjadi di banyak negara untuk terbebas dari kediktatoran yang menguasai negara-negara Arab dan Islam sejak kemerdekaannnya ada pertengaah abad ke-20. (eramuslim)

-----
Bagian 8/9
Kurikulum Pendidikan dan Tantangan Menghadapi Pluralisme Agama di Eropa dan Amerika

Pada Desember 2004 lalu organisasi Liga Arab bekerjasama dengan sebuah organisasi milik PBB yang bergerak di bidang Pendidikan atau Islamic Education Sciences and Culture Organisation (IsESCO) dan Uni Eropa mengadakan seminar penting tentang potret budaya Arab Islam di dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah Eropa dan Amerika.
Para ahli disuguhkan setumpuk kertas, sebagai bahan kajian buku-buku sejarah dan sastra di sekolah-sekolah Perancis, Yunani, Italia, Austria, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat.

Para ahli tersebut sampai pada kesimpulan bahwa di sana ada hakikat yang diabaikan dan pemahaman-pemahanan rancu peradaban Arab dan Islam dalam potret yang negatif. Hal ini membantu terbentuknya persepsi buruk tentang Islam, syariah, khilafah, al-Qur’an dan wanita di dalam Islam, serta arti jihad yang dilihat sebagai perang suci untuk menyebarkan Islam dengan kekuatan bersenjata serta pengaitan Islam dengan terorisme.

Muktamar semacam ini sekali lagi menunjukan adanya kebutuhan untuk turun ke masyarakat bawah Eropa dan Amerika bahkan masyarakat Islam sendiri sebagai upaya untuk merealisasikan semua program ‘impian’ dalam dialog antara peradaban dan agama. Saya katakan impian karena saya sendiri telah mengikuti banyak seminar atau muktamar semacam ini di Kuala Lumpur, Jakarta, Bali dan di tempat lainnya. Akan tetapi dampaknya masih sangat terbatas di sejumlah kalangan akademisi dan tokoh agama serta para pengambil keputusan yang jumlahnya sangat sedikit. Sementara kurikulum-kurikulum pendidikan dan buku-buku pelajaran yang beredar di antara generasi baru masih berorientasi ke arah negatif khususnya yang terkait dalam melihat Islam.

Untuk itu, muktamar-muktamar tentang dialog peradaban antar tokoh tanpa masyarakat – melalui kurikulum-kurikulum pendidikan serta sumber-sumber pencerdasan dan informasi – masih menjadi materi dan judul-judul penting di media-media dan televisi, lain tidak.

Dialog antar peradaban bukanlah dialog antara tokoh saja, namun proses bersama antara pihak-pihak terkait dari pemerintah dan organisasi-organisasi di negara-negara peradaban yang berdialog mulai dari sisi pendidikan, pengajaran dan media dengan tujuan untuk menyebarkan budaya yang menghormati identitas, yang dibangun di atas toleransi dan mengakuan terhadap yang lain.

Apabila orang-orang Eropa menginginkan pengetahuan ideal tentang itu maka mereka harus melihat pada sejarah daulah Utsmaniyah dan bagaimana toleransi di dalamnya diterapkan secara luas. Di mana orang Yahudi dan kelompok minoritas lainnya yang non muslim menikmati toleransi dan suasana kebebasan beragama serta berfikir, untuk menjatuhkan daulah Utsmaniyah sejak akhir abad ke-19 sampai jatuhnya daulah secara total pada tahun 1924.

Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah dalam muktamar yang diadakan pada 17 Februari 2006 lalu telah meminta negara-negara Barat untuk merevisi kurikulum pendidikan dari segala yang merancukan potret Islam dan kaum muslimin. Dia menegaskan “pentingnya perubahan kurikulum pendidikan di Barat yang mengaburkan gambaran Islam dan kaum muslimin di kalangan anak-anak non muslim.” Ini merupakan kali pertama pernyataan keluar dari lembaga agama resmi di Mesir, yang mengandung tuntutan yang diadopsi oleh sejumlah ulama beberapa tahun lalu. Sebagai jawaban atas permintaan negara-negara Barat kepada pemerintah-pemerintah Arab dan Islam agar merevisi kurikulumnya dari segala yang dianggap Barat “terkait pada kebencian terhadap non muslim”.

Itu terkait dengan masalah kurikulum. Lantas bagaimana sikap orang-orang Eropa dan Amerika yang dididik dengan kurikulum tersebut? Apakah dia mampu beradaptasi dengan orang dari agama lain dan menghormati kemajemukan agama ini di dalam masyarakatnya? Kita ambil contoh dari Amerika Serikat, dengan membuka lembaran buku “America and the Challenges of the Religious Diversity” (Amerika dan Tantangan Keragaman Agama) yang diterbitkan pada akhir tahun 2005 ditulis oleh Robert Wothnow, professor ilmu sosial dan direktur Pusat kajian Agama di Universitas Brisnton.

Wothnow mengatakan, mungkin dikatakan bahwa krisis karikatur Denmark terjadi di Eropa dan bukan di Amerika Serikat, namun pembicaraan kita tentang Amerika Serikat penting karena pelecehan terhadap Islam di Amerika Serikat terjadi berulang-ulang di media cetak maupun elektronik termasuk oleh Sinema Hollywood. Dan juga karena keputusan politik tidak mungkin dipisahkan, sebagaimana nampak di dunia dalam berbagai momentum, dari pengaruh latar belakang agama. Namun apa bubungan isi buku ini dengan masalah karikatur pelecehan terhadap Rasul Islam?

Di sana ada hubungan di mana tidak adanya pengokohan kemajemukan agama di dalam pembentukan akal Amerika (mungkin bisa dianalogokan dengan akal Eropa) mendorong kepada pelecehan agama orang lain dan melihat itu sebagai kebebasan berpendapat dan berekspresi. Dari logika ini Robert Wothnow berpendapat di dalam bukunya bahwa “orang-orang Amerika sejak awal sepakat menerka konsep bahwa masyarakat mereka – meski majemuk – pada dasarnya adalah masyarakat Kristen. Bahwa arti kemajemukan agama harus difahami secara mendasar di dalam konteks mayoritas Kristen.”

Akar konsep pemikiran ini dalam pandangan Robert Wothnow muncul sejak datangnya Cristoper Colombus ke Amerika, di mana dia berupaya mencari jalan menuju India dan Asia Timur jauh dari negara-negara Arab di selatan Eropa, sebagaimana dia juga bermimpi menemukan harta karun yang memungkinkan “untuk membayar kebutuhan pasukan pembebasan al-Quds dari kaum muslimin”.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Amerika sejak berdirinya terikat dengan konsep pemikiran agama. Robert Wothnow mengatakan bahwa warga (koloni) generasi pertama tidak peduli memahami warga Amerika asli (Indian merah) dan melihat mereka sebagai penjahat dan pengabdi setan yang memungkinkan untuk dilakukan pengabaran dan dirubah menjadi Kristen.

Bersamaan dengan awal abad ke-18, orang-orang Amerika mulai terserang konsep pemikiran sekuler yang membuka pintu di depan orang yang menyerukan ide menerima orang lain. Namun abad ke-19 muncul kelompok-kelompok fundamentalis Kristen di mana para misionarisnya menjadi sumber rujukan untuk memahami orang lain bagi orang-orang Amerika yang dari gereja-gereja mereka bahwa peradaban dan negara Amerika kuat dengan Kristen, bahwa bangsa-bangsa lain lemah karena jauh dari Kristen. Mungkin sama dengan pemahaman kita kaum muslimin bahwa kekuatan kita muncul dari agama kita yang mendorong kepada ilmu dan membangun peradaban serta menjadi umat terbaik bagi seluruh manusia.

Dalam pandangan penulis buku ini, gerakan kajian perbandingan agama di Amerika mulai mundur pada akhir-akhir abad ke-19. Bahkan pada muktamar yang diagakan organisasi misionari tahun 1893 tentang kemajemukan agama hanya seorang muslim saja yang diundang dalam muktamar. Acara ditutup dengan perayaan kemenangan peradaban Amerika atas peradaban dan agama-gama dunia. Sedang hari ini, Robert Wothnow melihat bahwa di sana ada 3 arah (orientasi) yang menyebar di masyarakat Ameika dalam melihat kemajemukan agama.

Pertama: Orientasi orang-orang yang memasarkan spiritualitas. Mereka adalah orang-orang yang melihat kepada agama-agama sebagai bahan tawar menawar dan mencampur adukan antara falsafah agama dengan keyakinan (aqidah) di dalam membentuk pemikiran spiritual mereka. Mereka berpindah-pindah di pelajaran antar agama-agama, layaknya orang yang berbelanja di pasar perdagangan. Namun mereka tidak peduli dengan ibadah, syariat dan moralitas. Namun mereka menfokuskan diri pada masalah spiritualitas. Bisa saja mereka dari para pecinta Buda, Hindu dan sebagian perilaku sufi yang menyimpang.

Kedua: Orientasi orang-orang Kristen inklusif (inclusive). Mereka adalah orang-orang yang melihat Kristen sebagai agama utama mereka dengan persepsi bahwa agama-agama lain mewakili jalan-jalan lain yang benar untuk sampai kepada hakikat dan pengampunan bagi yang berhak mendapatkannya seperti haknya Kristen.

Ketiga: Orientasi orang-orang Kristen yang eksklusif (disclusive). Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa Kristen adalah jalan satu-satunya.

Dr. Robert Wothnow melihat bahwa ketiga golongan tersebut tidak membantu menyuguhkan teori-teori praktis bagi masyarakat Amerika dalam pemahaman interaksi mereka dengan orang pengikut agama lain selain Kristen. Sebagian mereka melihat bahwa kemajemukan sebagai bahaya budaya yang mengancam masyarakat Amerika. Dan masih tersisa puluhan pertanyaan yang diajukan dalam masyarakat Amerika secara khusus tentang masalah kemajemukan agama dan pandangan terhadap agama-agama lain, termasuk Islam, tanpa jawaban terperinci dari para penganut tiga golongan tersebut di atas. (Eramuslim)

----
Bagian 9/9  

Tidak Semua Orang Barat Anti Rasul dan Islam (tamat)imagePenukilan tentang gambaran Islam yang muram di dalam buku-buku Barat tidak berarti tidak ada orang-orang Barat yang netral. Sebagian dari mereka mengenal Rasulullah Muhammad SAW dan mereka mengenal Islam kemudian bersikap netral di dalam buku-buku mereka dan bisa kita sebutkan contohnya. Namun masih tersisa pertanyaan, sampai sejauh mana pengaruh buku-buku yang netral ini dalam memperbaiki gambaran Islam di rasio orang Barat secara umum. Apakah buku-buku ini mampu merubah pandangan negatif tersebut dari akar-akarnya?

Sangat disayangkan bahwa kita melihat pemikiran kanan yang dominan hari ini enggan melihat Islam dari jendela-jendela positif yang telah dibuka oleh orang-orang netral tersebut kepada kaumnya di Barat. Banyak juga orang-orang Barat yang netral lebih mengutamakan untuk diam, atau barang kali media Barat tidak mau meliput perkataan mereka. Berikut ini pendapat sejumlah orang-orang Barat yang netral tentang Islam:
  1. Seorang orientalis Kanada, Dr. Zuwaimer di dalam bukunya “Timur dan Tradisinya” mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah termasuk pemimpin agama terbesar. Bisa juga dikatakan bahwa dia adalah seorang reformis, mumpuni, fasih, pemberani dan pemikir yang agung. Tidak boleh kita menyebutnya dengan apa yang bertentangan dengan sifat-sifat ini. Al-Qur’an yang datang besama Muhmmad dan sejarahnya menjadi saksi atas kebenaran klaim ini.”
  2. Seorang Orientalis Jerman Bretly Hiler di dalam bukunya “Orang-Orang Timur dan Keyakinan-keyakinan Mereka” mengatakan, “Muhammad adalah seorang kepala negara dan punya perhatian besar pada kehidupan rakyat dan kebebasannya. Dia menghukum orang-orang yang melakukan pidana sesuai dengan kondisi zamannya dan sesuai dengan situasi kelompok-kelompok buas di mana Nabi hidup di antara mereka. Nabi ini adalah seorang penyeru kepada agama Tuhan Yang Esa. Di dalam dakwahnya, dia menggunakan cara yang lembut dan santun meskipun dengan musuh-musuhnya. Pada kepribadiaannya ada dua sifat yang paling utama dimiliki oleh jiwa manusia. Keduanya adalah “keadilan dan kasih sayang”.
  3. Bernardesho seorang pemikir Inggris di dalam bukunya “Muhammad” mengatakan, “Dunia ini sangat membutuhkan pemikiran Muhammad. Nabi inilah yang meletakan agamanya senantiasa dalam posisi terhormat dan tinggi, agama yang paling kuat di dalam mencerna seluruh peradaban dan kekal sepanjang masa. Saya melihat banyak dari anak keturunan bangsaku yang masuk agama ini dengan bukti nyata. Agama ini akan mendapatkan kesempatan yang luas di benua ini – maksudnya adalah Eropa. Bahwa para tokoh agama pada abad pertengahan, akibat dari kebodohan dan fanatisme, telah menggambarkan agama Muhammad dengan gambaran yang gelap. Mereka menyebut agama Muhammad sebagai musuh bagi Kristen. Namun setelah saya mengkaji tentang orang ini (Muhammad), saya menemukan kekaguman yang luar biasa. Saya sampai pada kesimpulan bahwa dia bukan musuh bagi Kristen. Namun sebaliknya harus disebut penyelamat manusia. Dalam pandangan saya, sekiranya dia memegang kendali dunia pada hari ini pastilah dia bisa menyelesaiakan masalah kita yang dapat menjamin perdamaian dan kebahagiaan yang menjadi harapan manusia.
  4. Professor bahasa Aramaic, Snersten Elasogi di dalam bukunya “Sejarah Hidup Muhammad” mengatakan, “Sungguh kita tidak netral pada Muhammad kalau kota mengingkari apa yang ada pada dirinya, berupa sifat-sifat yang agung dan keistimewaan-keistimewaannya. Muhammad telah terjun di dalam perang kehidupan yang benar menghadapi kebodohan dan kesemrawutan, tetap teguh pada prinsipnya. Dia terus memerangi tindakan yang melampaui batas sampai berakhir pada kemenangan yang nyata. Sehingga syariatnya menjadi syariat yang paling sempurna, dia di atas para tokoh agung sejarah.”
  5. Seorang orientalis Amerika Sneks di dalam bukunya “Agama Arab” mengatakan, “Muhammad muncul 570 tahun setelah Isa. Tugasnya adalah untuk meningkatkan akal manusia dengan memberinya dasar-dasar utama dan akhlak yang mulia, mengembalikan kepada keyakinan Tuhan yang Esa dan kehiduan setelah kematian.”
  6. Michel Hart di dalam bukunya “Seratus Tokoh dalam Sejarah” mengatakan, “Pilihan saya Muhammad menjadi orang pertama yang terpenting dan teragung sebagai tokoh sejarah telah mengagetkan para pembaca. Namun dia (Muhammad) adalah satu-satunya tokoh dalam semua sejarah yang sukses dengan kesuksesan sangat tinggi pada tingkat Agama dan Dunia. Ada banyak rasul, nabi dan para pemimpin yang memulai dengan misi-misi agung. Namun mereka meninggal tanpa penyempurnaan misi-misi tersebut, seperti Isa di Kristen, atau yang lain telah mendahului mereka, seperti Musa di Yahudi. Namun Muhammad adalah satu-satunya (Rasul) yang menyempurnakan misi agamanya, menetapkan hukum-hukumnya dan diimani oleh bangsa-bangsa selama hidupnya. Karena dia mendirikan negara baru di sisi agama. Sedang di bidang dunia dia juga menyatukan kabilah-kabilah di dalam bangsa, menyatukan bangsa-bangsa di dalam umat, meletakan buat mereka semua asas kehidupannya, menggariskan masalah-masalah dunianya, meletakannya pada titik tolak menuju dunia. Dan juga di dalam hidupnya, dia adalah (Rasul) yang memulai risalah agama serta dunia dan menyempurnakannya.
  7. Seorang sastrawan dunia, Lev Tolstewi, yang karya sastranya dianggap sebagai sastra yang paling bernilai tercatat dalam peninggalan kemanusiaan. Dia mengatakan, “Cukuplah Muhammad sebagai kebanggaan karena dia telah membebaskan umat hina yang haus darah dari cakar-cakar setan tradisi yang tercela. Membuka di depan muka mereka jalan yang tinggi dan maju. Bahwa syariat Muhammad akan menguasai dunia karena kesesuaiannya dengan akal dan kebijaksanaan.
  8. Dr. Shaberk asal Austria mengatakan, “Sesungguhnya manusia pasti bangga memiliki afiliasi dengan tokoh seperti Muhammad. Dia itu meski dengan keumiannya (tidak bisa baca dan tulis) beberapa belas abad yang lalu mampu membuat undang-undang. Kita orang Eropa akan menjadi sangat bahagia apabila bisa sampai ke puncaknya.”
  9. Seorang Filsuf Inggris yang penah mendapatkan hadiah Nobel, Tomas Karlil di dalam bukunya “Para Pahlawan” mengatakan, “Sungguh menjadi sangat aib bagi siapapun yang berbicara pada masa ini mengeluarkan ungkapan bahwa agama Islam adalah kedustaan dan bahwa Muhammad adalah penipu. Kita harus memerangi penyebaran kata-kata yang absurd dan memalukan ini. Sesungguhnya risalah yang ditunaikan utusan (Rasul) tersebut masih menjadi pelita yang bercahaya selama 12 abad lamanya. Apakah ada di antara kalian yang mengira bahwa risalah ini yang menjadi pegangan hidup dan matinya jutaan orang yang tak terhidung jumlahnya adalah kedustaan dan penipuan.”
  10. Sedang seorang Sastrawan Jerman Gotah mengatakan, “Sesungguhnya kita warga Eropa dengan seluruh pemahaman kita, belum sampai kepada apa yang telah dicapai Muhammad. Dan tidak akan ada yang melebihi dirinya. Saya telah mengkaji dalam sejarah tentang keteladanan yang tinggi untuk umat manusia ini. Dan saya temukan itu pada Nabi Muhammad. Demikianlah seharusnya kebenaran itu menang dan tinggi, sebagaimana Muhammad telah sukses menundukan dunia dengan kalimat tauhid.”
(tamat)
Jangan Percaya Ahli Kitab, Tapi Jangan Kau Ingkari !
Billboard diatas adalah salah satu kasus yang sempat memanas dan berlanjut dengan Pelecehan Nabi karton Jyland-Posten. Namun kasusnya hilang begitu saja. Tahukah anda apa yang diajarkan dan dipasang digereja gereja di Amerika ??

1 komentar:

  1. Siapakah dia yang sampai saat ini begitu di benci pihak barat? disisi lain selalu mencari tau tentang kelebihannya.. juga sedikit demi sedikit melancarkan fitnah atasnya..
    dialah Rasulullah akhir zaman .. Muhammad SAW.
    teladan umat manusia

    BalasHapus