Laman

Rabu, 04 Mei 2011

Terbongkarnya Persekongkolan CIA-Taliban

Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Rasa-rasanya hampir semua warga Afghanistan percaya bahwa Amerika Serikat merupakan penyokong kelompok Islam radikal Taliban baik secara militer maupun keuangan. Warga Afghanistan mulai dari kaum professional, staf United States Agency for International Development, media massa dan bahkan staf diplomat kedutaan Amerika, nampaknya semua menarih keyakinan yang kuat bahwa Amerika berkepentingan agar Taliban tetap ada di Afghanistan agar negara Paman Sam tersebut bisa memperpanjang kehadiran militernya di negara para Mullah tersebut. 




Menariknya lagi, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, justru yang mengumandangkan sinyalemen bahwa Taliban dan Al Qaeda adalah kreasi jadi-jadian badan intelijen Amerika CIA. “Saya kira kita tidak perlu riset terlalu mendalam untuk membuktikan bahwa Taliban dan Al Qaeda tak lebih merupakan kreasi jadi-jadian CIA dengan bekerjasama dengan badan Intelijen Pakistan Inter-Service Intelijen dan badan Intelijen Saudi Arabia. Tapi anehnya, pernyataan yang sedemikian penting dari Kepala Negara Pakistan ini sama sekali dianggap sepi oleh media-media yang dimiliki korporasi-korporasi besar Amerika.

Padahal beberapa media massa di Timur Tengah dan Eropa telah mewartakan informasi serupa, sementara media massa Amerika malah menggembar-gemborkan dan mengutip ulang pernyataan-pernyataan resmi dari Pemerintah Amerika. Sama sekali tidak memberi pencerahan informasi kepada masyarakat luas di Amerika. Ironis juga, di tengah maraknya kebebasan informasi di Amerika.

Padahal indikasi Taliban merupakan kreasi jadi-jadian CIA sebenarnya sudah diisyaratkan oleh Zbigniew Brzezinski, mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional era kepresidenan Jimmy Carter. Brzezinski yang diyakini merupakan tangan kanan dan operator politik kerajaan bisnis keluarga besar John D Rockefeller, secara tidak langsung telah mengakui bahwa Taliban memang ciptaan dan kreasi CIA.

“Mana yang lebih penting bagi sejarah dunia, Taliban atau runtuhnya Uni Soviet? Mana yang lebih penting, menggerakkan kelompok-kelompok Islam, atau pembebasan Eropa Tengah dan berakhirnya Perang Dingin?,” begitu kata Brzezinski ketika menjawab pertanyaan media Perancis Le Nouvel Observateur.

Taliban memang kreasi Amerika lewat CIA. Ketika Soviet menduduki Afghanistan, CIA mendukung terbentuknya Mujahidin untuk mengusir Soviet dari Afganistan, sekaligus menggusur Presiden Boneka Soviet Mohammad Najibullah. Nah Mujahidin inilah yang kemudian melahirkan kelompok sempalan bernama Taliban. Taliban inilah yang kemudian berhasil membunuh Najibullah. Maka saat itu, mulai 1994, Taliban mulai muncul ke pentas politik Afghanistan.

Taliban, para anggotanya direkrut dari berbagai madrasah yang didirikan oleh Pemerintah Pakistan atas biaya dari Amerika, Inggris, dan Saudi Arabia. Di madrasah-madrasah Pakistan inilah, para kader-kader Taliban memperoleh indoktrinasi teologis dan latihan kemiliteran. Karena itu masuk akal ketika banyak yang curiga bahwa Taliban merupakan binaan CIA dan ISI. Amerika yang mendorong Pakistan dan Saudi Arabia untuk mendukung Taliban. Sampai sekarang.

Ironisnya, justru terbongkarnya persekongkolah CIA-Taliban ini justru berkat investigasi dari wartawan barat Wayne Madsen. Menurut temuan Madsen, CIA kerap menggunakan organisasi-organisasi kemanusiaan untuk kedok operasinya. Seperti misal The Committee for a Free Afghanistan digunakan CIA sebagai sarana penyalur bantuan dana keuangan kepada Taliban.

CIA juga mengalokasikan dana bantuan jutaan dolar untuk membantu program penerbitan buku-buku teks yang berisi pencitraan Islam sebagai kelompok yang gandrung kekerasan dan ajaran-ajaran Islam militant kepada murid-murid sekolah baik tingkat dasar maupun menengah.

Seorang anggota kongres Amerika dari Republik, Ron Paul, merasa perlu mengingatkan bahwa uang yang digunakan CIA membantu Taliban merupakan pajak yang dipungut dari rakyat Amerika. Ron Paul juga mengingatkan bahwa Amerika lah yang membantu berbagai kelompok-kelompok Islam fundamentalis. Dan beberapa di antaranya, yang sekarang menjelma menjadi Taliban.

Ron Paul nampaknya tidak mengada-ada. Pemerintah Amerika sendiri mengakui telah menggelontorkan dana sebesar 6 juta dolar bagi bantuan militer dan persenjataan.

Gilanya lagi, beberapa perusahaan minyak seperti Enron dan Aramco, terbukti mengadakan jalinan bisnis dengan Taliban. Dalam melakukan negosiasi bisnis dengan Taliban, Enron menggunakan agen CIA untuk melancarkan menyuap beberapa pentolan Taliban.

Dengan latarbelakang seperti ini, tak heran jika banyak warga Afghanistan yang menganggap strategi perang Amerika di Afghanistan hanya lelucon belaka.

Buktinya, ketika Amerika masuk Afghanistan, perdagangan opium di yang berada dalam pengawasan CIA itu ternyata melonjak pesat di negara ini. Dan praktek perdagangan barang haram ini berkembang pesat di bawah perlindungan Perang terhadap Terorisme yang dilancarkan oleh mantan Presiden George W. Bush.

Pada masa kepresidenan Obama, nampaknya sistem ini tetap dipertahankan di Afghanistan. Bahkan 20 Mei lalu, komite senat menyetujui untuk memberi dana 33,5 miliar dolar Amerika untuk kelanjutan perang di Afghanistan. Sedangkan sebelumnya Obama juga menyetujui penambahan pasukan sebesar 30 ribu personel.

Perang terhadap terorisme di Afghanistan bukan perang untuk pembebasan rakyat, melainkan untuk menghasilkan ganja dan opium lebih banyak lagi, sekaligus untuk melanggengkan kehadiran militernya di Afghanistan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar