Laman

Kamis, 19 Mei 2011

Kisah Shalat Istighatsah dengan Imam Mahdi (sa)


Di kota Qum (Iran), salah seorang penduduknya bercerita: Aku pernah menderita kesulitan yang sangat mengoncangkan hidupku. Aku berat menceritakannya pada keluarga dan saudaraku. Dalam keadaan yang sangat duka aku tertidur, dalam tidurku aku bermimpi melihat seorang laki-laki yang wajahnya sangat tampan, pakaiannya bagus, dan baunya sangat harum.
Lalu dengan sembunyi-sembunyi aku datang kepada salah seorang ulama guruku, sambil aku berkata dalam hatiku: sampai kapan aku menanggung penderitaan ini? Kemudian guruku berkata kepadaku: sebentar lagi kamu akan memperoleh kebahagiaan. Kokohkan dirimu di jalan Allah swt, dan mohonlah pertolongan melalui Shahibuz zaman (sa). Yakinlah dia akan memberi pertolongan, dia adalah kekasih Allah swt.


Kemudian guruku memegang tangan kananku dan berkata: berziaralah kepada beliau dan ucapkan salam padanya, lalu bermohonlah kepada Allah melalui beliau agar beliaulah yang memohonkan hajatmu kepada Allah swt.
Kemudian aku bertanya kepada guruku: Bagaimana caranya, aku sudah banyak lupa tentang bermacam ziarah dan doa karena penderitaan yang menimpaku? Sambil menarik nafas panjang ia mengucapkan: La hawla wala quwwata illa billah. Dan sambil mengelus dadaku, ia berkata: jangan cemas, Allah akan menolongmu: berwudhu’lah dan shalatlah dua rakaat, kemudian sesudah shalat berdirilah dan menghadaplah ke kiblat di bawah langit tanpa atap, kemudian bacalah doa ziarah kepada Shahibuz zaman (sa).
Saat itulah muncul kesadaran baru dalam diriku, dan keyakinan yang kuat bahwa aku akan memperoleh kebahagiaan. Kemudian malam itu juga aku pulang. Karena takut lupa aku mencatat cara shalat dan doa ziarah itu. Setelah sampai di rumah, aku mensucikan diriku, berwudhu’, dan pergi ke tempat yang tanpa atap lalu melakukan shalat dua rakaat, sebagaimana yang telah diajarkan kepadaku. Yaitu: Rakaat pertama setelah Fatihah membaca Inna Fatahna laka fathan mubina. Rakaat kedua setelah Fatihah membaca surat An-Nashr. Sesudah shalat, aku berdiri menghadap ke kiblat, membaca doa ziarah tersebut, lalu memohon hajatku, dan memohon pertolongan melalui Shahibuz zaman (sa), kemudian aku sujud syukur dan menyampaikan permohonan sampai larut malam, lalu kusambung dengan shalat malam.
Kisah ini diceritakan oleh Syeikh Syahrastani (ra), dari Syeikh Aba Abdillah Al-Husein bin Babawayh (ra), ia tinggal di kota Rey (Iran). Ia mendengar dari pamannya Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Babawayh (ra). Kisah ini terdapat dalam kitab Biharul Anwar jilid ke 12.
Dalam kisah yang lain dikatakan: Sampai selesai shalat fajar, ia tetap duduk di mihrabnya memohon hajatnya kepada Allah swt. Setelah terbit matahari ia merasakan hadirnya kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Dan tidak ada orang yang mengetahui penderitaannya sampai ia menemukan kebahagiaan, dan Allah memberinya karuni yang luar biasa.
Allamah syeikh Mahmud (ra) mengatakan dalam kitabnya Darus salam: Amalan ini, yakni shalat Istighatsah dengan Imam Mahdi (sa) sangat mujarrab dan pengaruhnya sangat menakjubkan untuk hajat-hajat yang sangat penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar