Laman

Jumat, 02 Maret 2012

Pendidikan Agama Sejak Dini , Aktualkan Potensi Spiritual Anak Anda!


Tujuan dasar agama adalah untuk mendidik umat manusia, dan mengembangkan kecenderungan spiritual dan moral dalam diri mereka. Dalam keluarga, orang tua merupakan teladan pertama bagi anak-anak. Dari orang tua, mereka belajar nilai-nilai moral dan religi, serta seluruh perilaku sehari-hari. Keluarga adalah pusat perpindahan nilai-nilai moral, keyakinan beragama, dan norma-norma sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya, juga harus menciptakan kondisi untuk pengembangan jiwa dan emosional anggotanya.


Keluarga merupakan sebuah institusi dengan kapasitas besar dalam mendidik anak-anak secara Islami. Berdasarkan penuturan para pakar psikologis, keluarga harus mengarahkan anak-anak kepada agama dan spiritual sejak usia dini. Tapi terkadang, orang tua dan tenaga pengajar dengan niat baik mengajarkan kepada anak-anak nilai-nilai agama, tanpa mengenal dengan baik kondisi kejiwaan dan mental mereka. Padahal kekeliruan ini akan membebani mental anak-anak. Metode pendidikan agama untuk anak harus dikemas dalam bentuk sederhana dan penuh keceriaan, tapi metode ini harus berdampak positif bagi perilaku dan etika mereka.
Salah satu tujuan penting pendidikan adalah tenaga pendidik harus mempunyai kontrol internal terhadap dirinya, mereka juga harus punya kekuatan mengawasi dan mengevaluasi perilakunya sendiri. Pendidikan agama bertujuan membangkitkan rasa berketuhanan dalam diri seseorang, sehingga ia bisa memahami peran konstruktif agama dalam kehidupan. Manusia tidak hanya mengenal kulit luar agama saja, tapi harus mampu menyelam hingga ke tataran makrifat.
Para psikolog mengatakan, ketika motivasi beragama telah tumbuh dalam diri manusia khusunya anak-anak, hal ini secara otomatis memiliki dampak mendidik bagi landasan perilaku, emosional, dan mental seseorang. Untuk mengembangkan rasa beragama dalam diri anak, seorang pendidik dituntut untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan rasa mencari kebenaran dalam diri mereka. Disamping itu, pengetahuan anak-anak tentang indahnya hidup beragama juga perlu ditingkatkan. Tujuan ini akan terealisiasi dengan memperhatikan metode yang benar, yaitu materi pendidikan disampaikan dengan memperhatikan kesiapan mereka dan tidak ada unsur paksaan.
Seorang psikolog dan pakar pendidikan, Sajidi mengatakan, “Merasa cukup dengan metode sederhana dan instant merupakan salah satu kelemahan pendidikan agama dalam lingkungan keluarga. Padahal untuk menuai kesuksesan dalam hal ini, adalah penerapan metode pendidikan agama berkelanjutan hingga tertanam dalam pikiran dan benak anak-anak. Cara efektif ini merupakan bentuk internalisasi pendidikan agama yang harus diterapkan sejak usia dini dengan pengawasan rutin guna mencapai hasil. Jika kewajiban menjalankan perintah agama di tanam sejak masa kecil, ini artinya menuntun mereka dari masalah yang sederhana ke hal yang rumit, dan dari kulit luar ke masalah substansial. Ketiadaan kontinuitas dalam bidang agama membuat segala usaha sia-sia. Oleh sebab itu, pendidikan agama harus berkelanjutan hingga tertanam dalam diri anak-anak.”
Berkenaan dengan tema ini, Sajidi menambahkan, “Menapak jalur pendidikan dan pengajaran sama dengan melangkah di jalan yang penuh lika-liku, dan lika-liku ini akan berakhir di puncak yang tinggi. Oleh karena itu, jika manusia dibiarkan menapaknya sendiri dan tanpa bimbingan, niscaya ia akan kehilangan arah. Pendidikan akan terealisasi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para nabi. Para pribadi agung ini menjadikan fitrah manusia sebagai sasaran dakwahnya, sebab, pendidikan agama berhubungan langsung dengan fitrah yang bersih. Pendidikan ini akan membuahkan hasil jika disampaikan dengan lembut, penuh toleransi, dan jauh dari unsur paksaan.”
Seorang psikolog Iran lainnya, dr. Abdul ‘Azim Karimi mengatakan, “Hal lain yang menjadi penghambat pendidikan agama adalah bersikap ekstra ketat dan memaksa anak-anak untuk melakukan perkara yang sulit. Sebenarnya anjuran untuk bersikap lembut dan toleran dalam pendidikan agama bertujuan untuk menghilangkan kesan kaku dari orang tua di mata anak-anak. Ini bukan berarti toleransi berlebihan atau melepas mereka secara bebas, akan tetapi langkah-langkah efektif akan berhasil dengan tetap menjaga keseimbangan dan proporsional dalam menerapkan pola pendidikan agama.”
Jika kewajiban menjalankan perintah agama diajarkan secara lembut dan penuh kesadaran kepada anak-anak, secara perlahan, mereka akan terbiasa dalam menjalankan perintah agama dan menyenangkan. Orang tua sukses di satu sisi menciptakan suasana riang bagi putra-putrinya dalam menjalankan perintah agama, tapi di sisi lain, mereka juga berupaya untuk menumbuhkan tingkat pengenalan mereka. Membiasakan anak-anak untuk menjalankan perintah agama, sama sekali tidak bertentangan dengan perilaku sadar dan pengembangan rasa bermazhab dalam diri mereka. Sama halnya dengan membiasakan anak-anak untuk belajar pada waktu tertentu, kegiatan ini bukan berarti mengabaikan substansi belajar itu sendiri. Sebenarnya, menumbuhkan kebiasaan melakukan sesuatu di segala bidang termasuk kewajiban agama, akan menghilangkan kendala kehendak untuk melakukan sesuatu dan menjamin kelangsungannya.”
Hal penting lainnya dalam pendidikan agama, tenaga pendidik dan orang tua dituntut untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Jika para pendidik menjadikan dirinya sebagai teladan praktis dalam masalah ini, maka hal ini akan berdampak efektif bagi kepatuhan anak-anak dalam menjalankan kewajiban agama mereka. Sebagaimana para psikolog juga mengatakan: “Belajar dengan sarana visual adalah metode terbaik dalam mendidik anak.” Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ayahku Imam Muhammad al-Baqir selalu mengingat Allah Swt. Saat aku berjalan bersamanya, aku menyaksikan beliau as sedang sibuk berzikir, sering kali aku melihat beliau as berzikir kepada Allah Swt, bahkan saat beliau as sedang berbicara dengan masyarakat. Pembicaraan ini tidak melupakan beliau as dari mengingat Allah Swt. Ayahku selalu mengumpulkan kami sebelum terbit matahari, lalu ia mewasiatkan kepada kami untuk membaca al-Quran bagi yang bisa, dan berzikir kepada Allah Swt bagi yang belum bisa membaca al-Quran.”
Kisah yang baru saja Anda simak, memuat dua pelajaran penting. Pelajaran pertama, Imam Muhammad al-Baqir as sendiri adalah teladan praktis dalam berzikir kepada Allah Swt, ucapan beliau as adalah cerminan perbuatannya. Pelajaran kedua, tidak membiarkan anak-anak berjalan sendiri tanpa bimbingan, tetapi di samping memberi kebebasan, juga menyiapkan ruang untuk perkembangan spiritual. Dan lewat berbagai trik, menguatkan motivasi dan kecintaan berinteraksi dengan Allah Swt dalam diri mereka.
http://indonesian.irib.ir/keluarga1/-/asset_publisher/3HXo/content/agama-dan-keluarga-yang-sehat-aktualkan-potensi-spiritual-anak-anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar