Laman

Kamis, 09 Februari 2012

Wahabi Salafi Abaikan Konsep Rahmatan Lil Alamin


syaithon
GERAKAN Wahabi pada awalnya merupakan gerakan permurnian (puritanisme) terhadap ajaran Islam yang mulai kehilangan elan vitalnya. Namun, pada titik tertentu, aktivis gerakan tersebut melakukan penyebaran ide dan gagasan baru tersebut dengan cara pemaksaan dan mengabaikan konsep Islamrahmatan lil alamin.
Hal itu diutarakan secara terpisah oleh pengamat Timur Tengah dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir,Hasibullah Satrawi dan pemerhati social keagaaman Faisal Djindan kepada Indonesia Monitor, Kamis (20/8).
Menurut Hasibullah Satrawi, Muhammad bin Abdul Wahab sebagai pendiri aliran Wahabi menyebarkan permikirannya dengan menggunakan tangan kekuasaan Raja Saudi. Makanya Wahabi menjadi ajaran yang begitu kuat dan mayoritas di Arab Saudi.
Gerakan Wahabi bisa berkembang pesat di Timur Tengah karena ditunjang dengan modal yang penuh karena melimpahnya minyak di sana. “Wahabi mempunyai motif kekuasaan. Jadi, slogan pemurnian yang dibawa Wahabi sangat politis, sekaligus ekonomis, dan bekerjasama dengan penguasa, sehingga slogan pemurnian ala Wahabi bercorak otoritarianistik,” ujar Satrawi.


Gerakan Wahabi, kata dia, cenderung menghabisi semua tradisi-tradisi yang ada dan menganggap kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai “kafir”. Karena gerakan ini tadinya bekerjasama dengan militer penguasa, maka ada pemaksaan, pemberantasan besar-besaran terhadap tradisi lokal.
Sebenarnya, kata dia, nuansa-nuansa ekstrem di tubuh Wahabi terjadi di tengah jalan yang cenderung menyalahkan pihak lain, clan mengkafirkan orang lain serta tidak toleran sama orang lain.
“Nah, ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Karena budaya masyarakat kita kadang-kadang kurang selektif terhadap gerakan yang dibawa ke Indonesia, kemudian menjadi gerakan yang ekstrem seperti tindakan teror seperti sekarang,” paparnya.
Menurut Faisal Djindan, paham Wahabi sering disebut sebagai neo-Khawarij, yaitu paham yang timbul pada awal abad lahirnya Islam, persisnya di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ciri mencolok dari paham ini adalah penuh kesalehan clan kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah formal, pemahaman agama secara harfiah (tekstual), dan berlaku hitam-putih dalam pemahaman keagamaan yang berakibat mudah menuduh kepada yang selain mereka sebagai “kafir”, “sesat”, “ahli bid’ah”, dan sebagainya.
Setelah lima belas tahun memproklamasikan jihad mereka, kata Faisal, Wahabi sudah menguasai sebagian besar jazirah Arab, Hijaz, serta Yaman. Hal ini tidak terlepas dari cara-cara brutal, bahkan pemaksaan dengan ancaman senjata yang membuat setiap muslim saat itu terpaksa menerima praktik-praktik Wahabi. Salah satu agenda mereka adalah merobohkan makam-makam keluarga serta sahabat Nabi, situs-situs peninggalan sejarah Islam, semua itu dengan alasan untuk “pemurnian agama”.
“Dewasa ini jika kita mengunjungi Mekah atau Madinah, maka akan kita saksikan bagaimana tidak ada satupun dari bekas peninggalan Islam yang tersisa, karena sudah dirobohkan oleh mereka,” ujar Faisal Djindan.
Sejarah Wahabi, kata dia, tidakpernah pernah lepas dari aksi-aksi kekerasan, baik doktrinal, kultural, maupun sosial. Dalam penaklukan jazirah Arab tahun 1920, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh. Selain itu, kekayaan dan para wanita dari daerah yang mereka taklukkan diambil sebagai pampasan perang.
Moh Anshari, Sri Widodo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar