Laman

Sabtu, 04 Februari 2012

Berdoa Dengan Bisikan Cinta




Oleh KH.JALALUDDIN RAKHMAT

Doa adalah percakapan antara seorang hamba kepada Tuhan, antara seorang kekasih kepada yang dikasihinya. Kata doa berasal dari kata dâ’a, yad’u, du’âan atau da’watan; yang berarti undangan, seruan, atau panggilan.Ketika berdoa, kita memanggil Tuhan dan Tuhan pun memanggil kita. Pada hakikatnya berdoa adalah saling memanggil antara sepasang kekasih.



Adab Berdoa

Dalam berdoa, kita harus memiliki adab-adab tertentu di hadapan Allah swt. Nabi Isa as pernah bersabda, “Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik langitlah yang akan mendapat ilmu itu; dan janganlah pula kamu berpikir ilmu itu ada di perut bumi, sehingga siapa saja yang masuk ke dalamnya akan memperoleh ilmu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradaplah di hadapan Allah dengan adab kaum ruhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu itu akan memancar dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu itu kepadamu dan memenuhi hatimu dengannya…”

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa beradab di depan-Nya. Lalu apa tanda beradab di hadapan Allah? Sebuah hadis Qudsi—yang membuat saya terkejut ketika membaca-nya— meriwayatkan Allah berfirman: Hamba-Ku, apakah memang perbuatan kamu, menyuruh Aku tetapi perhatianmu ke kanan dan ke kiri. Kemudian engkau berbicara dengan sesama hamba-Ku yang lain. Engkau mengerahkan seluruh perhatianmu kepadanya dan engkau tinggalkan Aku?”

Adab kita ketika kita berdoa kepada Allah sama halnya dengan adab kita ketika berbicara dengan sesama manusia. Waktu kita bercakap-cakap dengan orang lain, kita selalu memusatkan perhatian kita kepadanya dan tidak melirik ke kiri dan ke kanan. Namun ketika kita bermunajat kepada Allah swt, perhatian tidak kita curahkan kepada-Nya, pikiran kita melayang kepada makhluk-makhluk yang lain. Kita lupa kepada Sang Khaliq yang kita hadapi. Apakah termasuk perilaku yang indah bila kita menghadap Tuhan sementara perhatian kita ke sana kemari?

Alkisah, Nabi Muhammad saw pernah keluar rumah untuk meninjau ternak dan gembalanya. Seorang gembala di tempat itu tengah melepaskan bajunya. Begitu ia melihat Nabi datang, ia segera mengenakannya kembali. Nabi berkata kepadanya, “Teruskan saja perbuatanmu. Kami ahlulbait. Kami tidak akan mempekerjakan orang yang tidak beradab di hadapan Allah dan tidak malu atas kesendiriannya di hadapan Allah.” Gembala itu hanya merasa malu bila ia berada di hadapan orang lain. Di hadapan Allah, ia tidak malu.

Al-Quran memberikan contoh doa-doa yang beradab. Doa Ayyub as, misalnya. Ketika Ayyub ditimpa penderitaan karena penyakit yang tak kunjung terobati, ia berdoa, “Tuhanku, sungguh kesengsaraan telah menimpaku saat ini. Sementara Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”

Ketika dilanda derita, Ayyub as tidak berdoa dengan doa yang berisi perintah-perintah-nya kepada Allah untuk diberikan kesembuhan. Karena adab dalam berdoa adalah tidak meng-gunakan kalimat-kalimat perintah di dalamnya. Tidak ada fi’il ‘amr di situ. Yang selalu disebut-sebut dalam doa adalah nama Allah swt meskipun Allah yang menguji dengan penderitaan itu.

Begitu pula dengan Ibrahim as. Ketika beliau sakit, Ibrahim tidak berdoa dengan permintaan: “Karena Engkau yang menimpakan sakit kepadaku, sembuhkanlah aku.” Melainkan Ibrahim as berdoa, “Apabila aku sakit, Dialah Yang memberikan kesembuhan.”

Contoh lain dari doa yang beradab adalah doa Adam as yang amat kita kenal: “Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” Dalam doa itu, tak ada satu pun kalimat perintah.

Di Indonesia, sering kita mendengar doa-doa resmi dalam berbagai acara, yang isinya rangkaian perintah kita kepada Tuhan. Maklum, biasanya yang berdoa adalah para pejabat di kantor sehingga dia menganggap Tuhan sebagai salah satu anak buahnya. Sebuah doa yang pernah saya dengar di sebuah instansi pemerintah berbunyi, “Tuhan, lunakkanlah hati para inspektur sehingga kota Bandung dapat memperoleh Parasamya Purnakarya Nugraha.” Doa tersebut tidak salah, hanya kurang beradab. Adab lain dalam berdoa adalah dengan tidak meminta hal-hal yang sangat spesifik; tidak mendikte Tuhan bahwa itulah hal yang paling baik bagi kita. Misalnya kita dianjurkan tidak berdoa, “Tuhan, sembuhkanlah aku.” Tetapi sebaiknya kita berdoa, “Ya Allah, duhai Sang Maha-penyembuh….”

Lebih beradab lagi bila kita berdoa dengan hal-hal yang bersifat umum dan memasukkan ke dalam doa itu, bukan saja diri kita, tetapi juga kaum muslimin dan muslimat seluruhnya.

Tingkatan Doa
 
Doa dalam tingkatan paling rendah adalah doa-doa orang awam. Doa jenis ini ditandai dengan rangkaian perintah kepada Tuhan. Biasanya doa ini berisi permintaan kita agar diberi sesuatu, berisi harapan kita dan permohonan agar dilindungi dari hal-hal yang ditakuti.

Tingkatan selanjutnya adalah doa yang berbunyi: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari api neraka.” Dalam doa ini, kita meminta kepada Tuhan agar diberi surga dan dijauhkan dari neraka. Pada tingkatan ini, kita mengharapkan pahala dan dilepaskan dari siksa; kita memohon keberuntung-an dan dihindarkan dari malapetaka; kita menginginkan harta yang banyak dan dijauhkan dari kesengsaraan. Seluruh doa kita hanya berkisar di antara ganjaran dan hukuman.

Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah doa yang berbunyi, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu.” Berbeda dengan doa sebelumnya, sang pendoa sudah tidak lagi memikirkan pemberian atau ancaman Tuhan, tetapi ia hanya memperdulikan keridaan dan kemurkaan Allah swt.

Doa pada tingkatan berikutnya berisi pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Doa itu hanya berisi percakapan hamba kepada Tuhannya; yang menceritakan betapa lemahnya ia di hadapan kebesaran Tuhannya. Doa ini bersifat pengakuan dan pengaduan diri kita kepada Allah. Seperti doa Nabi Adam as: Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

Doa-doa seperti itu sulit untuk diamini ketika dipanjatkan bersama-sama. Sebaliknya, doa yang berisi kalimat-kalimat perintah, amat mudah untuk kita amini. Karena doa yang isinya perintah hanya ditujukan untuk diri sendiri, sifatnya sangat egois. Doa itu misalnya: “Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, tingkatkan derajatku, dan berilah rezeki kepadaku.” Kalimat dalam doa itu semua berujung kepada kata “aku”. Sekali lagi, doa itu tidak salah, tetapi doa itu merupakan doa dalam tingkatan yang paling rendah.

Ketika kita mendengar doa yang berisi pengakuan akan kehinaan diri, kita sulit untuk mengamininya. Untuk doa seperti itu, klita tidak mengikuti dengan menyebutkan “Amin”, melain-kan kita mengikuti doa itu dengan sepenuh hati dan menghayati setiap kata di dalamnya.

Kita dianjurkan untuk mengadu kepada Allah swt; mengakui segala kenistaan kita di hadapan-Nya. “Tuhanku, kepada diri-Mu, aku adukan diri yang memerintahkan kejelekan, yang bergegas melakukan kesalahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan pada-Mu, yang menjadikan aku orang celaka dan terhina….”

Tingkatan doa yang paling tinggi adalah doa yang merupakan bisikan-bisikan cinta dari seorang kekasih kepada yang dikasihinya. Doa itu merupakan rayuan pencinta kepada Sang Tercinta agar Dia memelihara cinta-Nya. Munajat Imam Ali Zainal Abidin yang terangkum dalam Shahifah Sajjadiyyah dipenuhi dengan seruan-seruan yang mengungkapkan cinta. Doa-doa itu senada dengan isi surat Majnun kepada Laila: “Aku turut berbahagia atas pernikahanmu. Aku tidak meminta apa-apa kecuali engkau mengenang bahwa di satu tempat ada seseorang yang sekiranya tubuhnya dicabik-cabik binatang buas, ia akan masih tetap menyebut namamu.” Dalam ucapan itu, meskipun ada permintaan, tetapi disampaikan dengan cara yang amat halus; dengan cara yang penuh adab.

Salah satu doa Imam Ali Zainal Abidin yang penuh dengan ungkapan cinta itu adalah sebagai berikut:

Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku
Pertemuan dengan-Mu kecintaanku
Kepada-Mu kerinduanku
Cinta-Mu tumpuanku
Pada Kekasihku gelora rinduku
Rida-Mu tujuanku
Melihat-Mu keperluanku
Mendampingi-Mu keinginanku
Mendekat kepada-Mu puncak
permohonanku.
Rabiah Al-Adawiyah, seorang sufi besar, berdoa dengan doa yang amat terkenal. Dalam doa itu, Rabiah bertutur:
“Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu dan besarkan tubuhku di dalamnya, sehingga tak ada tempat lagi di neraka bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Namun kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain. Bagiku, Engkau sudah cukup….”

Doa indah dari Rabiah telah sampai pada tingkatan cinta. Karena doa tersebut telah menjelma menjadi bisikan cinta, orang merasa enak dalam memanjatkannya. Meskipun doa itu teramat panjang, karena kita tengah mengucapkan rayuan, kita akan tahan berlama-lama. Orang yang telah berdoa dengan tingkatan yang paling atas akan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika ia berdoa dengan rangkaian doa-doa yang panjang.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar