Laman

Kamis, 02 Februari 2012

Ketika Sahabat Nabi Saling Mencela : Studi Kritis Keadilan Sahabat


Ketika Sahabat Nabi Saling Mencela : Studi Kritis Keadilan Sahabat
Mungkin ada di antara pembaca yang sudah sering membaca riwayat dimana para sahabat saling mencela atau ketika salah seorang sahabat mendustakan sahabat yang lain. Perkara ini kalau dipikirkan dengan kritis maka sangat dilematis bagi kaum yang meyakini dalam hati mereka doktrin kema’shuman sahabat yang mereka ucapkan dengan lafaz “keadilan sahabat”. Tanpa berbasa-basi kami akan menunjukkan riwayat dimana salah seorang sahabat mendustakan sahabat yang lain


حدثنا إبراهيم بن المنذر قال حدثنا عبد الله ابن وهب قال، حدثني ابن لهيعة، عن يزيد بن عمرو المعافري، أنه سمع أبا ثور التميمي قال: قدمت على عثمان بن عفان رضي الله عنه فبينما أنا عنده خرجت فإذا أنا بوفد أهل مصر، فرجعت إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه فقلت: أرى وفد أهل مصر قد رجعوا، خمسين عليهم ابن عديس، قال: وكيف رأيتهم ؟ قلت: رأيت قوما في وجوههم الشر. قال: فطلع ابن عديس منبر رسول الله صلى الله عليه وسلم فخطب الناس وصلى لاهل المدينة الجمعة، وقال في خطبته: ألا إن ابن مسعود حدثني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن عثمان بن عفان كذا وكذا، وتكلم بكلمة أكره ذكرها، فدخلت على عثمان رضي الله عنه وهو محصور فحدثته أن ابن عديس صلى بهم. فسألني ماذا قال لهم ؟ فأخبرته، فقال: كذب والله ابن عديس ما سمعها من ابن مسعود، ولا سمعها ابن مسعود من رسول الله صلى الله عليه وسلم قط، ولقد اختبأت عند ربي عشرا، فلولا ما ذكر ما ذكرت، إني لرابع أربعة في الاسلام، وجهزت جيش العسرة، ولقد أئتمني رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابنته، ثم توفيت فأنكحني الاخرى، والله ما زنيت، ولا سرقت في جاهلية ولا إسلام، ولا تعنيت، ولا تمنيت، ولا مسست بيميني فرجي مذ بايعت بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولقد جمعت القرآن على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا مرت بي جمعة إلا وأنا أعتق رقبة مذ أسلمت، إلا أن لا أجد في تلك الجمعة، ثم أعتق لتلك الجمعة بعد

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy bahwa ia mendengar Abu Tsawr At Tamimiy berkata aku mendatangi Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu, ketika aku berada di tempatnya aku keluar kemudian aku mendapati para penduduk Mesir maka aku kembali menemui Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu dan aku berkata “sungguh aku melihat para penduduk Mesir kembali ada lima puluh orang dan diantaranya ada Ibnu Udais”. Utsman berkata “bagaimana kamu lihat keadaan mereka?”. Aku berkata “aku melihat kaum yang tergambar di wajah mereka niat yang jahat” kemudian Ibnu Udais naik ke mimbar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkhutbah kepada orang-orang dan memimpin shalat penduduk Madinah pada hari Jum’at. Ia berkata dalam khutbahnya “Ibnu Mas’ud menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan bahwa Utsman bin ‘Affan begini begitu dan ia menyebutkan perkataan yang jelek untuk disebutkan. Maka aku menemui Utsman radiallahu ‘anhu dan ia dalam keadaan terkepung. Maka aku kabarkan kepadanya bahwa Ibnu Udais memimpin mereka shalat. Utsman bertanya kepadaku “apa yang ia katakan kepada mereka?”. maka aku mengabarkan kepadanya. Utsman berkata “Ibnu Udais berdusta, demi Allah tidaklah ia mendengarnya dari Ibnu Mas’ud dan tidak pula Ibnu Mas’ud mendengarnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sungguh aku telah menyembunyikan di sisi Rabku selama sepuluh tahun maka mengapa tidak kusebutkan apa yang akan kusebutkan. Aku adalah orang keempat dalam islam, aku yang menyiapkan bekal pasukan ‘Usrah. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menikahkanku dengan putrinya dan ketika ia wafat maka Beliau menikahkanku dengan putrinya yang lain. Demi Allah aku tidak pernah berzina dan tidak pernah mencuri baik di masa Jahiliah maupun di masa Islam, aku tidak bernyanyi dan tidak pula berangan-angan. Aku tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku membaiat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengannya. Aku telah mengumpulkan Al Qur’an di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada satu Jum’at kecuali aku memerdekakan hamba sejak aku memeluk islam kecuali jika aku tidak mendapatinya [hamba] pada Jum’at tersebut maka aku akan memerdekakannya pada Jum’at berikutnya [Tarikh Madinah Ibnu Syabbah An Numairi 4/1156]
Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq. Ibnu Syabbah An Numairiadalah seorang yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “aku telah menulis darinya bersama ayahku dan ia seorang yang shaduq”. Daruquthni berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqim al hadits [hadisnya lurus]”. Al Khatib berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 7 no 768]
  • Ibrahim bin Mundzir adalah perawi Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Shalih bin Muhammad berkata “shaduq”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Wadhaah berkata “aku menemuinya di Madinah dan ia tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 300]
  • Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits shaduq”. Ibnu Sa’ad dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah dan Nasa’i menyatakan tsiqat. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 6 no 141]
  • Abdullah bin Lahii’ah termasuk perawi Muslim seorang yang shaduq tetapi mengalami kekacauan hafalan sejak kitabnya terbakar sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar [At Taqrib 1/526]. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar dan hadis-hadisnya shahih jika yang meriwayatkan darinya Abadillah yaitu Ibnu Mubarak, Ibnu Wahb, Ibnu Muqri dan Ibnu Maslamah Al Qa’nabiy [Tahrir At Taqrib no 3563]. Riwayat di atas adalah riwayat Ibnu Wahb dari Abdullah bin Lahii’ah maka riwayatnya shahih.
  • Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 576]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/329]. Adz Dzahabi berkata “shaduq” [Al Kasyf no 6344]
  • Abu Tsawr adalah sahabat Nabi. Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa ia adalah Abu Tsawr Al Fahmiy mendengar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aku mendengar ayahku [Abu Hatim] mengatakan telah meriwayatkan Ibnu Lahii’ah dari Yazid bin ‘Amru Al Ma’aafiriy darinya. Abu Zur’ah berkata “tidak dikenal namanya dan ia adalah sahabat Nabi, meriwayatkan dari Utsman [Al Jarh Wat Ta’dil 9/351 no 1570]
Atsar di atas sanadnya jayyid [baik] dan perhatikanlah matan riwayat tersebut dengan baik. Ibnu Udais yang merupakan salah satu pemimpin mereka yang mengepung Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu mengimami shalat jum’at di Madinah dan ia berkhutbah menyampaikan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia dengar dari Ibnu Mas’ud. Hadis ini berisi sesuatu yang jelek tentang Utsman bin ‘Affan sehingga sang perawi tidak menyebutkan matannya melainkan menyebutkan dengan lafaz “Utsman begini dan begitu”.
Ketika disampaikan ucapan Ibnu Udais kepada Utsman bin ‘Affan maka Utsman menyatakan Ibnu Udais dusta, ia tidak mendengar hal itu dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Mas’ud tidak pula mendengarnya dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kita telah mengenal siapa Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu, tidak diragukan ia salah seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Lalu siapakah Ibnu Udais, ia adalah Abdurrahman bin Udais Al Balawiy. Ternyata ia juga seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ikut membaiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam Baiatur Ridwan.
Abdurrahman bin Udais Al Balawiy. Ibnu Sa’ad berkata “ia sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mendengar dari Beliau, menyaksikan pembukaan Mesir dan ia termasuk yang mengepung Utsman. Ibnu Barqiy, Al Baghawiy dan selain mereka berdua mengatakan bahwa ia termasuk yang membaiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bawah pohon. Ibnu Abi Hatim berkata dari ayahnya bahwa ia adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] begitu pula yang dikatakan Abdul Ghaniy bin Sa’id, Abu Ali bin Sakan dan Ibnu Hibban. Ibnu Yunus menyatakan ia termasuk yang membaiat di bawah pohon dan menyaksikan pembukaan Mesir [Al Ishabah Ibnu Hajar 4/334 no 5167]
Sekarang setelah kita sama-sama mengetahui bahwa Ibnu Udais adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan termasuk yang ikut dalam Baiatur Ridwan maka perhatikan kedua fakta berikut
  1. Ibnu Udais berkhutbah dan berkata “Ibnu Mas’ud telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Utsman begini begitu [tentang sesuatu yang buruk]
  2. Utsman bin ‘Affan berkata “dusta, demi Allah Ibnu Udais tidak mendengarnya dari Ibnu Mas’ud dan tidak pula Ibnu Mas’ud mendengarnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Ibnu Udais salah seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyampaikan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia dengar langsung dari Ibnu Mas’ud. Kemudian Utsman bin ‘Affan mendustakannya dan bersumpah bahwa Ibnu Udais tidak mendengarnya dari Ibnu Mas’ud. Dimana letak konsep Keadilan sahabat?. Sepertinya Utsman bin ‘Affan sebagai salah seorang sahabat utama tidak meyakini doktrin “keadilan sahabat” karena ia sendiri menyatakan salah seorang sahabat yaitu Ibnu Udais telah berdusta dalam menyampaikan hadis.
Kalau Utsman bin ‘Affan sendiri sebagai yang termasuk salafus salih tidak meyakini “keadilan sahabat” maka darimana datangnya konsep keadilan sahabat yang diyakini sebagian orang. Atau Utsman bin ‘Affan keliru karena tidak meyakini keadilan sahabat, wah kalau begitu maka benarlah hadis yang disampaikan oleh Ibnu Udais tersebut. Bagaimana salafy nashibi yang meyakini kema’shuman sahabat akan menjawab dilemma ini?. Sepertinya mereka hanya akan diam seribu bahasa atau mencari-cari dalih “konyol bin ngeyel”. Kami persilakan kepada salafy nashibi untuk menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar