Laman

Senin, 02 Juli 2012

Klasifikasi Manusia Menurut Ilmu Dan Pengetahuan


Apakah yang dimaksudkan dari ilmu dan pengetahuan yang menjadi landasan dan dasar klasifikasi ini?
Dengan melihat pada klasifikasi: “عالم ربانی”, “متعلم علی سبیل نجاة” dan “همج رعاع” dapat diketahui bahwa yang dimaksud dari ilmu adalah suatu ilmu yang diungkapkan oleh Imam Shadiq as dalam riwayat ‘Unwan Bashri dengan “nur” (cahaya):
“Ilmu bukan dengan pembelajaran akan tetapi adalah cahaya yang jatuh di hati orang yang dikehendaki oleh Allah swt untuk memberinya petunjuk maka bila Anda menginginkan ilmu, tuntutlah hakekat penyembahan (penghambaan) dalam dirimu terlebih dahulu.” (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 225)


Setelah ‘Unwan bertanya tentang hakekat penyembahan atau penghambaan, Imam Shadiq as berkata:
Tiga hal: Hendaklah seorang hamba tidak melihat bagi dirinya terhadap apa yang telah diserahkan Allah sebagai kepemilikan, karena hamba tidak memiliki kepemilikan bagi diri sendiri, ia melihat harta sebagai harta Allah yang akan diletakkan sebagaimana yang Allah perintahkan, seorang hamba tidak mengatur untuk dirinya sendiri dan seluruh usahanya pada apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt.” (Ibid)
Sangat jelas bahwa hanya sekedar mengetahui ilmu-ilmu formal dan mengoleksi istilah-istilah saja tidak akan mengantarkan manusia ke tingkatan penghambaan atau penyembahan, kebahagiaan abadi dan kehidupan baik. Betapa banyak ilmuwan alam dan empiris dan bahkan penghafal istilah-istilah religius yang terhalang untuk mendapatkan hakekat ilmu.
Adapun penjelasan klasifikasi manusia kepada alim rabbani, artinya mereka telah mengenal Tuhan dengan sebenarnya dan mendidik manusia lain di jalan pengenalan Tuhan dan atau mereka berada di jalur pengenalan kepada Tuhan. Selain dua bentuk ini manusia keluar dari hakekat kemanusiaan, karena tujuan penciptaan adalah pengenalan Tuhan dan penghambaan kepada-Nya:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat [51]: 56)
Dalam penafsiran ayat suci di atas disebutkan demikian: “li ya’rifun” (untuk mengenal-Ku). (Ibnu Jum’ah Huwaizi, Tafsir Nur Ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 132)
Orang-orang yang bukan alim dan juga muta’allim(penuntut ilmu) akan pergi dengan setiap hembusan angin ke suatu arah tanpa tujuan dan akan menambatkan hati ke setiap lantunan melodi; mereka inilah yang tidak dapat memanfaatkan kemanusiaan mereka.
Dari sinilah dalam sebagian riwayat disebutkan klasifikasi dengan format bipartidebukan tripartide:
Dari Abi Abdillah as: “Manusia ada dua (kelompok): ’Alimdan muta’allimsementara manusia yang lain adalah si busuk dan orang-orang busuk berada di dalam neraka.” (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 187)
Berarti kelompok ketiga sama sekali tidak layak untuk diperhatikan, sehingga diletakkan sebuah bagian terpisah, meskipun mayoritas manusia berada dalam kelompok ini.
Menurut Syaikh Baha’i: Dua kelompok pertama disebutkan dengan kata tunggal (alim rabbani wa muta’allim ‘ala sabil najah) sementara kelompok ketiga berbentuk jamak (hamaj ra’aa’) memberikan isyarat kepada sebuah poin bahwa dua kelompok pertama lebih sedikit dan kelompok ketiga lebih banyak.” (Ibid, hal 190)
Adapun penjelasan masing-masing dari kelompok tersebut:
Kelompok pertama: عالم ربانی
Kata rabbanijuga disebutkan dalam al-Qur’an:
$tB tb%x. @t±u;Ï9 br& çmuŠÏ?÷sムª!$# |=»tGÅ3ø9$# zNõ3ßsø9$#ur no§qç7–Y9$#ur §NèO tAqà)tƒ Ĩ$¨Z=Ï9 (#qçRqä. #YŠ$t6Ïã ’Ík<`ÏB Èbrߊ «!$# `Å3»s9ur (#qçRqä. z`¿ÍhŠÏY»­/u‘ $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqß™â‘ô‰s? ÇÐÒÈ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi mereka (para nabi) berkata: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang mengenal dan menyembah Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 79)
ربانیdinisbatkan kepada ربsedangkan huruf alif dan nunditambahkan untuk mengindikasikan keagungan dan kebanyakan, sebagaimana seorang yang banyak لحیة(jenggot) disebut لحیانی; oleh karena itu, rabbaniadalah seorang yang hubungannya banyak dengan Tuhan dan penghambaan dan penyembahannya sangat banyak dan juga dikatakan rabbanibila seseorang memikul tanggung jawab pendidikan dengan pengaturan pada jalan penyembahan dan penghambaan kepada Allah swt. (Silahkan rujuk: Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ Al-Bayan, jilid 2, hal. 465; Jarullah Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, jilid 1, hal. 378)
Dalam mengartikan kata rabbani, Ibnu Atsir berkata:
“Dan dalam hadis Ali as “Manusia ada tiga kelompok: عالم ربانی…” (rabbani) dinisbatkan kepada “الرب” dengan tambahan alifdan nununtuk mubalaghah(menunjukkan arti lebih) dan dikatakan berasal dari “الرب” dengan arti “التربیة” (pendidikan) maksudnya mereka mendidik para penuntut ilmu dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu asli. Dan rabbaniadalah alim yang menguasai (rasikh) dalam ilmu dan agama atau yang mencari ridha Allah swt dengan ilmunya dan juga dikatakan bahwa rabbaniadalah alim yang beramal dan mengajarkan (ilmunya).”
Kelompok Kedua: متعلم علی سبیل نجاة
Para pencari jalan kebahagiaan dan keselamatan: Para penuntut ilmu yang mencari ilmu pada jalan kebahagiaan dan keselamatan. سبیل نجاة(Jalan keselamatan dan kebahagiaan) adalah shirat mustaqim(Jalan yang lurus) di antara berbagai jalan bercabang dan menyeleweng:
¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ
Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)
Muta’allim ‘ala sabil najahadalah seseorang yang menyerahkan hatinya kepada panggilan malakut Amirul Mukminin as yang mengatakan:
Ke manakah kalian akan dibawa oleh berbagai aliran (menyeleweng), disesatkan oleh kegelapan-kegelapan dan ditupu oleh kebohongan-kebohongan? Dari manakah kalian akan didatangkan? Bagaimana kalian bisa lalai? …maka dengarkanlah rabbani(pendidik Ilahi) kalian.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke-108)
Kelompok Ketiga: همج رعاع
Kelompok ketiga, karena kehinaan, kerendahan dan terjatuh dari kemanusiaan diekspressikan dengan همج رعاع; artinya nyamuk-nyamuk kecil yang rendah, hina dan tiada bernilai. همجberdasarkan nukilan Jauhari adalah kata jamak dari همجة, dengan artian nyamuk kecil yang hinggap di muka dan mata binatang-binatang berkaki empat. (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 187)
Kriteria-kriteria lain kelompok ini beliau as jelaskan dalam empat kalimat:
اتباع کل نائق: Karena kedunguannya kelompok ini akan mengikuti setiap suara yan datang dari mana saja, tanpa meneliti kebenaran atau tidaknya; seperti sekumpulan kambing yang akan berjalan dengan melodi setiap penggembala dan menerima seruan setiap menyeru dengan tanpa merenung karena ketidaktetapan dalam akidah. (“النائق: Suara penggembala dengan kambingnya” (Biharul Anwar, jilid 1, hal 190)
یمیلون مع کل ریح: Mereka akan diombang-ambingkan gelombang dan angin prusak masyarakat, karena kegoyahan, ketiadaan kehendak dan kelemahan akidah, hari ini mereka membaiat, besok mengkhianatinya.
لم یستضیؤوا بنور العلم: Mereka tetap berada dalam kegelapan, kebodohan dan kedunguan dan mereka tidak beruasaha untuk keluar dari kegelapan kejahilan menuju ke suasana terang ilmu dan pengetahuan.
لم یلجؤوا الی رکن وثیق: Mereka tidak berteduh ke tempat perteduhan yang kokoh, artinya mereka tidak memiliki akidah yang kokoh dan kuat sehingga dapat menyelamatkan diri di hadapan serangan gelombang kejahilan, kerusakan dan kegelapan yang menakutkan.
c) Perbandingan Antara Ilmu Dan Harta
Imam Ali as dalam membandingkan antara ilmu dan kekayaan berkata: “Wahai Kumail! Ilmu lebih baik dari harta, karena: العلم یحرسک و انت تحرس المال (Ilmu akan menjagamu sedangkan kamu harus menjaga harta): Ilmu akan menjagamu dari bisikan-bisikan dan godaan-godaan setan sementara harta buakan hanya tidak menjagamu, akan tetapi engkau harus menjaga dan memelihanya. Permasalahan ini pun amat penting dan jelas bahwa hal-hal yang dapat menjaga manusia lebih baik baginya daripada ia harus menjaga hal-hal tersebut.
المال تنقصه النفقة و العلم یزکو علی الإنفاق (Harta menjadi berkurang bila dikeluarkan sedangkan ilmu akan bertambah bila disebarkan): Kekayaan dan kepemilikan akan berkurang dengan dikeluarkan dan diberikan kepada orang lain, sementara ilmu dan pengetahuan akan bertambah dengan penyebarannya atau karena penyebarannya akan bertambah.
Syaikh Baha’i ra berkata:
Kata علی dapat berartikan مع (bersama) sebagaimana yang mereka katakan dalam firman Allah swt:
¨bÎ)ur y7­/u‘ rä%s! ;otÏÿøótB Ĩ$¨Z=Ïj9 4’n?tã óOÎgÏHø>àß
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia bersama kezaliman mereka.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 6)
Dan juga dapat berartikan sababiyah(sebab, karena, alasan) sebagaimana yang mereka katakan dalam firman Allah swt:
(#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4†n?tã $tB öNä31y‰yd
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah karena petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 190)
و صنیع المال یزول بزواله (Dan akibat harta akan lenyap dengan kelenyapannya): Yang terkumpul dari harta dan kekayaan akan lenyap tanpa bekas dengan lenyapnya harta atau pemilik harta; misalnya pemilik harta yang meninggal dunia maka ia tidak lagi mengambil manfaat dari peninggalan dan dampak hartanya, atau seseorang yang karena kehilangan harta, kekayaan dan kepemilikan terpaksa menjual kepemilikannya dan memberikan kepada para penagihnya, maka ia tidak lagi dapat memanfaatkan hartanya, sementara itu hal-hal yang didapat dari ilmu dan pengetahuan akan langgeng, baik manusia itu masih ada di dunia atau telah tiada.
معرفة العلم دین یدان به، به یکسب الانسان الطاعة فی حیاته و جمیل الاحدوثة بعد وفاته (Mengetahui ilmu adalah keniscayaan yang harus diterima, dengannya manusia dapat meraih ketaatan dalam kehidupannya dan keindahan sebutan setelah kematiannya): Mengetahui ilmu pengetahuan (ibarat) suatu keyakinan yang harus diterima dan atau harus diberi imbalan. Melalui perantaraan ilmu dan pengetahuan agamalah manusia dapat memperoleh ketaatan, artinya seseorang yang memiliki pengetahuan agama akan dapat mentaati Allah swt dan tanpa pengetahuan ini, ketaatan tidak akan terwujud. (Syaikh Thusi ra meriwayatkan demikian: “Wahai Kumail! Penyertaan orang alim adalah keyakinan yang harus diterima atau diberikan balasan, akan memberikan ketaatan dalam kehidupannya dan keindahan sebutan setelah wafatnya.” (Amali, jilid 1, hal. 19))
Dalam hal ini al-Qur’an memfirmankan:
$yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$#
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)
Karena ilmulah manusia meninggalkan nama baik dari dirinya.
Tidak satu pun dari keistimewaan-keistimewaan ini terdapat dalam harta dan kekayaan, artinya hal yang menyebabkan terbukanya jalan ketaatan kepada Allah swt dan yang menjadikan keharuman nama baik bagi manusia hanyalah ilmu dan pengetahuan agama bukan sekedar kepemilikan harta dan kekayaan.
العلم حاکم و المال محکوم علیه (Ilmu menjadi hakim dan harta yang dihakimi): Hal tersebut dengan anggapan bahwa setiap pemanfaatan yang benar dalam harta berdasar kepada ilmu dan pengetahuan, bahkan pembelanjaan harta dan pengeluaran dalam kehidupan sehari-hari juga harus sesuai dengan pengetahuan dan ilmu yang semestinya dan ilmu untuk mengatur kehidupan adalah salah satu di antara ilmu-ilmu yang tanpa menggunakannya kehidupan keseharian akan hancur; ilmu ini dalam riwayat diungkapkan dengan taqdir al-ma’isyah:
Dari Abi Ja’far as: Kesempurnaan dan totalitas kesempurnaan adalah memperdalam pengetahuan dalam agama, sabar atas musibah dan taqdir al-ma’isyah (pengaturan kehidupan).” (Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Ushul Kafi, jilid 1, hal. 32)
Ahli hadis Kasyani berkata: “التفقه فی الدین(Memperdalam ilmu dalam agama) adalah memperoleh bashirah (pengetahuan) dalam ilmu-ilmu agama, النائبةadalah musibah atau bencana dan تقدیر المعیشةadalah menyeimbangkannya sehinggga tidak condong ke dua pihak israfdan kekikiran, akan tetapi harus pertengahan di antara itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt.” (Mulla Muhsen Faidh Kasyani, Al-Wafi, jilid 1, hal. 131)
d) Perbandingan Antara Ulama Dan Orang-orang Berharta[1]
Para pengumpul harta dalam kehidupan duniawi meskipun tampaknya hidup dan makan seperti binatang:
tbqè=ä.ù'tƒur $yJx. ã@ä.ù's? ãN»yè÷RF{$#
Dan mereka makan seperti makannya binatang.” (QS. Muhammad [47]: 12), akan tetapi pada hakekatnya adalah mati, karena mereka tidak memanfaatkan kehidupan thayyibahinsani disebabkan kelalaian dari sang Pencipta:
ìNºuqøBr& çŽöxî &ä!$uŠômr& ( $tBur šcrããèô±o„ tb$­ƒr& šcqèWyèö7ムÇËÊÈ
Mereka mati tidak hidup, dan mereka tidak mengetahui bilakah akan dibangkitkan.” (QS. An-Nahl [16]: 21)
Sementara itu, ulama Ilahi tetap hidup selama dunia masih ada meskipun badan mereka tidak lagi berada di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi mereka selalu akan diingat dengan karya dan peninggalan mereka selalu dan untuk selamanya.
Beberapa riwayat lain telah dinukil dari Amirul Mukminin Ali as seperti penjelasan yang lalu dalam hikmah ke-147 dalam pembandingan antara ilmu dan harta, di antaranya:
Imam Ali as berkata: “Ilmu lebih utama dari harta dengan 7 perkara:
Pertama: Ilmu adalah peninggalan para nabi sementara harta dan kekayaan adalah peninggalan para Fir’aun.
Kedua: Ilmu tidak akan berkurang dengan penyebaran dan pemberian, sedangkan harta akan berkurang dengan pembelanjaan.
Ketiga: Harta butuh pada penjaga, sedangkan ilmu menjaga pemiliknya.
Keempat: Ilmu akan masuk ke dalam kafan dan harta akan tertinggal (artinya buah ilmu juga tetap bermanfaat setelah mati).
Kelima: Harta sampai ke tangan orang mukmin dan juga ke tangan orang kafir, akan tetapi ilmu hanya akan didapat oleh orang mukmin saja.
Keenam: Seluruh manusia butuh kepada pemilik ilmu (orang alim dan rabbani) dalam urusan agama mereka, sementara mereka tidak memerlukan pemilik harta.
Ketujuh: Ilmu memberikan kekuatan dan kemampuan kepada seseorang untuk melewati shirath, sementara itu harta akan menghalanginya. (Artinya harta yang tidak dibelanjakan dalam jalan yang benar akan menghalangi kehidupan thayyibukhrawi dan pergi ke surga). (Biharul Anwar, jilid 1, hal. 185)
Demikian juga telah dinukil dari Imam Ali as bahwa beliau berkata:
“Wahai manusia! Ketahuilah bahwa sesungguhnya kesempurnaan agama adalah menuntut ilmu dan mengamalkannya dan bahwa menuntut ilmu lebih wajib atas kalian daripada mencari harta. Bahwa harta itu akan dibagi-bagikan di antara kalian dan dijamin untuk kalian, Zat yang Maha adil akan membagikannya di antara kalian dan akan sampai kepada kalian, sedangkan ilmu akan dititipkan kepada kalian di sisi para pemiliknya, kalian telah diperintahkan untuk mencarinya dari mereka maka carilah. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya harta yang melimpah akan membahayakan agama dan mengeraskan hati, sementara limpahan ilmu dan amal dengannya menjadi maslahat (berguna) bagi agama dan sebab ke surga. Pembelanjaan mengurangi harta sementara ilmu akan bertambah bila dikeluarkan dan pengeluarannya adalah menyebarkannya kepada para penjaga dan perawinya.” (Ibnu Syu’bah Harrani, Tuhaf Al-‘Uqul, hal 199)
* Diterjemahkan oleh: Imam Ghozali dari buku berbahasa Persia: Ta’lim va Tarbiyat dar Nahjul Balagheh

[1]Perbandingan antara ulama dan orang-orang berharta juga adalah perbandingan antara ilmu dan harta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar