Laman

Selasa, 25 Oktober 2011

Keagungan Misi Imam Husein as di Karbala


Keagungan Misi Imam Husein as di Karbala
Kita memasuki hari-hari di bulan yang penuh duka dan tragedi menyayat ‎kalbu setiap insan. Umat Manusia tak akan melupakan tragedi yang ‎terpahit dalam sejarah. Dengan tibanya bulan Muharram, para pecinta ‎keluarga Rasulullah Saw dirudung duka yang mendalam. Mereka ‎berduka karena di bulan ini, cucu kesayangan Rasulullah Saw yang ‎bernama al-Husein as putra dari pasangan Imam Ali as dan Sayidah ‎Fatimah az-Zahra as, dibantai secara keji di tanah Karbala oleh penguasa ‎durjana pada masa itu.

 ‎
Assalamu Alaika Ya Aba Abdillah Al-Husein as...
Wa Ala Arwahil Lati bi Finaik...
Alaikum Minni Jamian Salamullah Abadan Ma Baqitu wa Baqial Lailu wa ‎Nahar...
Wahai Husein, cucu Rasulullah Saww, salam tercurahkan padamu...
Salam kepada jiwa-jiwa suci yang gugur membelamu...
Salam sejahtera bagimu selama aku masih ada, serta selama siang dan ‎malam silih berganti.‎..
Dengan mengawali ucapan salam kepada kekasih Allah dan Rasul-Nya, ‎kami berharap selalu mendapat taufik dan peluang dari Allah Swt untuk ‎mengenal perjalanan para penegak kebenaran dan keadilan, serta ‎menempuh di jalan yang benar dan lurus. Ya Allah, kenalkanlah kami pada ‎revolusi historis Imam Husein as.‎
Misi besar para nabi dan wali Allah Swt adalah melawan kezaliman dan ‎kefasadan, merealisasikan harapan bersama dan agama ilahi, serta ‎mewujudkan kebebasan dan kebahagiaan manusia. Tak diragukan lagi, ‎segala langkah yang mempersembahkan gerakan sakral dan abadi, harus ‎dilandasi motivasi sakral dan ilahi. Gerakan Imam Husein as bertujuan ‎menghidupkan ajaran ilahi yang saat itu mulai pudar. Untuk itu, gerakan ‎mulia dan ilahi tak akan dilupakan sejarah, meski sudah terjadi lebih dari ‎‎13 abad yang lalu.‎
Gerakan Imam Husein as merupakan fenomena yang mendalam dan ‎mempunyai multi-substansi yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. ‎Menurut para analis, gerakan Imam Husein as dilatarbelakangi dengan ‎berbagai faktor. Bila dipandang dari sudut pandang universal, dapat ‎disimpulkan bahwa semua faktor yang ada dalam gerakan Imam Husein ‎as mempunyai motivasi untuk menghidupkan kembali agama ilahi. ‎Bertahannya ajaran luar biasa Islam hingga kini merupakan hasil jerih ‎payah dan perjuangan Rasulullah Saww dan Ahlul Baitnya. Islam tak akan ‎bertahan tanpa gerakan-gerakan pencerahan yang selalu menjauhkan ‎segala penyimpangan agama.‎
Setelah wafatnya Rasulullah Saw, keluarga suci Rasulullah Saw yang ‎dikenal dengan istilah Ahlul Bait as, menjadi pengemban risalah ilahi. ‎Dengan demikian, Ahlul Bait tidak hanya mempertahankan ajaran-ajaran ‎Rasulullah Saw, tapi juga melawan segala penyimpangan agama. Ahlul ‎Bait as yang mendapat amanat langsung dari Allah dan Rasul-Nya, ‎berupaya menjalankan tanggung jawab dan tugas mereka sesuai dengan ‎kondisi saat itu.‎
Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah ‎Saw, kezaliman secara perlahan-lahan kembali mengemuka di tengah ‎ummat Rasulullah Saw dan kelengahan masyarakat saat itu ‎menyebabkan meluasnya penyimpangan agama Islam. Pada akhirnya, ‎hukum dan interpretasi ajaran-ajaran agama pun disimpangkan untuk ‎kepentingan para penguasa saat itu. Kondisi ini memuncak pada masa ‎kekuasaan lalim Bani Umayah. ‎
Bersamaan dengan kondisi ini, Ahlul Bait as yang merupakan pengemban ‎hidayah dan risalah ilahi pasca wafatnya Rasulullah Saw, disingkirkan. ‎Dengan pengucilan dan penyingkiran terhadap keluarga Rasulullah Saw, ‎agama Islam kian kehilangan substansinya di tengah masyarakat. Segala ‎hal yang bukan ajaran agama, perlahan-lahan dimasukkan ke dalam ‎doktrinasi agama. Bidaah atau memasukkan ajaran diluar Islam ke dalam ‎agama ini yang diciptakan para penguasa saat itu, kian berkembang luas, ‎dan ajaran Rasulullah yang sebenarnya pun tersingkir jauh dari benak ‎ummat Islam. Yang lebih menyedihkan lagi, masyarakat saat itu tidak ‎mereaksi penyimpangan ajaran ilahi.‎
Di tengah kondisi seperti ini, Ahlul Bait as bangkit menyadarkan ‎masyarakat dari kelengahan dan menghidupkan kembali ajaran Islam. ‎Untuk merealisasikan misi besar itu, para pembela agama ilahi terkadang ‎dituntut untuk mengorbankan diri demi pencerahan umat dan ‎perlawanan terhadap kezaliman. Inilah yang disebut pengorbanan sejati.‎
Di masa kekuasaan Yazid, penyimpangan agama mencapai puncaknya, ‎bahkan dikhawatirkan hakekat Islam akan musnah. Nilai-nilai agama telah ‎pudar dan kezaliman pun merata di tengah masyarakat. Rasialisme, ‎penumpukan harta, penyimpangan pemikiran dan ajaran agama, ‎kezaliman dan kefasadan para pejabat pemerintah merupakan sumber ‎malapetaka di masa itu. Problema-problema tersebut sangat membebani ‎nasib ummat Islam saat itu. Kondisi inilah yang mendorong Imam Husein ‎as memulai gerakannya guna melakukan pembenahan sosial dan ‎penegakkan agama murni Rasulullah Saw. Saat itu, Imam Husein as ‎sangat mengkhawatirkan nasib Islam yang disimpangkan dari garis yang ‎sebenarnya. ‎
Imam Husein as kepada masyarakat saat itu berkata, "Tidakkah kalian ‎melihat bahwa kebenaran diabaikan dan kebatilan tidak dicegah?! Dalam ‎kondisi seperti ini, ummat Islam harus memilih mati dari pada hidup." ‎Dalam kondisi sensitif saat itu, Imam Husein as menulis surat kepada ‎para pembesar Basrah yang isinya meminta mereka supaya memikirkan ‎kitab ilahi dan sunnah Rasulullah Saw. Dalam isi surat itu, mereka juga ‎diharapkan tidak lengah akan fakta yang terjadi di tengah masyarakat. ‎Pada masa itu, tradisi mulia Rasulullah Saw telah pudar dan kehidupan ‎jahiliah kembali mengemuka di tengah masyarakat.‎
Dalam kesempatan ini, kami akan membacakan bagian dari surat Imam ‎Husein as kepada para pemimpin Basrah. Imam Husein as dalam surat itu ‎menulis, "Saya mengajak kalian untuk mengikuti kitab ilahi dan sunnah ‎Rasulullah Saw. Sebab, bidah dan penyimpangan agama kembali hidup. ‎Jika kalian mendengar pesan ini dan menerimanya, saya akan bimbing ‎kalian ke jalan kebahagiaan."‎
Tujuan utama gerakan Imam Husein as adalah merekonstruksi kembali ‎ajaran Islam yang disimpangkan dan mengembalikan kemuliaan ilahi. ‎Dalam gerakannya, Imam Husein as selalu menekankan penyadaran dan ‎pencerahan kepada sekelompok masyarakat. Ini adalah salah satu tugas ‎pemimpin umat yang selalu berupaya memberikan penyadaran dan ‎pencerahan kepada umatnya dan mengharuskan mereka supaya selalu ‎waspada.‎
Dalam perjalanan menuju kota Kufah dari kota Makkah, Imam Husein as ‎bertemu dengan penyair terkenal bernama Farazdaq. Imam Husein ‎kepada Farazdaq menggambarkan kondisi yang ada, dan berkata, "Wahai ‎Farazdaq, kelompok ini telah menyingkirkan ketaatan kepada Allah Swt ‎dan mengikuti setan. Mereka melakukan kefasadan di bumi Allah, ‎meninggalkan ajaran-ajaran ilahi, menenggak minuman keras, merampas ‎hak milik kaum lemah dan miskin. Untuk itu, aku sudah sepantasnya ‎bangkit membela agama dan kemulian, serta melakukan jihad di jalan ‎Allah Swt."‎
Para penegak agama dalam sepanjang sejarah, merasakan kesenjangan ‎antara nilai-nilai Islam dan fenomena di tengah masyarakat. Kesenjangan ‎saat itu bisa disaksikan pada pandangan keliru masyarakat terhadap ‎agama dan politik. Di saat masyarakat mengalami kesenjangan dari ‎agama, logika para penguasa saat itu mendominasi dan mengendalikan ‎kondisi, baik di ranah teoritis maupun praktis.‎
Dalam gerakan Imam Husein as, kita bisa menyaksikan bahwa langkah ‎pertama yang dilakukan oleh Imam Husein as adalah memberikan ‎pencerahan dan meluruskan masyarakat ke arah kebenaran dari kebatilan. ‎Dengan cara itu, Imam Husein as berupaya meluruskan pemikiran keliru ‎yang berkembang di tengah masyarakat. Namun saat upaya itu tidak ‎efektif, Imam Husein as pun mengambil langkah lain dan terpaksa ‎melawan kezaliman di front, bahkan mengorbankan dirinya demi ‎kesadaran umat.‎
Imam Husein as menyadari harus melakukan gerakan dalam skala luas ‎untuk menghadapi kezaliman saat itu yang benar-benar menjalar di tengah ‎umat kakeknya, Rasulullah Saw. Imam Husein memposisikan dirinya ‎sebagai reformis agung yang menyerukan kebangkitan melawan ‎kezaliman nyata Bani Umayah. Dalam berbagai perkataan Imam Husein ‎menjelang syahid di Karbala seringkali ditekankan kemuliaan dan harga ‎diri. Bahkan Imam Husein as dalam setiap langkahnya selalu ‎mengingatkan misi gerakannya.‎
Imam Husein as telah menggambarkan hakekat dengan indah. Hakekat ‎yang digambarkan Imam Husein as adalah melawan kezaliman dan ‎menyuarakan keadilan meski nyawa harus dipertaruhkan. Itu dibuktikan ‎Imam Husein as bersama keluarganya di padang Karbala dalam melawan ‎kezaliman. Karbala merupakan perlawanan puncak Ahlul Bait Rasulullah ‎Saw terhadap kezaliman.‎ (IRIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar