Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 23-25‎


Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 23-25
Ayat ke-23:‎
و ان کنتم فی ریب مما نزلنا علی عبدنا فأتوا بسورة من مثله و ادعوا ‏شهداءکم من دون الله ان کنتم صادقین
Dan jika kalian merasa ragu pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami ‎maka buatlah sebuah surah yang menyerupainya, dan ajaklah saksi-saksi kalian ‎selain Allah, jika kalian benar.‎




Untuk membuktikan kebenaran kenabiannya, maka setiap Nabi harus menunjukkan ‎mukjizat yang tak ada orang lain mampu melakukannya. Mukjizat Rasul Allah saw ‎adalah Al-Quran. Karena manusia tidak mampu menciptakan sebuah kitab yang ‎menyerupainya dari segi keindahan gaya bahasanya maupun kehebatan isinya. ‎Berkali-kali Allah swt mengajak para penentang Islam dan menantang mereka ‎dengan mengatakan bahwa jika kalian tidak mau menerima bahwa Kitab ini datang ‎dari sisi Allah swt dan menganggapnya sebagai ciptaan manusia, maka buatlah ‎sebuah kitab yang menyerupainya; sehingga jika kalian berhasil mendatangkan kitab ‎yang seperti itu maka agama Islam akan musnah dengan sendirinya. ‎
Yang menarik dari masalah ini, Al-Quran berkali-kali memberikan keringanan ‎kepada pihak musuh. Sekali Al-Quran mengatakan, buatlah kitab yang ‎menyerupainya. Di tempat lain ia mengatakan, buatlah sepuluh surat yang ‎menyerupainya. Sedangkan di dalam ayat ini Al-Quran mengatakan, minimal buatlah ‎sebuah surat yang menyerupainya salah satu diantara surat-surat Al-Quran. Dari sisi ‎lain, Al-Quran juga mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan ini dan ‎mengatakan, ajaklah pembantu-pembantu kalian dari segala penjuru dunia, dan ‎saling tolonglah kalian untuk melakukan itu, tetapi ketahuilah bahwa kalian tak akan ‎pernah mampu melakukannya. Meskipun semua Nabi memiliki mukjizat, namun ‎mukjizat Rasul Allah saw yaitu Al-Quran memiliki berbagai keistimewaan. ‎
Dalam kesempatan ini kami akan menguraikan secara singkat empat hal dari ‎keistimewaan Al-Quran ini.

Pertama: Kekuatan Al-Quran. Mukjizat para Nabi lain tidak memiliki lidah untuk ‎menyatakan dirinya. Sehingga para Nabi tersebut harus menyertai mukjizat mereka ‎dan menyatakan bahwa yang mereka perbuat itu adalah mukjizat. Sedangkan Al-‎Quran tidak memerlukan seseorang untuk memperkenalkannya sebagai mukjizat. ‎Karena ia sendiri menyeru para penentangnya untuk bertanding sekaligus ‎mengalahkan mereka. Al-Quran selain merupakan undang-undang juga dokumen ‎undang-undang.

Kedua: Kekekalan Al-Quran. Mukjizat-mukjizat selain Al-Quran terjadi dan berlaku ‎pada zaman tertentu dan hanya masyarakat zaman itu saja yang melihat dan atau ‎mendengarnya. Sedangkan Al-Quran tidak terbatas hanya untuk masa Rasul Allah ‎saw. Ia berlaku sepanjang sejarah sebagai mukjizat. Berlalunya zaman bukan hanya ‎tidak menggoyahkan Al-Quran bahkan berbagai pengetahuan dan permasalahan ‎yang‏ ‏terkandung di dalamnya semakin terbuka dan terbukti kebenarannya.

Ketiga: Universalitas Al-Quran. Sebagaimana Al-Quran tidak terbatas pada zaman ‎tertentu, ia juga tidak terbatas pada tempat tertentu pula. Sasaran Al-Quran tidak ‎terbatas pada zaman tertentu, ia juga tidak terbatas pada tempat tertentu pula. ‎Sasaran Al-Quran bukan hanya orang-orang Arab di tanah Hijaz, tetapi seluruh ‎bangsa dari setiap kaum dan etnis di dunia ini diseru oleh Al-Quran. Oleh karena itu, ‎Al-Quran sama sekali tak pernah menyeru orang-orang Arab saja: Yaa ayyuhal ‎Arab, umpamanya. Yang ada di dalam Al-Quran justru seruan-seruan umum kepada ‎seluruh manusia, seperti Yaa ayyuhan naas, dan sebagainya.

Keempat: non materi. Biasanya Nabi-Nabi lain memiliki mukjizat yang bersifat materi ‎dan jasmani yang membuat kagum mata dan telinga setiap orang. Sedangkan Al-‎Quran adalah ucapan dan kalimat-kalimat yang terdiri dari huruf-huruf alifba biasa. ‎Tetapi ia mampu merasuk ke lubuk hati dan jiwa manusia membuat akal semua ‎orang terpaksa mengagungkannya dan menguasai hati manusia.

Dari ayat tadi terdapat tujuh poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Keistimewaan terpenting yang membuat para Nabi memperoleh kelayakan ‎untuk menerima wahyu ialah mereka menghambakan diri hanya kepada Allah ‎dan berserah diri sepenuhnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, di dalam ‎banyak ayat Al-Quran menyebut para Nabi sebagai "ibaadinaa" yang artinya: ‎hamba-hamba Kami. Di dalam ayat ini Al-Quran mengatakan "Nazzalnaa alaa ‎abdinaa" artinya: Kami telah menurunkan (Al-Quran) kepada hamba Kami.‎
‎2. Al-Quran adalah kitab pemberi argumentasi dan tidak membiarkan keraguan dan ‎was-was. Oleh karena itu Al-Quran mengatakan: Jika kalian merasa ragu, maka ‎datangkanlah sebuah surat yang menyerupainya.‎
‎3. Al-Quran adalah mukjizat Ilahi yang bersifat kekal abadi yang terus menantang ‎setiap manusia di setiap zaman dan masa. ‎
‎4. Islam adalah agama yang kekal dan universal. Oleh karena itu, mukjizatnya, yaitu ‎Al-Quran, juga bersifat kekal dan tidak terbatas pada masa dan generasi tertentu.‎
‎5. Kita tak boleh membiarkan segala bentuk keraguan dan kebimbangan ada di ‎dalam hati kita sehubungan dengan dasar-dasar agama. Jika muncul keraguan di ‎dalam hati kita, maka kita harus segera berusaha menghapusnya, sehingga tidak ‎akan mengguncang sendi-sendi agama kita.‎
‎6. Sebaik-baik hakim adalah hati dan akal kita sendiri. Ayat ini mengatakan: jika para ‎pembantu kalian memberikan kesaksian bahwa sesuatu yang kalian lakukan ‎‎(ciptakan) itu sama dengan Al-Quran, maka kami akan menerima. Artinya kami akan ‎menempatkan kalian sebagai juri penilai.‎
‎7. Kebenaran Al-Quran sedemikian meyakinkan sehingga para penentang tidak ‎mampu mendatangkan sebuah surat yang menyamai Al-Quran.‎
‎ ‎ ‎ ‎ ‎
Ayat ke-24:‎
فإن لم تفعلوا و لن تفعلوا فاتقوا النار التی وقودها الناس والحجارة ‏أعدت للکفرین
Jika kalian tidak melakukannya dan kalian tidak akan mampu melakukannya, maka ‎berhati-hatilah kalian akan neraka yang berbahan bakar manusia dan batu, yang ‎disediakan bagi orang-orang yang kafir.‎

Setelah ayat sebelumnya menantang orang-orang kafir agar mendatangkan sebuah ‎surat yang menyamainya, ayat ini menegaskan bahwa kalian, orang-orang kafir, tak ‎akan mampu melakukannya. Kalian yang hidup pada zaman Rasul Allah saw dan ‎mengenali dengan baik bahasa dan kalimat-kalimat Al-Quran tak akan mampu, tidak ‎juga siapa pun manusia-manusia di masa mendatang, akan mampu melakukannya. ‎Karena Kalamullah, sama dengan Allah itu sendiri tak mungkin dibandingkan ‎dengan manusia dan ucapan manusia. ‎
Kemudian Al-Quran mengancam musuh-musuh dengan api jahanam dan ‎menyebutkan, bahan bakar jahanam adalah tubuh para pembuat dosa dan ‎pengingkar. Yang dimaksud dengan batu-batu di dalam ayat ini ialah semacam batu ‎bara yang menyalakan api neraka, atau batu-batu yang dipakai untuk membuat ‎patung-patung batu yang disembah oleh musuh-musuh Nabi Islam; lalu sebagai ‎bukti kesesatan mereka, Allah akan menghadirkan patung-patung tersebut sebagai ‎bukti bagi kesesatan mereka, sehingga para penyembah berhala itu tak mampu ‎mengingkari kesesatan diri mereka. Sebagaimana di dalam ayat 98 Surah Al-Anbiya ‎Al-Quran berkata: "Innakum wa maa ta'buduuna min duunillaahi hashobu ‎jahannam", artinya, "Kalian dan sembahan kalian akan menjadi bahan bakar ‎neraka".

Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Berbicaralah dengan tegas kepada musuh-musuh agama kita berkenaan ‎dengan kebenaran agama Islam. Akan tetapi kita sendiri hendaklah memiliki ‎iman yang benar dan kokoh. Ayat ini berbicara kepada para penentang ‎dengan mengatakan: "lam taf'aluu wa lan taf'aluu; artinya, kalian tak mampu ‎melakukan dan tak akan pernah mampu melakukannya. ‎
‎2. Oleh karena kufur maka manusia sampai ke suatu tempat yang setingkat dengan ‎batu-batu dengan benda-benda mati lain.‎
‎3. Hati yang sudah keras membatu dan tak mungkin ditembus oleh ajaran-ajaran ‎kebenaran, di akhirat kelak akan dikumpulkan dengan bebatuan pula.‎
‎4. Kemukjizatan Al-Quran tidak terbatas hanya pada masa Nabi saja. Ia adalah ‎mukjizat di segala zaman. Oleh sebab itu Al-Quran mengatakan, "Lan taf'alu", yang ‎artinya: "kalian tak akan pernah mampu menciptakan sesuatu yang sama dengan Al-‎Quran".‎
‎5. Api neraka sedemikian keras dan hebat membakar sehingga bebatuan bagaikan ‎kayu kering menyala mengobarkan api. ‎
Ayat ke-25:‎
وبشر الذین آمنوا و عملوا الصلحات أن لهم جنت تجری من تحتها ‏الانهار کلما رزقوا منها من ثمرة رزقا قالوا هذا الذی رزقنا من قبل و أتوا ‏به متشابها و لهم فیها ازواج مطهرة وهم فیها خلدون
Dan sampaikan berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, ‎bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai di dalamnya. ‎Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga itu, mereka mengatakan: Inilah ‎yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang ‎serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di ‎dalamnya.‎

Jika ayat sebelumnya menceritakan orang-orang kafir yang diancam siksaan api ‎neraka, maka dalam ayat ini menjelaskan nasib orang-orang yang beriman sehingga ‎dengan memperbandingkan nasib dua kelompok tersebut hakikatnya akan lebih ‎jelas. Pada dasarnya iman tanpa dibarengi dengan amal saleh tidak akan berguna. ‎Iman maupun amal apabila berdiri sendiri tidak akan menjamin kebahagiaan ‎manusia. Iman ibarat akar pohon, dan amal saleh adalah buahnya. Buah yang ‎manis adalah bukti dan kesuburan pohon, dan pohon yang kuat menyebabkan ‎terawatnya buah yang baik. ‎
Orang-orang yang tidak beriman kadang-kadang melakukan amal baik, akan tetapi ‎karena iman tidak tertanam dan tidak berakar pada jiwanya maka amal baik tersebut ‎tidak akan pernah abadi. Tempat orang-orang beriman di hari kiamat adalah surga ‎yang kebun-kebunnya selalu hijau penuh dengan buah dan air yang mengalir di ‎bawah pohon-pohonnya. Meskipun buah-buahan surga bentuknya mirip dengan ‎buah-buahan dunia sehingga penduduk surga merasa tidak menyukainya, namun ‎dari rasa dan baunya sungguh jauh berbeda. ‎
Meskipun dalam Al-Quran banyak ayat yang menceritakan tentang nikmat-nikmat ‎surga dalam bentuk materi, seperti kebun, istana dan istri, namun di balik itu banyak ‎ayat lain juga mengisaratkan tentang nikmat-nikmat surga dalam bentuk maknawi. ‎Seperti dalam surah At-Taubah ayat 72, setelah menyebutkan nikmat-nikmat surga ‎secara materi, juga mengatakan: ..... " Dan kerelaan Allah jauh lebih besar" artinya, ‎kerelaan Allah jauh lebih besar dari lainnya. ‎
Dalam surah Al-Bayyinah ayat 8 juga dikatakan: ... "Allah rela kepada mereka dan ‎mereka juga rela kepada-Nya". Nampaknya hal-hal yang berkaitan dengan nikmat ‎surga yang dijelaskan dalam Al-Quran, seperti tempat tinggal penduduk surga, pada ‎dasarnya hal itu bukan sebagai balasan sempurna bagi mereka. Akan tetapi ‎keberadaan mereka di tengah-tengah para nabi dan wali-wali Allah, orang-orang ‎suci dan orang-orang saleh adalah bagian dari keuntungan maknawi dan kelezatan ‎bagi penduduk surga.

Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Untuk menciptakan pendidikan yang benar, di samping ancaman juga ‎harus diiringi dorongan. Selain berisi ancaman neraka bagi orang-orang kafir, ‎ayat ini juga berisi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. ‎
‎2. Bukti adanya iman berada pada amal saleh. Oleh karena itu Al-Quran selalu ‎menggandengkan dua hal tersebut dan berkata, "Orang-orang yang beriman dan ‎melakukan amal saleh".‎
‎3. Dalam bahasa Al-Quran, amal saleh adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas ‎hanya untuk Allah. Oleh karena itu, amal saleh dijelaskan setelah iman kepada ‎Allah. ‎
‎4. Penderitaan yang dirasakan orang-orang beriman di dunia dalam menjaga halal ‎haram, di akhirat kelak surga sebagai balasannya.‎
‎5. Semua nikmat dunia bisa hilang dan berakhir, oleh karena itu mereka gelisah dan ‎sedih akan kehilangan hal tersebut. Adapun nikmat akhirat bersifat abadi dan ‎selamanya oleh karena itu mereka tidak akan pernah sedih. Dalam sebuah ayat ‎dikatakan, "Mereka tinggal di surga selama-lamanya". Penduduk surga selalu dalam ‎keabadian. ‎
‎6. Istri yang ideal adalah istri yang bersih dari berbagai segi, baik dari segi ruh dan ‎hati, juga dari segi tubuh dan badan. Oleh karena itu, berkaitan dengan istri bagi ‎penduduk surga, ayat ini berkata, "istri-istri yang suci".‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar