Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 72-75



Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 72-75
Ayat ke 72-73:

Artinya:
 
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.
Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.


Pada ayat-ayat sebelumnya, alasan-alasan yang dicari-cari oleh bani Israel telah dijelaskan secara rinci. Dua ayat ini kembali menyebutkan secara singkat kejadian pembunuhan dan mengatakan: Kalian telah melakukan sebuah pembunuhan kejam dan menyembunyikan pembunuhnya, tetapi Allah menyingkap tabir pelanggaran kalian dengan mukjizatnya. Maka ketahuilah bahwa Allah mampu mengungkap dosa-dosa para pembuat dosa. Ayat ini menerangkan contoh kekuasaan Allah menghidupkan orang yang sudah mati, sehingga yang lain berpikir tentang perkara kiamat dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Ilahi dan mengetahui bahwa jika Allah berkehendak, dengan memukulkan bangkai ke mayat yang lain, muncullah kehidupan.
Ayat ke-74:
Artinya:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Dari ayat 49 hingga ayat ini diterangkan berbagai hal mengenai pelbagai mukjizat dan rahmat ilahi kepada bani Israel, diantaranya: selamat dari kekuasaan orang-orang Firaun, terbelahnya laut, diterimanya taubat mereka dari dosa akibat menyembah sapi, turunnya makanan dari langit dan awan-awan yang menaungi, dan sebagainya. Hal terakhir ialah penyingkapan pembunuh dengan cara mukjizat.
Namun meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda kebesaran dan mukjizat-mukjizat tersebut, tetap saja mereka tidak tunduk di hadapan hukum Allah seraya mencari-cari alasan untuk lari, yang diungkapkan oleh Al-Quran dengan istilah hati yang keras dan berhati batu. Terkadang manusia sedemikian terpuruk hingga bagaikan binatang, bahkan lebih hina darinya, atau bagaikan benda padat bahkan lebih keras darinya.
Ayat ini mengatakan: batu yang keras terkadang masih terbelah dan air pun mengalir darinya, atau minimal, batu tersebut bergerak lalu menggelundung ke bawah. Namun hati sebagian manusia lebih keras dari batu, yang tidak memiliki gelora cinta dan kasih sayang yang akan membuatnya berpikir untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, dan tidak pula hatinya bergetar lantaran takut kepada Allah, yang akan membuatnya tunduk dan pasrah di hadapan hukum-hukum ilahi.
Dari tiga ayat di atas terdapat lima pelajaran yang kita petik, antara lain:
1. Di hadapan hukum-hukum ilahi hendaknya kita tidak mencari-cari alasan dan tidak bersikap keras kepala serta tidak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pada tempatnya untuk menghindarkan diri dari pelaksanaannya. Sebab pertanyaan tidak selalu menandakan pengkajian dan rasa ingin tahu, tetapi terkadang menunjukkan keinginan dan niat lari dari tugas.
2. Hewan yang kita sembelih di atas jalan melaksanakan perintah Allah, harus sehat dan tidak cacat, sebagaimana pada saat melakukan perjalanan haji, peziarah Baitullah harus menyembelih hewan yang sehat pada hari raya Qurban.
3. Allah mengetahui segala perbuatan kita, baik yang kita lakukan dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi , dan jika Allah berkehendak, maka Dia mampu menyingkap rahasianya serta mencemarkan kita. Lantaran itu, janganlah kita berbuat dosa di hadapan Allah atau janganlah kita melemparkan dosa kita ke pundak orang lain.
4. Dalam beberapa kasus Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati di dunia ini, agar Dia menunjukkan kekuasaan kepada kita dan agar kita memperhatikan persoalan kiamat dengan rasio kita.
5. Seluruh eksistensi Alam, hingga batu yang keras dan tidak bernyawa tunduk dan pasrah di hadapan hukum-hukum Allahyang diletakkan untuk mengatur wujud ini, maka jika manusia ingkar dan melanggar perintah Ilahi, hati dan ruhnya lebih hina dan lebih keras dari batu.
Ayat ke-75:

Artinya:
 
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.


Pada awal kemunculan Islam, diharapkan bahwa kaum Yahudi akan menyambut kedatangan Islam lebih bersemangat dari pada yang lain, karena berbeda dengan musyrikin, mereka adalah Ahlul Kitab dan telah membaca ciri-ciri Nabi Islam, yang termaktub di dalam kitab-kitab mereka. Tetapi, pada prakteknya mereka menentang muslimin dan berada di samping musyrikin.
Ayat ini memberikan keyakinan kepada Nabi Muhammad saw dan muslimin, bahwa jika kalian melihat orang-orang yahudi tidak memeluk islam dan tidak menerima ayat-ayat al-quran serta mukjizatnya, maka kalian jangan khawatir dan jangan ragu akan ideologi kalian, dan pada prinsipnya janganlah mengharapkan hal seperti itu dari mereka. Karena mereka adalah keturunan orang-orang yang pergi ke gunung Thur bersama Nabi Musa as dan mendengar firman Allah serta memahami perintah-perintah-Nya, tetapi mereka masih saja menyimpangkan hal tersebut dan tidak setia terhadap agamanya.
Ayat ini menunjukkan, salah satu bahaya yang mengancam kalangan intelektual setiap kaum ialah pemutarbalikan kenyataan bagi masyarakat, walaupun mereka sendiri mengetahui kebenaran dan memahaminya, tetapi mereka merubahnya sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak mengetahui kebenaran tersebut.
Dari ayat di atas terdapat lima pelajaran yang kita petik, antara lain:
1. Menanti orang lain beriman adalah perbuatan baik. Namun tidak semua orang akan beriman. Oleh karena itu jangan pernah menanti semua orang beriman.
2. Harapan memperbaiki masyarakat hanya angan-angan bila para ilmuwan bersikap keras kepala.
3. Dalam melakukan kritik seharusnya kita menjaga obyektifitas. Karena semua orang Yahudi bukan penyeleweng.
4. Selalu ada harapan memperbaiki orang awam yang fasid, tidak ada jalan memperbaiki ilmuwan keras kepala.
5. Harus dibedakan. Mengenal hak tidak sama dengan menerimanya. Karena ada orang yang mengenal kebenaran tapi tidak sudi menerimanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar