Laman

Kamis, 13 Oktober 2011

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 106-115


Ayat ke 106-107
Artinya:
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.


Pekerjaan kita di dunia, yang baik maupun buruk, zahir ataupun batin, memiliki sisi batiniah dan zahir. Lahiriah setiap pekerjaan adalah apa yang kita lihat dan apa yang ktia dengar dan batinnya akan menjelma pada hari kiamat. Oleh karenanya, wajah batini perbuatan manusia, pada hari kiamat nanti akan menjelma sesuai dengan bentuk lahiriahnya dan sisi batin manusia akan terbuka saat itu.
Ayat ini menjelaskan sisi putih dan sisi hitam wajah-wajah yang ada pada hari kiamat yang menunjukkan wajah batin mereka. Kafir dan menutupi kebenaran di dunia mengeluarkan cahaya iman dari wajah manusia dan kegelapan menutupi seluruh wajahnya dan adakah siksa yang lebih tinggi dari terbukanya keburukan manusia untuk orang lain. Wajah bercahaya manusia beriman pada hari kiamat, menunjukkan wajah suci mereka yang disusl dengan rahmat Tuhan yang tiada terbatas.
Dari dua ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Jika kita selama di dunia bersikap benar dan membantu orang-orang yang zalim, maka pada hari kiamat nanti, wajah kita adalah wajah itu.
2. Janganlah kita sombong terhadap iman kita yang mana kekafiran selalu mengintai manusia sekalipun manusia-manusia yang beriman.
Ayat ke 108-109
Artinya:
Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.
Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.
Ayat yang ditujukan kepada nabi dan muslimin ini, menyentuh satu dasar akidah yaitu keadilan ilahi. Berdasarkan akidah ini, Allah Swt tidak memberikan kewajiban-kewajiban kepada manusia di luar kemampuan mereka dan Dia juga tidak menjatuhkan hukuman begitu saja.
Jika pada hari kiamat, ada sekelompok yang berwajah putih dan segolongan lagi berwajah hitam, ini bukan keinginan Tuhan dan juga bukan determinasi lingkungan, melainkan amalan mereka sendiri di dunia, yang hari itu menjelma demikian. Jika seorang manusia masuk ke neraka, Allah Swt tidak menghendaki berbuat zalim terhadap mereka. Melainkan mereka sendiri yang menginginkan neraka dengan perbuatan-perbuatan buruknya.
Dari dua ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Tuhan yang kita yakini dalam penciptaan, meletakkan undang-undang dan sanksi serta pahala adalah sangat adil dan tidak perlu berbuat zalim.
2. Apabila sumber alam semesta itu dari Tuhan, maka akhirnyapun menuju kepada Tuhan.
Ayat ke 110
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Banyak sekali manusia yang berpikir bahwa agama merupakan satu kumpulan perintah-perintah ibadah kering berkaitan dengan individu dengan Tuhan-Nya dan oleh karenanya mereka membatasi definisi agama dalam lingkaran salat, puasa dan al-Quran.
Sementara sebagian besar perintah-perintah agama berkaitan dengan aspek kemasyarakatan manusia dan pengaturan hubungan-hubungannya dengan anggota individu yang lainnya. Bahkan menurut kaca mata agama, shalat yang bernilai adalah yang dilaksanakan bersama-sama muslimin atau berjamaah, bukannya yang dilaksanakan secara personal di rumah.
Program agama yang terpenting untuk memelihara masyarakat Islam dari segala bentuk kekejian dan ketidakbersihan, adalah tugas amar makruf dan nahi mungkar. Dalam acara-acara sebelum ini, kami telah menjelaskan, tugas ini berlaku dalam dua tahapan. Satunya adalah berada di pundak kelompok tertentu yang bertugas mengawasi perilaku sosial, yang mana tahap ini telah dijelaskan dalam ayat 104. Sementara tahap kedua yang merupakan satu tugas untuk semua muslimin dan telah dijelaskan dalam ayat ini.
Perintah-perintah Ilahi ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya bertanggung jawab memperbaiki dirinya, melainkan ia juga memiliki tuga memperbaiki masyarakatnya. Dia dia harus berupaya atas dasar keprihatinan untuk mencegah kemungkaran dan memperluas kebaikan. Jika demikian, maka akan keluar ummat yang paling baik contoh untuk masyarakat lainnya.
Dari ayat ini, kita petik beberapa pelajaran:
1. Menganjurkan kebaikan-kebaikan tanpa memerangi keburukan tidak akan menghasilkan hal yang banyak. Makanya, di sisi makruf, juga ada nahi anil mungkar.
2. Dalam menganjurkan kebaikan kepada orang lain, masalah usia, intelektualitas, kekayaan dan kedudukan tidak menjadi ukuran.
3. Salah satu dari kriteria keunggulan dan memilih orang adalah menjalankan tugas amar makruf dan nahi anil mungkar. Orang mampu mengemban tugas sosial, apabila dia memiliki niat baik dan keprihatinan sosial.
4. Untuk menjadi umat yang terbaik, diperlukan tindakan dan usaha konkrit, itupun amalan ke arah memperbaiki masyarakat, bukannya menjalankan tugas secara murni.
Ayat ke 111-112
Artinya:
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Ayat ini kabar gembira buat muslimin, sekiranya mereka tetap dalam iman dan bersatu dan berusaha melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, maka kalian akan selamat dari ancaman musuh dan tidak ada lagi bahaya yang mengintai kalian, melainkan musuhlah yang gentar terhadap kalian. Ayat ini berbicara mengenai kaum yahudi, dan termasuk hal yang dinyatakan oleh al-Quran jauh sebelum itu terjadi yang nyata di sepanjang sejarah. Mengapa, karena kaum ini selalu hina dan tidak pernah mendapatkan legalitas dan pengakuan.
Bahkan dewasa ini, di mana ekonomi dan propaganda dunia berada di tangan milyarder-milyarder Yahudi, mereka masih belum memiliki sebuah negara di dunia yang merdeka dan Israel dikenal sebagai penjajah dan dibenci oleh masyarakat internasional.
Dari ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Iman kepada Tuhan merupakan benteng kokoh yang mencegah masuknya musuh dan menyebabkan kekalahan musuh.
2. Rahasia kemuliaan ada dua hal; Pertama hubungan kokoh dengan Tuhan dan kedua, hubungan baik dengan manusia. Bila dua hal ini disatukan tidak ada satu kekuatan yang dapat melemahkannya
Ayat ke 113-114-115
Artinya:
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.
Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Menyusuli ayat sebelum ini yang telah menjelaskan makar-makar sekelompok ahlul kitab untuk menyesatkan mukminin, ayat-ayat ini menyinggung soal golongan ahlul kitab yang baik, dan menyatakan janganlah kalian pikir bahwa semua mereka itu buruk, melainkan banyak sekali dari mereka ahli taat dan ibadah layaknya muslimin. Mereka beriman kepada Tuhan dan hari kiamat dan juga memperluas kebaikan dalam masyarakat dan juga dalam upaya menolak keburukan dari masyarakat. Mereka berada di barisan terdepan dalam amalan baik.
Sudah jelas, Tuhan tidak akan meremehkan perbuatan baik golongan ini dan mereka akan mendapatkan kemurahan Tuhan. Karena iman dan amal saleh dari siapapun saja adalah diterima oleh Tuhan. Pandangan al-Quran ini sehubungan dengan Ahlul Kitab dan sikap objektif terhadap mereka haruslah dijadikan sebagai contoh bagi muslimin dalam bersikap terhadap selain muslim.
Dari tiga ayat ini kita dapatkan beberapa pelajaran:
1. Kebaikan dan kesempurnaan dari siapapun asalnya, haruslah kita akui. Selain kita gencar mengkritik kekurangan orang lain, jangan lupa kita harus mengakui kehebatan mereka.
2. Tatkala masyarakat terlelap tidur pada tengah malam, saat itulah merupakan momen terbaik untuk solat malam.
3. Amar makruf lebih utama dari nahi anil mungkar. Karena jika pintu-pintu di buka untuk masyarakat, jalan-jalan mungkar otomatis akan tertutup. Jika perkawinan dimudahkan, maka kemaksiatan dan kefasadan akan berkurang dengan sendirinya. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar