Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 103-107



Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 103-107
Ayat ke-103
Artinya:
Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.
Dalam penjelasan lalu, telah disebutkan bahwa kaum Yahudi sebagai ganti berpegang kepada Taurat dan kitab-kitab langit lainya, mencari hal-hal yang berhubungan dengan sihir serta tenung. Untuk membenarkan pekerjaannya, mereka mengatakan bahwa sihir berasal dari Nabi Sulaiman AS. Tetapi al-Quran menegaskan bahwa Nabi Sulaiman AS tidak memiliki hubungan dengan masalah ini.


Ayat ini berkata jika Yahudi benar-benar beriman dan menjauhkan diri dari pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai semacam ini, maka hal itu akan lebih baik bagi mereka. Tetapi iman saja tidak cukup. Diperlukan ketakwaan dan penjagaan diri. Taqwa, bukan sekedar menghindarkan diri dari pekerjaan-pekerjaan buruk. Takwa adalah sebuah kondisi dan kekuatan jiwa yang mencegah manusia dari pekerjaan-pekerjaan kotor seperti bohong, dan mendorong serta menggerakkan manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan baik seperti shalat.
Ayat ke-104:
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.
Ketika Rasulullah Saw berkhotbah atau membaca ayat-ayat ilahi, kaum muslimin di masa awal, meminta kepada Nabi, agar beliau berbicara dengan perlahan dan memperhatikan keadaan mereka. Mereka menyatakan permintaan mereka itu dengan menggunakan kalimat "raa'ina", yang artinya "perhatikanlah keadaan kami", tetapi kalimat ini dalam bahasa Ibrani berarti kebodohan, dan Yahudi mengejek Muslimin dengan mengatakan bahwa kalian menginginkan agar Nabi kalian membodohkan kalian.
Maka turunlah ayat ini, memerintahkan, bahwa sebagai ganti "ra'ina", hendaklah mereka mengatakan "undzurna", dengan arti yang sama sebbagaimana kata-kata "raa'ina", supaya musuh tidak menyalah gunakan dan menjadikan hal tersebut sebagai penghinaan terhadap kalian dan Nabi Saw.Pada dasarnya segala hal yang dapat dijadikan sebagai jalan oleh musuh untuk menghhina kalian; baik di dalam ucapan maupun perbuatan, maka hindarilah hal tersebut.
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian pada masalah pemilihan kata-kata yang sesuai, memperhatikan sopan santun dan penghormatan dalam berbicara dengan orang-orang besar dan para pengajar. Islam juga melarang muslimin melakukan hal-hal yang menyebabkan penghinaan terhadap kesucian-kesucian dan penyalah gunaan musuh.
Ayat ke-105:
Artinya:
Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Ayat ini menunjukkan puncak permusuhan orang-orang Kafir dan musyrikin dengan Mukminin. Sedemikian hebatnya kedengkian dan permusuhan mereka, sampai-sampai mereka tidak rela melihat Muslimin memiliki kitab dan Nabi sendiri, sehingga membuat mereka (muslimin) melawan penyimpangan-penyimpangan dan khurafat ahlul kitab.
Di dalam ayat ini Allah Swt berfirman, berdasarkan karunia dan rahmat-Nya, siapapun yang Allah ketahui sebagai orang yang tepat, maka Allah akan mengangkatnya sebagai Nabi-Nya. Dan yang demikian itu tidak berhubungan dengan kecenderungan dan keinginan orang ini atau orang itu. Atau bahwa Nabi itu harus dari kabilah ini, bukannya dari kabilah itu.
Ayat ke-106:
Artinya:
Apa saja ayat yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?


Kiblat pertama Muslimin menuju ke arah Baitul Maqdis. Akan tetapi, karena orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai bahan ejekan; dan selalu berkata, "Kalian Muslimin tidak memiliki agama yang tetap, oleh sebab itu kalian berdiri menghadap kiblat kami". Maka dengan perintah Allah Swt kiblat tersebut diubah dari Baitul Maqdis ke Mekah. Setelah itu, orang-orang Yahudi mengajukan kritikan lain, yaitu bahwa jika kiblat yang pertama benar, maka kenapa kalian mengubahnya; dan jika kiblat kedua yang benar, maka salat kalian selama menghadap kiblat pertama, adalah sia-sia.
Al-Quran dalam menjawab kritikan-kritikan ini berkata bahwa kami tidak sekali-kali menasakh atau menghapus sebuah hukum atau menunda suatu hukum, kecuali Kami datangkan hukum yang lebih sesuai atau yang sama, sebagai gantinya. Perubahan kiblat, juga penundaan pengumuman Ka'bah sebagai kiblat Muslimin, mempunyai berbagai dalil dan alasan yang tidak kalian ketahui.
Oleh karena hukum-hukum ilahi mengikuti maslahat dan hikmah. Dengan perubahan waktu, tempat atau kondisi, mungkin saja kemaslahhatan pun mengalami perubahan; sehingga hal itu menuntut perubahan hukum yang selama itu berlaku,dan diganti dengan hukum lain. Pada dasarnya pokok-pokok hukum ilahi adalah tetap dan tidak berubah-ubah. Tetapi dalam masalah-masalah parsial, terutama dalam masalah-masalah pemerintahan, maka perubahan-perubahan hukum seperti ini adalah hal yang dapat diterima.
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memiliki jalan buntu, karena ia adalah sebuah agama yang universal dan kekal. Oleh karena itu, selain hukum-hukum yang tetap, Islam juga harus memiliki hhukum-hukum yang dapat berubah-ubah, sesuai dengan tuntutan kemaslahatan.

Ayat ke-107:
Artinya:
Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.
Sebagai lanjutan ayat sebelumnya, yang berbicara mengenai nasakh hukum-hukum Ilahi, ayat ini mengatakan bahwa apakah mereka yang memprotes perubahan perintah-perintah Allah, mengetahui kemahakuasaan mutlak Allah Swt? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah memiliki kekuasaan dan hak untuk melakukan perubahan apa pun di dalam undang-undang serta hukum-hukum, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya ?
Sangat disayangkan, bahwa Bani Israel, memiliki gambaran yang tidak benar tentang kekuasaan Ilahi dan menganggap bahwa tangan Allah Swt terikat sehinggga tidak mampu berbuat apa-apa lagi di dalam kekuasaan-Nya. Padahal tangan Allah Swt terbuka bebas, baik dalam penciptaan, maupun dalam meletakkan hukum-hukum dan perubahan-perubahan di dalam hukum-hukum tersebut.
Dari ayat-ayat di atas terdapat empat pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Iman dengan sendirinya, tidaklah cukup. Tetapi diperlukan takwa dan penjagaan, untuk menjaga dari setiap bentuk bahaya.
2. Musuh mengawasi setiap gerak-gerik dan kalimat-kalimat kita sekalipun, oleh sebab itu kita harus menghindari setiap pekerjaan dan perkataan, yang memberikan kesempatan kepada musuh untuk menyalahgunakannya, dalam menghina Islam dan Muslimin.
3. Para musuh Islam menghendaki setiap kemajuan dan pertumbuhan hanya untuk mereka dan tidak suka melihat kaum muslimin memperoleh kemuliaan. Oleh sebab itu janganlah kalian terikat dan janganlah mencintai mereka, kecuali bertawakal kepada Allah Swt.
4. Diciptakannya hukum dan juga perubahan atau penundaannya ada di tangan Allah. Berdasarkan keperluan-keperluan yang telah ditetapkan dan perubahan manusia, dan sesuai dengan hikmah dan maslahat, Allah Swt meletakkan peraturan dan merubah hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar