Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 118-123



Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 118-123
Ayat ke 118-119:
Artinya:
Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.


Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.
Salah satu kritik yang dipaparkan oleh orang-orang bodoh atau mereka yang memiliki tendensi tertentu, kepada Nabi Saw, adalah apa pentingnya Allah mengutus kalian para Nabi, yang menjadi penengah antara kami dan DIA? Mengapa Allah Swt tidak berbicara secara langsung dengan kami, dan tidak menurunkan ayat-ayat-Nya kepada kami? Jika yang demikian itu terjadi, maka kami sudah menerima firman Allah.
Dalam menghadapi perkataan dan tuntutan yang tidak pada tempatnya ini, al-Quran membesarkan hati Nabi dan Muslimin, dengan mengatakan bahwa kritikan-kritikan tersebut bukanlah hal yang baru. Sebelum mereka ini ada juga orang-orang yang menyampaikan ucapan-ucapan yang tidak pada tempatnya. Karena hati-hati orang-orang ini adalah sama berpenyakit dan menolak kebenaran.
Orang-orang yang tidak mempunyai kelayakan menerima ayat-ayat ilahi ini, seandainya pun ayat-ayat ilahi diturunkan langsung kepada mereka, mereka tetap tidak akan menerimanya, karena mereka itu hanya mencari-cari alasan, bukan karena benar-benar mau menerima kebenaran. Karena seseorang harus menerima kebenaran, meskipun ia datang dari orang lain.
Ukuran kebenaran bukannya, sayalah yang harus berkata atau saya harus memahami. Jika kita berkata, karena ayat-ayat ilahi tidak diturunkan kepada saya maka saya tidak mau menerimanya, maka jelaslah bahwa yang penting di sini adalah saya, bukannya kebenaran. Jelaslah bahwa para Nabi tidak mempunyai tugas kecuali menyampaikan ayat-ayat ilahi serta kabar gembira dan peringatan kepada umat manusia.
Mereka adalah orang-orang yang diberi tugas untuk melakukan kewajiban, tanpa memberi jaminan akan hasil-hasilnya. Oleh karena itu mereka tidak memaksa umat manusia untuk menerima kebenaran. Oleh sebab itu pula, siapa yang tersesat dan masuk neraka, maka hal itu adalah karena pilihan orang itu sendiri. Sedangkan para Nabi tidak mempunyai tanggung jawab apa pun dalam hal itu.
Ayat ke-120:
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
Setelah peristiwa perubahan kiblat, kebencian Yahudi terhadap Muslimin semakin besar dan sebagian Muslimin menginginkan agar kiblat mereka tetap mengarah ke Baitul Maqdis, sehingga mereka dapat hidup bersahabat dengan orang-orang Yahudi Madinah.
Mereka lupa bahwa perubahan kiblat, adalah sebuah alasan tanpa dasar oleh Yahudi untuk menyatakan penentangan mereka terhadap Muslimin. Mereka itu bukan hanya tidak mau menerima Islam tetapi mereka menghendaki agar Muslimin melepaskan agama mereka dan menganut agama Yahudi.
Ayat ini memaparkan sebuah dasar global, bahwa sejauh mana pun kalian, umat Muslimin mengambil langkah mundur dari sikap kalian yang benar, maka sejauh itu pula musuh akan melangkah maju di dalam kekafiran mereka. Oleh karena itu, janganlah kalian mengambil langkah mundur dalam menghadapi musuh-musuh agama.
Ayat ke-121:
Artinya:
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Oleh karena al-Quran selalu menghadapi para penentang, dengan tetap menjaga keadilan dan kejujuran,maka ayat ini berkata, meskipun mayoritas ahli kitab tidak bersedia menerima Islam, tetapi mereka yang menerima Kitab Samawi mereka dengan baik, akan beriman kepada Nabi dan al-Quran.
Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa pembacaan kalimat-kalimat Quran walaupun dengan suara merdu dan lagu yang indah, tetapi hal itu tidaklah cukup. Hal yang mendatangkan hidayah dan kebahagiaan manusia adalah tadabbur dan perenungan ayat-ayat al-Quran. Yang demikian itulah yang disebut oleh al-Quran sebagai pembacaan Kitab Suci dengan cara yang benar.
Ayat ke 122-123:
Artinya:
Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.
Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.
Bila membaca ayat-ayat yang lalu, kedua ayat ini telah disebutkan sebelumnya dalam ayat-ayat 47dan 48 surat al-Baqarah, dan keterangan-keterangan terkait dua ayat ini. Kepada para pembaca dapat merujuk lagi penjelasan ayat-ayat ini.
Dari ayat-ayat di atas terdapat empat pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Kita harus menerima kebenaran, walau ia datang dari orang lain. Dan janganlah kita menyangka bahwa apa yang dikatakan oleh saya, partai saya atau kelompok saya adalah benar; dan apa pun yang dikatakan orang lain adalah salah. Kebenaran dan kesalahan haruslah kita jadikan sebagai pertimbangan untuk menilai orang; bukannya orang-orang itu yang kita jadikan sebagai penilai kebenaran dan kesalahan.
2. Para Nabi ilahi dikirim untuk membawa kabar gembira dan peringatan; bukan untuk memaksa umat manusia agar beriman. Oleh karena itu para penyimpang bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri, yang telah memilih jalan kesesatan dengan kehendak mereka sendiri.
3. Menyeru seseorang kepada agama tidak boleh menyimpang dari dasar-dasar ajaran agama itu sendiri. Karena kita harus memberi hidayah orang lain, bukannya mengikuti dan memenuhi tuntutan hawa nafsu mereka.
4. Bersikap adil adalah penting walau terhadap para penentang. Oleh karena itu ayat-ayat yang mengkritik Bani Israel menggunakan kalimat seperti 'katsir' berarti banyak dan 'fariq' berarti kelompok, sehingga hak orang-orang saleh di antara mereka tidak terlanggar.(IRIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar