Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 124-127



Ayat ke-124:
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: " (Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".


Nabi Ibrahim as diantara para nabi mempunyai kedudukan khusus. Nama beliau disebutkan 69 kali dalam 25 surat. Al-Quran menamakan beliau seperti Nabi Besar Islam Saw sebagai uswah dan tauladan. Dalam surat ini dari ayat 124 hingga 18 ayat selanjutnya dibicarakan tentang nabi-nabi besar ilahi. Mereka adalah pahlawan tauhid dan pendiri Ka'bah. Nabi Ibrahim as adalah nabi yang tulus dan berhasil mencapai kedudukan Imamah setelah melewati pelbagai macam ujian ilahi.
Ujian merupakan sunah ilahi yang pasti menimpa seluruh manusia. Ujian itu diberlakukan ke atas manusia agar mereka mengetahui betapa Allah Maha Mengetahui segalanya. Ujian-ujian ini untuk mengetahui seluruh potensi, baik dan buruk manusia. Dengan diharapkan dapat menjadi jelas bahwa apa yang dipilih oleh setiap manusia berdasarkan kebebasan memilih yang telah Allah berikan kepadanya. Atas dasar ini manusia diberi balasan berupa pahala atau siksaan dari tindakan tersebut.

Di dalam ayat ini maksud dari "kalimat" adalah rentetan tanggung jawab berat yang telah Allah panggulkan kepundak Nabi Ibrahim. Beliau menjalankan semua tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dan sebagian dari tanggung jawab ini akan dijelaskan.
Nabi Ibrahim as adalah satu-satunya dari keluarga dan sanak familinya yang meng-esa-kan Allah. Beliau bangkit melawan kesyirikan dan penyembah berhala. Ia sendiri memasuki tempat penyembahan berhala dan menghancurkan semua patung.
Sekalipun ia akhirnya dibakar akibat perlakuannya terhadap patung-patung itu, tapi beliau tetap tenang, penuh keimanan dan yakin kepada Allah. Dengan semua keyakinan ini, ketika beliau dimasukkan ke dalam kobaran api, Allah memerintah api menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim memperoleh keturunan setelah usianya lanjut. Waktu yang lama ini tidak membuat beliau berontak dan menolak ketika Allah memerintahkannya menyembelih putra pertamanya Nabi Ismail as. Atas perintah Allah Nabi Ibrahim as membawa anaknya Ismail ke tempat pengorbanan untuk disembelih sebagai bentuk pengorbanannya kepada Allah.
Nabi Ibrahim as dalam doanya meminta kepada Allah agar menganugerahi posisi imamah kepadanya dan kepada anak turunannya. Namun Allah dalam jawabannya berfirman, kedudukan ini tidak dapat diwarisi, tetapi setiap orang yang mempunyai kelayakan akan mendapatkan hal tersebut.
Kedudukan Imamah lebih tinggi dari kedudukan risalah. Rasul ditugaskan menyampaikan hukum-hukum ilahi dan pemberi petunjuk manusia, tetapi Imam penaggung jawab atas terealisasinya hukum-hukum tersebut dan pelaksanaan keadilan sosial di antara masyarakat.
Ayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa bahwa Imamah adalah janji dan amanat ilahi yang tidak akan diperoleh oleh orang-orang zalim. Oleh sebab itu kita sebegai Syiah percaya, bahwa Imam seperti halnya Nabi harus maksum. Siapa saja yang telah berbuat syirik dan dosa, maka ia tidak layak menduduki jabatan Imamah.
Ayat ke-125:
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaaf, yang ruku dan yang sujud".
Ayat sebelumnya telah menyinggung terhadap kedudukan tinggi Ibrahim dan Imamah. Ayat ini adalah tempat mengingat yang besar bagi Ibrahim as. Ayat ini mengingatkan tentang Ka'bah dan berkata, rumah ini adalah rumah umat manusia. Rumah ini tempat perjanjian para penyembah Allah dalam sejarah. Sebuah tempat perjanjian yang aman, suci dan dijadikan sebagai tempat tawaf dan shalat.
Para jemaah haji yang pergi ke Mekah, setelah dari tawaf Ka'bah harus mengerjakan dua rakaat shalat. Demi memuji usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, Allah mengangkat sebuah batu di tembok Ka'bah, tempat berdiri Nabi Ibrahim as. Sampai sekarang tempat ini menjadi mihrab shalat yang berada di depan para jamaah haji, sehingga mereka tidak berdiri lebih ke depan dari maqam Ibrahim. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as tidak hanya membangun Ka'bah, tetapi juga pelayan Ka'bah. Sesuai dengan perintah Allah, mereka membersihkan Masjidul Haram bagi pecinta ibadah dan shalat dari setiap pencemaran dan kotoran.

Pada dasarnya masjid yang adalah rumah Allah dan pelayannya haruslah dari para auliya' Allah dan orang-orang yang suci dan tidak seorangpun yang berhak mengatur urusan masjid
Ayat ke-126:
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:" Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali ".
Nabi Ibrahim as yang telah membangun Ka'bah dan menyiapkannya untuk ibadah, berdoa kepada Allah untuk penduduk kota Mekah dengan dua permintaan, satu keamanan dan ketenangan dan satu lagi rizki dan nikmat dan kemudahan hidup. Sesungguhnya Nabi Ibrahim as berdoa untuk orang mukmin, tetapi Allah Swt dalam menjawab berfirman, Aku akan memberikan rizki materi kepada semua manusia baik yang beriman maupun yang kafir. Aku tidak akan mencabut rizki dunia orang-orang kafir karena kekafirannya, walaupun pada hari kiamat karena perbuatannya akan berada di neraka.
Ayat ini menyampaikan dua permintaan salah satunya kepemilikan mukminin atas nikmat-nikmat materi dan kemudahan dunia yang diinginkan.Oleh sebab itu, Nabi Ibrahim as meminta kepada Allah akan hal-hal ini. Yang kedua yaitu pemilikan orang-orang kafir atas nikmat materi, tidak menunjukkan kebenaran mereka, tetapi sebuah alasan tanpa arti mengikuti dunia di hadapan Allah.
Ayat ke-127:
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):" Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ".
Ka'bah sudah ada sejak zaman Nabi Allah Adam as, tetapi diperbaharui oleh Nabi Ibrahim as. Dasar masalah ini adalah Nabi Ibrahim as ketika menempatkan istri dan anaknya di tanah Mekah ia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah menempatkan keluargaku di tanah yang kering ini dan tanpa tanaman di sisi rumah-Mu." Ketika Nabi Ibrahim as memasuki kota Mekah, telah ada rumah Allah, yaitu Ka'bah di sana. Selain itu, Allah dalam ayat ke 96 surat Ali Imran, memperkenlkan Ka'bah sebagai rumah manusia pertama.
Ayat ini secara khusus menekankan bahwa pekerjaan akan bernilai bila diniatkan hanya untuk Allah. Karena tukang bangunan pada dasarnya juga bisa membuat bangunan, tapi yang akan diterima ketika diniatkan hanya untuk Allah. Bila dalam setiap perbuatan disertai dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, maka pekerjaan itu sangat bernilai dalam pandangan Islam. Kesimpulannya, bila kita mampu membuat Ka'bah tapi perbuatan itu tidak diterima Allah, maka hal itu menjadi sia-sia.
Dari ayat-ayat di atas terdapat empat pelajaran yang bisa kita petik, antara lain:
1. Allah menganugerahkan tingkat spiritual berdasarkan kelayakan individu. Peristiwa dan ujian yang diberikan Allah kepada manusia akan menciptakan kelayakan bagi manusia. Dengan demikian, mereka dapat mencapai satu posisi tertentu dan tinggi.
2. Imamah dan pemimpin umat adalah jabatan ilahi dan bukan posisi duniawi. Atas dasar ini, tidak seorangpun yang berwenang menentukan Imamah kecuali Allah Swt.
3. Masjid adalah rumah Allah. Oleh karenanya, tempat ini harus disucikan oleh orang-orang yang suci hatinya dan saleh. Kepada mereka penanganan masjid diberikan dan bukan kepada orang yang bukan ahlinya.
4. Selain kota teladan Islam, Mekah juga merupakan tempat ibadah dan pusat keilmuan. Mekah adalah dasar ibadah dan penyembahan kepada Allah. Untuk itu, Mekah harus menjadi tempat yang aman bagi manusia agar dapat beribadah dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar