Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 251-254



Ayat ke 251-252:
Artinya:
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.


Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.
Akhirnya langkah Muslimin dan bantuan ilahi telah menyebabkan kelompok kecil ini menang atas tentara besar Jalut, dan remaja yang berusia muda, namun beriman dan pemberani bernama Dawud telah berhasil membunuh pimpinan musuh. Sebagai penghargaan atas keberanian dan keimanan Dawud, ia dilantik sebagai Nabi dan diajarkan kepadanya ilmu dan hikmah. Sedemikian banyak kemuliaan yang diberikan kepadanya, sehingga Sulaiman menjadi putranya.
Kisah yang dipaparkan dalam lima ayat ini adalah untuk menguatkan jiwa dan memberikan semangat, sekaligus juga untuk memberikan pengingatan kepada kaum Muslimin yang mengungsi dari Mekah dan rumah-rumah mereka yang terdiri dari kelompok kecil serta tak memiliki harta benda agar mengatakan kepada orang-orang Musyrik Mekah: "Muhammad mempunyai kelayakan dan keunggulan untuk menjadi Nabi kami biarpun banyak orang lain yang kaya dan berstatus tinggi di kota Mekkah ini."
Dari ayat ini kita bisa mendapat beberapa pelajaran:
1. Selagi seseorang menunjukkan potensi dan kelayakannya, maka ia tidak akan mendapat karunia ilahi. Dawud mencapai makam nubuwwah (kenabian) dengan bermujahadah (berusaha) di jalan Allah.
2. Jika berjihad dengan musuh tidak diwajibkan, niscaya kefasadan dan kerusakan akan menyelimuti dunia, maka kita tidak harus khawatir atau takut mati terbunuh di jalan Allah.
3. Dari peristiwa ini kita mempelajari bahwa terdapat beberapa faktor kemenangan; pimpinan yang matang dan layak, pengikut yang Mukmin, tawakkal kepada Allah, kesabaran dan ketabahan, memiliki motivasi Ilahi dalam perang.
Ayat ke-253:
Artinya:
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Ayat sebelum ini menyinggung bahwa Allah Swt telah memberikan hikmah dan kekuasaan kepada Nabi Dawud. Ayat ini menyinggung soal perbedaan kedudukan atau martabat para Nabi yang menyatakan bahwa kedudukan atau martabat para Nabi tidaklah sama atau sederajat, melainkan sebagian lebih tinggi dari sebagian lainnya. Seperti halnya Nabi Musa yang berbicara dengan Allah tanpa perantara atau pun Nabi Isa yang selalu mendapat dukungan Malaikat Jibril.
Selanjutnya ayat ini menyentuh soal satu sunnah Ilahi yang pentin berkaitan dengan hubungan dengan masyarakat dan menyatakan bahwa masyarakat bebas memilih jalan hidup mereka. Mereka dapat beriman atau musyrik, condong kepada Nabi tertentu ataupun mengimani risalah Nabi lainnya. Jelas sekiranya Allah menghendaki, Ia dapat mencegah pertikaian dan perselisihan masyarakat dan memaksakan mereka berjalan di satu rel, namun sunnah Allah adalah masyarakat dibebaskan untuk memilih beriman atau mengingkari agama.
Dari ayat ini kita dapat memetik beberapa pelajaran:
1. Sebuah agama akan memiliki nilai jika dipilih atas dasar kehendak sendiri. Maka dengan ini, perbedaan pendapat masyarakat dalam hal ini merupakan perkara yang biasa dan mengikut pilihan mereka.
2. Allah Swt mengutus para Nabi beserta argumen. Penolakan masyarakat adakalanya dikarena hawa nafsu, adakalanya karena kebodohan dan tidak adanya informasi.
Ayat ke-254:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.
Ayat ini merupakan ancaman atau peringatan untuk orang-orang Mukmin bahwa selagi kalian masih berada di dunia, maka gunakanlah kesempatan dan sediakanlah bekal untuk hari kiamat kalian. Lakukanlah transaksi dengan Allah di dunia dan infakkanlah sebagian dari harta kalian untuk orang lain, karena di hari kiamat kelak, tiada lagi transaksi dan perdagangan sehingga dapat menjadi penolong kebahagiaan dan meyelamatkan kalian dari siksa. Janganlah kalian berharap kepada para pembesar kalian, karena di sana nanti tidak ada seorang pun yang dapat membantu kalian dan tidak ada syafaat.
Dari ayat ini kita dapat memetik beberapa pelajaran:
1. Apa yang kalian punya bukanlah milik kalian, kamilah yang memberinya kepada kalian.
2. Kami telah katakan bahwa infakkanlah sebagian dari apa yang kami berikan, bukannya semua harta kalian.
3. Infak tersebut pada hari kiamat nanti lebih baik bagi kalian dibanding dengan setiap kawan dan sahabat. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar