Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 31-33



Tafsir Al-Baqarah ayat 31-33
Ayat ke-31:‎
و علم آدم الاسماء کلها ثم عرضهم علی الملئکة فقال انبئونی بأسماء ‏هؤلاء ان کنتم صدقین
Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, ‎kemudian mengemukakannya kepda para Malaikat lalu berfirman, "Sebutkanlah ‎kepada-Ku nama benda-beda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.‎


Untuk membuktikan kelayakan manusia kepada para malaikat, Allah swt menguji ‎kedua pihak. Mula-mula Allah mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu pengetahuan, ‎lalu Allah mengajukan pertanyaan kepada mereka. Al-Quranul Karim sama sekali ‎tidak menjelaskan ilmu pengetahuan apa yang diajarkan kepada mereka itu. ‎
Namun mayoritas mufassirin meyakini bahwa Allah mengenalkan kepada manusia ‎alam yang ada pada awal penciptaan dan mengajarkan nama-nama semua itu. ‎Itulah potensi-potensi dan kemampuan berpikir untuk mengenali segala sesuatu ‎yang Allah ciptakan di dalam diri kita umat manusia. Oleh karena para malaikat ‎mengira bahwa berkat ibadah yang mereka lakukan dan itu artinya mereka lebih ‎unggul dari pada manusia, maka mula-mula Allah menguji mereka, dan berkata, ‎‎"Jika dugaan kalian itu benar, maka sebutkanlah nama hakikat-hakikat itu, yang ‎telah Aku ajarkan kepada kalian". ‎
Akan tetapi para malaikat menyadari kekeliruan mereka, dan mereka baru ‎mengetahui bahwa ibadah dan tasbih saja, bukan ukuran pilihan Allah, dan khalifah ‎ilahi harus memiliki posisi dan kedudukan ilmu pengetahuan yang tinggi. Dalam ‎menjawab pertanyaan Allah, para Malaikat berkata, "Ya Allah, Engkau Maha Suci ‎dari segala perbuatan yang tanpa alasan dan tanpa kebijaksanaan. Kami yakin ‎bahwa dalam penciptaan dan khilafah keturunan manusia di bumi, terkandung ‎hikmah dan maslahat yang amat besar yang lebih tinggi dari pada kejahatan yang ‎ada pada sebagian manusia. Dan berdasarkan maslahat itulah maka Engkau ‎menciptakan Adam. Ya Allah, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ‎maka kami tidak mengetahui apa-apa; dan pertanyaan kami timbul dari ‎ketidaktahuan kami akan persoalan ini, yaitu bahwa ternyata manusia memiliki ‎kelebihan dan memiliki potensi serta kekuatan sedemikian besar. Ya Allah ‎Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu dan selalu berbuat sesuatu ‎berdasarkan hikmah kebijaksanaan.‎
Dari ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
‎1. Guru pertama yang mengajar manusia ialah Allah yang memberi kekuatan ‎berpikir dan memahami hakikat-hakikat kepada manusia. Kekuatan yang semua ‎pengetahuan manusia berkat potensi ilahi tersebut.
‎2. Manusia memiliki potensi dan kelayakan untuk menerima seluruh ilmu ‎pengetahuan dan membuka hakikat-hakikat alam kehidupan, meskipun kini ‎manusia masih berada di awal perjalanan sementara hal-hal yang tidak diketahui ‎masih banyak.
‎3. Kelebihan manusia di atas segala makhluk, termasuk malaikat terletak di dalam ‎ilmu pengetahuan dan kemampuannya berpikir, yang hal itu sendiri merupakan ‎ibadah terbesar.
‎4. Khalifah ilahi dan pemimpin Islam, lebih dari ibadat dan tasbih, memerlukan ilmu ‎dan pengetahuan. Oleh sebab itu, untuk membuktikan kelebihtinggian manusia, ‎Allah mengajukan ilmu pengetahuan manusia.
‎5. Pengajar sesungguhnya ialah Allah swt. Sedangkan guru dan kitab adalah alat ‎belajar mengajar.‎
Ayat ke-32-33:‎
قالوا سبحنک لا علم لنا الا ما علمتنا انک انت العلیم الحکیم. قال یا آدم ‏انبئهم بأسمائهم فلما انبئهم بآسمائهم قال الم اقل لکم انی اعلم غیب ‏السموت والارض و اعلم ما تبدون و ما کنتم تکتمون.‏
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari ‎apa yang telah Engkau ajarkankepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang ‎Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.‎
Allah berfirman: Hai Adam. Beritahukanlah kepada mereka dengan nama-nama ‎benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, ‎Allah berfirman, "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya ‎Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui rahasia langit dan bumi ‎dan mengetahui apa yagn kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?‎
Di dalam ujian tersebut Adam as mencapai keberhasilan, dan berdasarkan ajaran ‎ilahi, nama-nama dan rahasia-rahasia kehidupan ia terangkan kepada para ‎malaikat. Hal itu membuat mereka menyadari hakikat bahwa Allah swt telah ‎memberi potensi dan kemampuan belajar kepada manusia, dimana hal itulah yang ‎tidak mereka miliki.‎
Setelah ujian ini, Allah berbicara kepada para malaikat dan mengatakan: "Kalian ‎mengira bahwa kalian lebih pantas dari siapa pun untuk memangku jabatan ‎sebagai khalifatullah. Akan tetapi kalian menyembunyikan hal tersebut dan tidak ‎menjelaskannya dengan tegas.‎
Akan tetapi ketahuilah bahwa sebagaimana Allah mengetahui hal-hal yang kalian ‎lahirkan, Dia juga mengetahui hal-hal yang kalian sembunyikan di dalam hati ‎kalian. Demikian pula Allah mengetahui batin dan rahasia seluruh alam, dan tak ‎ada suatu apa pun yang terlepas dari pengetahuan-Nya.‎
Penekanan ayat ini akan pengetahuan Allah berkenaan dengan lahir dan batin ‎manusia juga segala sesuatu, adalah karena sesungguhnya ayat ini ingin ‎mengatakan bahwa kalian, para malaikat (dan siapa saja selain Allah) yang tidak ‎mengetahui rahasia-rahasia alam, dan hanya melihat lahir segala sesuatu, jangan ‎sekali-kali mencampuri perbuatan Allah yang mengetahui segala sesuatu dan ‎menciptakan semua ini berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan. Jika di dalam ‎ciptaan Allah ini kalian melihat seakan terdapat kekurangan dan ketimpangan, ‎maka hal itu tak lain adalah karena ketidaktahuan kalian. Bukannya terdapat ‎kekurangan di dalam perbuatan Allah.‎
Dari dua ayat tadi terdapat tujuh poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Permintaan maaf yang dilakukan dengan segera, karena mengatakan sesuatu ‎tidak pada tempatnya, merupakan sopan santun malakuti. Para malaikat, begitu ‎menyadari bahwa mereka telah mengatakan sesuatu yang keliru, meminta maaf ‎kepada Allah dengan mengucapkan: Subhaanak: Maha Suci Engkau ya Allah".‎
‎2. Janganlah kita merasa malu mengatakan tidak tahu, kalau memang kita tidak ‎tahu. Para malaikat Ilahi dengan tegas mengakui ketidaktahuan mereka dan ‎mengatakan: Laa ilma lanaa.‎
‎3. Permintaan maaf dan taubat, sumber keselamatan. Para malaikat yang mengira ‎bahwa ibadah dan tasbih yang ia lakukan terus menerus itu, sebagai alasan ‎kelebihan mereka terhadap manusia, ketika kenyataan sebenarnya sudah jelas ‎bagi mereka, mereka langsung meminta maaf, yang diterima oleh Allah. Akan ‎tetapi, setan yang diciptakan dari api, dan menganggap hal itu sebagai ‎kelebihannya terhadap manusia yang diciptakan dari tanah, lalu ia bersikeras ‎dengan anggapan kelirunya itu, maka Allah mengusirnya dari surga dan ‎menjauhkannya dari rahmat-Nya yang Maha Luas.‎
‎4. Dari segi ilmu pengetahuan dan potensi mengembangkan pengetahuan, ‎manusia memiliki keunggulan di atas malaikat. Oleh karena itu hal-hal yang tidak ‎diketahui oleh para malaikat, Adam as mengetahuinya.
‎5. Untuk membuktikan kelayakan dan kelebihan, perlu diadakan tes dan ujian. ‎Meskipun Allah mengetahui kelebihan Adam terhadap para malaikat, namun untuk ‎membuktikan kepada selain-Nya, Allah mengadakan tes dan ujian.
‎6. Para malaikat tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang gaib dari dirinya ‎sendiri. Akan tetapi mereka mengetahui hal-hal yang gaib sekedar yang diizinkan ‎dan diberitahukan oleh Allah swt. Di dalam beberapa ayat sebelumnya Allah swt ‎berfirman, "Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui. Dan ayat ini ‎mengatakan, "Aku mengetahui kegaiban di langit dan di bumi."
‎7. Kesempatan-kesempatan harus disediakan bagi perkembangan dan pengaktifan ‎potensi-potensi. Dengan mengadakan sebuah ujian, Allah swt telah memunculkan ‎potensi-potensi yang dimiliki oleh Adam, sehingga manusia menyadari akan ‎kelayakan dirinya, demikian pula selain manusia agar mengetahui adanya ‎kelebihan tersebut.‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar