Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 34-36


Tafsir Al-Baqarah Ayat 34-36
Ayat ke-34:‎
و اذ قلنا للملئکة اسجدوا لآدم فسجدوا الا ابلیس ابی و استکبر و کان ‏من الکفرین
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, sujudlah kamu ‎kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggandan takabbur ‎dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.‎




Sebagai kelanjutan dari ayat-ayat terdahulu yang berbicara tentang nikmat-‎nikmat materi dan maknawi yang Allah berikan kepada manusia, juga khilafah ‎ilahi yang menunjukkan kemuliaan manusia, maka ayat ini memaparkan satu ‎lagi yang menunjukkan kemuliaan manusia, yaitu sujudnya para malaikat ‎kepada Nabi Adam as. Sebagaimana terdapat di dalam beberapa ayat surat ‎Al-Hijr dan Shaad, Allah swt ketika menciptakan manusia, berbicara kepada ‎para malaikat yang artinya: "Maka jika Aku telah menyempurnakannya dan ‎telah Kutiupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kalian kepadanya". ‎
Dengan demikian, sujud ini dilakukan karena penciptaan manusia, bukan ‎karena pengangkatannya sebagai khalifah; dan persoalan khilafah serta ‎pengujian terhadap para Malaikat terjadi setelah tahap ini. Dan pada ‎dasarnya, jika perintah sujud dikeluarkan setelah kejelasan kedudukan ‎khilafah yang dicapai oleh Adam as, maka sujudnya para Malaikat itu tak akan ‎sedemikian bernilai, karena sudah bukan lagi berdasarkan pada ta'abbud dan ‎penyerahan diri sepenuhnya kepada perintah Ilahi, namun sujud itu dilakukan ‎karena kedudukan Adam as.‎
Sementara itu, Iblis, yang menurut ayat 50 surat Al-Kahfi termasuk dari ‎golongan Jin yang mencapai kedudukan setingkat dengan para malaikat ‎berkat ibadahnya yang sangat tinggi, tidak bersedia melaksanakan perintah ‎ilahi itu dan dengan menyombongkan diri ia menyangka bahwa dari segi ‎ciptaan ia lebih tinggi dari pada Adam, dan bahwa Adamlah yang seharusnya ‎bersujud kepadanya, bukan ia yang sujud terhadap Adam. Kemaksiatan dan ‎dosa Iblis bukan hanya di dalam perbuatan; tetapi dari segi keyakinan pun, ‎Iblis telah menunjukkan kemaksiatannya. Karena ia menyakini bahwa perintah ‎Allah itu tidak adil dan bijaksana.‎
Dengan demikian maka Iblis telah kafir, tak beragama dan melepaskan ‎imannya. Sujudnya para malaikat kepada Adam bukan berarti menyembah ‎Adam, sebab menyembah selain Allah tidak diperbolehkan. Mereka bersujud ‎kepada Adam atas dasar perintah Ilahi sebagai penghormatan, yang pada ‎hakikatnya bersujud kepada Allah, namun karena penciptaan wujud mulia ini ‎yang bernama manusia. ‎
Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎ ‎
‎1. Hakikat ibadah adalah manusia melakukan perbuatan karena perintah ‎Allah, bukannya ia memilih dan mengamalkan perintah-perintah sesuai ‎dengan keinginannya. Selama berabad-abad Iblis bersedia sujud di hadapan ‎Allah, namun ia tidak mau bersujud sesaatpun kepada Adam. ‎
‎2. Jauh dari keadilan, apabila semua malaikat bersujud kepada manusia, ‎namun manusia tidak bersedia bersujud kepada Allah. ‎
‎3. Sombong dan takabbur di hadapan kebenaran, menarik manusia kepada ‎kekufuran dan ketidakberagamaan. ‎
‎4. Sujud dan tunduk di hadapan selain Allah apabila berdasarkan perintah ‎Allah, maka tidak hanya perbuatan non-syirik, bahkan ia merupakan tauhid ‎dan ubudiyyah itu sendiri. ‎
‎5. Kelayakan lebih penting dari pada umur dan keterdahuluan. Malaikat yang ‎telah diciptakan terlebih dahulu harus bersujud kepada Adam yang baru ‎diciptakan.‎
‎6. Sujud kepada Adam bukan hanya kepada dirinya, bahkan karena ‎keturunannya dan bangsa manusia. Oleh karenanya Allah berfirman dalam ‎Surah Al-A'raf ayat 11: "Wahai manusia, Kami ciptakan kalian, lalu kami ‎bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: Bersujudlah kepada ‎Adam!"‎
Ayat ke-35:‎
وقلنا یا آدم اسکن انت و زوجک الجنة و کلا منها رغدا حیث شئتما و لا ‏تقربا هذه الشجرة فتکونا من الظلمین
Dan Kami berfirman, "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini ‎dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja ‎yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan ‎kamu termasuk orang-orang yang zalim.‎

Allah yang menciptakan manusia dari tanah liat dan untuk menjadi khalifah di ‎muka bumi, demi menyediakan sarana-sarana kehidupannya di bumi, mula-‎mula menciptakan seorang isteri dari jenisnya sehingga menjadi pendamping ‎dan penghiburnya dan menjadi sumber kelestarian keturunannya. Kemudian ‎Allah menyediakan taman bak surga untuk mereka berdua di bumi yang ‎merupakan tempat tinggal dan sumber makanan mereka. Dengan tindakan ‎ini, Allah menyempurnakan nikmat kepada Adam dan menyediakan isteri, ‎tempat tinggal dan makanan, sehingga sarana-sarana kesejahteraan dan ‎ketenteraman mereka terpenuhi dan hendaklah mereka mempelajari cara-‎cara pemanfaatan bumi dan hasil-hasilnya yang luas dari pengalaman. ‎
Akan tetapi bukan berarti setiap yang di makan bermanfaat dan perlu untuk ‎badan. Oleh karena itu Allah melarang mereka memakan buah dari pohon ‎tertentu, sebab memakan buah pohon itu menyebabkan gangguan pada ‎tubuh dan menganiaya jiwanya, yang diikuti dengan keluarnya mereka dari ‎Surga dunia. Dari hal-hal yang telah kami katakan jelaslah, bahwa Surga yang ‎dijadikan tempat tinggal untuk Adam bukanlah Surga yang dijanjikan pada ‎hari kiamat, sebab:‎
‎1. Surga tersebut sebagai imbalan pahala. Sedangkan Adam hingga saat itu ‎belum melakukan perbuatan baik yang menyebabkannya berhak ‎mendapatkan pahala. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 142 surat Ali ‎Imran yang berbunyi, "Apakah kamu mengira akan masuk Surga, padahal ‎belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad dari kamu." ‎
‎2. Orang-orang yang telah dimasukkan ke dalam Surga yang telah dijanjikan, ‎tidak lagi akan keluar darinya. Sebagaimana ayat 48 surat Al-Hijr ‎menyatakan: "Dan tidaklah mereka akan dikeluarkan."‎
‎3. Di dalam Surga yang dijanjikan tidak terdapat pohon yang terlarang, ‎sehingga Allah melarang memakannya, bahkan segalanya halal dan ‎diperbolehkan. Dari sisi lain, Allah juga menyebut taman-taman yang subur di ‎dunia dengan sebutan jannah pula, dan kata ini tidak dikhususkan untuk ‎surga yang dijanjikan seperti tersebut dalam ayat 17 surat Al-Qalam: "Wahai ‎Nabi, Kami akan menguji mereka (orang-orang kaya yang takabbur dan ‎musyrik) sebagaimana Kami uji para pemilik kebun." ‎
Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
‎1. Isteri, tempat tinggal dan makanan adalah kenikmatan-kenikmatan yang ‎dianugerahkan Allah untuk kesejahteraan dan ketenteraman manusia di muka ‎bumi. ‎
‎2. Perempuan di rumah mengikuti lelaki. Pada masalah-masalah lain, ayat-‎ayat ini membicarakan Adam dan isterinya, dengan firman-Nya, ‎‎(taqrabaa=kalian berdua mendekati, shi'tumaa=kalian berdua kehendaki, ‎kulaa=makanlah kalian berdua), namun pada masalah tempat tinggal hanya ‎Adam yang dijadikan subyek pembicaraan, sedangkan isterinya disebutkan ‎mengikutinya sebagaimana firman Allah: "Tinggallah kamu dengan isterimu di ‎jannah (taman)." ‎
‎3. Sebelum melarang sesuatu, mula-mula pintu-pintu yang menuju ke jalan ‎yang benar untuk mengatasi keperluan itu harus dibuka. Manusia ‎memerlukan makanan, lantaran itu mula-mula Allah menetapkan makanan-‎makanan yang diperbolehkan, baru kemudian melarang memakan tumbuhan ‎tertentu.‎
‎4. Dosa sedemikian berbahaya, hingga tidak boleh mendekatinya, apalagi jika ‎seorang manusia melakukannya. Oleh karena itu Allah tidak mengatakan "la ‎tak kulaa"-Janganlah memakan tumbuhan ini, tetapi Allah berfirman: "la ‎taqrabaa"-janganlah kamu mendekatinya. ‎
‎5. Perbuatan yang dilarang Allah, akibat buruknya akan sampai kepada ‎manusia, bukan kepada Allah. Melanggar perintah-perintah ilahi adalah ‎menzalimi diri sendiri dan menjauhkan manusia dari nikmat-nikmat Ilahi. ‎
‎6. Manusia dalam makan tidak boleh seperti hewan yang tunduk pada perut, ‎di mana segala yang ia inginkan dimakan. Namun manusia harus mentaati ‎Allah. Segala hal yang dipandang baik oleh Allah bagi dirinya, ia makan dan ‎yang dilarang ia tinggalkan.‎
Ayat ke-36:‎
فازلهما الشیطن عنها فاخرجهما مما کانا فیه و قلنا اهبطوا بعضکم ‏لبعض عدو و لکم فی الارض مستقر و متاع الی حین
Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari ‎keadaan semula dan Kami berfirman, "Turunlah kamu! Sebagian kamu ‎menjadi musuh bagi yang lain dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi ‎dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."‎

Sebelum ini telah dijelaskan mengenai peristiwa penciptaan dan khilafah ‎Adam, dan sampai pada pembahasan tentang ditempatkannya Adam dan ‎isterinya oleh Allah pada suatu taman surga dan disediakan segala jenis ‎makanan untuk mereka, namun Allah melarang tumbuhan khusus, yang ‎apabila dimakan akan menyebabkan kerugian dan mengakibatkan kezaliman ‎terhadap diri sendiri. ‎
Adapun setan yang terusir dari rahmat ilahi lantaran berpaling dari perintah ‎untuk bersujud kepada Adam, senantiasa untuk memberi jalan guna ‎melampiaskan dendam kepada Adam dan memutuskan untuk ‎mengeluarkannya dari tempat ketenangan, kesejahteraan dan ketenteraman. ‎Karena itu, setan berusaha keras membujuk Adam agar memakan tumbuhan ‎terlarang dengan berbagai godaan dan berpura-pura berniat baik dengan ‎menyebutkan berbagai manfaat buah dari pohon tersebut.‎
Akhirnya Adam dan isterinya memakan buah pohon itu. Mereka tidak ‎mempunyai niat untuk melanggar perintah Allah, sama halnya seperti seorang ‎anak kecil yang tidak memiliki pengalaman berdusta dan menipu, yang ‎menganggap selainnya jujur seperti dirinya. ‎
Sewaktu setan bersumpah kepada mereka bahwa yang dikatakannya ‎mengenai manfaat-manfaat tumbuhan itu adalah benar dan jujur, maka Adam ‎mempercayainya dan akhirnya tertipu. Akibat pelanggaran terhadap perintah ‎ilahi ini adalah Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga, selanjutnya turun ‎perintah dari sisi Allah, Keluarlah kalian dari wilayah kedekatan ilahi dan telah ‎pecah benih dendam dan permusuhan antara kalian dan setan. Dan kalian ‎akan berada di bumi hingga saat yang ditentukan. Tujuan pokok penciptaan ‎Adam adalah kekhilafahannya di muka bumi, maka Adam harus tinggal di ‎bumi, namun pada mulanya Allah telah menyiapkan sebuah lingkungan yang ‎tenang dan jauh dari berbagai kesulitan, hingga dalam masa persiapan ini ‎Adam akan mengenal kondisi kehidupan di bumi, juga mengenal musuh ‎sebenarnya, yaitu setan. ‎
Dari ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
‎1. Menuruti ajakan setan tidak hanya menjauhkan manusia dari rahmat ilahi, ‎tetapi juga merampas kesejahteraan yang terjadi pada Adam dan isterinya ‎yang dikeluarkan dari surga yang penuh rahmat menuju ke bumi yang serba ‎susah. ‎
‎2. Permusuhan setan dengan manusia adalah permusuhan lama, dimulai ‎sejak awal penciptaan hingga saat ini.‎
‎3. Bumi adalah tempat sementara kehidupan manusia dan pemanfaatan ‎manusia atasnya terbatas dan sementara. Hendaknya kita pikirkan persiapan ‎tempat yang abadi kita di surga. ‎
‎4. Sesungguhnya setiap manusia adalah penghuni surga lantaran potensi-‎potensi dan kelayakan-kelayakan yang diciptakan oleh Allah padanya, tetapi ‎pelanggaran-pelanggaran yang ia lakukan menyebabkannya jatuh dan ‎terjerumus ke dalam jurang kesusahan. ‎
‎5. Tidak seorang manusia pun terjaga dari bahaya dosa dan penyimpangan, ‎kecuali Allah menjaganya. Adam yang merupakan khalifah Allah di muka bumi ‎dan menjadi sosok manusia mulia sehingga malaikat bersujud kepadanya, ‎kelalaian sesaat saja mengeluarkannya dari sisi-Nya. Namun kesalahan ‎Adam sebelum ia mencapai tingkat kenabian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar