Laman

Kamis, 13 Oktober 2011

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 132-139



Tafsir Surat Ali Imran Ayat 132-139
Ayat ke 132-133
Artinya:
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.




Menyusul ayat-ayat sebelumnya, yang berkisar tentang perang Uhud dan begitu pula tema makan riba, ayat ini telah menganjurkan muslimin kepada dua perkara. Salah satunya mengikuti secara mutlak perintah-perintah Tuhan dan Rasul Saw yang merupakan syarat mutlak perintah-perintah Tuhan dan Rasul Saw yang merupakan syarat rahmat dan pertolongan ilahi dan sebab kegagalan muslimin di Uhud, adalah menentang perintah Nabi.
Anjuran kedua, berlomba melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan menyampaikan kebaikan kepada orang lain yang menyebakan terampuninya dosa dan masuk surga ilahi.
Perkara yang menyebabkan kekalahan muslimin di Uhud adalah bersegera mengumpulkan rampasan perang, dan apa yang di pasar menyebabkan riba adalah saling mendahului dalam mengumpulkan harta dan kekayaan.
Namun al-Quran menyeru mukminin agar bersegera memperoleh rahmat dan ampunan ilahi yang menyiapkan lahan bagi masuk ke surga di akhirat. Surga yang mana langit dan bumi dan apa yang ada pada mereka, dan syarat masuk di sana adalah takwa.
Dari ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Orang yang mendapat rahmat ilahi, adalah orang yang menyantuni yang lemah dan memberi hutang tanpa riba.
2. Seorang mukmin tidak boleh stagnasi, melainkan harus berupaya untuk maju dan mendahului lainnya, meskipun yang dimaksud adalah mendahulu dalam perbuatan baik.
Ayat ke 134
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Menyusul ayat sebelumnya, mengajak mukminin kepada ampunan ilahi, ayat ini menjelaskan wasilah-wasilah maghfirah, meskipun, sifat memaafkan kesalahan orang dan menghindari dengki dan kemarahan adalah kekhususan orang-orang yang takwa, namun sebelum itu, Allah Swt menyatakan bahwa mengulurkan keikhlasan bantuan berupa harta dan membantu orang-orang miskin disebutkan sebagai faktor mafgfirah.
Bayangkan rakyat adalah hanya orang-orang kaya yang dapat menginfakkan. Padahal mencari harta menambah sifat tamak dan bakhil, bukannya semangat ihsan dan infak. Oleh karenanya ayat ini berfirman: Mukminin, baik dalam keadaan kaya baik miskin adalah ahli insan dan infak.
Dari ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Infak memerlukan kedermawanan bukan kekayaan dan banyak sekali orang kaya yang bakhil dan betapa banyak orang miskin yang dermawan.
2. Orang yang bertakwa, tidak mengucilkan diri melainkan aktif dalam masyarakat dan bergaul dengan masyarakat dengan harta dan akhlaknya.
3. Orang yang ingin dicintai Tuhan, harus menginfakkan harta dan mengosongkan jiwanya dari dengki dan marah.
Ayat ke 135

Artinya:
 
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Sebagian orang berfikir bahwa mukmin adalah orang yang tidak berdosa. Padahal ayat ini, bahkan orang-orang bertakwa mungkin saja melakukan perbuatan buruk dan sebenarnya mereka telah berlaku zalim kepada diri sendiri, namun perbedaan mereka dengan orang lain pada dua perkara; Salah satunya, mereka tidak terus menerus berdosa. Sewaktu mereka menyadari keburukan perbuatan mereka, mereka segera meninggalkan dan bertaubat dan meminta ampunan dari Tuhan. Karena mereka tahu Allah suka memaafkan dan menerima taubat orang-orang yang berdosa, jadi perbedaan antara orang yang memang melakukannya dengan orang yang secara tidak sadar dan karena godaan setan, melakukan dosa, dan ketika sadar menyesali dan berikrar untuk meninggalkan dosa.
Dari ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Kelaziman takwa, adalah bukan terpelihara dari dosa melainkan taubat dari dosa dan tidak terus menerus berbuat dosa.
2. Lebih bahaya dari dosa, adalah melupakan keburukan dosa, jika dosa sudah tidak tampak buruk di hadapan manusia, maka dia tidak terpikir bertaubat.
3. Dosa merupakan kezaliman paling besar terhadap ruh ilahi yang telah ditiupkan oleh Tuhan dalam wujud manusia.
Ayat ke 136
Artinya:
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Ayat 133 menganjurkan mukminin agar berlomba memperoleh ampunan dan surga ilahi, sementara ayat 134 dan 135 menjelaskan sebab-sebabnya adalah infak, ihsan, ampunan dan pemberian kepada lainnya dan taubat dari dosa.
Ayat ke 137-138
Artinya:
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Salah satu metode al-Quran untuk memberi petunjuk jalan dan membimbing manusia adalah mengajak manusia memperhatikan sejarah kaum terdahulu. Dunia tidaklah terbatas pada masa kontemporer, sebelum kita, banyak skali manusia yang hidup di dunia ini dan meninggal dunia. Pengenalan sejarah dan akibat perbuatan mereka, adalah pelajaran terbaik bagi kita yang hidup dewasa ini, karena dunia bagi kita yang hidup dewasa ini, karena dunia dikelola berdasarkan sunnah dan undang-undang tetap ilahi dan untuk mengenali tradisi ini, kita harus mengetahui sejarah umat manusia terdahulu.
Oleh karenanya, al-Quran mengajak kita melakukan perjalanan di bumi dan mengkaji sejarah orang-orang terdahulu sehingga dengan teliti kita mempelajari kesudahan orang-orang yang baik dan buruk dan jangan sampai kita mengulangi kesalahan-kesalahan orang-orang terdahulu.
Dari ayat ini kita petik beberapa pelajaran:
1. Lawatan ke berbagai lembaran sejarah dan kesan-kesan yang tersisa dari peradaban masa silam ditekankan oleh Islam dengan syarat disertai dengan perenungan dan pikiran serta nasehat.
2. Faktor-faktor kemuliaan atau penghinaan di sepanjang sejarah adalah sama dan pengenalan faktor-faktor itu penting sekali buat kehidupan dewasa ini.
3. Meskipun al-Quran diturunkan untuk memberi petunjuk namun, hanya orang-orang bersih saja yang menerima dan diberi petunjuk.
Ayat ke 139
Artinya:
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Setelah kekalahan bala tentara Islam dalam perang Uhud, muslimin telah kehilangan semangat dan mengalami keputusasaan. Ayat ini menghibur jangan sampai karena kekalahan, itupun dikarenakan tidak mentaati pemimpin, kalian menjadikan diri kalian putus asa melainkan daripada demikian kuatkanlah iman kalian, karena kemenangan adalah berada di tangan kalian. Dalam ayat sebelumnya perhatian kepada sunnah-sunnah Ilahi telah dikemukakan dalam sejarah kaum terdahulu, ayat ini menyinggung salah satu dari sunnah yang disaksikan oleh muslimin dengan mata mereka sendiri.
Ia berkata, "Faktor terpenting kemulaan dan kehormatan suatu bangsa, adalah iman kepada Allah dan taat kepada para utusan Ilahi, karena menentang perintahnya dan Rasulnya, akan menyebabkan kejatuhan dan kehinaan dan kalian menyaksikan sunnah Ilahi ini dalam perang Uhud."
Dari ayat ini, kita petik beberapa pelajaran:
1. Iman kepada Tuhan, bukan hanya faktor kemuliaan pada hari kiamat, melainkan di dunia menyebabkan kemenangan dan keunggulan kaum dan peradaban-peradaban lain.
2. Kekalahan tidak sepatutnya menyebabkan mundur dan lemah melainkan harus dijadikan pelajaran untuk langkah dan berikutnya. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar