Laman

Rabu, 19 Oktober 2011

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197-203



Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 197-203
Ayat ke-197:
Artinya:
Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasi dan berbantah-bantahan di dalm masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaku hari orang-orang yang berakal.


Upacara-upacara haji setiap tahunnya, hanya sekali, itupun pada zaman tertentu dan setiap orang yang pergi ke haji, maka sejak awal, maka ia harus menyiapkan kebersihan kesucian, dan takwa sebagai bekal perjalanan spiritual dan disusul dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menjauhi dosa.
Mekkah adalah basis keamanan, persatuan dan ibadah. Maka di hari-hari Haji, lingkungan ini harus disucikan dari pertikaian dan konflik atau perbuatan dosa ataupun melakukan hubungan seksual agar pintu untuk pendekatan diri kepada Allah terbuka.

Ayat ke 198-199:
Artinya:
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia rezki hasil perniagaan dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram dan berdzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana yang ditunjukkannya kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Dalam ayat-ayat tadi dinyatakan bahwa melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan keamanan dan persatuan Muslimin, adalah dilarang, namun ayat ini berbeda dengan keyakinan Arab Jahiliyah yang memandang setiap bentuk transaksi adalah dosa di hari-hari Haji. Al-Quran menyatakan bahwa pelaksanaan urusan ekonomi dan transaksi yang merupakan tuntutan pelaksanaan acara ini bukan saja boleh, bahkan diperlukan.
Dalam pada itu, ayat al-Quran menjelaskan salah satu lagi dari hukum haji yaitu bergerak dari Arafah menuju Masy'aril Haram dan Allah berfirman bahwa pertama dalam perjalanan ini harus senantiasa mengingat Allah sehingga Allah dapat menyelamatkan kalian dari kesesatan dan diberi petunjuk ke jalan Allah. Kedua, secara berkelompok dan bersama-sama dan janganlah kalian merasa berhak mendapat superioritas dari orang lain.
Dari ayat-ayat ini kita dapat beberapa pelajaran:
1. Islam adalah agama sempurna dan di samping ibadah ritual seperti Haji, ia juga memperhatikan sisi kehidupan material, pencarian nafkah masyarakat.
2. Di dalam perjalanan, kita harus mengambil manfaat dari nikmat-nikmat material, namun jangan sampai kita melupakan Allah.
3. Di dalam Haji, pangkat atau status pribadi disingkirkan, dan semua harus seperti lainnya dan bersama-sama merampungkan upacara tadi.

Ayat ke 200-202:
Artinya:
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek-moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka diantara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bagian yang menyenangkan di akhirat.
Dan diantara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat tepat perhitunganNya.
Di dalam sejarah disebutkan bahwa orang-orang Arab pra-Islam setelah usai menunaikan upacara-upacara haji, mereka berkumpul di suatu tempat dan masing-masing dari mereka membangga-banggakan kaum dan kabilah serta nenek-moyangnya. Al-Quran menyatakan: "Sebagai ganti berbangga-bangga dengan nenek-moyang, ingatlah Allah; syukurilah nikmat-nikmat terdahulu dan mohonlah masa depanmu kepadaNya."
Selanjutnya al-Quran menambahkan bahwa masyarakat terbagi dua kelompok, satu kelompok yang setelah rampung menunaikan amalan-amalan haji, mereka hanya memikirkan soal duniawi dan kebutuhan-kebutuhan materi dan tidak memohon kepada Allah sesuatu selain itu. Sudah sewajarnya, jika kelompok ini nanti pada hari kiamat dikala manusia memerlukan segala sesuatu, berada dalam keadaan tangan kosong.

Namun kelompok kedua di dalam doa-doanya, selain peduli terhadap dunia yang merupakan sarana untuk sampai kepada kesempurnaan, juga meminta kepada Allah pada hari kiamat nanti terselamatkan dari siksa neraka dan mendapat nasib khusnul khatimah.
Dari ayat-ayat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa:
1. Di dalam berdoa kepada Allah, janganlah kita berpikiran pendek dan hanya melihat apa yang ada di depan kaki dan kehidupan beberapa hari di dunia.
2. Islam adalah agama pertengahan atau dalam istilah al-Quran umat Islam disebut dengan "ummatan washato". Islam adalah agama yang memperhatikan dua sisi kehidupan dunia maupun akhirat, sehingga orang Muslim harus memikirkan juga tentang kemajuan dan kesejahteraan material dirinya dan juga masyarakat.
3. Kita memohon kepada Allah kebaikan, kemaslahatan, dan kesejahteraan, bukannya kita menentukan perkara-perkara parsial dalam doa kita kepada Allah, karena kita tidak mengetahui masa depan kita sendiri dan apa yang menjadi kebaikan untuk kita.
Ayat ke-203:
Artinya:
Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang, barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu, maka tiada dosa baginya, dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu, maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepadaNya.
Melanjuti ayat sebelumnya yang menyatakan sebagai ganti berbangga-bangga dengan nenek-moyang di dalam upacara haji, maka ingatlah Allah, ayat ini menjelaskan momentnya.
Setelah upacara Idul-Qurban pada hari kesepuluh bulan Dzul-Hijjah, hari kesebelas, kedua belas dan ketiga belas, para Hujjaj berada di padang Mina. Tempat itu merupakan kesempatan dan peluang yang sangat baik untuk bertafakkur dan tadabbur di alam semesta serta beribadafh dan bermunajat dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Ayat ini mengingatkan dari pada menyebut-nyebut kecemerlangan dan kebanggaan-kebanggaan nenek-moyang dan keunggulan kaum atau kabilah, maka sebaiknya mereka mengingat Allah dan nikmat-nikmatNya.
Dari ayat ini kita dapat petik pelajaran bahwa jika manusia ahli takwa dan kesucian, maka Allah tidak akan mempersulit urusannya. Kerja-kerjanya meskipun sedikit, akan diterima oleh Allah dan menutupi kekurangan dan kelemahan-kelemahan perbuatannya. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar