Laman

Jumat, 18 November 2011

Agama dan Keluarga yang Sehat,Enyahkan Tuntutan Irasional dari Pasanganmu!



Tugas dan tanggung jawab dalam rumah tangga, tak hanya sebuah tema hukum, tapi lebih dipengaruhi oleh ikatan emosional dan kejiwaan juga didasarkan pada standar-standar etika dan norma. Pentingnya kajian seputar hak-hak dalam rumah tangga berasal dari kedudukan tinggi institusi yang suci ini. Populernya nilai-nilai moral, rasa bertanggungjawab secara sosial, dan ikatan emosional yang dalam, akan nampak di tengah masyarakat ketika keluarga-keluarga yang menjadi bagiannya memiliki hubungan yang hangat.



Saat akad nikah dan ikrar suci sudah terjalin di antara dua insan, maka hadir tanggung jawab dan hak di antara mereka. Pasangan suami istri yang sukses merasa memiliki tanggungjawab besar dan tidak pernah berpikir untuk menggoyahkan ikrar dan ikatan suci di antara mereka. Ikrar hidup bersama akan abadi dengan cinta. Untuk menjaga keutuhan dan kelanggengan janji suci ini, ada banyak cara yang dapat dilakukan.

Anda tentunya masih ingat bahwa pada tulisan-tulisan sebelumnya, telah dipaparkan ciri-ciri pasangan dan keluarga yang sukses. Ciri-ciri tersebut yang pernah disampaikan antara lain; kecenderungan bersama untuk mendorong pasangan maju, menghadirkan cinta dan menanam kasih sayang, berpikir positif dan berbaik sangka, serta saling membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Dari sejumlah penyakit yang mengancam keutuhan rumah tangga adalah tumbuhnya keinginan dan tuntutan yang tidak rasional di antara suami-istri. Terkadang mengetengahkan keinginan-keinginan ini akan mengusik ketenangan keluarga. Kebanyakan pasangan muda terusik dengan hal ini, karena ketidakjelasan pembatas antara keinginan logis dan keinginan yang tak logis. Masalah ini terkadang bisa melukai perasaan mereka.

Titik rawan dalam kehidupan hadir ketika keinginan-keinginan tak logis menumpuk dan tidak terpenuhi, sementara kesabaran suami-istri kian menurun secara bertahap. Akhirnya, perasaan negatif mendominasi dan hubungan mereka menjadi kasar. Keluarga ideal dengan mengatur dan menentukan penantian-penantian rasional, telah menutup jalan bagi masuknya berbagai faktor perpecahan.

Oleh sebab itu, adanya bentuk kesepakatan menyangkut keinginan-keinginannya, dan kesepahaman serta cinta mengalir dalam hidup mereka. Kehidupan bersama yang berimbang akan terbentuk saat hubungan suami-istri dibangun di atas landasan rasional. Dalam kondisi ini, suami-istri tidak memiliki keinginan yang tidak rasional dan yang di luar kemampuan pasangannya.

Manusia karena rasa cinta pada diri sendiri selalu bergerak ke arah kepentingan pribadi. Mungkin dampak buruk sifat ini jarang terlihat kala ia masih sendiri dan belum menikah. Akan tetapi dalam kehidupan bersama karena jalinan hubungan baru, terdapat gesekan antara kepentingan dan selera pribadi suami dan istri. Akhirnya, masalah yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan akan lebih terlihat.

Dalam kondisi ini, jika suami dan istri memiliki perilaku dan pendidikan yang benar, mereka dapat menemukan cara yang logis dan tepat untuk menyelesaikan perbedaan ini dengan mengesampingkan selera pribadi dan cara kekerasan. Akan tetapi, ada pula orang yang mengedepankan kekerasan terhadap pihak lain. Keluarga seperti ini telah mengesampingkan akal sehat dan akibatnya rumah tangga menjadi keruh. Karena semua anggota keluarga tidak punya andil dalam membuat keputusan.

Kesepakatan dan aturan kehidupan sangat diperlukan untuk mengatur hubungan suami-istri. Akan tetapi, aturan ini hanya dapat menjelaskan dengan benar hubungan timbal-balik suami-istri jika ia disusun atas dasar prinsip-prinsip yang benar dan sesuai dengan kebutuhan mental pasangan tersebut. Pihak manapun benar maka harus diakui. Jenis kelamin, usia dan pendidikan sama sekali tidak boleh lebih diprioritaskan di atas nalar dan kebenaran. Oleh karena itu, pria dan wanita tidak boleh memaksakan selera dan pendapatnya kepada pihak yang lain dengan alasan apa pun.

Menjadikan Kebenaran Sebagai Paramenter

Mengikuti kebenaran dan berpandangan logis merupakan bagian dari pesan moral yang terdapat dalam al-Quran dan ajaran Islam. Tentu saja, berpegang pada kebenaran dalam lingkungan keluarga mempunyai dampak-dampak positif dalam hubungan suami-istri. Dalam pandangan Islam, syarat keimanan dan akhlak seseorang adalah cinta pada kebenaran. Dari sunnah dan ucapan para pemimpin agama ini dapat disimpulkan bahwa setiap orang harus menyampaikan dan menerima kebenaran sekalipun pahit baginya.

Suami-istri perlu memperhatikan bahwa terkadang dalam pertengkaran dan perselisihan, pihak lainlah yang benar. Dalam kondisi ini, sebagai bentuk rasa tanggung jawab moral dan agama ia harus mengakui dan menerima kebenaran. Pengakuan ini berasal dari sikap berpegang pada prinsip-prinsip keimanan, dan akan berpotensi menciptakan ketenangan batin bagi manusia, disamping juga menurunkan api kemarahan pihak lain. Tentu saja, lari dari logika dan kebenaran tidak hanya menanamkan sikap dendam dan permusuhan, tapi juga akan meruntuhkan rasa percaya pihak lain.

Dr. Qaimi, seorang pakar ilmu pendidikan mengatakan, "Dalam sebuah keluarga yang di sana terjadi pertengkaran, suasana keluarga dihantam oleh badai yang membuat suami-istri tidak tertarik padanya. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pertengkaran dalam keluarga tidak akan mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan suami istri. Meskipun secara lahiriyah, pertengkaran itu menguntungkan satu pihak, tapi bukan berarti ia menang. Lebih dari itu, dampak lain pertengkaran berpotensi melahirkan kegagalan bagi kedua pihak.

Rambu-rambu Islam tidak mengizinkan seorang suami berperilaku tidak rasional dan menzalimi istrinya. Ajaran Islam lebih mengedepankan toleransi dan sikap lunak terhadap istri atau wanita. Tentu saja, kaum pria yang lebih kuat menahan beban perlu memberikan perhatian khusus mengingat watak lembut dan emosional sensitif pada kaum wanita. Akan tetapi, berdasarkan ajaran Islam dan moral, suami-istri harus mengesampingkan sikap egois dalam lingkungan keluarga. Dan dalam setiap perselisihan, kedua pihak harus mengalah demi maslahat yang lebih besar."

Para psikolog menyarankan beberapa cara demi terciptanya sebuah hubungan rasional dalam lingkungan keluarga. Antara lain: "Gunakanlah argumentasi rasional dalam berkomunikasi dengan pasangan Anda. Namun ketika pasangan Anda sulit menerima realita dan kemungkinan ia akan merasa harga dirinya terancam, saat itu ubah gaya bicara dari kesan menghakimi atau memerintah ke bentuk saran dan anjuran.

Kadang kala, Anda perlu menceritakan kenangan masa lalu Anda dan orang lain yang disitu perselisihan diselesaikan dengan cara rasional. Jika pasangan Anda tidak berpikiran rasional, Anda perlu mengubah karakternya dengan meyakinkannya bahwa ia telah banyak menuai kesuksesan dengan menggunakan cara-cara rasional. Dalam sebuah keluarga yang mengedepankan logika, sama sekali tidak terdengar penghinaan, celaan, dan kritik yang bukan pada tempatnya." (IRIB Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar