Laman

Jumat, 18 November 2011

Pandangan Agama terhadap Kesucian dan Hijab (Bagian pertama)


Kesucian dan hijab merupakan dua nilai luhur yang selalu berdampingan di tengah masyarakat. Sejatinya, hijab adalah perkara zahir, sementara kesucian adalah kondisi batin yang memiliki berbagai dimensi. Sebagian kalangan memandang kesucian jauh melebihi hijab. Karena mereka berkeyakinan, salah satu faktor penyebab munculnya krisis moral dan sosial, karena telah diabaikannya masalah hijab dan kesucian di tengah masyarakat. Filsosof Perancis abad 18, Montesquieu menuturkan, "Dalam gerakan demokrasi, hilangnya kesucian merupakan kesialan dan kerusakan terbesar yang bisa meruntuhkan pondasi pemerintahan".


Menjaga kesucian dan kehormatan memiliki posisi yang penting dalam ajaran agama, dan tergolong sebagai keutamaan akhlak. Betapa banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis nabi yang menegaskan pentingnya masalah kesucian. Sebab tanpa itu, manusia bisa keluar dari alur keseimbangan. Kesucian merupakan salah satu faktor yang efektif untuk mengendalikan syahwat dan hawa nafsu. Terkait hal ini, ustad syahid Mutahhari, menyatakan: "Kesucian dan kehormatan, merupakan kondisi jiwa. Saat daya syahwat tak lagi berkutik lantaran dikendalikan sepenuhnya oleh akal dan iman.
Kesucian merupakan suatu kondisi jiwa yang bisa mencegah manusia dari dosa dan maksiat. Kondisi jiwa semacam ini tidak hanya teruntuk bagi kaum perempuan semata, tapi juga bagi seluruh manusia. Kesucian merupakan akhlak yang utama baik bagi perempuan maupun lelaki. Imam Ali as berkata: "Kesucian adalah sifat yang terbaik dan sumber kebaikan. Derajad orang yang suci seperti halnya derajad dan posisi orang yang syahid di jalan Allah".
Kitab suci Al-Quran menyifatkan nilai kesucian ini, bukan hanya untuk kaum perempuan semata, tapi juga bagi kaum laki-laki. Suatu ketika, nabi Yusuf as dihadapkan dengan gejolak hawa nafsu seorang wanita. Namun dengan bantuan ilahi dan kesucian jiwa, nabi Yusuf pun akhirnya mampu menundukkan hasrat sang wanita, sehingga nabi beliaupun berhasil mencapai derajad yang sempurna.
Begitu juga dengan bunda Mariam. Beliau adalah salah seorang perempuan paling utama karena berhasil menjaga kesucian dirinya. Beliau adalah perempuan yang berhasil menunjukkan bahwa perempuan suci adalah perempuan yang selalu menjaga diri kesucian dirinya di mana pun berada.]
Kesucian tidak hanya terbatas dengan memakai hijab dan pakaian yang tertutup, tapi juga menjelma dalam pikiran, panglihatan, perhiasan, ucapan, dan tindakan. Islam selalu berpesan untuk menjaga penglihatan kita. Imam Ali as, "Mata adalah pemandu hati". Allah swt dalam firmannya dalam surat An-Nur ayat 30 dan 31 terkait masalah hijab, berpesan kepada lelaki dan perempuan agar menjauhkan matanya melihat hal-hal yang diharamkan. Imam Shadiq as berkata: "Pandangan yang haram laksana anak panah beracun dari setan. Barang siapa yang bisa menghindar darinya karena Allah, maka Allah akan memeberinya iman yang bisa dirasakan nikmatnya".
Perempuan dalam masyarakat yang terbiasa dengan budaya syahwat, hanya dipandang sebagai komoditas semata yang harus dipamerkan untuk publik. Dalam situasi masyarakat semacam itu, setiap perempuan saling bersaing untuk menarik perhatian laki-laki. Mereka rela membayar berapapun harganya hanya untuk menghias dan menampilkan dirinya secantik mungkin. Bahkan mereka sudi untuk melakukan operasi kecantikan demi menarik perhatian lelaki. Terkait hal ini, penulis asal AS, Helen Baker, menyatakan: "Dalam masyarakat AS, kosmetika merupakan keperluan primer bagi perempuan yang lebih tua dan memiliki penampilan yang kurang menarik. Mereka mesti bersaing dengan perempuan yang lebih muda dan lebib mempesona. Jika tak mampu membayar biaya kecantikan, mereka pun terpaksa harus bergabung dengan peremupuan tak laku yang tak lagi berhasrat meneruskan hidupnya."
Salah satu dimensi lain kesucian adalah suci dalam berhias diri. Kecendrungan manusia kepada keindahan, adalah salah satu naluri fitri manusia. Islam sebagai ajaran untuk mencapai kebahagiaan, senantiasa memberi perhatian khusus terhadap masalah kebersihan dan keindahan. Imam Shadiq as berkata: "Ketika Tuhan memberikan nikmat pada hambanya, Dia suka melihat pengaruhnya, karena Tuhan itu indah dan mencintai keindahan".
Memakai pakaian yang indah dan berpenampilan yang menarik saat bersosial di lingkungan keluarga dan masyarakat, merupakan salah satu etika Islam. Namun, berhias diri semacam apa yang diperbolehkan oleh Islam, merupakan perkara yang amat penting. Dalam pandangan Islam, kaum perempuan dianjurkan untuk berhias diri di hadapan suaminya, dan memadukannya dengan kasih sayang di lingkungan keluarga. Namun mereka dilarang untuk memamerkan kecantikannya di lingkungan umum dan kepada mereka yang bukan muhrimnya. Pasalnya, selain bisa menyebabkan lelaki lain menjadi tergoda, memamerkan kecantikan perempuan secara bebas, bisa menciptakan krisis moral di tengah masyarakat.
Suci dalam ucapan dan tindakan adalah dimensi lain kesucian. Al-Quranul-Karim, mengajarkan kepada kita cara berbicara yang santun. Ucapan yang suci adalah penuturan yang santun dan suci dari segi cara tuturnya. Nada berbicara harus sedemikian rupa dilantunkan secara etis. Tentu saja, perempuan yang berbicara dengan nada menggoda, bisa manarik naluri lelaki. Karena itu, kaum perempuan harus lebih memperhatikan cara bicaranya dengan yang lain. Allah swt dalam surat Al-Ahzab, ayat 32 berfirman: "Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik!".
Kendati ayat tersebut berbicara kepada istri-istri nabi, namun sejatinya hal itu berlaku pula bagi setiap perempuan. Sebaikanya, jika kaum perempuan berbicara, hindarilah penggunaan nada berbicara yang menggoda. Ucapan buruk dan tak sopan, muncul karena diabaikannya etika berbicara. Menyangkut hal ini, Rasulullah saw bersabda: "Tuhan mengharamkan surga bagi manusia yang berlidah buruk yang tak peduli dengan apa yang dikata dan apa yang didengar."
Akal adalah anugrah ilahi yang paling berharga bagi umat manusia. Karena itu, pikiran dan akal kita harus suci pula. Biasanya, manusia berpikir dahulu sebelum bertindak. Karena itu, kesucian batin dan suci dalam berpikir, akan melahirkan tindakan yang suci pula. Sebaliknya pikiran yang kotor akan membuahkan tindakan dan ucapan yang kotor pula. Imam Ali as berkata: "Barang siapa yang berakal, tentu akan menjaga kesucian dirinya". Menjaga pikiran agar tetap suci akan menjauhkan kita dari godaan setan, dan membuat jiwa kita menjadi suci pula.
Secara umum, tak adanya ruang pemisah antara lelaki dan perempuan, bisa menyulut terjadinya pergaulan bebas dan krisis moral. Menurut laporan yang diterbitkan beberapa waktu lalu oleh Institut Nasional untuk Keadilan (NIJ) AS dan Biro Statistik Keadilan (BJS) AS mengenai aksi kekerasan seksual terhadap perempuan, disebutkan, "Setiap seribu mahasiswi di universitas AS, tiap semester terjadi 35 kasus kekerasan seksual terhadap mereka."
Menjaga dan memperhatikan masalah kesucian di lingkungan masyarakat, termasuk di lingkungan belajar dan kerja, merupakan potensi untuk menciptakan kesehatan psikologis, masyarakat yang suci, dan kemajuan kaum perempuan dan lelaki. (IRIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar