Laman

Jumat, 29 April 2011

Sejarah Trinitas


oleh : DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph
Pengalaman batin orang Kristen di zaman awal

Paham  Trinitas  berasal dari pengalaman batin orang Kristen pengikut Yesus
di  zaman  awal  akan perjumpaan dengan yang ilahi. Pada saat itu belum ada
paham  Trinitas  sebagaimana  dirumuskan  belakangan.  Pengalaman batin itu
mendahului  paham teologisnya.  Para pengikut Yesus itu mengalami Keilahian
dalam tiga bentuk atau modalitas:




(1)   mengalami Keilahian sebagaimana mereka pahami dari kitab-kitab Yahudi
   (Perjanjian  Lama):  sebagai  Pencipta, Tuhan dari sejarah penyelamatan,
   Bapa, dan Hakim;
(2)  mengalami Keilahian di dalam diri Yesus, yang hidup di tengah manusia,
   sebagai "Yang Telah Bangkit Kembali";
(3)  mengalami Keilahian sebagai Roh Kudus yang memberi kekuatan bagi hidup
   baru,  kuasa bagi Kerajaan Allah, sebagaimana misalnya dialami oleh para
   murid pada peristiwa Pentakosta.

Sepanjang  sejarah Kristen, masalah bagaimana mempertemukan pengalaman akan
Keilahian  dalam  tiga  bentuk/modalitas  ini  dengan prinsip keesaan Tuhan
(monoteisme) telah menjadi bahan kajian dan perenungan yang sangat mendalam
bagi   orang   Kristen   yang   saleh.  Ini  menjadi  pendorong  pula  bagi
berkembangnya  suatu  teologi  spekulatif  yang mengilhami metafisika Barat
selama berabad-abad.

Namun,  selama  dua abad pertama Masehi, terdapat berbagai jawaban terhadap
masalah  ini  yang  berdiri berdampingan dan berhadap-hadapan. Pada mulanya
para ahli teologi Kristen itu belum mengkajinya secara spekulatif.
 
 

Perbedaan paham seputar tokoh Yesus

Berbagai  paham  tentang Trinitas itu berpusat pada perbedaan paham tentang
tokoh Yesus. Menurut Injil Yohanes, keilahian Yesus adalah titik awal untuk
memahami  pribadi  dan  karyanya.  Yesus  adalah  keilahian  yang telah ada
sebelum   ruang   dan   waktu   ini  tercipta,  dan  yang  turun  ke  dunia
(berinkarnasi) untuk menebus manusia yang berdosa.

Di  lain  pihak,  Injil  Markus  tidak  berangkat  dari  teologi inkarnasi,
melainkan  memahami  baptisan  Yesus  di sungai Yordan sebagai pengangkatan
manusia Yesus ke dalam kedudukan Putra Allah [Sonship of God], yang terjadi
dengan  turunnya  Roh Kudus dalam wujud burung merpati. Jadi sampai di sini
sudah ada dua pendekatan yang berbeda.

Situasinya  menjadi  makin rumit ketika muncul konsep tentang pribadi ilahi
kedua  yang khas sebagaimana terlihat dalam diri Yesus; sedangkan Roh Kudus
tidak  dilihat  sebagai tokoh berpribadi, melainkan sebagai kuasa/kekuatan,
dan  digambarkan  hanya  dalam  wujud burung merpati atau lidah api. Dengan
demikian,  Roh  Kudus  untuk  sebagian besar terdorong ke belakang di dalam
kesadaran dan liturgi Kristen sehari-hari.
 
 

Masuknya tema-tema Neoplatonik

Di  dalam Injil Yohanes terdapat petunjuk-petunjuk awal dari konsep Kristus
sebagai  Logos,  "Sabda",  yang  sudah ada pada awal segala zaman. Di bawah
pengaruh filsafat Neoplatonisme yang datang belakangan, tradisi ini menjadi
sentral   di   dalam   teologi   spekulatif.   Orang  memikirkan  bagaimana
mempertemukan  prinsip  "keesaan Allah" dengan "triplisitas" (rangkap tiga)
manifestasi  keilahian.  Masalah  ini dijawab dengan menggunakan metafisika
keberadaan [being] dari filsafat Neoplatonisme.

Menurut  filsafat Neoplatonisme, Allah yang transenden, yang berada di atas
segala  keberadaan,  di  atas  segala  rasionalitas,  dan  di  atas  segala
konseptualitas, berangsur-angsur melepaskan transendensi keilahiannya. Pada
tindakan awal dari proses sadar-diri, Logos menyadari dirinya sebagai batin
ilahi (Yunani: nous). (Bandingkan ini dengan ta-ayyun awwal dari Ibn Arabi,
dan  alam wahdatiyah [#2] dari Mas Winarno.) Batin ilahi, yang juga disebut
akal  budi  semesta  yang  bersifat  ilahi,  ini  oleh  filsuf Neoplatonik,
Plotinus, dinamakan "Putra" yang muncul (datang) dari Bapa.

Langkah  berikut  dari  proses  Allah-transenden  menjadi sadar-diri adalah
munculnya  alam ilahi [divine world] di dalam batin ilahi [nous], yakni ide
tentang alam semesta dengan wujud-wujud individualnya sebagai isi kesadaran
ilahi.  (Bandingkan  ini  dengan  ta-ayyun  tsani  dari Ibn Arabi, dan alam
wahidiyah [#3] dari Mas Winarno.)

Di  dalam filsafat Neoplatonisme, baik nous maupun ide alam semesta disebut
hipostasis  (emanasi,  pembabaran,  pengejawantahan  ke "bawah") dari Allah
yang   transenden.   Teologi  Kristen  belakangan  meminjam  dari  filsafat
Neoplatonik ini-metafisika substansi serta doktrin hipostasis-sebagai titik
tolak  untuk  memahami  hubungan  antara  "Allah  Bapa"  dan "Allah Putra".
Hubungan  itu  ditafsirkan  menurut doktrin hipostasis Neoplatonik. Di sini
juga   terkandung   tafsiran  Kristologi  spekulatif  yang  paralel  dengan
spekulasi Neoplatonik tentang Logos.
 
 

Kesulitan dengan Neoplatonisme

Kesulitan bagi orang Kristen dalam meminjam dari Neoplatonisme ialah karena
dalam  doktrin  hipostatisasi tersirat adanya sesuatu yang "berkurang" dari
Allah  yang  transenden  ketika  beremanasi menjadi Logos dan seterusnya ke
bawah;  ada  sesuatu  yang  "melemah",  yang  inheren  di dalam proses yang
berlangsung  secara  hirarkis  itu.  Derajat keilahian itu makin lama makin
berkurang  dengan makin mendekatnya keberadaan ilahi itu kepada materi. (Di
dalam  filsafat  Neoplatonisme,  materi  di anggap sebagai bukan-keberadaan
[nonbeing].)

Jadi,  dengan  mencangkokkan doktrin hipostasis Neoplatonik kepada tafsiran
Kristiani  tentang  Trinitas,  terdapat  bahaya  bahwa berbagai manifestasi
Allah itu-sebagaimana dirasakan dalam pengalaman batin Kristen sebagai:

Bapa,   Putra  dan  Roh  Kudus-berubah  menjadi  hirarki  tuhan-tuhan  yang
bertingkat-tingkat, menjadi politeisme.

Sekalipun  bahaya ini dengan sadar dihindari, dan-berangkat dari Kristologi
Logos-kesamaan   esensi   sepenuhnya  dari  ketiga  manifestasi  Allah  itu
ditekankan,  ada  bahaya  lain  yakni  munculnya kembali triplisitas, yakni
tuhan-tuhan yang setara, yang bertentangan dengan prinsip monoteisme murni.
 
 

Upaya merumuskan Trinitas: "kontroversi Arius"

Pada  abad  ke-3  M orang mulai sadar bahwa upaya memahami misteri Trinitas
menurut  teori hipostasis Neoplatonik tidak memuaskan dan malah menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan  baru.  Puncak  di  mana  kesulitan dasar itu mencuat
secara  teologis  dan  eklesiastik (kelembagaan gereja) ke permukaan secara
mencolok adalah apa yang disebut "kontroversi Arius".

Arius  termasuk aliran teologi Antiokhia, yang menekankan historisitas dari
manusia  Yesus.  Dalam  teologinya,  Arius  mempertahankan pemahaman formal
tentang  keesaan Allah, persis seperti ditekankan oleh doktrin Tauhid dalam
Islam, dan deklarasi "Shema" dalam agama Yahudi.

Di  dalam  mempertahankan  keesaan  Allah  itu,  Arius  terpaksa menyanggah
kesamaan  antara  hakikat  Putra dan Roh Kudus di satu pihak dengan hakikat
Allah  Bapa  di  lain  pihak.  Paham  ini ditekankan oleh para pemikir dari
aliran teologi Aleksandria yang dipengaruhi filsafat Neoplatonisme.

Dari sejak awal, kontroversi antara kedua kelompok ini bertumpu pada konsep
metafisikal  mengenai substansi dari Neoplatonisme-konsep itu sendiri asing
bagi Perjanjian Baru-yakni pertanyaan: apakah esensi itu? Tidak heran bahwa
kemudian  kontroversi  ini  dirumuskan  dalam slogan: "kesamaan esensi [dan
oleh  karena  itu  setara]"  [homoousion]  vs.  "kemiripan esensi [dan oleh
karena  itu,  tak  sama  dan  tak setara]" [homoiousion] di antara berbagai
pribadi  ilahi  itu.  (Orang-orang  yang  sinis-macam Gibbon- berkata bahwa
orang  Kristen  menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat tentang sebuah
huruf  hidup:  "i" [iota] dalam  "ou" vs. "iou". Dari sinilah asal ungkapan
populer  dalam  bahasa  Inggris: "It makes not one iota of difference." :-)
Tapi  bagi  penganut kental Kristen perbedaan satu huruf itu berarti sangat
penting.)
 

Kristologi-malaikat

Posisi  dasar  dari Arius adalah menyanggah kesamaan esensi dari Putra (dan
Roh  Kudus)  dengan  esensi Allah Bapa, untuk mempertahankan keesaan Allah.
Dengan  demikian  menurut Arius, Putra menjadi "Allah kedua, di bawah Allah
Bapa  [subordinated]"-  artinya,  ia adalah Allah dalam arti kiasan belaka,
oleh  karena  dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, posisi Putra berada di pihak
Ciptaan,   sekalipun   berada   pada   puncak  Ciptaan  (merupakan  ciptaan
tertinggi).

Di  sini  Arius  bergabung  dengan suatu tradisi Kristologi yang lebih tua,
yang  telah  menyebar  di  Roma pada awal abad ke-2 M. Menurut tradisi yang
disebut  "Kristologi-malaikat" ini, turunnya Putra ke bumi dipahami sebagai
turunnya  pemimpin  malaikat  ke bumi, yang menjelma menjadi manusia Yesus;
dia pernah pula diidentifikasikan dengan malaikat Mikail.

Dalam   Kristologi-malaikat   kuno   ini   telah  ditampilkan  tekad  untuk
mempertahankan  keesaan  Allah,  yang  membedakan iman Yahudi dan Kristiani
dari  iman-iman  pagan  di  sekitarnya.  Putra  bukanlah Allah itu sendiri,
melainkan  sebagai  yang tertinggi di antara makhluk-makhluk spiritual yang
tercipta; dengan demikian dia ditempatkan sedekat mungkin dengan Allah.

Arius  bergabung  dengan  tradisi  kuno  ini dengan tujuan yang sama: yakni
mempertahankan  prinsip  monoteisme Kristiani terhadap segala tuduhan bahwa
agama Kristen menampilkan suatu bentuk politeisme baru yang lebih halus.
 
 

Kalau Yesus ciptaan juga, bagaimana dia bisa menebus ciptaan? -- Athanasius

Tidak  ayal  lagi, upaya yang dipelopori Arius untuk mempertahankan keesaan
Allah  membawa  orang  Kristen kepada suatu dilema: kalau di dalam dikotomi
Pencipta-Ciptaan,  Yesus  berada  di  pihak  Ciptaan,  padahal  Ciptaan itu
memerlukan  penebusan,  bagaimana  Yesus  bisa  menebus dunia? Jadi, secara
keseluruhan  Gereja  Kristen  menolak  upaya  formal  untuk  mempertahankan
keesaan  Allah yang dipelopori Arius itu sebagai serangan terhadap realitas
penebusan.

Juru  bicara  utama  dari  pihak  ortodoksi  gereja  adalah Athanasius dari
Aleksandria.    Bagi   dia,   titik   tolaknya   bukanlah   suatu   prinsip
filosofis-spekulatif,  melainkan realitas penebusan, kepastian keselamatan.
Menurut  dia,  penebusan umat manusia dari dosa dan maut hanya bisa dijamin
jika  Yesus  adalah Allah sepenuhnya dan sekaligus manusia sepenuhnya, jika
esensi   Allah   meresapi  manusia  sampai  lapisan  terdalam  dari  sumsum
tulangnya.

Hanya  apabila Allah dalam makna esensi ilahi sepenuhnya menjadi manusia di
dalam  Yesus  maka  dapat  dijamin  pengilahian [deification] manusia dalam
makna penaklukan dosa dan maut sebagai kebangkitan daging kembali.

Konsili Nikea (325 M)

Pada  konsili  Nikea,  20  Mei  35 M, tidak banyak uskup menganut pandangan
Athanasius   ini.   Kebanyakan  mengambil  sikap  di  tengah-tengah  antara
Athanasius  dan Arius. Namun dengan dukungan Kaisar Konstantin dan rekayasa
Athanasius-mungkin  persis  sama  seperti  sidang-sidang  umum MPR di zaman
Orba-akhirnya  Athanasius  menang.  Hanya  Arius bersama dua uskup temannya
menolak menandatangani Kredo Nikea.

Kredo Nikea ini berbunyi:

   "Kami percaya akan satu Allah,
   Bapa yang Mahakuasa,
   pencipta segala sesuatu, yang tampak dan tak tampak,
   dan pada satu Tuhan, Yesus Kristus,
   Putra Allah,
   tunggal dilahirkan dari Bapa,
   yakni, dari zat [ousia] Bapa,
   Allah dari Allah,
   cahaya dari cahaya,
   Allah sejati dari Allah sejati,
   dilahirkan bukan diciptakan,
   mempunyai zat sama [homoousion] dengan Bapa,
   melalui dia segala sesuatu diciptakan,
   segala sesuatu yang ada di surga dan
        segala sesuatu yang ada di bumi,
        yang demi kita manusia dan demi penyelamatan kita,
        turun [ke dunia] dan menjadi manusia,
   menderita,
   bangkit kembali pada hari ketiga,
   naik ke surga,
   dan akan datang
   mengadili orang yang hidup dan yang mati.
   Dan kami percaya akan Roh Kudus."

Sehabis   konsili  Nikea,  bukan  berarti  kontroversi  itu  pun  berakhir.
Kontroversi  Arius ini berlangsung selama 60 tahun lagi. Arius dkk berjuang
terus   dan   berhasil  mempengaruhi  Kaisar  yang  memerintah.  Akibatnya,
Athanasius  sempat  diasingkan  sampai  lima kali. Demikianlah, kaisar demi
kaisar  silih  berganti,  yang  satu  mendukung  Arianisme,  dan  yang lain
mendukung  Kredo  Nikea.  Persis  seperti  persaingan antara Buddhisme yang
"asing" vs. Konfusianisme yang "asli" di Tiongkok di zaman kuno.

Paham   Athanasius   pada   waktu   itu  sukar  diterima.  Terutama  konsep
"homoousion"  ["berzat  sama"]  yang  dikenakan  terhadap  Bapa  dan  Putra
mengandung  nuansa  materialistik;  seperti orang mengatakan bahwa dua mata
uang "berzat sama". (Apakah Allah mempunyai zat seperti mata uang mempunyai
zat?)  Selain  itu  istilah  itu  tidak  terdapat dalam Alkitab. Juga tidak
dijelaskan bagaimana bisa Allah Putra "berzat sama" dengan Allah Bapa tanpa
menjadi "Tuhan kedua". Kredo Nikea seperti apa adanya dapat dituduh sebagai
triteisme (tiga Tuhan).

Namun  baik  kubu  Athanasius  maupun  kubu Arius sependapat akan datangnya
sesuatu  yang  baru  yang  dibawa  oleh  Yesus  ke  dunia.  Mereka  mencoba
menjelaskan  pengalaman  ini  di  dalam  kerangka simbol-simbol yang mereka
pahami.  Dan  penjelasan  itu  menjadi  kredo (rumusan iman). Pengalamannya
sama,  tapi  kredonya  bertentangan, di antara Arius dan Athanasius. Tetapi
pengalaman  keilahian  itu  sendiri  sebenarnya tak dapat diutarakan dengan
kata-kata   [ineffable].   Sifat   pengalaman   transendental  itulah  yang
menyebabkan  timbulnya  penjelasan  iman  dari berbagai sudut pandang, yang
bisa bertentangan satu sama lain.

Sayangnya,  di  dunia Kristen perlahan-lahan berkembang ketidaktoleranan di
bidang dogmatik. Orang harus mengikuti rumusan-rumusan (simbol-simbol) yang
dianggap  "benar"  dan  mengikat.  Obsesi  doktrinal, yang khas dalam agama
Kristen  ini, dapat dengan mudah mengacaukan simbol-simbol manusiawi dengan
realitas  ilahi.  Inilah  yang  menyebabkan  mudah  pecahnya  agama Kristen
menjadi  begitu  banyak  gereja, yang bersifat eksklusif satu terhadap yang
lain.
 

Rumusan Trinitas yang final

Rumusan   Trinitas  yang  final  adalah  apa  yang  dikenal  sebagai  Kredo
Athanasius  (sekitar  th  500  M)  --yang  sebetulnya  bukan  ditulis  oleh
Athanasius, karena dia wafat th. 373 M. Kredo itu pada dasarnya menekankan:

"una  substantia-tres  personae"  ("satu  zat,  tiga pribadi"). Rumusan ini
diterima sebagai akidah resmi Gereja Katolik dan beberapa Gereja Protestan.

Secara  praktis  rumusan  ini  merupakan suatu kompromi, yang di satu pihak
berpegang  teguh  pada  kedua  landasan  iman  Kristen  (keesaan  Allah dan
pengungkapan-diri  Ilahi  di  dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus), dan di lain
pihak  tidak  merasionalisasikan  misteri itu sendiri. Pada akhirnya, sudut
pandang yang dianut tetap definitif, dalam arti bahwa realitas penyelamatan
dan  penebusan  tetap  dipertahankan dan tidak dikorbankan demi kepentingan
monoteisme rasional.

Pada awal dan akhir naskah Kredo Athanasius ini terdapat peringatan keras:

bahwa  barangsiapa  menyeleweng  dari  akidah ini tidak akan terselamatkan.
Kerasnya  peringatan  ini  menyebabkan beberapa ahli teologi, terutama dari
Gereja Anglikan, menuntut akidah ini dibatasi atau ditinggalkan.

Ini  adalah  contoh  ketidaktoleranan  Gereja Kristen Barat terhadap sesama
Kristen yang menganut rumusan akidah berbeda. Ini disebabkan Gereja Kristen
Barat  lebih  menekankan  kerigma  (yang  filosofis)  daripada  dogma (yang
kontemplatif).  (Lihat  bawah)  Itulah  pula sebabnya kelak Inkuisisi serta
pengejaran  dan  penindasan kelompok-kelompok yang berbeda akidah merupakan
ciri khas Gereja Barat dan tidak terjadi di Gereja Timur.
 
 

Para Bapa Kapadosia

Secara  rasional,  orang  Kristen dihadapkan kepada pertanyaan abadi: Kalau
hanya  ada satu Allah, bagaimana Logos bisa ilahi? Terhadap pertanyaan ini,
para  Bapa  Kapadosia  (abad ke-4 M) memberikan jawaban, yang akhirnya bisa
memuaskan  Gereja  Ortodoks  Timur.  Tetapi  jawaban itu berasal bukan dari
pendekatan filosofis, melainkan dari pendekatan kontemplatif.

Yang  disebut  para  Bapa  Kapadosia terdiri dari tiga tokoh: (1) Basilius,
Uskup  Kaesarea;  (2)  adiknya  Gregorius,  Uskup  Nyssa;  (3)  sahabatnya,
Gregorius  dari Nazianzus. Mereka menyenangi filsafat dan spekulasi di satu
pihak, namun di lain pihak mereka juga orang-orang yang saleh. Mereka yakin
bahwa  hanya  pengalaman batiniah sajalah yang dapat memberikan kunci untuk
memahami Allah.

Mereka  mengenal Plato, yang membedakan antara filsafat (yang rasional) dan
mitologi  (yang  nonrasional)  -- kedua-duanya dapat memberikan pengetahuan
yang  sama  pentingnya.  Mereka  juga mengenal Aristoteles, yang menyatakan
bahwa  orang  memeluk  agama-agama  misteri  bukan untuk belajar [mathein],
melainkan untuk mengalami [pathein].

Basilius  mengungkapkan  sudut  pandang yang sama dalam kerangka Kristiani,
yakni  dengan membedakan antara kerygma dan dogma. Kedua ajaran Kristen itu
sama pentingnya. Mnurut Basilius, kerygma adalah ajaran gereja yang terbuka
untuk  umum,  berdasarkan  Alkitab.  Sedangkan  dogma  mengandung kebenaran
Alkitabiah  yang  lebih dalam, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman
batiniah dan diungkapkan dalam wujud-wujud simbolik.

Di  samping pesan yang gamblang dari Injil, terdapat suatu tradisi esoterik
yang rahasia, yang diwariskan "sebagai misteri" dari para rasul; ini adalah
"ajaran privat dan rahasia" ...

     "...  yang  dipelihara  oleh  para  bapa suci di dalam keheningan yang
     mencegah
     kecemasan dan keingintahuan .... untuk dengan keheningan itu menjaga
     kesucian   dari  misteri  ini.  Mereka  yang  belum  diinisiasi  tidak
     diperbolehkan
     melihat hal-hal ini: maknanya tidak boleh diungkapkan dalam tulisan."
     [Basilius, On the Holy Spirit]
 

Perbedaan Kristen Barat dan Kristen TImur dalam melihat Trinitas

Gereja   Kristen  Barat  (Latin)  kelak  akan  menjadi  agama  yang  banyak
berfilsafat  dan  berargumentasi;  akibatnya,  perdebatan  mengenai hakikat
keilahian akan sering mencuat di Barat. Sebaliknya, di dalam Gereja Kristen
Timur  (Ortodoks  Yunani),  teologi  yang baik adalah teologi yang bersikap
apofatik (berdiam diri dalam kontemplasi).

Seperti  dikatakan  oleh Gregorius dari Nyssa, "setiap konsep tentang Allah
hanyalah  sekadar  gambaran,  kemiripan yang tidak tepat, suatu berhala: ia
tidak  dapat  mengungkapkan  Allah itu sendiri." Gregorius menekankan bahwa
"... penglihatan dan pengetahuan yang sejati akan apa yang kita cari justru
terletak  di  dalam  tidak  melihat,  di  dalam kesadaran bahwa tujuan kita
mengatasi  segala  pengetahuan,  yang  di  semua sisi dibatasi oleh dinding
kegelapan dari kemustahilan-pemahaman [incomprehensibility]."

Kita  tidak  dapat  "melihat" Allah secara intelektual, tetapi apabila kita
membiarkan  diri kita diliputi "awan yang turun di gunung Sinai", kita akan
merasakan  kehadirannya. Basilius kembali kepada pembedaan yang dibuat oleh
Philo  antara  esensi  Allah  (ousia)  dan kegiatan-Nya (energeiai) di alam
semesta:  "Kami  mengenal  Allah  kami hanya dari kegiatan-Nya, tetapi kami
tidak  berupaya  mendekati  esensinya." Inilah yang akan menjadi pendekatan
kunci di dalam seluruh teologi Gereja Timur di kemudian hari.

Para  Bapa  Kapadosia  juga  menaruh  perhatian  terhadap konsep Roh Kudus.
Mereka  merasa konsep ini hanya disinggung sepintas lalu saja dalam Konsili
Nikea:  rumusan  "Dan kami percaya akan Roh Kudus" dalam Kredo Nikea terasa
hanya  sebagai  embel-embel yang ditambahkan belakangan. Siapakah Roh Kudus
itu? Sekadar nama lain dari Allah, atau ada sesuatu yang lain?

Gregorius  dari  Nazianzus  mencatat  bahwa  "Ada  orang  melihat Roh Kudus
sebagai  kuasa  [kegiatan],  ada  yang melihatnya sebagai makhluk, ada yang
melihatnya   sebagai  Allah,  sedangkan  yang  lain  tidak  bisa  mengambil
keputusan."  Santo  Paulus  berbicara  tentang  Roh  Kudus yang membaharui,
menciptakan  dan  dan memuaskan; padahal kegiatan ini hanya dapat dilakukan
oleh  Allah.  Oleh  karena  itu,  Roh Kudus yang di dalam diri kita disebut
sebagai  penyelamat  kita,  haruslah bersifat ilahi, bukan sekadar makhluk.
Para  Bapa  Kapadosia  meminjam  ungkapan  yang  digunakan Athanasius dalam
menghadapi  Arius:  "Allah  memiliki satu esensi (ousia) --yang tidak dapat
kita   kenali-dan   tiga  pengejawantahan  (hypostases)  --yang  membuatnya
dikenal."

Alih-alih  berdebat  tentang  esensi  (ousia)  Allah  (yang  tidak  mungkin
diketahui),  para  Bapa Kapadosia berangkat dari pengalaman manusia tentang
pengejawantahan  (hypostases)  Allah. Ousia (esensi) adalah hakikat sesuatu
di  dalam  dirinya  (bagi  Allah,  ini  tidak  mungkin  diketahui manusia);
sedangkan  hypostases  (pengejawantahan)  adalah  gambaran  tentang sesuatu
dilihat dari luar dirinya (bagi Allah, inilah yang dialami manusia).

Gereja Ortodoks Timur: Trinitas bukanlah Allah itu sendiri, melainkan

hypostases Allah

Yang  penting  adalah,  menurut  Gregorius  dari  Nyssa,  bahwa  hypostases
(pengejawantahan)  Bapa, Putra dan Roh Kudus itu tidak boleh dipandang atau
diidentifikasikan  sebagai  Allah  itu  sendiri,  oleh  karena  "... esensi
(ousia)  Keilahian  tidak  terkatakan  dan  tidak  dapat diberi nama." Maka
"Bapa",  "Putra",  dan  "Roh  Kudus" hanyalah sekadar "istilah-istilah yang
kita  gunakan"  untuk  menyebut energeiai (aktivitas) yang dengan itu Allah
(yang tersembunyi) memperlihatkan Diri-Nya.

Namun,   istilah-istilah   ini   juga   mempunyai  makna  simbolik,  karena
menerjemahkan  realitas  yang tidak terbayangkan menjadi gambar-gambar yang
dapat  kita tangkap. Manusia mengalami Allah sebagai transenden (Bapa, yang
tersembunyi  di  dalam  awan yang tak terjangkau), sebagai kreatif (Logos),
dan sebagai imanen (Roh Kudus).
 
 

Menyikapi Trinitas

Bagi   Gereja   Ortodoks  Timur,  Trinitas  hanya  dapat  dipahami  sebagai
pengalaman   spiritual   atau   mistikal;  Trinitas  harus  dialami,  bukan
dipikirkan,  karena  Allah  melampaui  segala  konsep  manusiawi.  Trinitas
bukanlah  rumusan  logis  atau  intelektual, melainkan paradigma imajinatif
yang membingungkan akal budi.

Bagi orang Kristen di Timur, kontemplasi terhadap Trinitas tetap memberikan
pengalaman  spiritual  yang  mengangkat;  sedangkan  bagi  orang Kristen di
Barat,  Trinitas  menimbulkan  perdebatan. Perbedaan sikap antara Barat dan
Timur  ini  tampak  pula dalam memahami istilah theoria. Bagi orang Kristen
Timur,  theoria  berarti  kontemplasi  (penghayatan);  sedangkan bagi orang
Kristen  Barat,  theoria  (teori)  berarti  hipotesis  rasional  yang harus
dibuktikan  secara logikal. Mengembangkan "teori" tentang Allah menyiratkan
bahwa Dia dapat ditangkap oleh pemikiran manusia.

Orang  Kristen  Timur  menekankan  aspek dogmatik dari Trinitas (yang hanya
dapat  dipahami  secara intuitif); sedangkan orang Kristen Barat menekankan
aspek  kerigmatik  dari Trinitas, yang menimbulkan argumentasi, kontroversi
dan paradoks-paradoks.

Trinitas   sebagai   paradigma  imajinatif  sebenarnya  dikembangkan  untuk
mencegah  pendekatan  yang terlalu rasionalistik terhadap Tuhan sebagaimana
ditampilkan  oleh  Arius.  Doktrin  Inkarnasi  sebagaimana tampil di Nikea,
mengandung  bahaya idolatri yang simplistik: Tuhan dipahami mempunyai sifat
dan  kegiatan  tidak  ubahnya sebagai manusia: berpikir, bertindak, membuat
rencana    sebagai    manusia.   Dari   situ,   manusia   akan   mengenakan
pikiran-pikirannya  sendiri  (yang  eksklusif)  pada Tuhan sehingga menjadi
absolut. Inilah akar dari sikap-sikap eksklusivistik dalam agama.

Ketika pada abad ke-18 M pemikiran rasional mulai membudaya di dunia, orang
Kristen  Barat  mencoba  merasionalkan  Tuhan  pula.  Ini  yang menyebabkan
munculnya  pernyataan  "Tuhan telah mati" di Barat. Sedangkan orang Kristen
Timur  tetap  melihat  Trinitas bukan sebagai pernyataan faktual, melainkan
sebagai  pernyataan  puitik  atau  sebagai  tarian teologis antara apa yang
dipercaya manusia dengan kesadaran bahwa kepercayaan kerigmatik seperti itu
hanya  bersifat  sementara  [sampai  diperoleh  pengalaman  spiritual  yang
membenarkannya].
 
 

Masa-masa sesudahnya: periode rasionalistik

Perkembangan  khas  pada  masa-masa  selanjutnya  di  dunia Kristen, ketika
filsafat   rasionalistik  mulai  membudaya,  dan  aspek  penyelamatan  dari
Trinitas mulai terdesak ke belakang, aliran-aliran anti-Trinitas pun muncul
kembali.  Banyak  yang dengan sadar menganut pandangan Arius yang rasional:
misalnya, kaum humanis Pencerahan pada abad ke-16 M, dan kaum anti-Trinitas
pada masa Renaisans Italia.

Dalam   gerakan   yang   disebut  Protestan  (Reformasi)  radikal,  terjadi
pergeseran  peran  Yesus  dari  Penebus menjadi lebih bersifat profetik dan
merupakan pemimpin dan teladan utama bagi orang beriman. Yesus adalah tokoh
yang  mengutuk  kaum  agama  dan  politikus yang mapan, mengecam kaum kaya;
begitu  pula  seharusnya  diteladani  oleh  orang  beriman. Munculnya sekte
Anabaptis  yang  dikejar-kejar  oleh  pimpinan  Gereja  Katolik  dan Gereja
Protestan  lain;  kisah Michael Servetus yang dihukum mati oleh "Inkuisisi"
Protestan,  merupakan  contoh dari paradigma persekusi yang diterima dengan
tabah  oleh  para  tokoh  gerakan  Reformasi radikal ini. Mereka meneladani
Yesus yang juga dikejar-kejar dan mati di kayu salib.

Gerakan radikal pada abad ke-16 M ini kelak mengambil bentuk sebagai aliran
Unitarianisme.   Aliran  ini  berpendapat  bahwa  doktrin  Trinitas  adalah
penyimpangan   dari   Alkitab,   dan   bahwa   monoteisme  sederhana  dapat
dipertahankan  apabila  Kristus  tidak dilihat sebagi pengejawantahan penuh
dari Allah.

Ada  suatu  hubungan  langsung antara paham anti-Trinitas dengan penelitian
kehidupan  Yesus  pada  abad  ke-18 M. Pelopor penelitian ini ialah Hermann
Reimarus  dan  Karl  Bahrdt,  yang  menggambarkan  Yesus sebagai agen suatu
tarekat  pencerahan  yang  tertutup  (kaum  Essene),  yang  bertujuan untuk
menyebarluaskan  agama akal budi di dunia. Kedua peneliti itu juga bersikap
anti-Trinitas  dan  memelopori  gerakan  kritik  rasionalistik yang radikal
terhadap dogma-dogma gereja.

Ilmuwan  terkemuka,  Sir  Isaac Newton (abad ke-17 M), mempunyai minat pada
agama  dan teologi. Pada awal th 1690-an, ia mengirimkan kepada sahabatnya,
John  Locke,  satu kopi tulisannya yang mencoba membuktikan bahwa ayat-ayat
yang   menyiratkan  Trinitas  di  dalam  Perjanjian  Baru  adalah  tambahan
belakangan  yang disisipkan oleh kubu Athanasius. Ketika John Locke berniat
menerbitkan  karya  itu,  Newton  segera  menariknya  kembali, karena takut
pandangannya yang anti-Trinitas diketahui umum.

Kritik  Immanuel  Kant  (abad  ke-18 M) terhadap "bukti-bukti" adanya Tuhan
menyebabkan  merosotnya  doktrin  Trinitas  lebih  jauh.  Di dalam filsafat
Idealisme  Jerman,  Hegel,  dalam  upaya  mengangkat dogma Kristen ke dalam
lingkup konseptual, mengambil doktrin Trinitas sebagai landasan bagi sistem
filsafatnya    serta    tafsirannya   terhadap   sejarah   sebagai   proses
pengejawantahan roh mutlak menjadi sadar-diri.

Pada  masa  yang  lebih  mutakhir,  aliran  teologi  dialektis di Eropa dan
Amerika Serikat cenderung mereduksikan doktrin Trinitas dan menggantikannya
dengan monokristisme. Monokristisme adalah kecenderungan dalam praktek iman
Kristen  sehari-hari,  ketika  tokoh Putra mendesak tokoh Bapa ke belakang,
ketika tokoh Pencipta dan Pemelihara alam semesta dikesampingkan oleh tokoh
Penebus.  Gejala ini terlihat pada kehidupan liturgis sehari-hari. Terdapat
tarik-menarik  antara  teologi  Kristen  (Trinitas)  dan  kesalehan Kristen
(dengan titik berat pada Yesus Kristus).

Suatu  bentuk  monokristisme yang radikal adalah Gerakan "Jesus Only", yang
muncul  di  dalam  Gereja Pentakosta. Gerakan ini menyatakan bahwa baptisan
yang  benar  adalah  "Atas  nama  Yesus"  semata, bukan atas nama Trinitas.
Gerakan  yang mulai pada th 1913 di Kalifornia ini menolak doktrin Trinitas
tradisional,  dan  hanya mengakui pribadi Yesus satu-satunya sebagai Allah.
Gerakan ini menyebabkan pecahnya aliran Pentakosta menjadi beberapa gereja.

Pada  suatu  peristiwa  yang  singkat  tapi dipublikasikan secara luas pada
pertengahan  tahun  1960-an, sejumlah ahli teologi Protestan terkemuka yang
terlibat  dalam  kritik  budaya mengamati dan menyatakan bahwa "Tuhan telah
mati".   Teologi  "matinya  Tuhan"  mengesampingkan  segala  paham  tentang
transendensi  ilahi,  dan meletakkan seluruh sifat Kekristenan pada manusia
Yesus  dari  Nazareth.  Dogma  Kristen  ditafsirkan ulang, dan direduksikan
menjadi  sekadar  sosialitas  dan kemerdekaan manusiawi. Tak lama kemudian,
mayoritas  ahli  teologi  menanggapi  aliran  kecil  ini dengan menampilkan
kembali   dogma   Kristen   klasik,   yang   menekankan  perjumpaan  dengan
transendensi ilahi dalam setiap wacana tentang Yesus Kristus.
 
 

Penemuan kembali transendensi ilahi

Pada   zaman   pasca-modernisme  sekarang  ini,  transendensi  ilahi  telah
ditemukan  kembali"setidak-tidaknya diindikasikan"oleh sains dan sosiologi.
Teologi pada dasawarsa penutup abad ke-20 M ini berupaya mengatasi tafsiran
yang  bersifat antropologis semata tentang agama, dan sekali lagi menemukan
secara  baru  landasan  transendensinya. Konsekuensinya, teologi dihadapkan
pada  masalah Trinitas dalam bentuk baru, yang menurut pengalaman Kristiani
akan  Allah  sebagai  kehadiran  Bapa,  Putra  dan  Roh  Kudus  tidak dapat
dihilangkan.  Pemahaman  baru  akan Trinitas ini ditandai dengan pergeseran
dari  pendekatan filosofis-metafisikal kepada pendekatan kontemplatif. Juga
dipengaruhi  oleh  perjumpaan  dengan  paham-paham  lain yang non-Kristiani
tentang inkarnasi dan emanasi transenden, dalam rangka dialog antariman.

[Disarikan  dan  dirangkum  dari Encyclopaedia Britannica dan "A History of
God" (Karen Armstrong).]

Uraian tentang sejarah pemahaman dan penyikapan terhadap konsep Trinitas di
atas  menggarisbawahi  bahwa  semua  sudut  pandang tersebut -baik yang pro
maupun  yang  kontra,  baik  yang  "resmi"  maupun yang tidak- adalah upaya
manusia  untuk menyelami hal-ihwal keilahian. Upaya ini pada garis besarnya
menggunakan     dua     pendekatan:     di     satu    pihak,    pendekatan
filosofis-intelektual, dan dilain pihak, pendekatan kontemplatif-meditatif.

Rekan-rekan  yang  menganut  salah  satu  paham  Trinitas  tertentu sebagai
rumusan  imannya,  mungkin  ada yang memahami rumusannya sebagai "terilhami
oleh  Roh  Kudus".  Hal  ini  dapat dipahami sepenuhnya. Namun, karena saya
pribadi  berangkat  dari sikap sekuler yang netral terhadap berbagai akidah
yang  ada,  maka  saya  melihat  berbagai paham Trinitas itu tidak ada yang
lebih "benar" atau lebih "salah" yang satu terhadap yang lain.

Bersimpati  dengan pendekatan Gereja Ortodoks Timur, saya berpendapat bahwa
paham  Trinitas  adalah  simbol-simbol  yang  mengacu kepada suatu realitas
transenden  yang  berada di baliknya, yang pada dasarnya tidak terbayangkan
dan  tidak  terkatakan oleh otak manusia. Realitas itu hanya dapat didekati
dan   dialami   di  dalam  kontemplasi-meditatif,  bukan  dengan  pemikiran
diskursif-filosofis.   Realitas   itu   tercermin   pula  di  dalam  banyak
simbol-simbol lain yang non-Kristiani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar