Laman

Jumat, 29 April 2011

SEMERBAK HARUM MAHDI


Semerbak Harum Mahdi as 1

Imam Mahdi as
Malam telah berakhir, matahari keadilan dan kebebasan muncul di ufuk hati manusia. Seorang manusia agung bangkit dan dengan tangan penuh kasih sayangnya, menanamkan persahabatan dalam hati umat manusia. Ia memiliki wajah penuh pesona, cerah, dan bersahaja. Di hadapan Allah swt dan kebesaranNya, ia adalah manifestasi keindahan dan keagungan Allah swt. Imam Mahdi as adalah sosok yang adil, suci, berperilaku baik, dan berwibawa. Ia tidak akan membiarkan terjadi ketidakadilan meski hanya setitik pun, dan dengan lentera hidayahnya, ia akan menerangi seluruh dunia hingga iman dan keadilan yang sesungguhnya dapat terwujud.


Kini berabad-abad telah berlalu sejak manusia menjejakkan kaki pada peradaban dan budaya moderen. Ketika memasuki tahap atau fase baru dalam perjalanan peradabannya, manusia mengira dapat menyelesaikan seluruh masalahnya. Namun setelah beberapa waktu, manusia harus berhadap-hadapan dengan masalah baru. Kemudian setelah tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut, manusia akan menyadari bahwa ia membutuhkan sang penyelamat untuk mengentaskan manusia dari masalah hakikinya yaitu kesesatan dan kefasadan.
Salah satu fakta nyata di dunia dewasa ini adalah perluasan kezaliman, pelanggaran, dan arogansi. Saat ini kita hidup di dunia yang dipenuhi manusia-manusia yang pada umumnya hidup untuk diri mereka sendiri. Hubungan mereka dengan orang lain berkaitan erat dengan tuntutan materi serta persahabatan mereka berasaskan untung dan rugi. Umat manusia dewasa ini setelah mendapatkan sesuatu, mereka mengejar mimpi baru dan selalu merasa tidak tenang.
Kita tengah hidup di masa ketika keamanan, perdamaian, dan ketenteraman sejati, menjadi sesuatu yang hilang dari dimensi kehidupan. Tren konsumerisme semakin meningkat setiap hari, sementara alam dan lingkungan hidup menuju kepada kehancuran. Keadilan dan dukungan terhadap hak asasi manusi, merupakan kata-kata indah yang mengalir dari mulut orang-orang yang mengklam diri sebagai perwakilan umat manusia. Namun pada saat yang sama, dengan penuh kesombongan mereka melakukan kejahatan di berbagai belahan dunia setiap hari.
Pada masa krisis yang seakan tidak pernah berakhir ini, hanya petunjuk dari Allah swt yang dapat menerangi hati manusia dan menyelamatkan mereka. Seperti yang difirmankan oleh Allah swt, suatu hari kelak akan muncul tatanan baru yang memberikan warna baru di dunia. Pada hari itu, Imam Mahdi as dengan aroma harum kemunculannya akan bersinar di hati manusia dan memberikan energi baru dalam kehidupan. Ia akan menebarkan rasa kasih sayang dan cinta ke seluruh penjuru dunia serta mengembalikan asas hubungan sosial yaitu berdasarkan kasih sayang dan persahabatan.
Imam Mahdi as adalah putra Imam Hasan Askari as. Ibu beliau bernama Narjes Khatun yang merupakan putri raja Romawi dan dibawa ke Baghdad melalui peristiwa yang sangat menakjubkan. Kemudian ia pergi ke Samarra dan menikah dengan Imam Hasan Askari as. Imam Mahdi as adalah hujjah atau imam terakhir Allah swt untuk umat manusia yang saat ini tengah menjalani masa kegaiban. Pada akhirnya, Imam Mahdi as akan muncul dengan kehendak Allah swt serta memenuhi dunia dengan keadilan dan keamanan.
Dalam ajaran agama telah disebutkan banyak hadis tentang kemunculan Imam Mahdi as, tanda-tanda kemunculannya, dan tentang kebangkitan melawan kezaliman. Dalam hadis, Imam Mahdi as diumpamakan sebagai cahaya Allah, pedang tajam, pewaris ilmu, sang penyadar, dan perusak istana-istana kezaliman. Imam Mahdi as mewarisi karakter seluruh auliya Allah. Oleh karena itu, Imam Mahdi memiliki seluruh sifat para nabi termasuk adil, sabar, pengasih, pemberani, dermawan, dan tawadhu'.
Banyak para penyair yang menyamakan Imam Mahdi as dengan Nabi Yusuf. Dalam menyifatinya mereka menekankan poin ini bahwa Imam Mahdi sama dengan Nabi Yusuf yang ghaib dari pandangan masyarakat umum. Ia tidak dikenal di tengah masyarakat untuk menempuh jalan yang benar. Dengan kata lain, Imam Mahdi as bagaikan matahari yang tersembunyi di balik awan tebal namun umat manusia tetap dapat merasakan manfaat eksistensinya, meski mereka tidak dapat menyaksikannya.



Semerbak Harum Mahdi as 2

Imam Mahdi as
Ia akan datang. Ia akan muncul dari balik awan kegelapan masa, ia bersinar bagaikan matahari menerangi kelamnya kehidupan manusia. Ia muncul untuk mengungkap rahasia kehidupan dan memberikan makna yang dalam pada sejarah. Ia adalah Mahdi as yang dijanjikan Allah swt, sang penyelamat umat manusia dan pewaris kepemimpinan ilahi di muka bumi. Pada masa kemunculannya, seluruh unsur kejahilan akan sirna dan seluruh dunia akan bergerak menuju keadilan, persahabatan, dan persamaan. Pada saat itu, orang-orang yang saleh akan berkuasa di muka bumi.
Para penguasa zalim Bani Abbas mendengar berita dan riwayat tentang kelahiran seorang dari Ahlul Bait as yang akan mengakhiri seluruh kezaliman dan ketidakadilan di dunia. Hadis dari Rasulullah saw yang diturunkan dari generasi ke generasi menyebutkan, "Aku memberitahukan kalian tentang Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan pada masa pertikaian antara umat manusia dan ketika dunia dipenuhi kezaliman dan kejahatan. Para penghuni langit dan bumi ridha terhadapnya."
Berita kelahiran sang penyelamat umat manusia ini telah merampas ketenangan dan ketenteraman para penguasa despotik dan zalim. Mereka menyadari bahwa sang penyelamat tersebut adalah putra Imam Hasan Askari as. Ia akan menghancurkan benteng-benteng kesesatan dan kefasadan serta menggulingkan pemerintahan para penguasa zalim. Para pemimpin Bani Abbas sangat mengkhawatirkan masa depan kekuasaan mereka.
Demi memadamkan cahaya terang Ahlul Bait as ini, mereka mengirim para mata-mata ke kediaman Imam Hasan Askali as untuk mengawasi seluruh gerak-gerik beliau beserta keluarga. Mereka hendak membunuh Imam Mahdi as. Dengan demikian, mereka beranggapan dapat mencegah terealisasinya janji Allah swt yaitu munculnya sang penyelamat umat manusia. Namun Allah swt menunjukkan kuasa-Nya dan tanpa pengetahuan musuh, Allah swt telah menebar semerbak harum di muka bumi dengan wujud Imam Mahdi as.
Tahun 255 Hijriah. Hakimah bibi Imam Hasan Askari as yang sedang berada di rumahnya dipanggil oleh Imam. Imam Hasan Askari berkata, "Bibi, malam ini adalah pertengahan bulan Sya'ban. Ketika kamu singgah maka menginaplah di sini. Allah swt pada pertengahan bulan Sya'ban akan melahirkan bayi yang menjadi hujjah-Nya di muka bumi."
Hakimah menjawab:"Sapa ibu bayi itu?"
Imam berkata: "Istriku, Narges."
Dengan sangat terkejut Hakimah berkata: "Jiwaku untuk mu. Namun aku tidak menyaksikan tanda-tanda kehamilan dari wanita mulia ini".
Imam tersenyum dan berkata: "Untuk itulah aku berharap agar kau menginap. Ia seperti ibu Nabi Musa yang tidak seorangpun tahu bahwa ia hamil".
Hakimah malam itu datang ke rumah Imam Hasan Askari as. Narges, sosok wanita agung dan bersahaja itu dengan wajah ceria berkata kepada Hakimah: "Selamat datang bibi".
Hakimah berkata: "Junjunganku dan keluarga kami. Malam ini Allah akan menganugerahkan seorang putra yang menjadi pemimpin di dua dunia".
Mendengar ucapan Hakimah itu Narges menundukkan kepala dan duduk perlahan-lahan.
Dalam lanjutan cerita ini, Hakimah menjelaskan:
"Malam itu, setelah menunaikan shalat, aku berbuka puasa dan tidur. Pertengahan malam aku bangun untuk menunaikan shalat malam. Aku melihat Narges yang sedang shalat namun tidak tampak sedikit pun tanda-tanda kehamilannya. Setelah shalat aku kembali tidur. Namun tak lama setelah itu aku terjaga dengan jantung berdebar. Saat itu Narges juga terjaga, namun tetap saja tidak ada tanda-tanda. Hampir saja aku meragukan ucapan Imam Hasan Askari as. Namun seketika Imam memanggilku dengan suara lantang dan berkata: "Bibi, jangan heran, waktunya telah dekat". Di saat aku tengah membaca AlQuran, tiba-tiba Narges berdiri dengan wajah pucat. Jantungku berdebar keras. Aku menyebut nama Allah dan mendekati Narges. Tak lama kemudian, lahir bayi yang berbeda dengan bayi lainnya, ia sangat suci. Ia bersinar bagaikan bulan. Setelah lahir, bayi yang dinantikan itu bersujud dan bersyukur kepada Allah swt serta mengucapkan syahadah atas keesaan-Nya. Aku menggendong bayi itu. Ketika itulah Imam Hasan Askari as berkata; "Bibi tercinta, bawa putraku padaku", dan aku pun membawa putra itu ke hadapan Imam.
Ketika menyaksikan kegagalan makar musuh dan keadian akan ditegakkan oleh putranya yang tercinta, Imam Hasan Askari as bergembira dan berkata: "Syukur kepada Allah swt yang tidak menarikku dari dunia ini sebelum aku menyaksikan pewarisku, ia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw dari sisi perilaku dan wajah. Allah swt akan menjaganya pada masa ghaibah, kemudian ia akan memunculkannya untuk menebar keadilan di dunia yang dipenuhi kezaliman dan kefasadan".



Semerbak Harum Mahdi as 3

Imam Mahdi as
Betapa indahnya jika pada satu hari dunia terbersihkan dari seluruh permainan konyol dan fitnah, serta ditegakkan pemerintahan yang adil. Betapa indahnya ketika pada hari itu ayat-ayat Allah swt mengalir dari mulut Imam Mahdi as. Betapa indahnya ketika semerbak aroma harum kehidupan tersebut menyegarkan dunia. Tidak diragukan lagi bahwa hari itu akan tiba. Akan tetapi sudahkah kita mempersiapkan diri?
Pada tahun 260 Hijriah, Imam Hasan Askari as, pasca masa kepemimpinannya selama enam tahun, gugur syahid di usia 28 tahun. Ketika itu, putra beliau Imam Mahdi as menjadi imam dan pemimpin umat. Sejak saat itulah tahap baru kehidupan Imam Mahdi as dimulai. Sangat cepat sekali sejumlah faktor yang menyebabkan kelahiran Imam Mahdi as tersembunyi dari pantauan musuh, juga membuat imam ke-12 ini tidak dapat lagi disaksikan oleh masyarakat. Namun bagaimana pun juga hubungan dan komunikasi masyarakat dengan Imam Mahdi as tetap berlanjut.
Pada satu masa, beliau berkomunikasi dengan masyarakat melalui empat wakil yang ditunjuk langsung oleh beliau. Masyarakat menyampaikan pertanyaan mereka kepada para wakil tersebut dan juga mendapatkan jawaban. Tahap inilah yang disebut dengan Ghaibah Sughro yang berlangsung selama 69 tahun. Pasca era tersebut, atas perintah Allah swt, Imam Mahdi as ghaib secara menyeluruh dari pandangan umat manusia hingga ketika beliau akan menyinari dunia bagaikan matahari.
Masalah ghaibah bukan hal yang aneh dalam sejarah. Dalam riwayat mengenai auliya Allah berulangkali ditekankan mengenai ghaibah Imam Mahdi as dan banyak masyarakat yang mengetahui hal ini. Secara keseluruhan, masalah ghaibah dalam hadis Ahlul Bait Nabi as dinilai sebagai sunnah Allah swt dan telah menjadi fenomena yang biasa di kalangan para nabi dan auliya.
Berdasarkan riwayat, Nabi Shaleh, nabi kaum Tsamud pada usia tuanya juga mengalami ghaibah yang berlangsung selama beberapa waktu kemudian tiba-tiba ia muncul kembali. Bahkan kaumnya sempat tidak mengenalinya. Begitu pula dengan ghaibah Nabi Musa as. Bani Israil sangat kebingungan menghadapi ghaibah Nabi Musa as hingga akhirnya beliau kembali muncul di tengah-tengah kaumnya. Ghaibah seperti ini juga terjadi pada Nabi Ilyas, Daniel, Yunus, Yusuf, dan sejumlah nabi lain. Hal penting yang harus ditekankan dalam hal ini adalah bahwa sunnah ilahi juga berlaku untuk Imam Mahdi as.
Berdasarkan riwayat, dalam masalah ghaibah Rasulullah saw juga menyinggung ghaibah Imam Mahdi as. Rasulullah dalam sebuah riwayatnya menyatakan, "Mahdi adalah putraku. Namanya adalah namaku dan julukannya adalah julukanku. Ia adalah orang yang paling mirip denganku dari sisi lahiriah. Pada masa ghaibah dan kebingungan saat itu, banyak masyarakat yang tersesat. Kemudian ia akan muncul seperti komet dan memenuhi bumi dengan keadilan sama seperti ketika kezaliman memenuhi dunia".
Mungkin sejumlah orang akan berpendapat bahwa seandainya Imam Mahdi as tidak ghaibah maka umat manusia tidak akan menghadapi krisis seperti saat ini. Dalam hal ini, para ahli agama dan ulama berpendapat bahwa Rasulullah saw pada masa risalahya telah menyampaikan seluruh pokok dan hukum-hukum politik, sosial, ekonomi, dan budaya Islam kepada umat manusia. Ajaran agama Islam sedemikian jelas dan komprehensif sehingga mampu membimbing manusia menggapai kebahagiaan. Agama Islam juga menyimpan bimbingan bagi umat manusia untuk sebuah pemerintahan pada masa risalahnya sebagai teladan pemerintahan yang saleh dan adil.
Namun di sisi lain, sejarah menjadi saksi bahwa umat manusia hingga kini belum siap menerima keberadaan satu pemerintahan global dan masih terjerat tipu daya para penguasa zalim. Allah swt menjaga Imam Mahdi as dari gangguan musuh dan berkehendak bahwa Imam Mahdi as akan muncul ketika umat manusia telah benar-benar siap untuk menerima pembentukan pemerintahan tunggal di dunia.
Perlu diperhatikan pula bahwa Imam Mahdi as meski hingga kini ghaibah, namun kaum muslim juga meyakini hal ini bahwa berkah wujudnya dan perhatian manusia suci ini tetap dapat dirasakan. Mereka meyakini pula bahwa pada masa ghaibah Imam Mahdi as tetap berperan dalam membimbing umat manusia. Seperti yang diucapkan Imam Mahdi as kepada seorang wakilnya:"Cara untuk mengambil manfaat dariku sama seperti matahai, ketika awan tebal menutupnya". Yakni ketika matahari berada di balik awan, semua orang tetap dapat merasakan manfaat matahari.


Semerbak Harum Mahdi as 4

Semerbak Imam Mahdi as 4
Ketika kalian memikirkannya, maka aroma melati putih akan dapat kalian rasakan. Ia adalah sosok penderma, yang selalu mengasihi orang-orang yang papa dan memerlukan pertolongan. Ia selalu tunduk dan khusyu' di hadapan Allah swt, namun pada saat yang sama ia sangat tegas dan keras dalam menyikapi para orang-orang zalim. Mahdi as adalah teladan manusia sempurna. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, ia tidak mengejar tujuan lain kecuali ridha dari Allah swt. Adapun mengenai orang-orang zalim dan sombong Imam Mahdi as mengatakan, "Pada masa kebangkitanku nanti, aku tidak akan menerima baiat dari para taghut".
Keadilan adalah poros programnya. Persahabatan, permusuhan, kesabaran, perlawanan, dan bahkan masalah penghibahan, bagi beliau harus berdasarkan keadilan. Imam Mahdi as sangat bertawakal kepada Allah swt dan hanya pada kekuatan-Nya, Imam Mahdi as bersandar. Dalam hal ini ia mengatakan, "Pasti bahwa Allah bersama kita. Maka kita tidak memerlukan siapapun". Dengan kemunculannya nanti, Imam Mahdi as akan menegakkan kebenaran dan menyelaraskan seluruh akidah sesuai dengan ajaran Al-Quran. Ia mengatakan:"Ketika Allah swt mengizinkan kita, maka kebenaran akan berkuasa dan kebatilan akan sirna".
Ujian dan cobaan merupakan sunnah penting Allah yang berlaku di setiap masa dan di setiap tahap kehidupan manusia. Dengan demikian tingkat komitmen manusia pada pokok dan keyakinannya dapat terbukti. Berdasarkan hal ini, salah satu hikmah penting ghaibah Imam Mahdi as adalah cobaan bagi umat manusia. Termasuk di antara ujian Allah swt pada masa ghaibah adalah pengukuran tingkat keimanan dan ketaatan manusia.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa pada masa ghaibah tersebut, manusia akan merasakan kesulitan yang hebat untuk tetap komitmen terhadap keyakinan agama mereka. Pada masa ghaibah, musuh akan menggunakan berbagai macam cara guna mencegah upaya masyarakat untuk mengetahui kebenaran dan hakikat, mulai dari propaganda pemikiran hingga budaya. Oleh karena itu salah satu imbauan penting agama pada masa ghaibah adalah komitmen terhadap agama dan nilai-nilainya. Dalam hal ini Imam Mahdi as mengatakan, "Setelah ghaibah masyarakat akan mengalami kebingungan".
Untungnya banyak orang yang berhasil lolos dari ujian tersebut. Mereka bukan hanya tidak melepaskan keimanan mereka terhadap Allah swt, bahkan terus berupaya untuk meningkatkannya. Pada masa ghaibah akan muncul berbagai macam pemerintahan diktator, demokrasi, sekuler, dan lain-lainnya. Masyarakat pada masa itu akan menyadari tujuan yang sebenarnya pemerintahan tersebut.
Mereka sama sekali tidak memperhatikan masalah keadilan sosial. Pada masa ujian ini, umat manusia pada akhirnya menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi kezaliman, perang, dan fitnah adalah dengan kembali kepada spiritualitas dan agama. Saat ini kita menyaksikan instabilitas di berbagai sektor kehidupan dan ini diakibatkan oleh jauhnya jarak manusia dengan agama.
Oleh sebab itu kini banyak orang yang mulai memalingkan kembali perhatian mereka kepada agama dan spiritualitas. Mengenai masalah keimanan yang sejati pada masa ghaibah Rasulullah saw mengatakan, "Wahai Ali, masyarakat yang paling beriman dan beragama adalah mereka yang hidup di akhir zaman. Mereka tidak melihat nabi sedangkan imam mereka ghaibah. Meski demikian, mereka tetap konsisten terhadap iman mereka dengan bersandarkan pada ilmu pengetahuan dan maarif serta buku-buku yang mereka miliki".
Namun, mengingat pembedaan antara kebenaran dan kebatilan pada masa ghaibah sangatlah sulit, maka tugas untuk menjelaskan hal tersebut dipikul oleh para alim ulama yang bertakwa. Mereka adalah para penjaga perbatasan hakikat Islam yang dapat memberikan jawaban terhadap seluruh kebutuhan umat manusia sesuai pada masanya dengan menggunakan argumentasi ilmiah. Pada masa ghaibah, para ulama tersebut adalah mencegah penyimpangan masyarakat dan berupaya menegakkan pemerintahan shaleh di muka bumi. Mengenai peran para ulama agama dalam masyarakat Imam Mahdi as mengatakan, "Para ulama akan menjaga hati masyarakat yang goncang, mereka seperti nakhoda yang menjaga kendali kapal".
Pada masa awal ghaibah, Ishaq bin Ya'qub, mengirimkan surat kepada Imam Mahdi as melaui seorang wakil beliau. Dalam suratnya, ia bertanya kepada Imam Mahdi bahwa kepada siapa saja masyarakat harus merujuk? Beliau menjawab: "Dalam berbagai peristiwa yang kalian alami, kalain harus merujuk pada perawi hadis. Karena mereka adalah hujjah kami untuk kalian dan aku adalah hujjah Allah untuk kalian".
Para cendikiawan Muslim berpendapat, benar bahwa Imam Mahdi as akan menegakkan keadilan dan membasmi kebatilan pada masa kemunculannya, namun hal ini tidak berarti bahwa masyarakat tidak berbuat apa-apa atau tidak peduli terhadap peristiwa yang terjadi di dunia, hingga masa munculnya Imam Mahdi as. Justru salah satu tanda-tanda pemerintahan shaleh Imam Mahdi as adalah keberadaan orang-orang shaleh yang berjuang menegakkan keadilan. Pada masa ghaibah, masyarakat berkewajiban untuk memperkokoh pilar-pilar agama, nilai-nilai kemanusiaan, dan keimanan. Dengan demikian kemunculan Imam Mahdi as akan semakin dekat dengan semakin banyaknya orang-orang mukmin yang peduli terhadap umat.



Semerbak Harum Mahdi as 5

Semerbak Harum Mahdi 5
Salam kepada para penanti Imam Mahdi af yang sangat mengharapkan kedatangannya ke muka bumi ini. Salam kepada umat yang melihat ufuk harapan dengan kedatangan Imam Mahdi af. Salam kepada Imam Mahdi yang merupakan hujjah yang terselubung di balik keghaibannya. Imam Mahdi af adalah sosok yang sama dengan figur para nabi dan poros kebangkitan. Kami terus menanti kedatangan Imam Mahdi as. Melalui kesuciannya dan kebesarannya, keadilan di seluruh penjuru di dunia akan tegak.
Tidak sedikit orang yang mengenal istilah penantian. Namun jika keyakinan tersebut dihubungkan dengan kemunculan Imam Mahdi as, maka makna penantian itu mempunyai arti besar. Menurut agama Islam, penantian merupakan keimanan yang kokoh pada keimamahan atau kepimpinan Imam Mahdi as dan rasa optimis akan kemunculan Hujjah Ilahi atau Imam Mahdi af, yang melaluinya kezaliman akan sirna dan keadilan akan tegak.
Pada dasarnya, penantian dapat diartikan dengan kerinduan manusia akan pencapaian kondisi yang lebih baik dan ideal. Masalah ini merupakan hal yang sangat bernilai bagi manusia. Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei ketika berbicara mengenai aspek-aspek penantian, mengatakan, "Dalam satu aspek, penantian sama halnya dengan ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Pernyataan "Kami menanti" dapat diartikan bahwa apa yang kami lakukan tidaklah cukup dan masih kurang. Kami terus menanti terpenuhinya kapasitas kebaikan di alam semesta ini. Dari aspek lainnya, penantian adalah optimisme kaum mukmin akan masa depan. Penantian seorang dapat diartikan dengan tersebarnya pemikiran yang gamblang, yang merupakan pemikiran ilahi sebuah umat manusia. Sisi lain juga menjelaskan bahwa penantian berarti seorang penanti akan bergerak dengan penuh harapan dan dorongan yang kuat. Spirit penantian mengajarkan manusia untuk melakukan perjuangan demi kebaikan dan maslahat."
Mengingat berbagai interpretasi soal kebangkitan dan revolusi Imam Mahdi af, penantian kemunculan Imam Mahdi af ditafsirkan dengan dua interpretasi, positif atau konstruktif dan negatif atau destruktif. Penantian negatif atau destruktif merupakan bentuk penafsiran dangkal soal Imam Mahdi as. Sekelompok orang mengatakan, kita harus menanti hingga pada tahap kebatilan menguasai dunia dan kebenaran tidak mempunyai pendukung. Melalui pandangan tersebut, seseorang berkeyakinan Imam Mahdi dengan sendirinya akan muncul di muka bumi ini setelah kerusakan tersebar di seluruh penjuru.
Menurut para pendukung pandangan ini, segala upaya melawan kezaliman sepatutnya dikecam. Ini adalah bentuk penantian negatif yang mengajak seseorang supaya melepaskan langkah konstruktif dan perbuatan baik. Sebagai contoh, kita bersikap diam dalam menyikapi ketidakadilan dan menanti kedatangan Imam Mahdi af untuk meluruskan kondisi yang ada. Interpretasi keliru ini mengakibatkan berbagai dampak yang membuat kehancuran dan ketidakpedulian atas kondisi masyarakat. Tentu saja, pandangan seperti itu tidak selaras dengan ajaran-ajaran Islam.
Sementara itu, penantian positif dan konstruktif diartikan dengan seseorang yang bertanggungjawab akan kondisi masyarakat. Penantian semacam ini mendorong seseorang bersikap konsisten dan tidak apatis. Interpretasi penantian konstruktif juga bersumber dari ayat-ayat Al-Quran dan berbagai riwayat hadis. Berbagai ayat menyebutkan bahwa kemunculan Imam Mahdi as merupakan poros terpenting dalam perlawanan antara kubu kebenaran dan kebatilan, yang pada akhirnya dimenangkan oleh kubu kebenaran.
Dengan ibarat lain, penantian akan kemunculan Imam Mahdi af adalah sebuah harapan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah swt dalam Surat Qashash ayat 5 berfirman, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikannya orang-orang yang mewarisi bumi'.
Kemunculan Imam Mahdi af merealisasikan idealisme yang tercantum di kitab-kitab samawi dari masa ke masa dan telah dijanjikan kepada orang-orang yang saleh. Dalam surat Anbiya ayat 105 disebutkan, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam Lauhul Mahfuzz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba Ku yang saleh".
Para pendukung interpretasi positif penantian Imam Mahdi af meyakini bahwa dalam sepanjang sejarah senantiasa terjadi konflik antara kubu yang tengah berkembang dan kubu yang tengah hancur, dan pada akhirnya, proses pergerakan dan perubahan berpihak pada kubu yang tengah berkembang. Para pasukan yang menanti kemunculan Imam Mahdi as senantiasa berusaha membentuk diri dan melawan kezaliman untuk menuju ke arah pencerahan dan persiapan menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Rasulullah saw menyebutnya sebagai penantian yang termulia.
Beliau bersabda, "Berbahagialah para penanti yang mengalami masa kemunculan atau dzuhur Imam Mahdi af. Merekalah para pengikut Imam Mahdi af sebelum kebangkitannya. Mereka bersahabat dengan sahabatnya dan bermusuhan dengan musuhnya".
Penantian konstruktif dapat menghubungkan sang penanti dengan Imam Mahdi af. Umat manusia secara psikologis mempunyai hubungan dengan Juru Selamat Dunia. Mereka mengeluhkan kondisi tidak aman dan berbagai problema, dan kemudian mengharapkan pertolongannya dan menjalin komitmen dengan Juru Selamat Dunia. Penantian semacam ini mempunyai nilai yang luar biasa.
Seseorang yang menjalin hubungan dengan pusat kemuliaan ilahi akan mendapat taufik dan peluang lebih besar untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Pada prinsipnya, hubungan seseorang dengan manifestasi kekuatan dan keadilan Ilahi membuat manusia terus berkembang dan mempersiapkan sarana manusia untuk lebih sempurna. Sangatlah jelas bahwa perhatian pada pusat cahaya harus dilandasi dengan ketulusan dan kesungguhan.

Semerbak Harum Mahdi as 6

Semerbak Harum Mahdi as 6
Keyakinan terhadap masalah kemunculan dan penantian juru selamat dunia merupakan khazanah yang sangat mulia dan memiliki banyak berkah. Seluruh bangsa di dunia dapat mengambil manfaat keyakinan tersebut. Pokok penantian juru selamat termasuk di antara ajaran pokok Islam dan bahwa umat manusia tidak boleh merasa putus asa mengharapkan rahmat Allah swt. Dengan kata lain, penantian berarti memiliki hari yang penuh dengan harapan dan optimistis terhadap nasib umat manusia. Tentu tidak semua orang dapat merasakan pesan itu, namun sudah selama bertahun-tahun lamanya umat manusia telah menanti-nantikan datangnya sang juru selamat yang akan mengakhiri penderitaan umat manusia. Namun pasti ia akan datang. Inilah keyakinan yang sebenarnya terhadap penantian juru selamat.
Mari kita contohkan sebuah kapal yang terombang-ambing oleh badai dahsyat dan para penumpangnya hanya memiliki persediaan makanan dan minuman terbatas. Jika para penumpang tersebut mengetahui bahwa tidak ada pantai hingga radius ribuan kilometer, apa yang akan mereka lakukan? Apakah menurut Anda mereka akan terus menjaga kapal tersebut bergerak maju? Jawabannya jelas tidak.
Mereka tentu tidak memiliki acuan atau semangat untuk melakukannya. Mereka akan melakukan hal-hal yang tidak berguna dan hanya bersifat menghabiskan waktu di atas kapal tersebut. Misalnya, orang yang tidak peduli akan tidur dengan tenang hingga ia mati, atau orang yang zalim maka ia akan mengganggu orang lain, merampas hak orang lain sehingga dengan demikian ia berharap dapat bertahan hidup lebih lama beberapa jam.
Namun jika para penumpang kapal tersebut meyakini bahwa di sekitar mereka terdapat pantai yang aman, maka tidak penting lagi jauh atau dekatnya jarak dari pantai tersebut. Yang terpenting adalah ada pantai yang dapat mereka tuju. Dengan harapan tersebut, para penumpang kapal itu akan berupaya untuk sampai ke pantai. Meski mereka tidak punya waktu untuk itu, namun mereka tetap akan berusaha menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Ini adalah hasil dari harapan yang mereka tanamkan dalam hati.
Sebesar apapun kadar harapan dalam diri manusia, maka sayap-sayap keputusasaan tidak akan berkepak lagi. Harapan akan mendorong manusia untuk berupaya, bergerak, dan bertahan hidup hingga sampai pada tujuan.
Di sepanjang sejarah kehidupan sosialnya, umat manusia bagaikan para penumpang sebuah kapal yang diterjang badai. Umat manusia tidak pernah lepas dari masalah yang ditimbulkan oleh para penguasa zalim yang berusaha menguasai seluruh aspek kehidupan. Harapan akan memberikan manusia kekuatan untuk bertahan di hadapan setiap kezaliman dan kesombongan. Selain meyakini bahwa penderitaan tersebut pada satu hari akan berakhir, harapan juga memotivasi umat manusia untuk berjuang. Penantian terbitnya matahari pagi kebebasan dan keadilan, akan meniupkan semangat hidup yang bergelora dalam diri manusia.
Menurut Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: "Harapan tersebut akan memberikan pada kedua lengan kita, akan menerangi hati kita, dan menjelaskan bahwa setiap gerakan keadilan merupakan poros perputaran alam dan sejarah umat manusia. Dengan demikian, berdasarkan perspektif seperti ini, masalah Imam Mahdi as bukan hanya khusus untuk kaum Syiah atau bahkan kaum muslim saja, melainkan penantian seluruh manusia dan bangsa di dunia. Harapan ini tertanam pada diri manusia yang menggerakkan sejarah umat manusia menuju perbaikan."
Dengan demikian, penantian sangat berkaitan erat dengan kesehatan jiwa. Keyakinan terhadap agama, akan menyirami jiwa dan memberikan makna yang dalam pada kehidupan. Penantian dapat menjadi sarana peningkatan dan perkembangan kemampuan individu dalam berperan di kancah sosial, serta upaya untuk mengubah nasib.
Ketika manusia sedang dalam penantian, maka ia juga akan mempersiapkan diri dan merasa bergairah. Penantian kedatangan sang juru selamat meningkatkan kemampuan manusia untuk bertahan dan bersabar dalam menghadapi segala macam cobaan. Bukti nyatanya adalah ketabahan umat manusia dewasa ini. Meski saat ini manusia menghadapi berbagai kendala besar baik dari sisi materi maupun spiritualitas, namun mereka tetap mengharapkan masa depan yang cerah. Karena harapan atas munculnya sang juru selamat dapat menyejukkan hati dan membuat jiwa manusia lebih tabah menghadapi kezaliman dan ketidakadilan.



Semerbak Harum Mahdi as 7

Semerbak Harum Mahdi as
Mahdi Sang Juru Selamat, bagaikan ruh musim semi yang menyejukkan hati dan menerangi jiwa. Namun musim semi itu belum tiba, kita harus terlebih dahulu merawat kebun kita dan menyebarkan bibit, serta menyiramnya. Seperti itulah kita harus menanti musim semi.
Musim semi bukan musim penanaman bibit, karena musim semi adalah musim berkembang. Pada hari di saat hujjah Allah terakhir itu muncul, dunia akan menyaksikan musim semi yang sejati, serta hati dan jiwa yang penuh dengan iman dan cinta akan merasa tenteram. Tidak diragukan bahwa terbitnya matahari itu telah semakin dekat, maka persiapkanlah diri kita untuk menyambut musim semi tersebut.
Kita telah sebutkan bahwa penantian, adalah mengharapkan terbitnya matahari keadilan di dunia yang telah tenggelam dalam kezaliman dan keburukan. Para penanti Imam Mahdi akan menyaksikan betapa beliau merupakan akumulasi dari sifat mulia dan terpuji para nabi Allah swt. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat, barang siapa yang ingin menyaksikan kepribadian Nabi Nuh, dan Musa, Ibrahim as, serta Muhammad saaw, maka hendaknya ia melihat Imam Mahdi as.
Penantian pada hakikatnya merupakan proses yang sangat penting dan konstruktif dan para penanti akan mengetahui tanggung jawab yang harus mereka lakukan pada masa ghaibah Imam Mahdi as. Para penanti harus selalu mempersiapkan diri baik dari sisi ilmu dan amal, karena Imam Mahdi as dapat muncul setiap saat.
Dengan kata lain, tujuan kemunculan Imam Mahdi as harus diselaraskan dengan amal yang proporsional. Sosok yang hendak memerangi kartil-kartil kekuatan dan kefasadan internasional itu akan muncul pada masa telah terjadi perubahan di seluruh sektor. Orang yang menanti dengan penuh kesadaran dapat memberikan perubahan pada dirinya dan masyarakatnya.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam hal ini mengatakan, "Kalian harus mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi as. Tidak bisa dimulai dari nol. Masyarakat harus siap menerima kemunculan Imam Mahdi as, sehingga mereka siap untuk menghadapi perubahan. Selain itu semua, maka kisah dan sejarah para nabi pada masa lalu akan terulang kembali. Banyak para nabi Ulul Azmi yang tidak dapat membersihkan dunia dari keburukan dan kefasadan.
Namun bagaimana kita harus mempersiapkan diri?
Kita para penanti Imam Mahdi as harus membangun kehidupan kita hari ini di jalan yang diupayakan oleh pemerintahan Imam Mahdi as. Contohnya, dalam pembentukan sebuah masyarakat, masalah keadilan adalah hal yang paling esensial sekali. Di dunia kita dewasa ini, sebagian orang memperoleh keistimewaan secara tidak sah dan mereka tamak dalam hal ini. Orang-orang tersebut bahkan tidak segan-segan menistakan hak-hak kaum tertindas dan papa. Sebab itu harus diupayakan pemberantasan diskriminasi dan kezaliman dalam masyarakat hingga kita jelang masa depan yang cerah. Perlu ditekankan pula bahwa manusia harus mempersiapkan diri untuk hidup pada masa yang ketidakadilan dan kezaliman tidak memiliki tempat dalam kehidupan. Pada masa itu, perang dan ancaman tidak lagi membayangi bangsa-bangsa. Keadilan, ketenteraman, dan kesejahteraan, dirasakan oleh seluruh umat manusia.
Tugas terpenting seorang penanti adalah mengenal, membina, dan menghiasi jiwa mereka dengan budi pekerti. Ia harus mengenal Imam Mahdi as dan seluruh kriterianya. Karena pengetahuan merupakan sumber perubahan dalam diri dan masyarakat. Pengetahuan akan mencegah manusia untuk tidak peduli dan terjerumus pada kenistaan.
Para penanti akan berupaya keras untuk menjadi pengikut yang dibanggakan oleh Imam Mahdi as dan termasuk di antara para pengikut terdekat dengan beliau. Dalam hal ini Imam Jakfar As-Shadiq mengatakan, "Barang siapa yang ingin menjadi sahabat Imam Mahdi as, maka ia harus menanti, bertakwa dan berbudi pekerti. Dan jika ia mati dalam keadaan seperti itu, maka pahalanya adalah seperti orang yang akan bertemu dengan Imam Mahdi as."
Dalam riwayat dan hadis disebutkan, para penanti Imam Mahdi as memiliki posisi dan kedudukan seperti orang-orang yang berperang di sisi Rasulullah saw dan beliau menyebut mereka sebagai saudara. Hati para penanti harus seperti pelita yang bersih dan terang. Imam Jakfar As-Shadiq as mengatakan, "Orang yang meninggal dalam keadaan dia menanti munculnya Imam Mahdi as, maka ia seperti orang yang berada satu kemah dengan beliau. Tidak, melainkan ia juga seperti orang yang berperang di sisi Rasulullah saaw."
Dewasa ini, kita dapat menyaksikan indikasi para penanti sejati Imam Mahdi as di berbagai penjuru dunia. Orang-orang yang berupaya menjalin ikatan spiritual dengan jiwa yang suci dan mulia tersebut, maka setiap pagi mereka akan memperbaharui baiat dengan Imam Mahdi dan berkata:
"Ya Allah, pada pagi hari ini dan setiap masa dalam hidupku, aku memperbarui seluruh janji dan baiatku kepada Imam Mahdi, bahwa aku tidak akan mengingkari baiat tersebut dan selalu berkomitmen terhadapnya.
Ya Allah....golongkan aku dalam para sahabat setia Imam Mahdi as dan pembela kesuciannya, pemuji kelayakannya, pejuang tujuannya, dan penjaga keberadaannya yang mulia."



Semerbak Harum Imam Mahdi 8

Semerbak Harum Mahdi as
Wahai bagindaku, dalam hiruk-pikuk kehidupan dewasa ini, kami dahaga akan kehidupan yang penuh kecintaan dan kesucian lebih dari pada masa lain. Jalur kehidupan dan pemikiran di dunia ini telah bercabang-cabang. Mata kami telah tenggelam dalam air menanti pertemuan denganmu wahai makhluk terindah.
Wahai manusia yang dijanjikan, kemarilah karena subuh ini tidak segar tanpamu. Subuh ini akan segar dengan embun kasih sayangmu. Mentari pagi akan bangkit dengan salammu.
Wahai air jernih, sungai-sungai yang meregang kekeringan telah mendambakan aliranmu. Menantimu membimbing mereka menuju lautan kemunculanmu. Maka kemarilah karena para insan yang telah patah hati senantiasa mendengungkan doa kehadiranmu. Allahumma ‘Ajjil liwaliyikal faraj.
Kita telah ketahui bersama bahwa penantian kemunculan Imam Mahdi as memiliki filsafat sosial. Selain itu, penantian tersebut juga membuka pintu-pintu menuju masa depan dan mendorong manusia untuk terus bergerak maju. Penantian juga mampu meningkatkan ketangguhan manusia, mengumpulkan seluruh kekuatan mereka, serta mencegah kemunkaran dan sikap pasrah di hadapan kezaliman, hingga masa kemunculan Imam Mahdi as.
Kita telah ulas bersama tentang bagaimana penantian dapat meningkatkan harapan dan motivasi serta dalam menyesuaikan dengan seluruh upaya yang ada. Poin penting lain dalam penantian adalah perwujudan persatuan, solidaritas, dan revivalisasi identitas islami. Seluruh penanti Imam Mahdi as mengacu pada satu tujuan yaitu kemunculan sang juru selamat dunia.
Menurut para psikolog, penantian memiliki manfaat yang sangat besar dari segi individual. Di antaranya adalah meyakini adanya masa depan yang cerah, mengarahkan seluruh kekuatan dalam diri menuju satu tujuan, dan juga menciptakan keserasian dalam karakter seseorang. Jelas bahwa upaya dan kekuatan yang tidak terkonsentrasi tidak akan membuahkan hasil. Gordon Willard Allport, seorang psikolog dan dosen Universitas Harvard, Amerika Serikat menyatakan, "Upaya untuk masa depan akan menyatukan karakter manusia." Menurutnya, demi menggapai tujuan dan target, seluruh dimensi karakter dalam diri manusia dapat dikonsentrasikan menjadi sebuah kesatuan."
Persatan dalam karakter manusia tersebut akan mencetak terbuangnya kemampuan dan potensi bahkan dapat membuka pintu untuk kemajuan dan perkembangan manusia. Konsentrasi karakter dalam diri manusia akan menghapus seluruh faktor yang dapat mereduksi kemampuan dan potensi. Seorang psikolog kontemporer Karen Horney dalam bukunya berjudul ‘Kontradiksi Dalam Diri Kita' berpendapat bahwa, "Faktor yang paling banyak berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang adalah fenomena kontradiksi dalam diri mereka. Jika kontradiksi tersebut dapat ditanggulangi, maka tidak akan ada faktor lain yang ?dapat mengganggu ketenangan jiwa."
Dari sisi sosial, penantian sangat efektif dalam menciptakan persatuan dalam jiwa seseorang. Keberadaan satu tujuan yang kolektif yang dimiliki sebuah bangsa atau masyarakat akan menciptakan ikatan, solidaritas, dan persatuan di antara mreka. Masyarakat yang menjadikan kemunculan Imam Mahdi as sebagai tujuan utamanya, dapat menciptakan kepedulian, solidaritas, dan kekompakan di antara sesama. Jelas bahwa penantian yang panjang atas kemunculan seorang manusia yang sempurna dan pembentukan sebuah pemerintahan yang satu, akan mewujudkan tujuan kolektif dalam diri orang-orang yang memiliki pandangan positif terhadap masa depan.
Dewasa ini, di dunia teknologi dan informasi, kota-kota dan negara-negara semakin dekat. Umat manusia saat ini telah menjadi anggota keluarga kecil. Benak manusia kini lebih mudah untuk memahami persatuan agama dan undang-undang di bawah naungan pemerintahan universal. Tentu sebelum terbentuk pemerintahan tersebut, satu poin yang harus diwujudkan terlebih dahulu adalah persatuan dan persahabatan antarbangsa.
Seorang pemimpin Syiah Pakistan Sayyid Sajid Naqavi mengatakan, "Dalam berbagai agama terdapat persamaan pandangan bahwa pada satu masa akan muncul sang juru selamat manusia. Adapun menurut umat Islam, sang juru selamat tersebut adalah Imam Mahdi as. Dan agar manusia dapat merencanakan seluruh langkah dan program mereka dalam menyongsong masa depan, persatuan harus terlebih dahulu diwujudkan. Karena persatuan adalah sumber segala kebaikan, khususnya di masa ini, di saat kekuatan arogan telah bersatu untuk menindas bangsa-bangsa."
Lebih lanjut dijelaskannya, "Allah swt telah menurunkan Al-Quran dan mengutus para nabi untuk manusia yang membimbing pembentukan sebuah pemerintahan yang adil. Dalam mewujudkan pemerintahan seperti ini seluruh kekuatan dan kemampuan yang ada harus disatukan. Pada masa ketika semua orang merindukan keadilan Islam dan dunia yang menyadari bahwa keselamatannya bergantung pada terciptanya keadilan, jika kita berpecah-belah, maka kita tidak ?akan mampu menghadapi kaum arogan atau menyebarkan pemikiran yang benar. Oleh sebab itu, kita harus mewujudkan persatuan tersebut sehingga dapat memperkokoh keadilan Islam serta memperluasnya dengan logika dan ilmu pengetahuan."
Sayyid Sajid Naqavi menegaskan, kaum penjajah mengetahui masalah kemunculan Imam Mahdi as dalam perspektif Syiah maupun Ahlussunah. Mereka mengetahui bahwa kaum Syiah dan Ahlussunnah meyakini kemunculan sang juru selamat tersebut. Namun keyakinan dan kriteria sang juru selamat tersebut berbeda menurut pandangan kedua mazhab Islam ini. Oleh karena itu, musuh berupaya mencari sela untuk menciptakan friksi di antara umat Islam. Persatuan dan kekompakan umat Islam, bahkan para pengikut agama-agama lainnya, akan memperkokoh perspektif tentang kemunculan Imam Mahdi dan menjadi tameng dalam menghadapi arogansi kaum zalim.



Semerbak Harum Imam Mahdi 9

Semerbak Harum Mahdi
Ya Allah...limpahkan kasih sayang dan kemuliaan pada hamba-hamba Mu yang papa. Bebaskan mereka dari belenggu kezaliman dan kemungkaran. Kau yang menyeru agar kami menyirami bunga-bunga harapan di hati kami hingga kemunculan sang juru selamat dunia, saat langit membuka seluruh pintunya demi tercurahkannya rahmat Mu.
Ya Allah...demi bintang-bintang yang menyinari langit dan bumi, pancarkan sinar pagi kebenaran ke seluruh penjuru bumi, pagi yang cahaya terangnya menyirnakan kegelapan dari hati para penanti. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, percepatlah kemunculan Mahdi as.
Kemunculan sang juru selamat dunia, Imam Mahdi as, setelah dunia dipenuhi dengan kebatilan, merupakan sebuah kenyataan yang disepakati oleh seluruh agama dan masyarakat dunia. Para nabi dan utusan Allah swt juga telah menyampaikan fakta ini. Meski kitab-kitab suci pada masa sebelum Islam, telah didistorsi, namun kenyataan kemunculan Imam Mahdi as sedemikian mengakar sehingga tidak dapat dengan mudah untuk dihapus. Menariknya adalah bahwa sebagian petunjuk yang ada sedemikian jelas hingga memaparkan sifat dan kriteria Imam Mahdi as. Secara keseluruhan, berdasarkan riwayat dan penjelasan dari para pemuka agama dunia, kriteria Imam Mahdi as dapat disimpulkan dalam empat poin.
Poin pertama, universalitas dan globalitas dampak kemunculan Imam Mahdi as. Kedua adalah mengenai karakter Imam Mahdi dan hubungannya dengan Nabi Muhammad saw. Ketiga, kondisi dunia pada masa munculnya Imam Mahdi as. Dan Keempat adalah kesiapan masyarakat dunia untuk menyambut munculnya sang juru selamat. Keempat poin tersebut merupakan kesimpulan dari seluruh petunjuk yang ada dalam kitab-kitab suci.
Berdasarkan apa yang tertera dalam kitab-kitab langit, Imam Mahdi as akan melakukan perlawanan terhadap kebatilan dan kezaliman, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Hasil dari perjuangan beliau akan meliputi seluruh wilayah dunia. Imam Mahdi as akan menyeru seluruh umat manusia kepada kebenaran dan kebaikan.
Dalam kitab Hujjah Nabi, mengutip dari firman Allah swt disebutkan, "Pada masa itu aku akan mengejutkan seluruh bangsa dunia". Dalam kitab Safniya Nabi juga disebutkan mengenai globalitas dampak kebangkitan Imam Mahdi as. Disebutkan, Aku akan menghancurkan seluruh kerajaan dan pemerintahan demi menyeru seluruh kelompok masyarakat...ketika itu aku akan mengutus seorang yang bersih untuk memimpin setiap kaum sehingga semua orang beribadah atas nama Allah dengan satu cara."
Dalam petunjuk lainnya, juga disebutkan tentang asal-usul keturunan Imam Mahdi as. Dalam kitab Jamasib disebutkan berbagai peristiwa bersejarah pada masa lalu dan masa depan. Disebutkan kondisi para nabi, auliya, dan para raja. Kitab ini juga mengutip pernyataan kaum Zoroaster tentang sang juru selamat dunia. Disebutkan bahwa ia adalah keturunan Bani Hashim. "AKan datang seorang dari bumi Arab, sosok besar yang akan muncul dengan pasukan besar, ia akan memenuhi bumi dengan kesejahteraan dan keadilan".
Dalam kitab Zabur yang dibawa oleh Nabi Daud as, Nabi Muhammad saw disebut sebagai Raja dan Imam Mahdi as disebut sebagai Putra Raja, yang merupakan gambaran dari dua manusia sempurna. Dalam kitab ini disinggung mengenai kebangkitan Imam Mahdi dan penegakan keadilan di muka bumi. Dalam sebuah doa yang tercantum dalam kitab Zabur disebutkan, "Ya Tuhan kami, limpahkanlah syariat dan titah-Mu pada raja dan berikan keadilan-Mu kepada Putra Raja, hingga ia akan memerintah umat-Mu dengan keadilan dan berperilaku adil kepada para fakir, menyelamatkan orang-orang miskin, dan mengalahkan kaum zalim".
Dalam berbagai petunjuk yang tercantum dalam kitab-kitab langit, disebutkan bahwa pasca kemunculan Imam Mahdi as, dunia memiliki penampilan yang sangat berbeda seakan seluruh makhluk memiliki wajah baru. Pada masa kemunculan Imam Mahdi as situasi di bumi dan langit akan berubah total. Hubungan dalam dunia hewan seperti serigala dan kambing yang selalu bermusuhan juga akan berubah. Pengaruh keadilan pada setiap aspek dalam kehidupan sedemkian mendalam sehingga keamanan dan ketenteramannya, juga dapat dirasakan oleh seluruh makhluk hidup, tak terkecuali hewan. Tuntutan umat manusia akan terpenuhi melalui cara yang ideal. Seluruh keterbatasan dan kesulitan masyarakat dunia juga akan sirna.
Masih banyak lagi kriteria dan petunjuk mengenai Imam Mahdi as yang disebutkan dalam al-Quran dan riwayat. Secara keseluruhan masalah ini menjelaskan sebuah fakta bahwa Imam Mahdi as adalah sosok agung dari keturunan orang-orang suci. Berdasarkan riwayat dari Rasulullah saaw, sang juru selamat dunia tersebut tak lain adalah Imam Mahdi, putra Sayyidah Fatimah as, dan keturunan Ahlul Bait.



Semerbak Harum Imam Mahdi 10

Semerbak Harum Imam Mahdi 10
Ya Allah, apakah seruan manusia-manusia yang menanti munculnya sang juru selamat akan Kau biarkan tanpa jawaban?
Tatapan sedih memberikan salam kepada mu dan mengharapkan kemunculannya pada pagi hari ketika warna jingga menggores angkasa.
Ya Allah percepatlah kemunculannya dan tolonglah para pecintanya.
Wahai Yang Maha Pengasih, penuhilah dunia dengan keindahan, keadilan, keamanan, dan stabilitas dengan wujudnya.
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah bahas bersama tentang kabar dan petunjuk dari para nabi tentang Imam Mahdi as. Kabar gembira yang menerangi hati setiap manusia. Sejarah membuktikan bahwa keyakinan terhadap kemunculan Imam Mahdi as, pemberantasan kezaliman dan kejahatan, dan penegakan keadilan serta pemerintahan universal, bukan hanya khusus untuk bangsa dan madzhab Timur saja. Melainkan sebuah keyakinan universal yang terjelma dalam berbagai bentuk di seluruh dunia.
Dalam buku-buku Cina kuno, dalam keyakinan kaum Hindu, dalam keyakinan bangsa Skandinavia, bahkan dalam keyakinan bangsa Mesir kuno serta pribumi Amerika, masalah kemunculan sang juru selamat merupakan informasi yang telah diwariskan turun-temurun. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap munculnya seorang manusia yang akan menyelamatkan manusia dari kezaliman terdapat dalam fitrah manusia.
Sosiolog AS, Bernard Parlor, dalam bukunya berjudul Sang Penyelamat, membenarkan adanya keyakinan terhadap juru selamat dunia dalam keyakinan suku Indian Amerika. Dikatakannya, "Di antara suku-suku Indian, terdapat keyakinan bahwa pada suatu hari akan muncul pengawal kaum Indian yang akan mengantar mereka ke surga dunia."
Dalam kitab Avista, Zand, Jamasib Nameh, disebutkan kemunculan tiga juru selamat dunia dan yang terkenal adalah Shusiyant Pirouzgar. Kaum Zoroaster berpendapat bahwa kemunculan Imam Mahdi as akan mengawali gerakan keadilan di dunia. Adapun dalam Kitab Jamaseb Nameh disebutkan, "Akan muncul seorang dari Arab, sosok agung yang akan menegakkan keadilan di muka bumi dengan agama kakeknya dan dengan pasukan besar. Dari keadilannyalah serigala dan gembala minum air bersama-sama."
Kaum Yahudi sebagai pengikut Nabi Musa as, juga menyakini kemunculan Imam Mahdi as. Dalam Taurat disebutkan tentang 12 imam dari keturunan Nabi Ismail as. Dalam kitab ini disebutkan pula, "......dan Aku telah memberkati Ismail. Akan lahir 12 pemimpin yang akan membangun umat besar." Dalam ajaran Yahudi lainnya disebutkan bahwa sang juru selamat akan mendamaikan orang-orang yang tidak beriman dengan Allah serta memberantas ketidaktaatan terhadap agama. Al Quran juga menyebutkan keyakinan terhadap masa depan yagn cerah dalam berbagai bangsa termasuk kaum Yahudi. Dalam surat Anbiya surat 105 disebutkan,
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.
Namun setelah Nabi Musa as, kaum Yahudi tidak meyakini Nabi Isa as dan Muhammad saw. Pada hakikatnya, kaum Yahudi mengingkari kabar gembira yang telah disebutkan dalam kitab suci mereka. Saat ini, pendapat radikal dan distorsif sekelompok Yahudi, telah menyulur berbagai perpecahan dalam agama Yahudi. Dewasa ini, kita saksikan bahwa betapa kelompok Zionis yang mengklaim diri sebagai penganut Yahudi telah mengakibatkan berbagai penderitaan bagi bangsa Palestina.
Dalam agama Kristen, masalah kemunculan Imam Mahdi as dijelaskan dengan sangat transparan dan jelas. Menurut para pengamat hal ini disebabkan oleh dekatnya masa Nabi Isa as dengan Imam Mahdi as. Hal ini dapat dirujuk pada Injil Mattheus bab 24. Dalam Injil Lucas disebutkan, "Ikatkan sabuk kalian dan nyalakan pelita kalian dan jadilah kalian seperti orang-orang yang menanti pemimpinnya, kapan dia datang dan mengetuk pintu.
Menurut para penganut agama Kristen, sang juru selamat dunia adalah Nabi Isa as putra Maryam sa. Para penganut agama Kristen berpendapat bahwa Nabi Isa as yang telah disalib akan muncul kembali untuk membebaskan dunia dari kejahatan. Kemunculannya akan dibarengi dengan perdamaian, kebaikan, dan berkah bagi umat manusia. Namun Islam memiliki pandangan lain tentang hal ini.
Bahwa Nabi Isa as tidak disalib dan beliau masih hidup hingga kini. Kembali Nabi Isa as juga disebutkan dalam ajaran Islam. Bedanya, Nabi Isa as bukan sebagai sang juru selamat melainkan sebagai pengikut dan sahabat Imam Mahdi as. Nabi Isa as akan muncul setelah Imam Mahdi as. Ia akan shalat di belakang Imam Mahdi as. Nabi Isa as akan menyertai Imam Mahdi as dalam menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman.
Secara keseluruhan dapat kita simpulkan bahwa seluruh agama langit menyakini munculnya sang juru selamat dunia. Bahkan kepercayaan ini juga terdapat di seluruh bangsa dunia. Namun yang pasti kriteria dan aspek-aspeknya juga berbeda.


Semerbak Harum Imam Mahdi as 11

Semerbak Harum Imam Mahdi as 11
Dia datang dari jauh perlahan-lahan
Dia melewati malam perlahan-lahan
Memohonlah kepada Allah atas kehadirannya
Maka ia akan datang dengan gagah berani, perlahan-lahan
Para pemimpin umat manusia dari langit mengatakan bahwa dia adalah hujjah Allah dan bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah-Nya. Mereka memberi kabar gembira bahwa hujjah akan selalu ada meski usia bumi hanya tinggal satu hari. Masa kepemimpinan hujjah akan sangat lama hingga seluruh dunia dipenuhi dengan keadilan. Ia adalah ufuk pagi kebebasan.
Salam kepadanya yang menunjukkan jalan kebenaran dengan langkah-langkahnya.
Salam kepada pemimpin yang terpancar cahaya dan makrifat dari seluruh ucapannya.
Salam kepadanya yang menebar aroma harum kasih sayang di dunia dengan keadilan.
Salam dan salawat kepada yang kehadirannya membuka jalan kebebasan dan menjadi tonggak sejarah manusia.
Menurut para penafsir al-Quran, terdapat lebih dari 100 ayat dalam al-Quran yang menyebutkan tentang penegak keadilan di muka bumi. Allamah Muhammad Baqir Majlisi, dalam kitab Biharul Anwar yang merupakan kitab ensiklopedia hadis penting milik kaum Syiah menyebutkan, terdapat 70 hadis Ahlul Bait yang menyinggung tentang kemunculan hujjah Allah swt. Tidak hanya itu, banyak ulama yang telah menulis kitab tentang hak ini termasuk di antaranya adalah kitab yang ditulis oleh Sayyid Hashim Bahrani, seorang muhaddis terkemuka Islam. Kitab ini mencakup penafsiran dan penjelasan 120 ayat yang berkenaan dengan al-Quran.
Dalam al-Quran disebutkan pula berbagai masalah pada akhir zaman dan kepemimpinan orang-orang saleh di muka bumi. Pada hakikatnya, dalam logika agama, kemunculan sang juru selamat sangat berkaitan dengan fitrah dan tuntutan keadilan manusia.
Al-Quran dalam menjelaskan revolusi terakhir sejarah, sangat memperhatikan tuntutan fitrah tersebut. Begitu juga poin ini bahwa keyakinan terhadap sang juru selamat bukan hanya dimiliki oleh umat Islam saja melainkan juga telah tercantum dalam kitab-kitab langit lainnya. Para nabi sebelum Rasulullah saw juga telah menyampaikan kabar gembira ini kepada umatnya, bahwa akan tiba masa kekuasaan para mukminin di muka bumi. Meski tidak disebutkan nama Imam Mahdi as dalam al-Quran, namun terdapat banyak ayat yang menyebutkan tentang kemunculan beliau. Hal ini karena kehendak Allah swt adalah kepemimpinan hamba-hamba-Nya yang saleh di muka bumi.
Ayat ke 86, surat Hud menyebutkan yang artinya:
"Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu."
Kata Baqiyyatullah yang ada dalam ayat ini merupakan salah satu sebutan dari Imam Mahdi as. Karena setiap makhluk yang bermanfaat bagi manusia dan tersisa demi kebahagiaan manusia disebut sebagai Baqiyyatullah.
Imam Muhammad Baqir as mengatakan, "Ucapan pertama yang disampaikan oleh pribadi suci yang dijanjikan Allah pasca kemunculannya adalah ayat ini Baqiyyatullah Khairun Lakum In Kuntum Mu'minin. Setelah itu beliau mengatakan bahwa saya adalah Baqiyyatullah, Hujjah dan Khalifah Allah bagi kalian. Setelah itu semua orang mengucapkan salam kepadanya dengan ucapan salam kepada Baqiyyatullah di muka bumi."
Ayat pertama surat an-Nahl menyebutkan, "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."
Ayat ini akan dibacakan oleh Malaikat Jibril as di hari munculnya Sang Penyelamat Imam Mahdi as dan semua manusia di seluruh dunia mendengar suaranya. Sekaitan dengan ini Imam Shadiq as berkata, "Setelah peringatan ini ada suara yang terdengar dari langit mengatakan, "Wahai makhluk ciptaan Allah, ini adalah Mahdi dari keluarga Muhammad. Berbaiatlah kalian kepadanya dan jangan menentangnya."
Allah swt melanjutkan agamanya lewat kemunculan dan gerakan pembebasan umat manusia lalu menyempurnakan cahaya-Nya. Dalam surat as-Shaff ayat 8 disebutkan,"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci."
Dalam ayat-ayat al-Quran telah dijelaskan mengenai pokok-pokok penting terkait bagaimana menjalin hubungan dengan masalah akhir zaman dan satu dari pembahasan penting itu kembali pada orang-orang miskin dan tertindas kembali memiliki kekuatan. Sepanjang sejarah kekuatan dan mekanisme ekonomi, politik dan militer biasanya ada di tangan para hegemoni dan orang-orang mustakbir. Dengan menguasai sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan mereka memaksakan hegemoninya ke atas masyarakat.
Namun sesuai dengan janji Allah dalam al-Quran, dalam puncak revolusi sejarah kelompok-kelompok penguasa zalim ini akan terhapus dari sejarah manusia. Dengan kata lain, mereka dibalikkan dari puncak kekuasaan ke tingkat terbawah dan sebaliknya, mereka yang tertindas berbalik menguasai dunia. Akhirnya, piramid kekuasaan di dunia menjadi terbalik. Terjadi pertukaran kekuasaan, dan mereka yang tertindas selama ini yang berada di puncak kekuasaan. Sekaitan dengan ini ayat kelima surat al-Qashash menyebutkan, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."
Sebagian lain dari ayat-ayat al-Quran menyinggung satu poin penting bahwa kekuasaan orang-orang saleh bakal menjadikan agama Allah diterapkan di tengah-tengah umat manusia. Masyarakat berbondong-bondong mengamalkan nilai-nilai suci dan tinggi Islam. Orang-orang saleh menjadi teladan dalam menerapkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Bukti dari pandangan ini dapat ditemukan dalam surat al-Hajj ayat 41 yang menyebutkan, "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."
Imam Muhammad al-Baqir as mengatakan, "Ayat ini berkaitan dengan Ahlul Bait, Imam Mahdi, dan para sahabatnya yang Allah swt menjadikan mereka sebagai pemilik Timur dan Barat, yang menegakkan agama, dan memusnahkan seluruh bidah, kebatilan, dan kezaliman. Mereka senantiasa menyerukan kebaikan dan mencegah kebatilan.



Semerbak Harum Imam Mahdi as 12

Semerbak Harum Imam Mahdi as 13
Dari ufuk nan jauh di sana, akan datang seorang laki-laki yang telah lama kita nantikan. Kemuliaan dan keagungannya mengingatkan kita semua pada akhlak mulia Rasulullah saw, serta menghidupkan kembali gambaran tentang Nabi Musa dalam benak kita.
Ia mengetahui penderitaan dan kemazluman yang tidak pernah terungkapkan.
Ia mengetahui penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh anak-anak yang terlantar dan yatim.
Ketika ia datang, langit ini akan tampak lebih biru, bintang-bintang di angkasa pun akan memancarkan cahayanya lebih terang. Maka marilah kita bersama-sama memanjatkan doa, "Ya Allah, percepatlah kedatangan sang penyelamat manusia".
Seorang pakar sejarah asal Perancis, Gustave Le Bon mengatakan, "Para pengkhidmat terbesar umat manusia adalah orang-orang yang mampu membuat manusia tetap optimis." Gambaran indah yang disuguhkan oleh agama tentang masa depan umat manusia membuat seluruh manusia memiliki harapan dan keinginan untuk menggapai masa depan tersebut.
Sebab itu, munculnya ketidakadilan dan ketimpangan di dunia, membuat manusia-manusia yang optimis untuk selalu berupayamemberantas ketidakadilan dan ketimpangan tersebut. Manusia mengharapkan perubahan global secara fundamental hingga kesewenang-wenangan, ketamakan, arogansi, dan aksi konfrontatif, digantikan dengan persamaan, persahabatan, perdamaian, dan kasih sayang. Dengan demikian, harapan dan optimisme selalu terdapat dalam diri dan jiwa manusia.
Imam Ali as menyatakan bahwa harapan itu akan terealisasi ketika pemerintahan dan kekuasaan berada di tangan Imam Mahdi as. Menurut Imam Ali as, di masa mendatang, akan muncul seorang yang memerintah dan pemerintahannya tidak sama dengan pemerintahan biasa. Ia akan menghukum para penguasa zalim dan arogan atas seluruh perbuatan keji mereka.
Nahjul Balaghah adalah khazanah bernilai dalam membimbing manusia menuju kebahagiaan. Imam Ali as dalam sejumlah khutbah dan pidatonya yang tercatat dalam kitab ini, berbicara mengenai masa depan dunia dan sejumlah peristiwa pada akhir zaman kelak. Dengan menimba pengetahuan dari kitab ini, manusia akan terbimbing dalam meniti jalan gelap pada masa ghaibah ini. Manusia dapat menemukan jalan yang benar di antara berbagai fitnah dan gejolak. Bimbingan tersebut tidak pernah berhenti sampai pada masa kemunculan Imam Mahdi as, sang juru selamat.
Imam Ali as dalam khutbah yang disebutkan pada awal kitab Nahjul Balaghah, menyatakan bahwa Allah swt tidak pernah membiarkan manusia tanpa nabi, atau kitab langit, argumentasi yang jelas, dan jalan yang pasti. Begitu juga Allah swt tidak akan membiarkan bumi ini kosong dari hujjah-Nya.
Dalam kitab Nahjul Balaghah disinggung soal munculnya berbagai fitnah yang menyeret manusia pada garis kegelapan dan penyimpangan. Dalam khutbah 138 Imam Ali as mengatakan, "Imam Mahdi as, akan melakukan hal-hal pokok. Langkah terpenting yang dilakukan oleh sang penyelamat dunia adalah memberikan bimbingan sebenarnya yang akan mengalahkan seluruh hawa nafsu." Imam Ali as menambahkan, "Pada masa ketika manusia mengikuti hawa nafsunya, Imam Mahdi as akan membuat seluruh kecenderungan mengikuti wahyu. Di saat masyarakat mengemukakan berbagai macam pandangan tentang al-Quran dengan mengatasnamakannya sebagai tafsir al-Quran, Imam Mahdi as akan membuat seluruh pendapat dan pandangan mengikuti al-Quran."
Jelas bahwa ketika manusia memiliki jiwa yang bersih dan adil, maka ia akan selalu berusaha untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat. Menurut Imam Khomeini ra penyebaran keadilan pada pemerintahan global Imam Mahdi as, akan sangat luas jangkauannya. Keadilan tersebut akan menyelimuti seluruh penjuru dunia bahkan merasuk ke dalam jiwa manusia. Beliau mengatakan, "Di dalam seluruh jiwa terdapat penyimpangan. Bahkan dalam jiwa orang-orang yang sempurna, terdapat penyimpangan meski mereka tidak menyadarinya. Dalam akhlak, ideologi, dan perilaku mereka terdapat penyimpangan. Imam Mahdi as berkewajiban untuk meluruskan seluruh penyimpangan tersebut dan menetralisirnya, sehingga terbuktilah makna bahwa dunia telah dipenuhi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman.
Ketika menjelaskan tentang peristiwa pada akhir zaman, Imam Ali as menekankan poin ini bahwa Imam Mahdi as adalah keturunan Ahlul Bait Rasulullah saw. Yaitu orang-orang yang disebut oleh Imam Ali as bagaikan bintang-bintang yang jika salah satu di antaranya padam maka muncullah bintang lainnya hingga muncul orang terakhir di antara bintang-bintang tersebut. Imam Ali as mengatakan, "Setelah masa penyimpangan, dunia akan berpaling kepada kami (Ahlul Bait)."
Dalam Nahjul Balaghah disebutkan gambaran tentang keindahan dunia pada masa Imam Mahdi as. Menurut Imam Ali as, pada masa Imam Mahdi as kelak, harum aroma penghambaan dan ketaatan terhadap Allah swt akan memenuhi seluruh penjuru dunia. Keadilan, persamaan, dan persahabatan dapat disaksikan di mana-mana. Imam Mahdi as bagaikan tabib yang bepergian ke setiap tempat untuk mengobagi luka-luka. Dengan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan obat-obatannya, Imam Mahdi as menyembuhkan penyakit kelalaian dan kebingungan.
Pada masa itu, bumi akan mengeluarkan seluruh khazanah dan tambang-tambangnya, bahkan menyerahkan kunci-kuncinya kepada Imam Mahdi as. Kemudian Imam Mahdi menunjukkan kepada manusia keadilan sebenarnya. Imam Mahdi akan menghidupkan kembali al-Quran dan sunnah Rasulullah saw.



Semerbak Harum Imam Mahdi as 13

Semerbak Harum Imam Mahdi as 13
Bagindaku, kami hidup di masa yang penuh dengan ketidakadilan. Lalu bagaimana hati kita tidak terikat dengan keadilan dan tidak menanti cahayamu?
Kami yakin engkau akan datang dan membawa musim semi bagi kami. Kau akan mekarkan kuncup-kuncup hati kami serta menyiraminya dengan kasih sayang.
Wahai yang dinantikan, pada kehadiranmu kelak, tidak akan ada lagi patah hati. Dunia ini akan lari dari ketimpangan. Akar-akar kezaliman akan mengering. Arogansi para penguasa lalim akan hancur dan seluruh rangkaian tipu daya dan muslihat akan memudar.
Maka yang mulia, cepatlah kau datang.
Terdapat berbagai kitab yang menyebutkan berbagai riwayat tentang kemunculan Imam Mahdi as. Riwayat-riwayat tersebut sangat menarik untuk dicermati mengingat jumlahnya yang banyak dan juga dari sisi makna dan kandungannya. Para pemimpin Islam, selain menafsirkan dan menakwilkan al-Quran, mereka juga tidak lupa untuk menyampaikan masalah kemunculan sang juru selamat dunia, Imam Mahdi as. Tidak ada hal yang masih tidak jelas mengenai Imam Mahdi as, karena para pemimpin Islam bahkan menjelaskan ciri-ciri fisik Imam Mahdi as.
Seluruh hadis tersebut menunjukkan bahwa Imam Mahdi as, adalah imam terakhir keturunan Rasulullah saw dan ia adalah penegak seluruh tujuan Rasulullah dan Imam Mahdi as, serta pembentuk pemerintahan Islam yang adil. Ia sama seperti Rasulullah saw, yaitu rahmat bagi umat manusia, manifestasi kasih sayang yang sesungguhnya dan pemberantas kezaliman dan kemunkaran.
Imam Mahdi as hanya akan memiliki satu opsi yaitu jihad di jalan Allah swt. Ketika ia muncul, beliau memegang panji Rasulullah saw. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, "Mahdi adalah putraku dan kunyah-nya adalah kunyah-ku. Fisiknya sama dengan ku dan jalannya adalah jalanku. Ia akan mendorong manusia untuk taat terhadap agama dan menyeru mereka pada al-Quran. Barang siapa yang menaatinya maka sesungguhnya ia menaatiku....barang siapa yang mengingkarinya maka ia mengingkariku. Dan barang siapa yang mengakuinya maka mengakuiku."
Hadis-hadis seperti ini juga banyak tercantum dalam Sunnah Turmudzi, Abu Dawud, Mustadrak Hakim, Musnad Ahmad, dan juga kitab Said Khudri. Diriwayatkan Rasulullah bersabda, "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum dunia dipenuhi oleh kezaliman dan kejahatan. Kemudian akan bangkit seorang dari Ahlul Bait dan menegakkan keadilan di muka bumi. Namanya sama dengan namaku."
Jabir bin Abdullah Ansari mengatakan, "Jandal bin Janadah datang menghadap Rasulullah dan berkata, "Aku bermimpi melihat Nabi Musa. Ia menyuruhku untuk datang dan beriman kepada Nabi Islam. Kemudian Jabir melanjutkan, "Setelah Jandal memeluk agama Islam, Rasulullah saaw menyebutkan satu-persatu para pemimpin Allah kepadanya. Ketika sampai pada nama Hasan bin Ali (Imam Hasan Askari), Rasulullah bersabda, setelah dia adalah putranya Muhammad yang dipanggil dengan Mahdi dan Hujjah. Ia akan ghaib dan akan muncul kembali. Ketika muncul kembali, ia akan memenuhi dunia dengan keadilan dan kebajikan, seperti ketika sebelumnya dunia dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan."
Riwayat yang ada juga menyinggung masa kemunculan Imam Mahdi as.
Diriwayatkan bahwa Imam Mahdi as akan muncul ketika kezaliman dan kejahatan telah meluas dan mengakar di muka bumi dan umat manusia telah jauh dari Islam dan al-Quran. Imam Ali as berkata, "Ketika itulah dia akan menyebarkan keadilan dan menunjukkan kepada kalian keadilan Rasulullah, ia juga akan menghidupkan kembali al-Quran dan Sunnah yang telah mati sebelum kemunculannya."
Imam Jakfar as-Sadiq as menjelaskan, "Sama dengan ketika Rasulullah saw memberantas khurafat dan penyimpangan pada masa jahiliyah serta menghancurkannya, Imam Mahdi juga akan menumpas seluruh penyimpangan dan penyelewengan yang disusupkan oleh orang-orang jahat ke dalam Islam, dan Imam Mahdi akan menegakkan ajaran Islam yang benar."
Imam Hasan Askari, ayah Imam Mahdi as dalam sebuah riwayat menilai pengenalan terhadap Imam Mahdi merupakan masalah esensial dalam mencari jalan keselamatan. Beliau juga menekankan bahwa siapa saja yang tidak mengenal imam zamannya dan kemudian ia mati, maka ia sama dengan orang-orang yang mati pada masa jahiliyah.
Imam Hasan Askari as menjelaskan, "Bani Abbas dan Bani Umayyah menyerang kami dari dua sisi. Pertama, mereka mengetahui bahwa khilafah dan pemerintahan Islam bukan hak mereka. Mereka khawatir, kami (Ahlul Bait) akan bangkit merebut kembali hak kami. Kedua, dari hadis-hadis yang ada dijelaskan bahwa kehancuran pemerintahan zalim di tangan Qaim kami (Imam Mahdi), pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa mereka adalah kaum zalim. Mereka berusaha membunuh keturunan Rasulullah sehingga dengan demikian Imam Mahdi as tidak akan muncul. Namun Allah swt tidak menghendaki mereka mengetahui keberadaan Imam Mahdi sampai pemerintahannya muncul, meski orang-orang kafir tidak menyukainya."
Bagian penting dari riwayat tersebut adalah menekankan tentang pemerintahan setelah kemunculan Imam Mahdi as. Dengan demikian, berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, dunia pada masa Imam Mahdi as dipenuhi dengan perdamaian dan kebahagiaan. Tatapan manusia pada masa itu penuh dengan persahabatan dan keakraban. Bumi mengeluarkan seluruh kekayaannya dan Imam Mahdi as membagikannya secara adil kepada seluruh umat manusia. Secara keseluruhan, hadis-hadis dalam riwayat Syiah dan Ahlussunah menafikan segala bentuk keraguan dan keambiguan tentang kemunculan Imam Mahdi as, serta membangkitkan gelombang harapan dalam diri manusia.



emerbak Harum Imam Mahdi as (14)

Semerbak Harum Imam Mahdi as (14)
Sudah lama kita semua menanti sang juru selamat. Matahari yang terbit dalam hati kita. Yang menerangi wujud kita dengan harapan.
Wahai lautan cahaya, kami berharap kau selalu mengharapkan kebahagiaan kami dalam setiap munajatmu.
Wahai Mahdi yang tercinta, kami juga akan berjalan seirama dengan doamu itu.
Kau pun berdoa, "Ya Allah, kami benci terhadap sesuatu yang Kau murkai, dan kami selalu berusaha dalam menegakkan kebenaran.
Kami menanti realisasi janji-janji-Mu.
Wahai Sang Pengatur segala urusan... berikanlah kemudahan bagiku dan para pengikutku dalam menghadapi segala kesulitan dan kesedihan.
Ya Allah... berikan aku kekuatan dan pertolongan untuk mewujudkan sebuah kemenangan besar.
Keberadaan sang juru selamat memiliki sisi kolektif dengan seluruh bangsa dunia karena ia juga manusia dan dapat membantu mewujudkan persatuan antarumat manusia. Meski demikian, setiap bangsa memiliki definisi yang berbeda-beda soal sang juru selamat sesuai dengan perspektif ideologi, budaya, serta tuntutan individu dan sosial. Namun yang terpenting adalah meluasnya pemikiran tersebut. Khususnya di kalangan para cendikiawan dan filsuf, harapan untuk mencapai masyarakat yang adil, bukan hal baru melainkan telah lama dinanti-nantikan oleh para pakar dunia.
Filsuf besar Yunani, Aristoteles, senantiasa mendorong masyarakat untuk mengharapkan terwujudnya sebuah masyarakat tanpa diskriminasi. Filsuf Yunani ini bahkan bersumpah akan terwujudnya masyarakat seperti ini. Menurutnya, para pemimpin dan tokoh dalam masyarakat tersebut sedemikian pandai dan bijaksana, sehingga mereka dapat mencegah terjadinya kezaliman dan diskriminasi.
Plato juga berbicara tentang masalah masyarakat uthopia yang di dalamnya orang-orang pintar harus menjadi penguasa kota sehingga seluruh warga dapat merasakan keadilan dalam bayang-bayang hikmah, solidaritas, dan kerjasama. Ia berpendapat bahwa dalam masyarakat uthopia itu, para cendikiawan harus menjadi penguasa sehingga mereka dapat mengatur segala urusan berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan, dan pada akhirnya akan tercipta tatanan masyarakat yang adil.
Farabi, seorang filsuf Muslim abad keempat Hijriah juga memiliki perspektif serupa dengan masyarakat uthopia Plato. Farabi hidup di masa puncak kekuasaan gereja terhadap Eropa. Farabi memiliki pandangan yang penuh dengan harapan terhadap masa depan. Ia berbicara tentang masyarakat ideal dan berusaha membuka ufuk terang bagi umat manusia tentang perwujudan masyarakat ideal. Menurut Farabi, masyarakat uthopia adalah masyarakat yang saling bekerjasama dalam menggapai kebahagiaan.
Masa depan yang digambarkan oleh Farabi hanya sekedar teori. Dikatakannya, jika para pemimpin masyarakat berasal dari kalangan cendikiawan, itu saja cukup dalam mendekatkan dengan teori masyarakat uthopia tersebut. Menurut Farabi, posisi para filsuf hanya di masyarakat uthopia tersebut. Farabi menyebut pemimpin masyarakat uthopia sebagai ‘Pemimpin Awal' dan menilainya sebagai tokoh paling tinggi dalam masyarakat uthopia.
Pada era Renaisance seiring dengan munculnya berbagai sekte baru, masyarakat Barat menjadikan ilmu pengetahuan sebagai poros utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Dengan menggunakan ilmu pengetahuan masyarakat Barat berupaya mencari surga mereka yang hilang di dunia ini. Pada era ini muncul sejumlah cendikiawan Barat yang mengemukakan perspektif tentang masyarakat uthopia. Mereka mengungkapkan teori baru tentang masyarakat uthopia berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Di antara cendikiawan tersebut adalah Thomas Moore, Karl Marx, dan Francis Bacon. Uthopia yang dikemukakan oleh Thomas Moore berdasarkan persamaan dan kesetaraan. Dalam masyarakat uthopia Thomas Moore, semua orang hidup bersama-sama dan tercipta sebuah kota yang tenang tanpa gejolak yang di dalamnya.
Di lain pihak, Karl Marx dari ideologi komunis dengan tegas mengemukakan perwujudan sebuah dunia yang di dalamnya berlaku persamaan secara penuh dan keadilan sosial. Menurut Karl Marx, dalam perspektif komunis, harus dilaksanakan sebuah sistem sosial yang sangat teratur yang tidak akan terjadi ketidakteraturan ekonomi di dalamnya. Dalam perspektif Marx, Tuhan dan agama tidak memiliki tempat. Marx hanya menilai agama sebagai opium bagi masyarakat. Namun kegagalan pengalaman revolusi sosialis di Uni Soviet, membuktikan ketidakbenaran uthopia Marx.
Francis Bacon, satu lagi cendikiawan Barat, berbicara tentang masyarakat impian. Dalam dunia Bacon, pemerintahan dan kekuasaan dipegang oleh cendikiawan dan tugas mereka adalah menyejahterakan masyarakat. Masyarakat yang digambarkan oeh cendikiawan dan filsuf Barat, masing-masing memiliki kekurangan dan dihadapkan pada kendala sangat penting.
Namun yang pasti adalah bahwa tatanan masyarakat ideal yang umumnya berdasarkan rekayasa saja belaka, tidak akan mampu direalisasikan. Jika terealisasikan, maka tidak akan berlangsung lama. Adapun poin penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa perspektif tersebut membuktikan bahwa manusia senantiasa mengharapkan terwujudnya masyarakat ideal, masyarakat yang adil dan masyarakat yang dipimpin oleh sang juru selamat dunia.



Semerbak Harum Imam Mahdi as (15)

Waktu berlalu perlahan-lahan.
Dalam setiap nafas yang terhembus, para penanti berkata, "Ya Allah, saat ini dunia membutuhkan sang juru selamat, maka percepatlah kemunculannya.
Jika ia datang, air mata anak-anak pengungsi akan berubah menjadi kembang senyuman dan menenangkan hati-hati yang cemas.
Ya Allah, kami jadikan kasih sayangnya sebagai jaminan dalam diri kami hingga saat kasih sayangnnya mengantarkan kami ke gerbang pintu kebahagiaan.
Ketika ia muncul, kami pun bersemi dalam musim semi kehadirannya."
Dalam beberapa dekade terakhir, masalah akhir masa semakin marak dibahas dan banyak para cendikiawan Barat dan Timur yang mengemukakan pendapat mereka tentang hal ini. Dalam literatur agama-agama besar dunia, akhir zaman berarti periode akhir kehidupan umat manusia. Masing-masing nabi Allah menunjukkan kepada umatnya tentang tanda-tanda akhir masa.
Beberapa ayat dalam kita Injil Matthew disebutkan, "Akan terdengar kabar dari medan perang. Tentang serangan sebuah bangsa terhadap bangsa lain dan sebuah pemerintahan terhadap yang lain. Akan tetapi kekeringan, muncul wabah yang mematikan, dan terjadi gempa di banyak tempat. Dunia yang penuh dengan kekerasan, sama seperti di masa Nuh, seperti inilah saat kemunculan putra manusia. Setelah musibah besar(perang) mereka akan menyaksikan putra manusia muncul dari balik awan dengan penuh kebesaran."
Ajaran Islam juga menunjukkan bahwa pada masa sebelum kemunculan sang juru selamat dunia, Imam Mahdi as, kondisi dunia mengalami carut-marut. Masyarakat yang secara lahiriyah tampak hidup menjalani kehidupan mereka. Namun karena tidak memiliki etika, iman, dan spiritualitas, masyarakat meluncur di jalur demoralisasi. Dalam berbagai ajaran agama, ditunjukkan tanda-tanda tentang kondisi di akhir masa ini. Termasuk di antaranya adalah kesulitan yang dihadapi umat manusia untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Musuh menggunakan berbagai macam cara intelektual, budaya, maupun kepercayaan untuk mencegah hidayah umat manusia serta perjalannya dalam menggapai kebahagiaan.
Munculnya penyimpangan kepercayaan merupakan salah satu di antara fakta yang paling berbahaya sebelum era akhir zaman. Manusia-manusia pemuja materi menjauhkan umat manusia dari jalan hidayah dan menjerumuskan mereka ke jurang penyimpangan. Hal ini menimbulkan perpecahan dalam barisan persatuan bangsa-bangsa. Pada saat yang sama, kekuasaan berada di tangan orang-orang durjana. Dalam hal ini, Imam Jakfar Sadiq as mengatakan: "Imam Mahdi as tidak akan bangkit kecuali pada saat munculnya ketakutan besar, serta berbagai penderitaan dan fitnah yang dihadapi manusia, dan terjadi perpecahan yang mendalam dalam masyarakat dan dalam agama."
Salah satu masalah umat manusia pada era sebelum kemunculan Imam Mahdi as adalah peningkatan kecenderungan manusia terhadap masalah duniawi dan hedonisme. Sampai pada tahap sehingga umat manusia terpisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan dan keutamaan akhlak. Muncul berbagai bidah, masyarakat cenderung mengikuti hawa nafsu mereka, dan orang-orang mukmin terhina, adapun para orang-orang fasid dimuliakan. Imam Shadiq as menyinggung penyimpangan agama dan ditinggalkannya al-Quran pada masa tersebut.
Dalam riwayat disebutkan bahwa pada akhir zaman nanti, raja-raja despotik dan zalim membantai umat manusia serta menakut-nakuti orang-orang yang taat kepada Allah swt. Pada masa itu, harta dan kekayaan dipuja-puja dan dijadikan sebagai nilai keunggulan seseorang. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, "Di akhir masa, sebuah bangsa akan berkuasa terhadap umat Islam. Jika umat Islam berbicara, maka mereka akan dibunuh, dan jika bungkam maka darah mereka mubah. Dengan demikian mereka dapat menguasai sumber pendapatan dan kekayaan umat Islam."
Sejumlah ulama berpendapat bahwa tanda-tanda akhir zaman yang disebutkan dalam riwayat berkaitan dengan semakin dekatnya masa kemunculan Imam Mahdi as. Meski demikian, penjelasan tanda-tanda itu bertujuan agar umat manusia dapat mengambil pelajaran dan mengetahui tugas-tugas mereka di setiap masa, sehingga mereka dapat mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi as.
Dengan kata lain, dalam mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi as, harus digembleng insan-insan saleh dan bersih hingga kemunculan Imam Mahdi as. Perluasan kefasadan dan ketidakadilan, merupakan halangan utama dalam meningkatkan kedewasaan pemikiran umat manusia dan dalam menerima hidayah sang juru selamat. Oleh sebab itu, pada era sebelum kemunculan Imam Mahdi as, bersamaan dengan meluasnya kezaliman dan diskriminasi, masyarakat juga harus meningkatkan kedewasaan pemikiran di hadapan ketimpangan.



Semerbak Harum Imam Mahdi as (16)

Semerbak Harum Mahdi as 16
Salam sejahtera kepada wujud suci Imam Mahdi as, simpanan terakhir Allah swt, hakim tunggal dunia, dan pembebas umat manusia dari kezaliman.
Salam kepadanya dan kepada para penantinya.
Salam kepada mereka yang telah meneguk cawan makrifat dan hidayah manusia pilihan Allah swt ini.
Pada hari ketika ia datang, hakikat akan tersingkap dan dunia akan terang benderang atas kehadirannya.
Imam Ali as berkata, "Akan tiba satu masa ketika suara dari langit menyerukan bahwa kebenaran ada di pihak keluarga Muhammad saw. Saat itu nama Mahdi dibicarakan dan merasuk dalam hati serta tidak ada orang lain yang diingat kecuali Mahdi."
Setelah rangkaian pembahasan mengenai munculnya sang juru selamat dunia, pada tulisan kali ini, kita akan membahas poin lain.
Masalah kondisi dunia di masa mendatang dan pemerintahan idealnya, adalah masalah yang sering dibahas dan diulas. Pada abad ke 20 khususnya pasca Perang Dunia ll dan berbagai kegagalan lainnya, muncul fenomena baru yang membuat para cendikiawan membahas tentang masa depan dunia. Dewasa ini, sejumlah cendikiawan berpendapat bahwa umat manusia saat ini meski lebih kuat dan memiliki persenjataan yang lebih canggih jika dibandingkan dengan masa lalu, namun berada di tepi jurang.
Perseteruan etnis, krisis ekonomi dan sosial, serta gejolak di wilayah perbatasan antarnegara, membuat kondisi di dunia semakin mengkhawatirkan dan berbahaya. Para cendikiawan tersebut berkeyakinan bahwa penyelamatan umat manusia dari kondisi krisis saat ini menuntut keakraban antarnegara yang berada di bawah sebuah pemerintahan global. Dengan demikian seluruh bangsa dapat hidup rukun dan bersahabat.
Hal serupa juga dikemukakan oleh ilmuwan dan fisikawan terkemuka Einstein yang berpendapat bahwa seluruh bangsa dunia dari etnis dan ras apapun, harus berada di bawah satu pemerintahan global. Dikatakannya, "Banyaknya pemerintahan, mau tidak mau akan menghancurkan umat manusia dan masyarakat dunia harus memilih satu dari dua jalan ini. Pembentukan pemerintahan universal atau tetap mempertahankan pemerintahan yang ada saat ini sampai pada titik kehancuran umat manusia."
Dante Alighieri, seorang sastrawan Italia dan Bertrand Russell, filsuf Inggris, juga menekankan pembentukan pemerintahan universal dan berpendapat bahwa absennya pemerintahan tersebut akan menghancurkan umat manusia. Immanuel Kant, filsuf Jerman juga berpendapat bahwa ketertiban secara global hanya dapat diwujudkan jika ditetapkan undang-undang global pula. Pada hakikatnya, ini adalah yang diinginkan oleh agama-agama langit. Hakikat yang melandas kebangkitan-kebangkitan dan perjuangan para nabi.
Agama-agama langit memberikan kabar gembira bahwa masa depan umat manusia tidak kelam dan tragis. Munculnya pemerintahan universal akan menghancurkan seluruh sistem, program, dan perimbangan kekuatan yang sebelumnya berlaku di muka bumi. Dengan terbentuknya pemerintahan universal di muka bumi pada akhir zaman kelak, era kegemilangan dunia dan kehidupan bahagia umat pun dimulai.
Disebutkan banyak riwayat yang menyinggung tentang pemerintahan universal yang disebut dengan istilah ‘pemerintahan universal', ‘pemerintahan orang-orang saleh', dan ‘pemerintahan terakhir'. Imam Jakfar as-Shadiq as mengatakan, "Untuk setiap masyarakat terdapat pemerintahan yang menanti mereka, dan pemerintahan kami (Ahlul Bait) akan muncul di akhir zaman."
Pemerintahan tersebut memiliki pemikiran yang paling ideal dalam masalah pemerintahan setelah umat manusia mencoba berbagai macam cara. Sejak masa itu, pemerintahan hak akan menguasai dunia dan akan terus berlanjut hingga akhir masa. Imam Muhammad Baqir as mengatakan, "Pemerintahan kami adalah pemerintahan terakhir." Menurut beliau seluruh pemerintahan sebelum kemunculan Imam Mahdi as, gagal melalui ujian.
Pemerintahan yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi as, memiliki kriteria khusus dan tidak memiliki keserupaan dengan pemerintahan sebelumnya di sepanjang sejarah. Pemerintahan ini tegak berdiri di atas prinsip penghambaan terhadap ke-Esa-an Allah Swt. Tujuannya adalah menyatukan seluruh bangsa dan umat manusia, memecah tembok-tembok zalim diskriminasi dan nilai-nilai jahiliyah, serta menegakkan keadilan yang sesungguhnya di muka bumi.
Pemerintah universal dan ideal Islam, dibentuk oleh insan-insan saleh, bersih dan bertakwa. Pemimpinnya adalah Imam Mahdi as, cucu Rasulullah saw. Ia adalah sosok manusia agung dan suci yang kehadirannya dielu-elukan umat manusia selama berabad-abad. Dalam hal ini Imam Mahdi as berkata, "Aku adalah keturunan Adam, khazanah Nuh, pilihan Ibrahim, dan ringkasan dari Muhammad saw yang salam Allah Swt bagi mereka."
Dalam tatanan masyarakan yang dibentuk oleh Imam Mahdi as, terjadi transformasi besar-besaran dalam mekanisme manajemennya. Janji al-Quran akan terealisasi dan kekuasaan akan dipegang oleh kaum dhuafa. Berbeda dengan yang terjadi di masa-masa sebelumnya. Pemerintahan selalu dikuasai oleh kalangan konglomerat.
Agama-agama langit khususnya Islam berupaya merealisasikan tujuan tersebut. Allah Swt berkehendak bahwa masa depan dunia akan berada di tangan kaum dhuafa. Oleh sebab itu, perjuangan para nabi adalah perlawanan terhadap kekuasaan kaum-kaum adidaya dan arogan yang selalu menindas dan menistakkan hak masyarakat lemah.



Semerbak Harum Imam Mahdi as (17)

Musim semi, indah dan menyejukkan.
Namun wahai musim semi jiwa, tanpamu tidak ada kesegaran yang dapat kurasakan.
Wahai insan yang paling mirip dengan Rasulullah, datanglah menengok kami yang tidak pernah menyaksikan kakekmu.
Hapuskan kedahagaan kami yang menantikan segarnya pertemuan denganmu.
Tenangkanlah hati kami dalam mengarungi dunia yang bergejolak ini.
Kau berkata, "Wujudku akan menenangkan dan menyejahterakan penghuni bumi."
Masa depan dunia yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi as, keadilan merupakan prioritas dan dijunjung tinggi. Keadilan dan keseimbangan, adalah hukum yang berlaku di seluruh penjuru dunia dan menjadi pondasi tatanan sosial dunia. Jika sebuah masyarakat atau sebuah bangsa menyesuaikan diri dengan upaya perwujudan perdamaian tersebut, maka ia akan selalu berada dalam sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dan sejahtera.
Keadilan merupakan kebutuhan esensial umat manusia. Tanpa keadilan, seluruh ikatan dan tatanan sosial akan terurai dan runtuh. Semua manusia, tanpa pengecualian, haus akan keadilan. Oleh sebab itu, Allah Swt akan menunjukkan hujjah terakhirnya untuk menghapus dahaga manusia atas keadilan. Dalam riwayat disebutkan bahwa meski usia bumi hanya tinggal satu hari, Allah Swt akan memperpanjang hari itu sedemikian rupa hingga Imam Mahdi as muncul dan menegakkan keadilan di muka bumi.
Jelas bahwa dalam masyarakat yang adil, akan muncul insan-insan berkepribadian tinggi dan mulia. Mereka dapat dengan tenang dan pasti menegakkan prinsip-prinsip sosial. Dalam masyarakata yang memiliki kriteria seperti ini, pelanggaran terhadap hak orang lain tidak berarti lagi. Oleh sebab itu, Imam Ali as berkata, "Penegakan keadilan akan menghidupkan dan melanggengkan hukum-hukum agama."
Keadilan akan menggerakkan roda masyarakat dan memberikan nyawa serta keagungan. Penyejahteraan masyarakat dari sisi materi serta perwujudan persamaan dalam masyarakat merupakan di antara tanda-tanda keadilan sosial.
Keadilan sendiri memiliki berbagai macam dimensi dan yang terpentingnya adalah keadilan individu.
Menurut pandangan Islam, jika seseorang menghindari penyimpangan amal dan pemikiran, pada hakikatnya dia telah sampai pada keadilan jiwa. Berasaskan pandangan tersebut, masyarakat pada masa kepemimpinan Imam Mahdi as akan menggapai perkembangan logika yang sangat pesat. Selain itu, kondisi yang ada masa itu mendorong masyarakat untuk berlomba-lomba mewujudkan persaudaraan, cinta kasih, dan persamaan. Jelas pula bahwa ketika seseorang telah bersikap adil pada diri mereka sendiri, maka sikap mereka pun akan terefleksi dalam kehidupan sosial. Maka dengan demikian, upaya masing-masing individu untuk menjauhi perbuatan zalim dan tercela, tidak lagi berangkat dari rasa takut terhadap hukum.
Menurut Imam Khomeini, kondisi tersebut merupakan makna sejati keadilan. Beliau mengatakan, "Pada setiap jiwa pasti terdapat penyimpangan (kecil atau besar). Bahkan dalam jiwa insan-insan sempurna, meski mereka tidak mengetahui. Dalam akhlak, akidah, dan amal, pasti terdapat penyimpangan. Dan dia (Imam Mahdi as) ditugaskan untuk meluruskan seluruh penyimpangan tersebut serta menyeimbangkannya sehingga terealisasi makna........"
Imam Mahdi as memiliki kesempurnaan dan kewibawaan akhlak yang tertinggi. Tidak memiliki kecenderungan apapun terhadap masalah duniawi dan akan berdiri tegak menantang para penguasa zalim. Tujuan Imam Mahdi as adalah penyejahteraan umat manusia. Oleh sebab itu akan muncul masyarakat baru yang memiliki interaksi baru dan manusiawi. Di bawah naungan keadilannya, tidak ada seorang pun yang merasa tertindas bahkan terbelenggu. Imam Ali as berkata, "Imam Mahdi akan memasukkan dan menyebarkan keadilan sama seperti ketika angin panas dan dingin memasuki seluruh ruangan rumah."
Pada era pemerintahan Imam Mahdi as, jangkauan keadilan sedemikian luas sehingga tidak ada satu hak pun yang ternistakan. Orang-orang zalim dan durjana akan diadili serta tidak ada lagi penyalahgunaan kelompok tertentu terhadap kekayaan sebuah bangsa. Imam Khomeini dalam hal ini mengatakan, "Ketika dikatakan bahwa pada masa Imam Mahdi as dunia dipenuhi dengan keadilan, bukan berarti pada masa itu tidak dosa dan pelanggaran sama sekali. Sama seperti ketika kita mengatakan bahwa di dunia dewasa ini dipenuhi dengan kezaliman, bukan berarti tidak ada keadilan sama sekali. Ada keadilan namun sangat rendah sekali tingkatnya. Begitu juga pada masa pemerintahan Imam Mahdi as, pelanggaran dan dosa pada masa itu sangat kecil sekali."
Penegakan keadilan merupakan salah satu tujuan penciptaan dan pengutusan seluruh Rasulullah ke muka bumi. Keadilan, pemerintahan yang ideal dan damai merupakan tuntutan umat manusia. Tujuan ini akan terwujud setelah munculnya Imam Mahdi as. Allah Swt dalam al-Quran surat Hadid, ayat 25 menyebutkan, "Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan."


Semerbak Harum Imam Mahdi as (18)

Wahai Imam Mahdi. Wahai yang akan kami korbankan jiwa kami ini demimu.
Kapan hari itu tiba, kami dapat berjumpa denganmu?
Ya Allah...terangilah rumah hati kami dengan cahaya wujudnya.
Wahai Yang Maha Pengasih, tebarkanlah semerbak harum sang juru Selamat dunia itu ke seluruh relung jiwa kami.
Kita telah membahas kondisi dunia di masa kemunculan Imam Mahdi. Berbeda dengan idealisme yang dibayangkan oleh para pemikir selama ini, tatanan dunia di masa kepemimpin Imam Mahdi as bukan khayalan belaka. Masyarakata ideal yang dibentuk Imam Mahdi as adalah janji pasti yang ditekankan dalam riwayat, hadis dan juga oleh para auliya Allah. Dunia saat itu dipenuhi dengan berbagai keutamaan untuk seluruh umat manusia dan Allah telah menjamin terciptanya dunia ideal tersebut.
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah bahas bersama kriteria utama dunia pada masa Imam Mahdi as, salah satunya adalah penegakan keadilan dengan arti yang sesungguhnya. Kriteria penting lainnya adalah penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa.
Sepanjang berabad-abad, umat manusia telah melupakan fitrah penghambaannya dan bahkan pada berbagai kasus tunduk di hadapan para penguasa despotik dan kekuatan arogan. Namun dalam masyarakat Imam Mahdi as, cara pandang manusia akan berubah total. Hati umat manusia pada masa itu senantiasa akan mengingat Allah. Kehidupan pun akan dipenuhi dengan zikir dan munajat. Masyarakat akan berpegang teguh pada prinsip-prinsip etika dan kembali ke jalan agama Allah.
Di masa mendatang, dunia dan para pengikut agama akan bertemu di satu titik yaitu agama Islam. Dengan demikian, agama terakhir dan paling sempurna Allah Swt yang disampaikan oleh Rasulullah Saw, menjadi agama yang dipeluk seluruh umat manusia. Di bawah naungan ajaran agama Islam itu, Imam Mahdi as akan membangkitkan logika dan menyempurnakannya. Manusia akan terhindar dari kesesatan dengan kesadaran. Dosa menjadi terasa sangat pahit bagi mereka dan semua orang merasakan kenikmatan penghambaan terhadap Allah Swt.
Dalam hal ini, Imam Sadiq as berkata, "Ketika Imam Mahdi as muncul, tidak akan ada tempat di muka bumi kecuali darinya terdengar suara Ashhadu anlaa ilaaha illallah, wa ashhadu anna muhammadan rasulullah."
Adapun Imam Baqir as mengatakan, "Melalui perantara Imam Mahdi as, Allah Swt memenangkan agamanya dari seluruh jalan dan cara, meski orang-orang Musyrik tidak suka. Maka di muka bumi tidak akan ada yang disembah selain Allah Swt."
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa dengan kemunculannya, Imam Mahdi as akan mengubah total dunia. Perubahan tersebut sedemikian luas jangkauannya sehingga tidak ada satu wilayah pun yang terlewatkan. Hasilnya perluasan agama Islam ke seluruh dunia seperti munculnya sebuah agama baru. Namun jelas bahwa Islam adalah agama terakhir Allah yang paling sempurna dan al-Quran adalah kitab terakhir Allah serta tidak ada agama atau kitab lain yang turun setelahnya.
Pada hakikatnya, Imam Mahdi as adalah penjelas agama Islam dan penyebar hukum-hukum al-Quran di seluruh penjuru dunia. Ia mampu menafsirkan dan menjelaskan rahasia-rahasia al-Quran. Di sisi lain, ia juga mampu menunjukkan Islam yang sebenarnya, yang indah dan dengan hukum-hukum ideal yang sebelumnya disampaikan oleh Rasulullah.
Sang juru selamat akan menghidupkan kembali batasan dan norma-norma yang telah dibinasakan umat manusia dan memberantas bidah. Menurut Imam Sadiq as, cara dan jalan yang ditempuh Imam Mahdi as sama dengan Rasulullah Saw, "Imam Mahdi as akan merekonstruksi Islam sebagaimana Rasulullah memberantas jahiliyah."
Berbagai riwayat lainnya menyinggung tentang hakikat dan ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh Imam Mahdi as kepada masyarakat. Puncak-puncak ilmu yang belum pernah tercapai dan diketahui oleh umat manusia, akan berhasil ditaklukkan pada masa kepemimpinan Imam Mahdi as. Sedemikian tinggi tingkat wawasan masyarakat, bahkan para ibu-ibu rumah tangga pun mencapai derajat tinggi di bidang ini.
Pada masa kemunculan Islam, Rasulullah menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, keadilan, dan kasih sayang, di muka bumi melalui ajaran Islam. Dan ketika Imam Mahdi as muncul, seluruh tujuan dalam Islam akan tercapai dan untuk selamanya umat manusia terbebaskan dari penderitaan dan kezaliman.



Semerbak Harum Imam Mahdi as (19)

Semerbak Harum Imam Mahdi as (19)
Dunia akan berputar pada poros cinta berkat wujudnya.
Matahari menerangi langit dan bumi dengan sinarnya yang hangat.
Hati para penanti berdetak kencang ketika dia datang. Dunia pun akan indah dan berseri dengan kehadirannya.
Ya Allah percepatlah janji kedatangannya hujjah terakhirmu.
Dalam penjelasan sebelumnya kita telah bahas bersama kondisi dunia pada masa kemunculan Imam Mahdi as. Masa yang dipenuhi dengan kecintaan, kasih sayang, kesejahteraan, keadilan, persamaan, dan persaudaraan yang sesungguhnya. Salah satu kriteria dunia masa depan adalah penegakan keadilan secara global. Semua manusia menilai keadilan sebagai pokok dalam kehidupan dan mereka menyukai serta berusaha menggapainya. Aman berarti ketenangan dan tidak ada kekhawatiran. Dewasa ini, keamanan merupakan pokok pembahasan di kancah politik dalam negeri dan luar negeri setiap negara.
Agama Islam tidak membatasi keamanan manusia hanya di sektor sosial dan ekonomi. Melainkan keamanan merupakan salah satu di antara faktor yang urgen dalam membentuk sebuah masyarakat yang aman. Karena keamanan merupakan pondasi perluasan aktivitas sosial yang bermanfaat dan merupakan syarat utama pertumbuhan serta kesempurnaan individu dan masyarakat.
Menurut Islam, keamanan yang sesungguhnya hanya dapat terwujud di bawah naungan ketakwaan dan iman yang sesungguhnya kepada Allah Swt. Dalam ayat 82 surat al-An'am Allah Swt berfirman, "Orang-orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencemari keimanannya dengan kemusyrikan dan kejahatan, keamanan bersama mereka dan termasuk orang-orang yang diberi hidayah."
Islam juga menilai bahwa keamanan hanya dapat diwujudkan oleh para penguasa yang saleh dan terpercaya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pemerintahan yang sah, saleh, dan layak, merupakan syarat utama terwujudnya keamanan dalam masyarakat. Dalam hal ini Imam Ali as berkata, "Masyarakat membutuhkan penguasa sehingga orang-orang mukmin dapat beraktivitas di bawah naungan pemerintah dan kaum kafir pun dapat mendapatkan manfaat darinya. Masyarakat juga hidup di bawah naungan pemerintah. Pemerintah mengumpulkan Baitul Mal, menggunakannya untuk berperang menghadapi musuh, mengamankan rumah-rumah, dan mengembalikan hak-hak kaum papa."
Imam Mahdi as adalah insan suci terakhir dari keturunan Rasulullah Saw dan Ahlul Bait. Penegak keamanan yang sesungguhnya di dunia. Dalam pemerintahan universal Imam Mahdi as, keamanan ditegakkan ke seluruh penjuru dunia, serta terjelma dalam berbagai bentuk. Pemerintahan Imam Mahdi as adalah yang membebaskan umat manusia dari seluruh belenggu. Pemerintahannya adalah cermin dari pemerintah Islam dan manifestasi dari seluruh aspek keamanan termasuk keamanan politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain.
Dalam keamanan ekonomi, selain masalah urgensi sumber-sumber alam dan kekayaan yang diberikan Allah Swt, keadilan dan pembagian secara merata kekayaan kepada masyarakat, merupakan faktor yang sangat penting. Pemberlakuan prinsip persamaan pada masa pemerintahan Imam Mahdi as, mencegah terfokusnya kekayaan hanya pada segelintir kelompok saja. Dalam dunia tersebut, kesejahteraan ekonomi sedemikian meluas sehingga tidak ada lagi orang yang di dunia kita saat ini kita sebut dengan ‘orang-orang yang lebih membutuhkan'. Dalam hal ini Imam Ali as mengatakan, "Allah Swt tidak akan menghancurkan dunia sebelum kebangkitan Imam Mahdi as....ia akan membagikan harta secara merata kepada masyarakat dan menegakkan keadilan."
Di sektor politik dan militer, keamanan terjelma sedemikian rupa sehingga orang-orang yang pada tertindas dapat menikmati perdamaian dan ketenangan. Dalam masyarakat ideal Imam Mahdi, seluruh parameter yang berlaku sebelumnya musnah, begitu pula seluruh pemicu kekhawatiran umat manusia. Pelanggaran hukum dan ketidaktertiban, berubah menjadi kepatuhan terhadap hukum dan ketertiban. Gerakan masyarakat dan hubungan sosial pada masa itu berporos pada hukum dan penghormatan hak-hak. Dalam masyarakat tersebut, ketamakan terhadap kekuasaan sirna dan keakraban serta persahabatan antarbangsa terwujud menggantikan peperangan dan persaingan persenjataan destruksi massal.
Seberapa besar upaya umat manusia untuk menggapai dunia ideal tersebut, akan menemui kegagalan. Hanya Imam Mahdi as yang mampu membentuk dunia ideal tersebut. Pada hakikatnya, pemerintahan Imam Mahdi as merupakan sumber perdamaian dan keamanan dunia serta menjadi modal kebahagiaan dan ketenteraman umat manusia. Poin penting lainnya adalah bahwa keamanan menyeluruh dan mutlak tersebut tidak seperti di dunia kita saat ini yang hanya berlaku di beberapa bidang saja. Selain itu, seluruh umat Islam sepakat bahwa kehadiran Imam Mahdi as akan membawa kebaikan, berkah, dan keamanan pemikiran bagi umat manusia.



Semerbak Harum Imam Mahdi as (20)

Semerbak Harum Mahdi as (20)
Wahai Mahdi, wahai epik abadi.
Wahai sumber kemuliaan, wahai harapan, mata hari para penantimu senantiasa terbuka menunggu kedatanganmu.
Wahai pagi kemenangan, malam terasa sangat panjang dan mentari tak kunjung terbit.
Datanglah dan kembangkan kuncup-kuncup harapan dalam hati kami ini.
Wahai fajar ufuk kemenangan, segarkan hati kami yang lelah ini, dan harumkan nuansa kehidupan kami ini dengan cahaya kehadiranmu.
Kami senantiasa mendoakan agar kita semua dapat menjadi saksi kedatangan Imam Mahdi as.
Imam Hasan Askari as menyatakan, "Wahai Mahdi, Allah akan mematahkan makar para kaum zalim melalui tanganmu, menghidupkan kembali nilai-nilai agama, menyebarkan ketenteraman dan perdamaian ke seluruh penjuru dunia, semua sudut di bumi akan hijau dan makmur, dunia akan kembali berseri dan puncak-puncak kemuliaan serta keagungan akan kembali cerah berkatmu. Bayi yang masih dalam gendongan ibu berharap dapat segera bertemu denganmu, binatang-binatang buas di gurun pasir pun berharap dapat berjumpa denganmu."
Sifat dan perilaku Imam Mahdi as kepada masyarakat pada masa kemunculannya, merupakan hal yang menarik untuk dibahas. Yang disebutkan dalam berbagai riwayat terpecaya, Imam Mahdi as memiliki sifat dan perilaku terbaik. Prinsip kehidupannya yang berdasarkan pada sunnah Rasulullah, sangat sederhana. Beliau mengenakan baju-baju dari kain kasar dan murah. Makanan beliau sangat sederhana dan beliau bukan termasuk manusia yang suka bersenang-senang. Kezuhudan dan ketakwaannya mengingatkan manusia pada akhlak Nabi Yahya as. Bahkan kehidupan beliau berada di bawah orang-orang yang tidak memiliki.
Pada hakikatnya dapat dikatakan bahwa kemunculan sang juru selamat dunia, kembali mengingatkan pada akhlak serta perilaku Rasulullah dan para imam yang suci. Imam Mahdi as akan menghidupkan kembali adab dan etika Rasulullah Saw. Beliau akan mengubah seluruh tatanan sosial dan dengan manajemen yang tepat, Imam Mahdi akan menerapkan hukum Allah dalam kehidupan umat manusia. Imam Mahdi as adalah sosok manusia bertauhid dan tunduk pada keagungan serta kebesaran Allah Swt.
Adapun sikap dan perilaku Imam Mahdi as kepada masyarakat sangat menghormatai dan tegas. Dalam hal ini Rasulullah menyebutkan bahwa masyarakat yang telah dilelahkan oleh kezaliman dan ketidakadilan, selalu mencari-cari sang juru selamat, dan ketika penyelamat itu muncul, mereka akan mengikutinya. Imam Ali ar-Ridha as mengatakan, "Ia sangat layak untuk masyarakatnya, lebih penyayang dari kedua orang tua, dan paling tunduk di hadapan Allah Swt. Apa yang dianjurkannya kepada masyarakat, telah diamalkannya terlebih dahulu, dan apa yang dilarang olehnya, maka ia sendiri lebih menghindari hal tersebut dibandingkan dengan orang lain.
Semerbak harum wujudnya lebih wangi dari wewangian apapun dan harumnya menyelimuti seluruh penjuru dunia. Ia mendoakan orang lain dan doanya akan selalu terkabul. Imam Husain as mengatakan, "Kalian akan mengenal Mahdi as dengan ketenangan dan kewibawaannya, dengan pengetahuannya atas yang halal dan yang haram, serta dengan kebutuhan manusia terhadapnya namun ia tidak membutuhkan mereka."
Sang juru selamat ini sama seperti para imam pendahulunya, sangat dermawan dan lapang dada. Ia akan memberikan apa saja yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkannya. Dalam riwayat disebutkan, tidak ada orang yang kembali dengan tangan kosong. Imam Mahdi as tidak pernah memikirkan apapun kecuali Allah Swt dan keridaan-Nya. Ia tidak pernah lelah untuk membangun dan membimbing masyarakat serta menyelamatkan umat manusia dari kegelapan dan kefasadan. Dalam melakukan tugas ini ia tidak menginginkan imbalan apapun.
Imam Mahdi as adalah penyeru kebenaran dan penyebar keadilan ke seluruh penjuru dunia. Sebelum menerapkan dalam masyarakat, Imam Mahdi as telah menerapkan keadilan tersebut dalam dirinya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, "Beruntunglah orang yang dapat melihat Mahdi, beruntunglah orang yang mencintainya, dan beruntung pula orang yang mengakui kepemimpinannya."
Mari kita kembali merenungkan poin ini bahwa menurut pandangan Islam, dunia dan kehidupan ideal yang akan dibangun oleh Imam Mahdi as bukan akhir dari perjalanan umat manusia. Masa depan yang indah ini bukan seperti ketika sebuah rumah megah an indah terbangun, penghuninya tidak perlu melakukan apapun. Melainkan, masa depan tersebut memerlukan perlindungan dan perawatan sehingga tetap terjaga keindahannya. Dan dengan demikian, perjalanan manusia pada masa depan itu akan tetap berlanjut dan terus menuju pada puncak-puncak kemuliaan yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar